
Sepertinya sudah ada lima menit berlalu hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka chat dari Mbak Gotik karena penasaran.
[Bodo!] Isi chat Mbak Gotik yang terasa singkat, padat plus menusuk mata.
Tumben kali ini setan yang benar? Sepertinya ia tidak mau terus-menerus aku salahkan. Ah, dasar sial!
**
Seharian aku berkeliling dari pasar modern juga pasar tradisional serta beberapa swalayan untuk memasukkan barang dari perusahaan. Sesungguhnya hal ini bukan tugasku, aku hanya menunggu laporan dari bawahanku saja, tetapi aku termasuk orang yang tidak langsung percaya pada orang lain sehingga aku memutuskan untuk terjun langsung agar semua lebih jelas.
Hingga tepat jam dua siang aku dan rekan-rekan kerja berjanjian untuk bertemu di ruang kerjaku. Namun, saat sedang di perjalanan papa meneleponku.
"Apa, Pa?" jawabku ketika satu ear phone sudah ada di telinga karena aku sedang menyetir dan terpaksa aku hentikan laju mobil karena takut terjadi kecelakaan akibat keteledoranku yang bisa saja malah mencelakakan orang lain sesama pengguna jalan.
"Aku menunggumu di rumah," pintanya.
"Untuk apa? Aku sibuk hari ini."
"Ada hal penting yang harus aku katakan padamu, Harwit."
"Di sini, kan, bisa. Aku benar-benar sibuk, Pa."
"Ini menyangkut ibumu!"
"Mama?"
"Ya, tentang Mamamu," jawab papa yang berhasil membuatku cepat-cepat memutar arah mobil menuju rumah.
Sesungguhnya jarak kantor ke rumah papa cukup jauh, tetapi demi orang yang paling aku sayangi di dunia ini aku rela memutar arah bahkan bisa saja aku terkena omelan Mbak Gotik nantinya.
__ADS_1
"Selamat sore Tuan Muda Harwit," sapa scurity rumah di depan gerbang saat aku membuka kaca mobil.
Aku mengangguk, kemudian memacu mobil ke halaman rumah megah setelah gerbang tinggi terbuka lebar.
Aku melihat papa yang berdiri di balkon lantai tiga sedang menatap ke arahku. Balkon itu tempat menyendiri saat beliau ingin menyepi. Ya, Papa memang mirip sepertiku; seorang yang menyukai keheningan dan lebih suka menyendiri ketika merasa tidak bersama orang yang tepat.
"Selamat sore, Tuan Muda Harwit." Beberapa asisten rumah menyapaku dengan pandangan tertunduk saat aku memasuki rumah. Tidak ada yang berani menatapku atau hanya sekadar bercanda melemparkan celoteh yang bisa membuatku tersenyum.
Aku tidak menjawab, hanya melewati mereka saja kemudian menaiki lift menuju ruangan di lantai tiga.
Ya, di sini aku berbeda. Tidak ada karakter Levine yang ceplas-ceplos, selengean, cuek, bahkan sering membuat Mbak Gotik emosi. Di sini––rumah papa aku harus menjaga sikap selayaknya seorang anak konglomerat yang harus menjaga perilaku serta banyak adab yang dijunjung tinggi hanya untuk memperlihatkan kasta seorang yang terlahir dari keluarga darah biru, bahkan kasta begitu dijunjung tinggi di keluarga papa. Hal ini yang membuatku memilih pergi karena merasa hidup di sangkar emas yang terlihat megah, mewah dan berkelas, tetapi sama sekali tidak bebas bahkan yang ada hanya aturan-aturan yang membuatku muak!
"Ada apa, Pa?" Aku menyapa papa yang masih terlihat fokus ke halaman rumah.
Tubuh tinggi besar dengan rambut yang sedikit terlihat memutih bercampur hitam kini berputar dan berhadapan denganku. Wajahnya sama seperti dulu, beliau betul-betul sama sepertiku bagai pinang dibelah dua. Bahkan sepertinya hampir sembilan puluh lima persen karakter kami pun sama.
"Aku telah mendengar di mana keberadaan ibumu, Harwit. Tapi aku tidak bisa ke sana karena kesehatanku yang memburuk beberapa hari ini dan Abangmu masihp di rumah sakit."
"Ada di salah satu kampung kecil di Jawa Tengah. Sengaja aku tidak mengerahkan anak buahku karena mamamu pasti akan pergi setelah mengetahui kalau anak buahku mencarinya. Bahkan ketika aku mengganti personil pun, mamamu tahu. Dia memang cerdas!" ucap papa.
Sesungguhnya aku tidak pernah mengetahui bagaimana wujud mama. Sejak usia dua tahun beliau meninggalkanku entah karena apa? Bahkan papa pun tidak mengetahui alasannya. Namun, kata papa mama dulu pernah mengalami depresi dan sempat dirawat di rumah sakit jiwa beberapa pekan hingga akhirnya beliau dibawa pulang oleh keluarganya karena tidak mau tinggal bersama papa. Aneh memang, teka-teki ini seolah masih menjadi misteri untukku yang saat ini sudah berusia dua puluh satu tahun.
"Harwit, Papa ingin sekali lagi bertanya padamu; apakah benar kamu sudah menikah?" tanya papa.
Ini kali kedua papa bertanya. Saat berada di rumah sakit aku tidak menjawab dengan gamblang dan saat ini aku ingin menjelaskan padanya.
"Ya, aku sudah memiliki istri, Pa. Aku sudah menikah dan tolong Papa jangan muncul di keluarga istriku. Misalkan kita bertemu, anggap aku bukan anak Papa."
Sepasang mata tua papa menyipit saat menatapku. Mungkin baginya merasa aneh dan sesungguhnya banyak hal yang aku sembunyikan darinya dan aku tidak ingin papa mengetahui pernikahanku yang seolah pernikahan pura-pura saja.
__ADS_1
"Kenapa begitu? Apa aku tidak memiliki hak untuk mengetahui siapa menantu dan besanku?"
"Tidak. Belum saatnya, Pa. Anggap aku selayaknya orang asing atau karyawan papa yang dulu bekerja di kantor."
Bibir papa menyeringai.
"Sepertinya aku tahu sesuatu, tapi itu hakmu. Lakukan apa yang menurutmu baik karena aku tahu, karaktermu sama sepertiku. Oh, iya, lusa Abangmu pulang," ucap papa sambil menepuk pundakku.
"Syukurlah, paling tidak di rumah ini akan kembali hangat dengan adanya Abang dan ibu yang menemani papa."
Waktu sudah menunjuk pada angka empat. Tidak ada acara makan atau pun sekadar ngopi bersama. Aku dan papa masih kaku setelah beberapa tahun terpisah karena memang keinginanku untuk meninggalkan rumah. Ketika kemarin aku membujuk Abang pun, papa sedang tidak ada di rumah.
Ah, ternyata bukan hanya pernikahanku yang seolah hanya sekadar bayang-bayang. Status keluarga di sini sebagai anak pun seolah samar-samar di mana aku sama sekali tidak mengenal sosok mama.
Rindu. Ya, satu kata ini yang sedang aku rasa. Sering kali aku iri pada Abang karena ia memiliki ibu kandung bahkan dibesarkan dengan penuh kasih sayang darinya. Sedangkan aku? Ingat wajahnya saja tidak.
Tidak ada satu pun foto mama di sini. Bahkan di kamar kosong yang kata papa itu kamar mama pun tidak ada fotonya satu pun. Seharusnya ada foto pernikahan mereka atau sekadar foto dari buku nikah papa dan mama. Namun, nyatanya papa tidak memberitahuku tanpa alasan. Sungguh, hal ini seperti misteri yang cukup sulit diungkap.
Tiba-tiba saja ponsel berdering dan ternyata nomor kantor. Aku meminta ijin pada papa untuk mengangkat panggilan telepon.
"Halo?" Aku menjawab panggilan ponsel setelah papa mengijinkan.
"Pak, Ibu Zaskia masuk rumah sakit!" ucap salah satu rekan kerja yang membuatku seolah terampas dari atas gedung yang tinggi ke dasar jurang.
"Apa?"
Antara percaya dan tidak ketika mendengar Mbak Gotik berada di rumah sakit. Secara tadi aku melakukan video call sepertinya ia baik-baik saja.
"Ibu Zaskia kecelakaan di depan kantor, Pak."
__ADS_1
Astaga, Tuhan ....
Tubuhku lemas. Entah kenapa terasa lemah saat mendengar orang yang sedang aku perjuangkan cintanya malah berada di rumah sakit dan aku belum tahu bagaimana keadaannya sekarang.