Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Berondong Ingusan


__ADS_3

Aku dan Mbak Gotik telah sampai di rumah bergaya mediterania setelah dijemput oleh sopirnya di TPU. Mbak Gotik masih menggendong Katemi si kucing manis dan imut yang tidak ingin kusentuh.


"Malam, Non. Saya panasin dulu sayurnya, ya?" ucap Alda ketika kami masuk ke rumah.


"Boleh, aku mau mandi dulu," jawab Mbak Gotik.


"Baik." Alda yang mengenakan kemeja warna putih berlengan panjang dan rok warna hitam pendek terlihat pergi ke belakang.


Rumah yang cukup besar ini terasa sepi. Aku bersyukur saat ini Mbak Gotik tidak terlalu sedih semenjak kehilangan sosok nenek yang ia sayangi tadi siang.


"Lele, pegang bentar, nih!" Mbak Gotik menyodorkan tubuh mungil berbulu lembut itu padaku.


Aku menggerdik.


"Ogah! Nanti dicakar," kataku sembarang.


"Ya ampun, enggak usah sok imut, deh! Katemi mana mau nyakar kamu? Yang ada aku yang mau nyakar kamu, Lele!"


"Cakar aja, gue iklhas, Mbak. Sungguh, hati gue iklhas asal yang nyakar gue ya dirimu bukan Katemi."


"Dih! Pokoknya pegang! Awas kalau sampai dia lepas!" ucapnya dengan mata membulat dan memberikan Katemi padaku.


'Hwacim!'


Baru saja Katemi ada dalam gendonganku beberapa detik aku sudah bersin.


Mencoba untuk bertahan tetapi sepertinya tidak bisa, apalagi Katemi baru saja ditemukan dan pastinya tubuh kucing kecil ini sangat kotor dan membuatku terus menerus bersin.


Tidak ingin terlalu lama akhirnya aku memberikan Katemi pada Alda setelah ia selesai dengan tugasnya.


"Pegang, ya? Gue gak sanggup lagi," ucapku pada Alda saat memberikan Katemi pada gendongannya masih dengan bersin-bersin.


"Mas Levine alergi kucing, ya?" tanya Alda padaku saat melihatku bersin-bersin yang kemudian meler.


"Iya."


"Mas Levine langsung minum susu hangat saja. Aku udah buatin di meja makan dan cuci tangan dulu, kan, udah pegang kucing," kata Alda yang masih menggendong Katemi.


Aku tidak menjawab dan langsung menuju dapur untuk mencuci tangan di wastafel kemudian berjalan ke meja makan dan menggenggam gelas berisi susu cokelat yang terasa hangat.

__ADS_1


Satu dua teguk susu cokelat ini berhasil melewati kerongkongan dan membuat tubuhku sedikit menghangat saat setengah gelas susu telah larut begitu saja.


"Katemi mana?"


"Sama asisten Mbak," jawabku yang masih meler.


"Ish, ingusan mulu. Dasar berondong ingusan!" ketusnya sambil berlalu.


"Ingusan begini juga gemesin, ya, Mbak?" jawabku sedikit berteriak karena Mbak Gotik semakin menjauh dariku.


"Najis!" samar-samar terdengar saat tubuhnya sudah tidak terlihat oleh pandanganku.


Hanya beberapa menit saja Mbak Gotik kembali ke ruang makan tanpa Katemi yang katanya sudah ditaruh di kandang oleh Alda karena sudah malam hari serta belum dimandikan. Saat ini kami sedang menikmati makan malam dan malam ini merupakan malam keduaku menjadi suami dari Mbak Gotik.


Tidak ada yang aneh. Kami masih sama seperti sebelum menikah antara bos dan stafnya. Namun, berubah status saja dan menjadi satu rumah dengannya.


*


"Kamu mau ngapain?" tanya Mbak Gotik saat aku sudah berdiri di belakangnya.


"Tidur, lah. Apa lagi?" jawabku saat kami berada di depan pintu kamar.


"Kamarmu bukan di sini, tapi di sana!" Mbak Gotik menunjuk kamar sebelah.


"Udah kek anak kost aja, sih, Mbak, tidurnya bersebelahan kamar."


"Pokoknya kita tidak sekamar, paham?!" ucapnya kemudian mendorong pintu dengan kasar membuatku sedikit kaget.


Aku hanya mampu menghela napas kemudian masuk ke kamar di samping kamar istriku.


Rupanya malam kedua malah lebih parah. Aku mengira akan semakin intim dari malam pertama yang masih lumayan bisa meluk-meluk Mbak Gotik. Namun, di malam kedua malah disuruh pisah kamar. Sial!


Waktu telah menunjuk ke angka dua belas malam, tetapi mata ini masih terjaga dan akhirnya aku memilih keluar kamar sekadar untuk menikmati langit malam yang kelam.


Di mana langit malam yang hitam menyelimuti bumi membuat sebagian orang merasa takut, tetapi tidak denganku yang malah menikmatinya karena saat malam hari suasana sepi, tidak ada suara-suara munafik yang kudengar, hanya suara jangkring, kodok serta suara burung hantu yang sesekali kudengar.


Mataku melebar ketika melihat di balkon sebelah ada seorang wanita yang tampak cantik mengenakan gaun tidur pendek dengan kain satin berwana putih berlengan panjang sedang berdiri dan menatap ke atas. Entah, dia melihat apa? Karena tidak ada apa pun di atas sana selain daripada warna langit hitam tanpa adanya cahaya dari sang rembulan atau pun bintang yang biasanya menemani.


"Kenapa gak tidur, Mbak?" Aku menyapanya dan detik itu juga ekspresi Mbak Gotik terlihat kaget saat menoleh ke arahku.

__ADS_1


"Lah, kamu kenapa belum tidur?" Bukannya menjawab, Mbak Gotik malah kembali bertanya seolah apa yang akan nanti aku jawab itu juga merupakan alasannya belum terlelap hingga selarut ini.


"Belum ngantuk," jawabku simpel.


"Sama!" jawab Mbak Gotik yang ternyata lebih simpel lagi.


"Yee ... gue udah tidur duluan, kok, tadi." Aku meralat ucapanku.


"Sama!"


Jawaban Mbak Gotik lama-lama malah membuatku gemas meski dia tidak menatap wajahku saat menjawab tiap pertanyaan dariku. Hingga akhirnya timbul di otakku untuk menjahilinya.


"Tapi gue mau satu kamar sama Mbak."


"Najis!" ucap Mbak Gotik sambil menatapku.


"Kirain mau bilang 'sama' lagi, Mbak," ucapku sambil nyengir.


"Jangan harap!" ucap Mbak Gotik kemudian berlalu begitu saja masuk ke kamarnya.


Aku tersenyum melihat kelakar Mbak Gotik. Rasa-rasanya aku ingin memeluk dan menenggelamkan tubuh mungilnya saat melihat kekesalan di kedua matanya. Sifat Mbak Gotik memang manja. Mungkin karena memang ia anak tunggal dan terlahir dari orang kaya.


Sepasang mata sipitku masih melihat pada langit hitam. Di mana aku sedikit teringat dengan kejadian beberapa waktu lampau. Ah, sudahlah. Bukankah semua perjalanan hidup itu bermakna? Jadi, untuk apa bersedih?


Terkadang aku merutuk diri dan menyalahkan Tuhan saat kejadian buruk menimpa. Otakku selalu menolak kalau Tuhan itu baik. Mungkin bagi orang lain, tapi tidak denganku yang saat ini masih kecewa dengan jalan hidupku. Ah, sudahlah. Masa itu aku anggap sudah berlalu meski sakitnya masih abadi hingga detik ini.


Entah sudah berapa lama aku menikmati kesepian. Padahal dulu aku paling khawatir dengan kesendirian, tetapi saat ini malah menjadi obat dikala aku penat menjalani rutinitas yang kurasa monoton tanpa kasih.


Aku terperanjat ketika dering ponsel terdengar yang berhasil menyeret pikiranku dari lamunan. Akhirnya aku berjalan dan mengunci pintu kamar karena memang hidungku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


[Tidur! Udah meler, kan, kamu? Jangan manja seperti anak kecil yang harus disuruh untuk beristirahat!]


Satu pesan kubaca dan berhasil membuat bibir tersenyum manis.


Ya, dia memang galak. Dia jutek dan tidak ramah terhadap karyawannya di kantor, tetapi malam ini aku merasa kalau dia benar-benar manis dengan segala pesan juteknya yang malah membuatku bahagia.


[Gue mau tidur asal sama Mbak.]


Aku mengirimkan pesan singkat pada Mbak Gotik dan tidak berselang lama aku mendengar satu kata andalannya.

__ADS_1


"Najiiisss!!!"


__ADS_2