Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Katemi?


__ADS_3

Wajah cantik dengan mata terpejam dan mulut menganga itu terlihat menggemaskan. Namun, selang beberapa detik saja mata indahnya kini terbuka dan menjadi sorot mata judes seperti biasanya.


"Kamu ngapain peluk-peluk aku?!" sengitnya saat tubuhnya telah mendorongku supaya bisa lebih jauh.


"Dih, gue tadi tidur ngebelakangi Mbak, kok, suer!"


"Nyatanya malah bisa meluk aku!"


"Itu bonus, Mbak, hehehe."


"Tuuuuh, kan!"


Bibir Mbak Gotik mengerucut dengan keadaan kami saat ini yang sama-sama saling berhadapan, tetapi dengan jarak yang cukup jauh karena Mbak Gotik sepertinya begitu kesal terhadapku.


"Tuh! Punyamu, kan?!" Mbak Gotik melempar kemeja yang tadi menutupi tubuhnya. "Enggak usah sok perhatian sama aku!" tukasnya lagi masih begitu sengit.


"Jangan benci-benci, nanti Mbak cinta mati sama gue," kataku dengan seulas senyum.


"Ih, najis!" tukasnya lagi dengan begitu jutek.


Ternyata hujan telah berhenti dan langit gelap telah menyelimuti tanpa adanya bulan ataupun bintang malam ini. Hanya kunang-kunang yang terbang di hadapan kami juga kilatan petir menyambar yang sepertinya akan turun hujan lagi.


"Mbak, kita mau tidur di kuburan?" Aku memecah keheningan karena Mbak Gotik belum juga meminta pulang.


"Ya enggak juga. Iya kalik aku mau tidur bareng setan?" jawabnya dengan sinis.


"Gak usah liatin gue juga pas ngomong setan, udah kayak gue aja setannya, Mbak." Giliran aku yang menatapnya sinis.


Bibir merah muda itu sedikit tersenyum. Sepertinya ia ingin tertawa, terapi entah apa yang membuat dirinya seolah menahan dengan tangan yang menutup mulutnya saat ini.


"Gak, aku enggak mau pulang! Kalau mau pulang, ya, pulang saja sendiri!" tukasnya.


"Yakin, nih? Gue balik, ya?"


"Sanaaaa!!! Syuh, syuh, pulang sana!" usirnya dengan tangan yang melambai-lambai.


Aku bangkit dari gazebo dan berdiri di atas tanah kuburan. Menatap sekilas Mbak Gotik yang masih berpaling dariku.


Halah! Paling sebentar lagi dia teriak.


Aku berjalan santai dan baru saja tiga langkah meninggalkan gazebo Mbak Gotik sudah berteriak.


"LEVINE!!!"

__ADS_1


Hanya sekap saja saat teriakan itu terdengar, ada tangan yang melingkar di perutku dengan erat serta tubuh hangat yang saat ini lekat memeluk dari belakang.


Bibirku tersenyum.


Sengaja aku biarkan Mbak Gotik memeluk erat tanpa bergerak. Hingga entah berapa lama berlalu sepertinya Mbak Gotik sadar ketika gerimis mulai turun meski jarang-jarang.


"Ish! Malah diem aja," katanya terdengar kesal sambil menepuk pundakku.


Aku memutar tubuh dan saat ini kami saling berhadapan. Aku menatapnya lekat kemudian ekspresi wajah Mbak Gotik terlihat gerogi.


"Ya udah peluk lagi, coba! Gue udah ngadep depan ini," kataku sambil mengangkat satu alis saat melihat Mbak Gotik yang sedang tertunduk.


Tanpa diminta wajah Mbak Gotik segera mendongak memandang wajahku. Maklum saja, tinggi badan kami memang cukup jauh berbeda. Mbak Gotik yang hanya sekitar seratus lima puluh centi meter sedangkan aku lebih dari seratus sembilan puluh centi meter membuat Mbak Gotik mengharuskan mendongak jika ingin menatap wajahku.


"Dih, jangan harap! Ayok, pulang sekarang!" ucapnya kemudian berjalan mendahuluiku.


Dari tadi, kek!


Aku berjalan mengikuti langkahnya dari belakang. Mbak Gotik cukup cepat berjalan meski ia mengenakan high heels.


"Hati-hati, Mbak."


"Enggak usah cerewet! Nggak bakal jatuh juga, aku sudah terbiasa memakai heels," katanya tanpa menoleh.


Sepertinya salivaku masih basah saat bicara hal barusan. Tiba-tiba saja Mbak Gotik membalikkan badan saat ada sesuatu yang berisik di semak-semak.


"Apakah itu hantu?" ucapnya pelan saat Mbak Gotik mencengkeram kemejaku cukup kencang.


"Bisa jadi. Katanya tadi gak takut?" ledekku padanya.


"Enggak, aku enggak takut, kok," jawabnya bergetar sambil mendongak menata wajahku.


Aku tersenyum.


"Ish! Jangan ngeledek!" Mbak Gotik memukul pelan dadaku.


Setan sepertinya mendukungku. Suara-suara aneh kembali terdengar dan membuat tangan Mbak Gotik melingkar pada punggungku semakin erat.


'Meeaaww!'


Terdengar suara lucu menggema dari balik semak-semak tersebut dan tidak lama ada yang meloncat.


Sialan! Aku mengira setan, ternyata hanya anak kucing yang ada di balik semak-semak itu.

__ADS_1


Mbak Gotik langsung melepaskan pelukannya dan ia langsung melihat pada semak-semak.


"Aaahhh ... kamu imut banget, Sayang." Tanpa ragu atau pun jijik, Mbak Gotik langsung meraih kucing putih tersebut.


"Hai, namamu siapa kucing manis?" ucapnya terdengar gemas saat kucing putih itu sudah berada di gendongan Mbak Gotik.


"Lihat, Lele. Kucingnya imut, ya?" ucapnya saat ia sudah berhadapan denganku meski jarak kami cukup jauh.


"I-iya," jawabku ragu sambil mengusap tengkuk dengan seulas senyum kaku.


Mbak Gotik sepertinya senang dengan kucing putih itu. Ia terus mengusap-usap kepala dan bagian tubuhnya saat berada dalam dekapan.


"Pulang, yuk?!" ajak Mbak Gotik tanpa melihatku. Sepasang matanya hanya fokus pada kucing putih itu yang sepertinya berhasil mencuri hati Mbak Gotik.


Halooo ... kenapa kamu malah kalah sama seekor kucing, Levine?


"Ho'o, tapi kucingnya lepasinlah! Masa iya mau dibawa pulang?" protesku padanya.


"Enggak mau! Dia imut soalnya, lagian aku yakin kucing ini tidak ada pemiliknya," ucap Mbak Gotik masih dengan terus mengusap si kucing putih itu.


"Dari mana Mbak tau kalau kucing itu gak ada pemiliknya?" kataku sambil mengangkat satu alis merasa heran pada wanita cantik, tetapi sepertinya mempunyai kesotoyan yang tinggi.


"Lihat! Dia tidak mengenakan kalung atau aksesoris lain yang melekat di tubuhnya. Ini mendalam ia tidak ada pemiliknya," ucapnya yang malah terlihat semakin sayang pada kucing putih yang baru saja ia temukan.


"Sotoy! Ini kampung, iya kalik kucing itu ada pemiliknya tapi gak dipakein kalung karena mungkin kalungnya dipakai oleh sang majikan. Bisa jadi, kan?"


"Ish! Mana bisa begitu? Enggak! Pokoknya aku enggak mau pulang kalau harus meningglakan dia!" tegas Mbak Gotik yang sepertinya sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan kucing putih itu.


Terjadi perdebatan antara aku dan Mbak Gotik malam ini. Padahal rinai hujan telah turun sejak tadi dan saat ini kami masih berdebat di bawah pohon nangka di samping kuburan yang tidak jauh dengan pintu gerbang. Bukan hanya itu, tetapi hawa dingin juga saat ini telah menelusup ke tubuh sehingga menjadikan aku meler.


"Pokoknya aku mau bawa! Kalau kamu enggak setuju, ya, terserah!"


Ya Tuhan ... sepertinya Mbak Gotik tidak tahu kalau aku sesungguhnya memiliki alergi terhadap buku kucing, dingin, debu juga asap. Oleh sebab itu sampai detik ini aku tidak perokok. Karena bagaimana mau merokok? Baru saja asapnya terhisap olehku sedikit saja, hidungku sudah jebras-jebres seperti itu.


Mbak Gotik masih dengan pendiriannya sedangkan aku masih dengan ketakutanku pada alergi yang bisa kambuh kapanpun karena kucing yang nanti dibawa oleh Mbak Gotik ke rumah. Namun, apa yang bisa aku lakukan selain dari kata menyerah? Ya, aku menyerah untuk istriku.


"Kita pulang, yuk, Katemi!" ucap Mbak Gotik.


"Katemi?"


"Hu'um, aku beri nama kucing ini Katemi karena aku menemukannya di kuburan," ucapnya dengan seulas senyuman.


Ya Tuhan ... mentang-mentang ia menemukan kucing itu di kuburan seenaknya saja menamai kucingnya dengan nama; Katemi.

__ADS_1


__ADS_2