
Percaya atau tidak, sepanjang perjalanku dan Mbak Gotik ditemani keheningan bersama bibir merah muda yang mengerucut membuatku gemas.
Kini mobil sudah terparkir di salah satu home stay yang terlihat asri dengan halaman yang cukup luas. Di sini ada beberapa hunian dengan bangunan yang tidak terlalu besar, hanya ada satu kamar, ruang tamu, kamar mandi serta dapur kecil yang cukup bersih dan rapi kata si pemilik tanpa Mbak Gotik tahu karena aku yang mencari tempat ini dari internet.
"Loh, kok, kamarnya cuma satu?" ucap Mbak Gotik.
Syukurlah Mbak Gotik masih mau bicara, aku kira ia sudah lupa atau malas berbicara saat dekat denganku.
"Bagus, dong, Mbak. Kita, kan, pengantin baru," celetuk bibir ini sepertinya membuat masalah lagi. Namun, saat ini bukan makian atau lirikan maut seperti biasanya. Ia menginjak kakiku yang telah bertelanjang tanpa memakai alas kaki dengan heels yang masih melekat sempurna.
Rasanya itu sakit ya Tuhan dan aku pun spontan menjerit.
"Aw!"
"Rasain!" katanya sambil berlalu pergi begitu saja tanpa maaf meninggalkanku di ambang pintu.
Aku mengusap kakiku sebentar kemudian meraih dua koper yang berukuran jomplang. Punyaku yang hanya berisi beberapa pakaian saja, sedangkan koper yang begitu besar entah isinya apa saja milik Mbak Gotik, belum lagi tas yang besar menumpuk di atas kopernya, astaga!
Pintu kamar tertutup rapat dan aku hanya menyimpan koper di samping pintu sedangkan aku memilih membaringkan tubuh di sofa ruang tamu.
Aku tetap membuka jendela ruang tamu karena terasa panas sekali, tetapi tubuhku begitu pegal mungkin karena cukup lama mengemudikan mobil.
Entah berapa lama aku terlelap hingga ketika membuka mata melihat pada jendela yang ternyata sudah tertutup oleh tirai.
"Udah bangun?" tanya Mbak Gotik di ambang pintu kamar.
Aku tersenyum.
Ia mengenakan kaos longgar dan celana pendek terlihat seperti ABG saja. Apalagi tubuhnya yang mungil serta wajah yang menolak tua seperti anak SMA. Namun, bukan pada perihal itu mataku fokus saat ini, tetapi pada rambutnya yang terlihat masih setengah basah, terlihat seksi.
'Gak usah mulai, gak usah mulai! Baru saja lu disapa masa iya lu mau bikin ulah lagi, Le?'
Mataku berkedip. Setan dalam sini terkadang nyelekit, tetapi ada benarnya sih. Aku lebih suka menyebutnya setan dalam hati karena ucapan yang terdengar di telinga sepertinya selalu kasar meski akhirnya aku mengikutinya.
Jangan membantah isi hati, Le. Dia sepertinya lebih tahu dan peka perihal Mbak Gotik.
"Udah, Mbak," jawabku sambil bangkit dari sofa, tapi badan terasa begitu pegal dan spontan bibir pun meringis.
"Bersiaplah, kita akan ke salah satu cafe untuk menemui seseorang," katanya kemudian kembali masuk ke kamar.
Meski tubuh masih terasa pegal, tetapi aku bergegas mandi apalagi memang badan terasa lengket sekali.
__ADS_1
Pancuran air dari shower cukup membuat tubuh terasa relaks apalagi dengan aroma sabun dan shampo yang soft semakin menenangkan hingga akhirnya aku selesai mandi dengan tubuh yang semakin membaik meski belum seutuhnya.
Aku keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk pendek selutut bahkan air di wajah dan dada belum sepenuhnya kering.
"LELEEE!!!" Teriakan Mbak Gotik menganggetkanku ketika sedang mengenakan celana jeans di ruang tamu.
Aku menoleh dan Mbak Gotik yang sudah berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang telah rapi serta tas yang sudah tersampir di pundak terlihat rapi juga cantik. Namun, kedua tangannya saat ini menutupi wajah yang harusnya ia buka karena telah menutupi kecantikan wajahnya.
Aku tersenyum dan dengan santainya aku menaikkan celana jeans, memasukkan kemeja kemudian melipatnya hingga dekat sikut.
Aku berjalan santai dan saat ini sudah berada tepat di hadapannya yang masih menutup wajah.
"Kenapa ditutup?" kataku dengan senyum-senyum geli.
"Naikin dulu celanamu!" pintanya.
"Ogah! Sama Mbak aja, lah!" Aku masih menggodanya.
"Lele, ish! Pakek sekarang, cepat! Kita udah ditunggu, loh, ini," ucapnya semakin terdengar pelan.
"Lagian apa yang mau gue naikin, coba? Gue dari tadi udah pakek celana kalik, Mbak."
Perlahan jemari telunjuk dan tengah ia renggang kan seolah matanya sedang mengintip dari sela-sela jari. Tidak lama, Mbak Gotik mengempaskan tangan yang menutupi wajah cantiknya malam ini.
Kami pun berangkat ke salah satu cafe yang disebutkan namanya oleh Mbak Gotik, tetapi di perjalanan ada yang menelepon Mbak Gotik. Sepertinya ia merupakan orang yang berjanjian dengannya malam ini.
"Le, puter balik. Kita ke Amplaz aja," kata Mbak Gotik setelah ia menutup panggilan ponselnya.
"Baiklah." Tanpa ada bantahan aku pun menuruti perintahnya.
**
Kini kami telah sampai di lobby parkir Amplaz atau Ambarukmo plaza yang cukup jauh dari penginapan kami. Namun, lagi-lagi lelaki ini memutar haluan. Ia menginginkan bertemu di salah satu cafe dekat Ambarukmo.
Kami pun berjalan pada alamat yang telah ia share loc dan memang benar, dekat dengan Amplaz.
"Malam ...." Mbak Gotik menyapa dengan begitu ramah bahkan seulas senyum yang manis untuk tamu lelakinya itu. Jujur, aku tidak suka!
"Hai, Zas. Lama gak jumpa. Gimana kabarmu?" tanya lelaki itu yang seolah sudah lama mengenal Mbak Gotik.
"Baik," jawab Mbak Gotik simpel dengan mata sejenak menoleh ke arahku saat mereka berdua berjabat tangan.
__ADS_1
"Ah, sorry. Aku sampai lupa, mari, duduk!" ucap si laki-laki masih dengan senyum memuakan bagiku.
"Iya." Mbak Gotik duduk meski sepertinya ragu.
"Oh, iya, kenalin, Ren. Ini Levine," ucap Mbak Gotik mengenalkanku dengan lelaki itu.
"Rendy," katanya dengan wajah nge-flat.
Aku hanya tersenyum saat berjabat tangan.
Obrolan pun dimulai, tetapi aku memilih pergi saat mereka malah membahas perihal kenangan-kenangan yang ternyata dulunya bersahabat semasa kuliah.
"Le, kamu mau ke mana?" tanya Mbak Gotik saat melihat aku berdiri.
"Gue lupa ada barang yang tertinggal di mobil."
"Nanti lagi, kan, bisa. Temani aku di sini," kata Mbak Gotik lagi.
"Di sini pun gue gak ngerti apa-apa, Mbak lanjutin aja biar gue tunggu di mobil," kataku kemudian berlalu pergi.
Argh!
Sungguh aku kesal saat menatap pandangan lelaki itu pada Mbak Gotik. Mau marah, tapi aku tahu diri. Pasti yang ada malah Mbak Gotik kesal terhadapku. Dada ini terasa panas sekali melihat mereka. Apakah ini yang dinamakan cemburu?
Aku memilih berjalan di mall dan masuk di antara banyaknya lautan manusia untuk mengusir rasa kesal atas perkara tadi.
Setelah berada di dalam mall aku memilih untuk menikmati makan malam di salah satu stand kecil. Ternyata perutku tidak bisa diajak kompromi, ia lapar di saat waktu yang tidak tepat. Sudahlah, sambil makan malam saja sambil nunggu Mbak Gotik mengobrol di cafe tadi.
Cukup lama aku duduk di stand bahkan sudah selesai makan, tetapi Mbak Gotik masih belum kembali ke mobil bahkan sepertinya mall ini juga akan segera tutup.
Aku pun membayar kemudian berlaku pergi hendak ke cafe tadi menyusul Mbak Gotik.
Keadaan di luar mall pun semakin sepi dan kini aku sudah berada di cafe tadi, tetapi meja yang tadi diisi oleh Mbak Gotik telah kosong.
"Mas, orang yang tadi duduk di meja itu ke mana?" kataku pada salah satu pelayan cafe itu.
"Sudah pergi, Mas, barusan saja mereka pergi setelah membayar menu yang mereka pesan," kata pelayan itu.
"Pergi?" Aku membulatkan mata dan pelayan itu mengangguk.
Aku segera berlari keluar dari cafe dengan pikiran yang tidak tenang. Bagaimana mungkin Mbak Gotik lupa kalau dia ke sini denganku tadi?
__ADS_1
"Mbak? Mbak? Astaga, Mbak di mana?!" Aku memekik kesal karena sudah kucari di sekitar kafe tidak terlihat adanya dia. Entah, Mbak Gotik ada di mana saat ini?