
Ini hari ketiga Mbak Gotik dirawat di rumah sakit. Lecet dan bengkaknya sudah mulai membaik, tinggal luka lebam yang masih cukup terlihat jelas. Bahkan dari kemarin aku sudah ke kantor seperti biasanya karena Mbak Gotik yang menyuruh.
'Jangan ge'er, Le!
Mbak Gotik hanya gak mau ngelihat lu di sampingnya, karena lu yang notabene selalu bikin dia darah tinggi dan berujung gemas.'
Sial! Setan dalam hati selalu mengganggu anganku saat membayangkan hal-hal manis perihal Mbak Gotik.
Mungkin baginya aku menggemaskan. Sosok lelaki yang cukup berjarak jauh dengan usianya yang harus ia hargai dan disebut sebagai suami. Meski saat ini kata dan perilaku itu amatlah jauh. Tidak apa-apa, bukankah batu yang keras juga lama-lama akan cekung seiring terkena tetesan air apabila terus menetes dengan continue? Namun, hal ini bukan tentang air dan batu.
Mungkin hal itu ibarat aku yang sedang melubangi perasaan Mbak Gotik yang hampir membatu karena dikecewakan oleh calon suaminya dulu. Aku tahu akan sulit menerobos hatinya. Terlebih di matanya aku hanya berondong somplak yang selalu membuatnya emosi.
Hey, Mbak! Apakah kamu tidak tahu, bahwa kesomplakanku membuat wanita sulit untuk melupakanku? Somplakku, candu bagimu!
[Le, tidak usah jemput aku di rumah sakit. Aku udah pulang dijemput sama sopir. Ayah dan Bunda pun baru aku kasih tau saat sudah berada di rumah.] Isi chat dari Mbak Gotik.
[Astaga! Gue nanti dimarah sama Tuan Bobby, lah, Mbak!] Aku membalas pesannya karena saat ini aku sedang berada di lapangan dan sedang makan siang dengan salah satu pemilik grosiran.
[Enggak, aku bilang ke Ayah Bunda tadi dijemput kamu, kok. So, kamu tenang aja.] Balasnya yang membuat aku tersenyum.
"Pak, permisi sebentar, ya? Saya mau ke toilet sebentar," pamitku pada pemilik grosiran dan ia pun mengangguk dengan senyum ramah.
Aku meninghalkan pemilik grosiran dan menuju arah toilet. Kebetulan di sini cukup sepi sehingga aku memasuki satu toilet paling ujung. Bukan untuk buang air kecil, tetapi hanya untuk menelepon Mbak Gotik yang tadi berhasil membuatku bahagia dengan chat yang ia lempar padaku seolah membela diri ini di depan ayah bundanya.
"Ih, ngapain call?" jawab Mbak Gotik dari dalam ponsel.
"Gue cuma mo mastiin kalo Mbak beneran udah pulang, kan?"
"Udah. Enggak usah video call, males aku!"
__ADS_1
"Iya, gak video call, cuma mo tanya perihal pesan singkat yang Mbak kirim pada orang tua Mbak, itu sengaja bohong buat gue, kan? Biar gue terlihat bagus di mata kedua orang tuanya Mbak. Em ... padahal, meski gue gak dibagus-bagusin juga udah bagus, kok, Mbak. Gemesin lagi," kataku panjang lebar sambil nyengir.
Hening.
"Mbak? Mbak masih di situ, kan?" ucapku karena tidak ada suara.
"Mbak? Woy!" Lagi, aku kembali memanggilnya.
Sepertinya Mbak Gotik marah, ia tidak menyahut dalam ponsel dan hal ini seolah menjadi kebiasaannya. Diam ketika ia kesal dan bisanya berujung menangis.
Hati sempat resah karena berulang kali aku memanggil namanya tanpa ia gubris hingga suara ketukan pintu di luar terdengar di telinga.
"Mas? Mas? Mas lagi b*ker atau lagi nge-drama di dalem toilet, sih? Rame amat, padahal sendirian," ucap seorang laki-laki.
Karena merasa malu akhirnya aku keluar dari dalam toilet, lalu tersenyum pada seorang laki-laki yang ternyata si penjaga toilet.
"Sorry, Bang. Gue lagi cekcok sama bini," kataku sambil memberikan uang dua puluh ribu rupiah di tangannya.
"Gak usah, buat Abang aja. Itung-itung gantiin telinga Abang yang mungkin budek sama percakapan gue di ponsel barusan." kataku sambil terus berjalan dan mencoba melihat pada layar ponsel.
Sepasang mataku membulat ketika menyadari kalau sesungguhnya ponsel sudah mati entah sejak kapan.
"Pantas Mbak Gotik gak nyaut, hape gue aja mati. Hadeuhhh ...." Aku mengusap wajah dan mencubit hidungku yang sedikit meler.
Jarum jam tangan menunjuk pada angka dua yang artinya aku harus kembali ke kantor untuk memberikan laporan.
**
Saat ini mendung di langit begitu pekat dan tebal. Hawa dingin bercampur angin begitu terasa saat aku berjalan menuju lobby parkir.
__ADS_1
Benar dugaanku, ketika pantat terduduk di kursi mobil akhirnya hujan turun begitu deras. Gegas aku memacu mobil karena aku hendak melewati beberapa titik jalan yang biasa langganan banjir.
Selamat! Aku telah melewati titik jalan yang rawan banjir. Namun, aku memperlambat laju kendaraan ketika ponsel yang sedang dicas menggunakan power bank kutaruh di dashboard mobil tiba-tiba saja menyala. Rupanya chat dari Mbak Gotik dan aku membukanya.
[Le, aku mau coto makasar, dong!] Isi pesan dari Mbak Gotik.
Aku menepikan mobil sebentar untuk membalas pesan dari Mbak Gotik.
[Yang lain aja, deh. Ya kalik gue kudu ke Makasar dulu?] Aku mengirim pesan dengan seulas senyum.
"Pasti ngambek, deh, haha."
Aku menatap layar ponsel dan berucap sambil menunggu balasan pesan dari Mbak Gotik. Tidak berselang lama balasan pun masuk dari nomor ponsel Mbak Gotik.
[Ish! Coto makasar yang arah rumah kita, loh, Le. Resto yang ada di persimpangan jalan bukan aku menyuruhmu beli coto ke Makasar. Emang aku enggak punya pikiran, apa?!] Balasnya dengan diselipkan emoticon marah membuat bibirku kembali tersenyum karena membayangkan Mbak Gotik dengan ekspresi begitu. Sepertinya menggemaskan.
"Iya, iya. Gue cuma becanda. Ya kali gue ke Makasar dulu? Keburu basi itu coto. Mending kita yang ke sana berdua, kan? Hahaha...." Aku mengirimkan voice note pada Mbak Gotik kemudian mematikan ponsel karena terdengar suara petir yang mulai menyambar.
Kembali kupacu mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah. Tepat di simpang tiga aku memarkirkan mobil hanya untuk membeli coto makasar pesanan Mbak Gotik.
"Mas, coto makasar satu, dibungkus, ya?!" pintaku ketika sudah ada di resto tersebut.
"Baik, Mas. Ditunggu," ucap pelayang begitu ramah.
Aku duduk di kursi tidak jauh dari meja kasir karena memang tidak ada yang kupesan selain dari coto makasar. Tidak menunggu waktu yang begitu lama coto makasar sudah ada di tanganku. Aku segera membayar kemudian berlalu pergi meninggalkan resto tersebut.
Aku kembali memacu mobil setelah apa yang dipesan oleh Mbak Gotik sudah berada di tangan. Mobil kupacu santai karena jarak yang tidak terlalu jauh dari resto yang aku singgahi. Namun, ada satu mobil terparkir di halaman rumah Mbak Gotik.
Aku meraih payung dan satu plastik yang berisi kotak Styrofoam yang di dalamnya ada coto makasar dibungkus lagi menggunakan plastik, ketupat, kerupuk dan toping lainnya.
__ADS_1
Berjalan menuju pintu yang sedikit terbuka, lalu aku mendorongnya perlahan. Di sana terlihat sepasang mata Mbak Gotik berkaca-kaca dengan jemari tangan digenggam oleh seorang laki-laki yang memunggungiku saat ini.