Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Misi Day 2


__ADS_3

Keadaan terasa mencekam tanpa kata. Hanya ada bisik angin yang menelusup dari ventilasi jendela kamar serta detik jam pelan, tetapi terasa berdentum di telinga.


"Kenapa Mbak bisa ngomong begitu?" tanyaku memecah keheningan yang dibalas seringai dari bibirnya.


"Karena kamu udah bohongin aku!"


"Perihal?" Aku menyipitkan mata saat menatapnya.


Sepasang mata bulat itu masih menatapku lekat. Entah kenapa ekspresi wajah galak itu menjadi sedih dengan kaca-kaca di matanya yang seolah siap meluncur saat ia berkedip.


"Apa yang buat Mbak kecewa sama gue?"


"Saat harusnya kamu kembali ke kantor, tapi kamu malah pergi, kan?" tanya Mbak Gotik yang disertai tetes air mata.


"Kamu pergi ke mana dulu?" Sambungnya lagi dengan suara pelan serta terisak.


Sepertinya Mbak Gotik tidak sampai membuntutiku hingga rumah. Syukurlah, aku merasa sedikit lega.


"Levine! Jawab aku! Kamu bawa mobil ngebut banget, kan?!" sambung Mbak Gotik.


"Jadi karena Mbak kehilangan jejak makanya Mbak marah sama gue, begitu?" Aku bertanya padanya.


"Jawab! Jangan membelokkan pertanyaanku!" sentaknya.


Sesungguhnya ada rasa senang dalam dada saat rahasiaku masih tersimpan rapat. Bukan maksudku untuk merahasiakan semua dari Mbak Gotik, masih butuh banyak sekali pertimbangan saat aku membuka jati diri. Aku tidak mau nasibku sama seperti Bang Alex yang banyak ditipu wanita setelah ia benar-benar jatuh cinta dan ternyata si perempuan hanya cinta pada hartanya saja.


Aku memang bukan pewaris tunggal, tetapi aku dapat memastikan kekayaan yang dimiliki bisa menjamin seluruh keturunanku hidup dengan kekayaan bergelimang. Apalagi saat ini investasi serta bisnis perusahaan semakin pesat di luar negeri.


Di Indonesia memang hanya beberapa cabang perusahaan saja dan sangat wajar sekali bagi pengusaha menengah ke bawah tidak akan mengenal pebisnis yang melintang di luar negeri karena mereka hanya mencakup pemasaran domestik saja seperti Tuan Bobby.


Hal ini menjadi keberuntungan bagiku karena sepertinya data diriku di sini masih tergolong aman, tidak seperti Bang Alex yang sering diajak papa ke berbagai perusahaan sehingga banyak orang yang menyangka kalau Bang Alex itu pewaris tunggal perusahaan papa.


"Levine!" Aku terperanjat ketika suara yang cukup lantang terdengar di telinga.


"Iya, iya, sorry. Gue cerita, nih. Jadi, sebetulnya gue kemarin ke rumah bos. Dulu gue bekerja di sana, tujuan gue ke sana hanya silaturahmi saja karena beliau saat ini sedang sakit. Gue ngaku, kalau gue salah gak ngehubungi Mbak dulu. Gue gak ke mana-mana lagi, kok. Hanya ke rumah bos saja yang bergenre laki-laki." terangku panjang lebar menjelaskan.


"Yakin hanya menemui mantan bosmu?" Mbak Gotik memandangku dengan tatapan yang seolah-olah meragu.


"Yakinlah! Ngapain gue bohong, coba?" Aku mengangkat satu alisku ketika menatap pipi Mbak Gotik yang ternyata sedikit memerah saat bibinya tersenyum simpul.


"Gak ajak aku ke rumah mantan bosmu?" tanya Mbak Gotik.

__ADS_1


"Iya, ayok! Kapan Mbak mau?" jawabku semangat, padahal rasa was-was saat ini sedang bergelayut ketika menunggu jawaban dari Mbak Gotik.


"Oke, aku mau!"


Mampus!


Bagaimana ini?


Slow, tetap slow, Lele. Akalmu banyak, pergunakan akalmu, bukan emosimu!


"Ya sudah, Mbak tidur, gih! Ini udah hampir pagi. Masalah tadi udah selesai, kan?"


"Belum."


"Apa lagi?"


"Aku belum bertemu dengan mantan bosmu," lanjutnya yang seolah-olah masih penasaran.


"Iya, lain kali gue kenalin. Udah, jangan ngeyel demi kesehatan Mbak. Tidur, ya?!" Aku menarik selimut dan menutupinya hingga dada.


Mbak Gotik memiringkan tubuhnya membelakangiku, mungkin malu karena ada aku di sampingnya.


Entah berapa lama aku terlelap hingga akhirnya tubuh merasa panas dan sayup-sayup terdengar ada perbincangan. Aku membuka mata perlahan dan ternyata ada dokter yang sedang mengontrol Mbak Gotik serta dua pasang mata menatapku sengit.


"Pagi ...." Aku menyapa orang-orang yang ada dalam ruangan.


Mbak Gotik tersebut, tetapi tidak dengan kedua orangtuanya, terlebih Tuan Bobby yang seolah begitu tidak suka denganku.


"Sudah hampir jam sepuluh ini, tidur terus!" ketus Tuan Bobby.


"Maaf."


"Levine menemaniku hingga pagi, Yah. Wajar kalau dia kesiangan bangunnya," jawab Mbak Gotik seolah membelaku.


"Sudahlah! Ayah mau ke kantor, kabari Ayah kalau ada sesuatu, ya?" ucap Tuan Bobby kemudian mengecup pucuk kepala putrinya setelah dokter keluar dari ruangan.


"Baik, Ayah. Hati-hati, ya?!" ucap Mbak Gotik dengan seulas senyum. Kini wajahnya pun terlihat bahagia, tidak pucat seperti saat ia bangun dari pingsannya.


"Mama juga pulang dulu, ya, Nak," ucap Nyonya Sintia yang kemudian berjalan bersama suaminya setelah Mbak Gotik mengiyakan.


Kini dalam ruangan hanya ada aku dan Mbak Gotik setelah kedua mertuaku, dokter dan asistennya pun telah meninggalkan ruangan ini. Tinggal menunggu waktu sekitar satu jam, Mbak Gotik akan dipindah ke ruang inap/ruang pemulihan pasien.

__ADS_1


**


Saat ini kami sudah ada di ruangan yang cukup nyaman dan lebih besar. Namun, senyaman-nyamannya di rumah sakit tidak akan senyaman di kamar sendiri. Ya, aku sudah mengalami hal ini meski berulangkali aku harus beradaptasi dengan kamarku.


Mulai dari kamar di rumah sendiri yang kemudian harus tinggal di kost sempit menurutku dan saat ini tidur di samping kamar Mbak Gotik yang cukup nyaman karena sedikit lebih besar jika dibandingkan dengan kamar kost-ku yang dulu.


"Lele, kamu enggak bohongin aku, kan, perihal kemarin?" Mbak Gotik sepertinya masih belum percaya.


"Sebetulnya Mbak mau nanyain apa, sih, sama gue? To the poin aja, jangan muter-muter begitu nanti gue muntah."


"Iya aku belum percaya karena jika ada hal apa pun biasanya kamu bilang dulu ke aku. Kamu enggak sedang nemuin wanita, kan?" tanya Mbak Gotik yang membuatku tercengang.


Wanita katanya?


"Mbak cemburu?" tanyaku meski meragu.


"Enak aja! Kamu siapanya aku bisa bicara seperti itu?" jawab Mbak Gotik bernada jutek.


"Levine, Mbak. Levine. L-E-V-I-N-E pemuda cakep yang diminta nikah sama Mbak yang berarti gue suami Mbak, lah! Masa lupa? Mbak gak amnesia, kan?"


"LEVINE!!!" geram Mbak Gotik.


Perdebatan kami masih berlanjut dan hal ini menandakan kalau keadaan Mbak Gotik sudah membaik saat ia bisa cerewet bahkan cukup kencang saat menyebut namaku karena kesal. Beruntung, perdebatan kami terhenti ketika ada seorang petugas rumah sakit yang membawakan menu makan siang untuk Mbak Gotik.


"Terima kasih, Sus!" kataku saat mengambil nampan berisikan nasi, sayur, lauk, telur, buah, obat dan air mineral.


"Sama-sama, permisi," ucap si petugas pembawa makanan kemudian berlalu pergi membawa banyak makanan yang sudah tertata rapi di meja dorong untuk dibagikan pada setiap pasien rumah sakit.


"Makan dulu, ya?"


Mbak Gotik mengangguk.


Aku menyendok nasi, sayur bening serta potongan telur yang sudah aku potong-potong kecil sebelumnya. Namun, untuk potongan daging Mbak Gotik tidak mau, mual katanya kalau menghirup aroma daging atau pun ikan meski tidak terlalu parah.


Tidak ada bantahan apa-apa dari bibirnya hingga suapan demi suapan akhirnya berpindah menghuni perut Mbak Gotik, serta obat yang saat ini ia minum.


Aku mengusap ujung bibirnya ketika satu bulir nasi menempel di sana. Sepasang mata Mbak Gotik terlihat membelalak menatapku.


"Jangan salah sangka, gue cuma ambil ini, kok. Gak ada niat ambil kesempatan sama Mbak." Aku memperlihatkan satu bulir nasi dan detik ini juga bibir Mbak Gotik tersenyum yang menjadikan pipinya terlihat memerah.


Day 2, sepertinya aku berhasil membuat senyum simpul di bibir Mbak Gotik.

__ADS_1


__ADS_2