
"Gak usah kasar, Mas!" kataku ketika sudah berada di samping Mbak Gotik.
Dia tersenyum sarkas ketika melihatku. Bukan hanya wajah, tetapi ia melirik dari bawah ke atas, lalu ke bawah lagi dan berhenti di celana. Hey! Dia melihat apa dariku?
"Gak ada yang maksa, kok. Gue cuma nagih uang yang sudah dijanjikan oleh Zaki," ucap si laki-laki.
"Zaki?" Aku menyipitkan mata karena baru mendengar nama itu.
"Dia adikku, Le." Mbak Gotik berbisik.
"Udah, jangan banyak ngeles. Sini duitnya!" pinta si laki-laki memaksa.
"Tapi aku gak bawa uang cash. Hanya ada lima ratus ribu dalam dompet," ucap Mbak Gotik sambil memperlihatkan isi dompetnya.
"Ya sudah, ambillah dulu di ATM. Gue tunggu di sini!" pintanya lagi.
"Berapa yang lu minta?" Aku menyela perbincangan keduanya.
"Cuma dua juta, Bang."
Kebetulan aku ada uang cash dua juta tiga ratus ribu rupiah dalam dompet dan segera kuserahkan dua juta padanya agar ia cepat pergi, apalagi melihat wajah Mbak Gotik yang terlihat tidak nyaman berhadapan dengan lelaki yang mulutnya bau alkohol.
"Thankyou, Bang!" ucapnya dengan seulas senyum sambil mencium lembar berwarna merah yang ada di tangannya.
Mbak Gotik terlihat menghela napas perlahan. Seperti ada kelegaan sekaligus kesal saat ini.
"Kita pulang!" kataku sambil membukakan pintu mobil untuknya.
Mbak Gotik masuk dan duduk dengan anggun di dalam mobil. Kemudian aku masuk dan duduk di sampingnya menghadapi kemudi stir mobil. Keadaan hening ketika aku menstater mobil hingga deru mesin terdengar saat ini.
Mobil melaju cukup kencang melewati gedung-gedung tinggi pencakar langit serta toko-toko yang berderet rapi di sepanjang jalan.
"Aku belum mau pulang, tolong parkir ke ATM dulu, ya, Le?" pinta Mbak Gotik dengan suara berat.
Aku tidak menjawab, tetapi aku memarkirkan mobil di depan mini market yang ada mesin ATM untuk penarikan tunai.
__ADS_1
Mbak Gotik membuka pintu dan aku mengikutinya meski sampai di depan pintu ATM hanya untuk memastikan ia aman denganku.
"Ini uangmu!" Mbak Gotik memberikan uang lembaran merah padaku.
Aku mendorong perlahan tangannya yang sedang memegang uang.
"Tidak usah. Untuk apa uang ini? Itu uang Mbak juga, kok."
"Tapi itu hasil kerja kerasmu di kantor, Le," ucap Mbak Gotik.
Aku menatap matanya. Sungguh tersirat kegundahan, tapi entah apa yang ia rasakan dan pikiran dalam hatinya. Aku meraih kedua tangan Mbak Gotik yang sedang memegang uang kemudian aku mengepalknya dengan kedua tanganku.
"Uang istri itu uangnya sendiri, sedangkan uang suami itu milik istrinya juga bukan hanya milik gue. Ambillah, meski gue belum ada di hati Mbak, tapi gue ingin menunaikan kewajiban sebagai seorang suami," kataku yang tiba-tiba bisa bijak begini.
Ada sedikit lengkung manis di bibinya saat kedua bola mata Mbak Gotik menatapku.
"Baiklah, terima kasih, Le," ucapnya dengan seulas senyum. Sepertinya ia mulai luluh. Apakah ia mau memberikaku malam per––
"Tidak usah berekspektasi terlalu tinggi terhadapku, nanti kamu terjatuh karena aku enggak mau melakukan malam pertama dengan suami pura-pura sepertimu!" ucapnya yang kemudian berlalu begitu saja dariku.
Tuhan, kapan dia khilaf, sih?
Entah aku harus memacu mobil ke mana lagi karena hingga detik ini Mbak Gotik masih belum mau diajak pulang. Meski aku merasa seperti supir baginya, tetapi entah kenapa aku merasa senang karena ia selalu ada di sisiku.
Aku memarkirkan mobil di pinggir pembatas jalan yang terbuat dari dinding kokoh sebagai benteng lautan lepas.
Mbak Gotik masih duduk termangu dalam mobil. Sedangkan aku memilih keluar dan duduk di kap mobil menikmati semilir angin malam yang membelai tubuh serta mendengarkan debur ombak saat menghantam batu karang.
Rembulan dan bintang masih setia menemaniku malam ini, tanpa aku suruh Mbak Gotik ikut duduk di sampingku.
"Boleh aku meminjam bahumu?" Suara Mbak Gotik terdengar ragu.
Aku menepuk pundakku tanpa melihat pada wajahnya. "Kemarilah!"
Tidak ada jawaban apa-apa lagi, kepalanya saat ini sudah merebah di pundakku bahkan wangi shampo dari rambutnya terhidu lembut pada indera penciumanku.
__ADS_1
Ingin rasanya aku membelai pucuk kepalanya, lalu menciumnya lama. Namun, tidak saat ini. Aku ingin melakukannya ketika Mbak Gotik benar-benar telah menerimaku sebagai suaminya.
Jantungku berdetak lebih kencang ketika jemari Mbak Gotik menjalar pada tanganku dan aku merasakan jemarinya terasa dingin sekali. Aku menimpali jemari Mbak Gotik sehingga saat ini telah berada dalam genggamanku bahkan perlahan mulai menghangat.
Tidak ada percakapan hanya ada kami berdua yang sedang duduk di kap mobil dengan mataku yang masih setia melihat terjangan ombak yang menghantam karang.
Lima, sepuluh, lima belas menit genggaman tangan Mbak Gotik semakin mengendur dan bibirnya masih saja membisu.
Aku melirik ke arahnya dan mendapati sepasang mata Mbak Gotik telah tertutup rapat.
"Rupanya dia tidur, Tuhan .... Pantas saja dia imut tanpa ada omelan dari bibirnya." Aku menghembuskan napas perlahan-lahan kemudian bibirku pun tersungging merasa lucu memiliki pasangan seperti dia.
"Gue janji. Gue akan bikin Mbak percaya kalo gue beneran sayang dan ingin melindungi Mbak bahkan nyawa gue yang mungkin harus jadi taruhannya," kataku yang terdengar lebay, tetapi tulus. Entah, kenapa aku bisa sebucin ini padanya?
Lebih dari setengah jam kepala Mbak Gotik bersandar di bahuku bahkan tubuhnya seolah mulai sedikit terhuyung karena sepertinya ia mulai terlelap. Tidak ingin membuatnya terbangun, perlahan aku meraih tubuh mungilnya dan mendudukkannya di mobil juga memakaikan self belt melintang di tubuh depannya.
Setelah memastikan aman, aku pun memacu kendaraan dengan kecepatan sedang karena aku harus fokus pada jalan juga Mbak Gotik agar masih bisa tidur dengan nyaman meski ada di dalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam akhirnya mobil terparkir di halaman dan aku mematikan mesin mobil, lalu mengangkat tubuhnya.
"Non Kia kenapa?" tanya Alda saat membukakan pintu untukku.
"Hanya tidur," jawabku kemudian berjalan begitu saja di hadapannya.
Aku menaiki anak tangga karena kamar Mbak Gotik berada di lantai dua, kemudian aku sedikit memutar handle pintu dan mendorongnya perlahan menggunakan kaki.
Tepat di ranjang bersprei putih aku membaringkan tubuh Mbak Gotik perlahan dan menarik selimut setelah memastikan posisi tidurnya nyaman. Namun, saat aku hendak menutupi tubuhnya menggunakan selimut, tangan Mbak Gotik tiba-tiba menarik lengan hingga tubuhku terjatuh.
Sumpah demi apa pun jantungku berdebar lebih kencang dengan pikiran yang seolah terbang menembus awan-awan lembut dan hatiku terkena chupid asmara.
Ah, Tuhan. Apakah aku bermimpi?
Kini aku terbaring di sisinya dan tangan Mbak Gotik memelukku erat meski sepasang matanya terpejam sempurna. Bahkan wajahnya kini berada dalam dada.
Aku mengusap lembut rambut Mbak Gotik. Merapikan anak-anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya ketika posisi kami memiring. Demi apa debarku semakin liar malam ini.
__ADS_1
Entah berapa lama aku memandang wajahnya yang terlihat cantik meski matanya terlelap. Namun, senyumku harus hilang ketika mata indah itu terbuka, bahkan membulat ketika menyadari ada aku di sisinya.
"LELEEE!!! Kamu ngapain?" pekiknya sambil memukul dadaku pelan.