Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Dua Jam Saja


__ADS_3

Ada yang mengusap pundakku, tetapi mata ini begitu lengket dan malas untuk kubuka.


"Le, Lele, sarapan dulu." Terdengar cukup jelas suara Mbak Gotik memanggil namaku.


Aku membuka mata perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit wajah Mbak Gotik terlihat semakin jelas. Ia sudah berdiri di sampingku dengan seulas senyum. Kini bibirnya sudah tidak sepucat malam tadi meski ia tampaknya tidak memakai lipstik pagi ini.


"Mbak udah sehat?" tanyaku masih dengan suara serak juga mata yang benar-benar masih terasa perih.


"Membaik, makasih, ya? Kamu udah jagain aku," katanya dengan seulas senyum yang cantik. "Sarapan, yuk?" ajaknya.


"Gue mandi dulu, Mbak," kataku kemudian bangkit dari kursi.


Aku berjalan menuju kamar yang ada di sebelah kamar Mbak Gotik. Sungguh badanku terasa pegal mungkin karena aku tidur dengan posisi duduk di kursi. Entahlah, yang jelas tubuhku benar-benar tidak enak.


Melihat kasur yang masih rapi serta selimut yang masih terlipat terlihat begitu menggoda mata dan seolah berbisik; Tiduri aku, Le. Masuklah dalam hangatnya dekapan selimut tebal dan hangat ini.


Tanpa berpikir panjang aku pun langsung merebahkan tubuh kemudian memejamkan mata.


"Sepuluh menit lumayanlah gue tidur," kataku sambil memejamkan mata.


**


Entah berapa lama aku terlelap hingga akhirnya terbangun dengan napas memburu karena kaget melihat di luar sedang hujan deras serta langit yang menghitam terselimuti awan yang tebal.


"Astaga! Udah jam sebelas?" Mataku membulat ketika melihat jarum jam.


Ternyata hari sudah siang, tetapi tidak terlihat karena sang mentari tertutup oleh awan hitam dan tebal entah dari kapan.


Aku memutuskan untuk mandi. Meraih handuk pendek, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Perut berbunyi keroncongan ketika aku sedang menyabuni tubuh ini. Cepat-cepat aku meraih handuk dan gegas memakai kaos serta celana pendek.


Hari-hariku memang lebih menyukai mengenakan pakaian santai dan hal ini salah satu yang membuatku tidak betah berada di rumah yang harus selalu tampil dengan pakaian resmi/rapi ketika keluar dari kamar.


"Udah bangun?" tanya Mbak Gotik saat aku membuka pintu kamar.


Aku tersenyum.


"Makanlah dulu. Ini sudah jam makan siang. Maaf, aku tidak membangunkanmu karena aku takut kamu terganggu," ucap Mbak Gotik.


Aku tersenyum dan Mbak Gotik membalas senyumanku yang membuat jantung berdetak lebih kencang dan membuat tubuhku lemas.


Mbak Gotik masuk ke kamarnya dan aku menuruni anak tangga untuk sarapan sekaligus makan siang yang aku satukan saat ini.


"Baru bangun, ya, Mas?" tanya Alda ketika aku menyuapkan nasi.


"Ho'o."

__ADS_1


"Tumben sampe siang, Mas? Mas sakit?"


"Gak. Semalam gue ketiduran di kamar Mbak Gotik," kataku sambil mengunyah dan tanpa melihat wajah Alda.


"Apa? Kalian habis ngapain?" tanya Alda yang terdengar kaget.


Aku menghentikan santap siang, lalu menatap heran pada Alda.


"Kepo!" jawabku dan kembali melanjutkan makan siang.


Tidak ada perkataan apa-apa lagi setelah Alda pergi dari ruang makan. Terkadang ada rasa heran pada Alda yang seperti cemburu ketika aku berdekatan dengan Mbak Gotik. Padahal aku tidak pernah memberikan harapan padanya untuk dapat bersamaku.


Bel terdengar berbunyi saat hujan mulai sedikit reda dan Alda terlihat berjalan cepat ke pintu ruang utama. Tidak berselang lama ia terlihat menaiki anak tangga. Mungkin tamu untuk Mbak Gotik, tapi siapa?


Mbak Gotik terlihat menuruni anak tangga yang diikuti oleh Alda. Namun, mereka berpencar. Alda terlihat ke dapur dan Mbak Gotik terlihat ke ruang tamu. Aku yang berawal cuek menjadi kepo saat melihat reaksi wajah Mbak Gotik yang terlihat serius. Tidak berselang lama Alda membawakan minuman dan makanan ringan dalam toples-toples kecil menuju ruang tamu.


Sebenarnya ada apa?


Meski aku berusaha tidak ingin tahu, tetapi wajah Mbak Gotik terlihat sedih dan hal ini yang membuatku mendekatinya.


Aku tersenyum kepada dua orang laki-laki dewasa di hadapan Mbak Gotik. Mereka duduk saling berhadapan dan hanya terhalang oleh meja kaca saja.


"Ini ada apa?" bisikku pada Mbak Gotik.


Mbak Gotik menatapku lekat dan tidak berselang lama ia meminta ijin pada dua tamu laki-lakinya, lalu menyeret lenganku untuk menjauh dari ruang tamu.


"Tentang?"


"Kapal pesiar Ayah mau dilepas."


"Loh, kenapa harus dilepas?"


"Untuk suntikan dana pada bisnis barunya," jawab Mbak Gotik yang membuatku sedikit bingung.


Sehancur itu, kah, bisnis Tuan Bobby?


"Aku sebetulnya keberatan, tapi ini sudah menjadi keputusan Ayah dan uang sudah mereka transfer. Jadi mereka meminta surat kelengkapan pesiar itu padaku," ucap Mbak Gotik terdengar sedih.


Sesungguhnya hal yang mudah bagiku untuk membeli satu atau bahkan sepuluh kapal pesiar seperti milik keluarga Albern, tetapi untuk saat ini aku tidak mau memberitahu siapa aku sebenarnya.


"Sorry, Mbak. Mungkin hal ini sudah menjadi keputusan Tuan Bobby. Apa pun konsekuensinya, beliau pasti sudah mempertimbangkannya."


Mbak Gotik terlihat menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan-lahan.


"Baiklah," jawabnya terdengar pasrah kemudian ia berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Tidak berselang lama Mbak Gotik kembali menuruni anak tangga dengan berkas yang ada dalam map warna cream di tangannya. Meski terlihat berat hati ia memberikan berkas itu pada si pembeli.


"Tapi apakah saya masih bisa melihat pesiar itu untuk terakhir kalinya?"


"Boleh, hanya sampai hari ini, ya? Anda bebas untuk menaiki kapal tersebut. Karena esok hari sudah akan diambil oleh pemiliknya," terang salah satu laki-laki itu.


Setelah usai mereka pergi meninggalkan raut kesedihan pada wajah Mbak Gotik.


"Masih mau nangis?" tanyaku saat berada di sampingnya.


Mbak Gotik menggeleng.


"Aku pinjam pundakmu, boleh?" tanya Mbak Gotik dengan sorot teduh.


Aku menepuk pundakku; "kemari lah!"


Tanpa ragu Mbak Gotik merebahkan kepalanya di pundak ini. Tidak ada kata-kata dari bibir Mbak Gotik meski sesungguhnya aku ingin dia bicara. Entah, aku rasanya tidak enak saat ia diam. Lebih baik aku mendengar ia mengomel meski risikonya telingaku sakit.


**


Sore hari. Saat mentari hampir tergelincir di peraduannya menyisakan warna oranye yang begitu menggoda hampir tenggelam di lautan lepas. Aku dan Mbak Gotik sudah ada di pelabuhan dan disambut oleh angin laut yang cukup kencang.


"Selamat sore, Nona?" sapa seorang laki-laki yang ada di dermaga.


"Sore, Pak. Saya Zaskia, pemilik awal kapal pesiar ini sebelum dibeli oleh Tuan Anda. Saya ingin menaiki pesiar ini untuk kali terakhir sebelum merelakan ia berlayar pada pemilik barunya," ucap Mbak Gotik yang terdengar pilu.


"Baik, Nona. Silahkan." Lelaki itu memberikan ijin untuk kami berlayar sore ini sekitar dua jam saja dan kapal ini harus kembali ke dermaga ini.


Aku menggenggam jemari Mbak Gotik untuk menaiki pesiar.


Mentari benar-benar sudah tergelincir dengan sempurna. Berganti dengan rembulan yang menorehkan warna perak menyinari laut lepas.


Aku membuka jas slim fit warna abu-abu yang aku kenakan untuk menutupi punggung Mbak Gotik. Kami berlayar dan merasakan angin laut yang cukup kencang di depan kapal pesiar.


"Kenapa kamu kasih ke aku?" tanya Mbak Gotik dengan sorot mata heran. "Kamu, bukannya alergi dingin, Le?" lanjutnya masih dengan tatap lekat.


"Mbak lebih butuh. Lagian gue cuma alergi dingin, bukan alergi jadi suami Mbak."


"Ish!" ketusnya sambil memperlihatkan mata sinis saat menatapku dan aku suka.


Semilir angin malam terasa semakin dingin, aku hanya berharap pilek tertahan dulu karena aku masih ingin menemani Mbak Gotik malam ini.


Di sepanjang kapal berlayar kami mengobrol cukup intim. Mbak Gotik mulai mau berterus-terang padaku perihal hidupnya serta kekecewaan yang ia pendam pada sang ayah atas sikap tidak adil dari Tuan Bobby.


"What? Jadi, Mbak punya adik tiri?"

__ADS_1


Mbak Gotik mengangguk.


__ADS_2