
“Iya sayang, ih...lucu banget sih kamu.” Ajeng tersenyum dengan bicaranya Ingrid yang lucu. Mereka semua pergi ke parkiran, Ajeng dan Papa maupun Mamanya menaiki mobilnya, sedangkan Tante dan Bibinya juga memasuki mobil pribadinya. Igrid ikut bersama rombongannya Ajeng yang bersamanya di dalam mobil karena Tante dan Omnya Medina mampir ke rumahnya Ajeng. Di dalam mobil, Ajeng menggoda Igrid yang saling bercanda dan tertawa sambil bercerita lucu dengannya. Sesampai di rumahnya Ajeng, dia pergi ke teras belakang rumahnya yang ada tamannya dekat dengan kolam renang bersama Ingrid. Ajeng bermain dengan Ingrid juga mengenang Putra sahabatnya yang pernah di peluknya ketika Putra sedih di tinggal Ayahnya di teras yang di dudukinya. Dia sedih lagi, tapi sekarang dia tidak menangis lagi karena dia berusaha tegar dan juga terhibur dengan hadirnya Ingrid, gadis kecil yang lucu dan pintar. Mp3 Player di sakunya Ajeng berbunyi, dia lupa untuk mematikan ketika dia berada di dalam mobil. Sayup-sayup terdengar Lagu dari Mp3 player dari Group Band J ROCK. Ajeng mengeluarkan Mp3 Player dari sakunya. Stereo portable handsfree dari Mp3 Player di tempelkan di telinganya. Dia menangis sedih dengan mengenang Putra karena dia baru sadar jika Ajeng jatuh cinta dengannya. Lagu itu membuatnya merinding yang merindu karena Lagu dari J ROCK yang berjudul FALLING IN LOVE benar-benar membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 49).
Malamnya Ajeng melamun sendirian di kamarnya mendengar Radio Geronimo FM Yogyakarta, malam itu di Geronimo FM ada program acara Radio Gelap yaitu acara pencurahan hati pendengar yang ingin mengutarakan tentang perasaan apapun itu. Dan hebatnya lagi dengan program ini kita tidak perlu memberi tahu nama kita, cukup dengan sebutan Glapers. Jika kamu menjadi Glapers dan nelpon pertama kali maka kamu di sebut Glapers Pertama, jika nelpon kedua ingin menjadi Glapers maka kamu disebut Glapers kedua begitu seterusnya. Setiap permasalahan dirimu akan dipecahkan oleh penyiar radio bahkan pendengar sekalipun bisa membantunya. Ajeng mendengar berbagai keluhan dari para Glapers, Penyiar Radio membacakan sms tanggapan dari para pendengar, bahkan ada yang tanggapan pendengar berbicara langsung lewat telepon secara on air. Entah karena jenuh, Ajeng ingin menjadi Glapers, dia ingin di dengar keluhan hatinya. Ajeng mengambil hapenya untuk menghubungi Geronimo FM. hapeya Ajeng berbunyi menandakan sedang proses.
“Malam Mbak.”
“Malam juga sayang, sekarang kamu belum on air. Kamu mau jadi apa Glapers atau memberi tanggapan penderitaan para Glapers secara on air.” Tanya Operator kepada Ajeng.
“Oh belum on air ya, aku mau jadi Glapers boleh kan!.”
__ADS_1
“Oh so pasti bolehlah, tunggu sebentar ya telponnya jangan ditutup dulu. Biar para Penyiar siap memanggil dirimu yang menjadi Glapers ketiga oke.”
“Oke deh Mbak, aku tunggu ya.” Jawab Ajeng yang sedang menunggu untuk di beri kesempatan untuk curhat dan di dengar seluruh penggila Glapers di Yogyakarta. Lagu selesai di putar dan acara Radio Gelap di Geronimo FM kembali lagi.
“Masih dengan Radio Gelap, disini masih dengan Rama dan Santi. Oke kita lanjutin dengan keluhan Glapers ketiga yang malam ini cuaca agak mendung dan sepertinya sebentar lagi akan hujan karena suara petir di sini sungguh menyeramkan. Bahkan di Studio saja gelegar petir membuat jantung ini mau runtuh ya kan Rama.” Tanya penyiar radio cewek yang bernama Santi.
“Bener banget Santi, mendung ini mengingatkan kita tentang bencana yang terjadi di kawasan Asia Tenggara terutama di Indonesia. Sungguh malam-malam yang mencekam buat kita. Kita turut berduka ya San, dengan korban yang berjatuhan di sekeliling kita. Semoga keluarga korban diberi ketabahan ya. Loh Santi kok nangis sih, gimana sih emang keluargamu ada yang menjadi korban ya.”
“Iya lah, dingin banget. Aneh ya cuaca sekarang di jalur katulistiwa apalagi di Negara kita, musim tropis begini ada badai salju. Sungguh dampak Global Warming makin parah aja.” Jawab Rama.
__ADS_1
“Iya nih, dari tadi para Glapers kok banyak yang sedih, Glapers pertama kehilangan pacarnya yang telah tiada ketika terbang naik pesawat ke Denpasar Bali. Glapers yang kedua kehilangan Bundanya yang terbang ke Bandung bahkan jenazahnya pun belum ditemukan. Sungguh tahun ini sangat suram banget untuk di rasakan. Aku turut berduka ya dengan kalian yang ditinggal keluarga yang kalian kasihi dan cintai. Baiklah kita balik lagi aja ya Rama, dengan Glapers yang ketiga.” Ucap Santi yang sedih, bahkan matanya berkaca-kaca jika mengenang kejadian yang sangat memilukan untuk dirasakan. Rama yang tadinya agak ceria mulai melamun yang sedang membayangkan jika saja dia berada di pesawat itu kemudian pesawatnya meledak dan tidak bisa siaran lagi. “Halo, Glapers ketiga apa yang kamu keluhkan biar kita bisa bantu permasalahanmu.”
“Halo juga Santi dan juga Rama, iya nih kok para Glapers banyak yang sedih ya. Aku juga mau ngutarain kesedihanku.” Jawab Ajeng yang menelepon sambil tiduran di atas kasur.” Suara telepon feedback yang bunyinya berdengung karena volume suara radionya Ajeng terlalu kencang.
“Aduh, tolong Glapers ketiga. Volume radionya dikecilin dikit, rasanya sakit terlalu feedback nih.” Ucap Rama. Kedua Penyiar Radio Geronimo FM kupingnya kesakitan.
“Iya, maaf ya. Entar ya.” Ajeng mengambil remote radionya di samping badannya yang berada di atas kasur, dia mengecilkan volumenya. “Udah nggak feedback lagi kan.”
“Iya, udah enggak. Nah gini kan enak nih. Oh ya, kamu mau curhat tentang apa.” Ucap Santi yang telinganya masih mendengung walaupun dengingannya sudah berlalu. Ajeng bingung harus cerita dari mana, cerita Ajeng loncat-loncat hingga tidak jelas untuk dipahami karena dia sendiri sedang bingung dengan kepergian Putra. Ketika dia bercerita di radio dia melamunkan wajahnya Putra.
__ADS_1
“Gini Santi dan juga Rama, aku punya sahabat yang sangat dekat banget. Dia adalah teman satu sekolahku yang berbeda jurusan, dia itu orangnya sangat baik hati sama aku, perhatian dan pokoknya ganteng deh orangnya. Dulunya aku pikir aku nggak suka sama dia, yah aku pikir dia itu aku anggap sebagai sahabat biasa. Sampai suatu ketika dia melakukan kejahatan kepada diriku yang dia anggap aku sebagai sahabat yang sangat cantik menurut dia. Aku marah sama dia, dan teman-temanku juga marah sama dia. Dia dipukuli karena perbuatannya yang keterlaluan, itu yang aku tuduhkan sebelumnya.