
......SAGITA AINI AOYAMA SUDIRO......
SETELAH mereka berdua pulang dari Rumah Sakit, Putra tinggal di rumahnya Gudeg lagi. Putra di kamarnya Gudeg mendengarkan Musik dari Lagunya THE TITANS. Putra merasakan dia di sakiti oleh lingkungannya yang tidak menerima dia apa adanya. Lagu itu mengalun di kamarnya Gudeg yang didengarkan Putra dengan penuh khidmat dan memahami isi lagunya. Dia setuju dengan Lagu itu dan akan sesegera mungkin mengambil tindakan. Musik dari Lagunya THE TITANS dengan Judul Lagu JANGAN SAKITI merasuk ke sanubarinya Putra. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 61).
__ADS_1
Sebenarnya dia berat hati meninggalkan kota Yogyakarta karena bagi dia kota Yogyakarta adalah kota yang menjadikan dia bisa merasakan arti cinta dan persahabatan. Putra juga mengenang Ajeng yang bila mengenangnya hatinya bisa tentram. Dia merasa kehilangan dengannya tapi akhirnya dia memutuskan dengan keputusan bulat jika dia akan meninggalkan Ajeng agar dia bahagia dengan tunangannya dan bisa melupakan dirinya walaupun yang dirasakan Putra sangat berat. Dia berpikir apa mungkin jika Ajeng menjadi kekasih hatinya yang akan di restui dengan Papa dan Mamanya Ajeng.
“Ah mana mungkin aku di restui oleh beliau berdua. Sungguh aku nggak tahu diri jika aku merebut Ajeng dari tunangan yang dipilihkan oleh beliau berdua. Papa dan Mamanya Ajeng itu baik banget sama aku, masak aku tega sih merusak Putri semata wayang beliau yang dikasihi dan di cintainya. Okelah, biarlah aku yang rusak dan menderita karena diriku dan keluargaku yang sudah berantakan begini. Aku nggak mau merusak keluarga mereka yang saat ini tentram dan bahagia, nggak seperti kehidupanku saat ini yang kesepian sebatang kara. Ditambah lagi aku saat ini anak yatim piatu bukan hanya saat ini malahan selamanya, dan juga miskin lagi. Bisa apa aku ini dengan kemiskinan, sekolah saja aku harus banting tulang mencari rupiah yang susahnya minta ampun. Apalagi jaminan kesehatan juga beli gadget seperti laptop baru yang canggih untuk membuat animasi, handycam baru untuk menunjang sekolahku. Bahkan motor baru juga di perhitungkan. Belum hal yang lainnya. Apa kata orang jika aku mendapatkan Ajeng yang diriku miskin sakit-sakitan yang mungkin sebentar lagi aku akan mati, sepertinya sih. Lihat saja badanku ini yang mulai kurus, lambungku yang sudah kronis, dadaku yang sakit, bernafas aja sakit bukan main. Yah mungkin beberapa bulan lagi aku akan mati. Malahan ini bagus jadinya kan aku nggak menderita lagi juga bisa berkumpul dengan kedua Orang Tuaku yang duluan meninggalkan aku. Ini akhir dari kehidupanku di dunia, aku harus mempersiapkan kematianku. Yang pertama adalah jangan mencintai seseorang dan jangan sampai diriku dicintai seseorang. Kenapa, yah karena jika aku mencintai seseorang maka aku berat hati untuk mati dan jika aku dicintai seseorang pastinya dia akan sakit dan menderita sebagaimana yang aku rasakan yang telah mencintai kedua orang tuaku yang tiada. Yang kedua aku harus banyak tersenyum dan jalan-jalan ke kota yang aku anggap indah sebab aku enggak akan lagi bisa melihatnya lagi. Yang ketiga, aku harus merahasiakan rencana ini dari siapapun. Yang keempat jangan pernah datangi rumah sakit untuk berobat, makin sakit parah makin bagus untuk cepat mati. Yang kelima jangan sampai tahu orang yang menyayangi aku tahu jika aku sakit. Tapi masalahnya Ayu’, Gudeg bahkan mungkin Mama dan Papanya Ayu’ tahu jika aku sakit, mereka berdua kan dokter yang salah satunya spesialis penyakit dalam. Pastinya beliau akan mencari aku dan mengobati aku, apalagi Mamanya Ajeng yang sangat sayang sama aku. Katanya sih jika beliau melihat aku seperti melihat perpaduan Ayah dan Bundaku yang menjadi sahabat dekat yang sangat dicintainya. Untuk itulah solusinya adalah pergi secepatnya dari sini, agar mereka enggak mencariku lagi, ini ide yang sangat brilliant.” Ucap Putra sambil menghela nafasnya yang tersengal kesakitan. “Yu’ semoga kamu disana bahagia ya dengan tunanganmu. Entah siapa itu tunanganmu karena aku tanya kemarin kamu enggak ngasih tahu siapa dia dan namanya saja kamu nggak ngasih tahu aku Yu’. Itu tandanya kamu merahasiakan dan mencintainya Yu’, ah aku jangan bermain api, aku takut akan terbakar. Lebih parah lagi membakar Ayu’ sahabat yang baik banget sama aku. Jangan sampai ya Tuhan, jika ini terjadi aku nggak akan termaafkan. Baiklah keputusanku sudah bulat aku akan pergi dari Yogyakarta demi persahabatan kita Yu’. Aku takut jika kita saling mendekat dan bersama malah kita saling jatuh cinta. Apa kata orang nanti jika aku merebut kekasih orang lain.” Ucap Putra dalam hati, dia diam dan melamun melihat tangannya yang di gip, dia juga merasa kesakitan. Di kamarnya mengalun Suara Musik dari Lagunya Group Band J ROCK dengan Judul Lagu SELAMAT TINGGAL KEKASIHKU. Putra setuju dengan lirik Lagunya dari Group Band J ROCK dan memantapkan untuk hengkang secepatnya dari Yogyakarta. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 62).
__ADS_1
Malamnya putra berpamitan kepada Gudeg karena besok pagi dia akan pergi dari Yogyakarta. Putra merasa terpukul dan menderita di Yogyakarta karena mental dan jiwanya Putra sudah mulai sakit yang susah untuk disembuhkan, kecuali jika ada yang menolong dan menghiburnya memberikan semangat untuk terus hidup. Putra membayar seluruh hutangnya kemarin yang menginap seminggu di rumah sakit. Dia menunjukkan bukti transfer kepada Gudeg, karena kemarin Putra meminta nomor rekeningnya Gudeg yang membuat heran Gudeg ada apa gerangan Putra meminta nomor rekeningnya. Terjawab sudah malam yang kelabu ini, Gudeg marah sama Putra karena kemarin dia tidak bilang jika dia mau mentransfer uang apalagi sebanyak dua puluh juta.
“Nang, apa maksud kamu ini, memberikan uang kepadaku sebanyak ini.” Tanya Gudeg yang marah, karena dia tahu Putra lebih membutuhkan uang itu. “jika aku tahu begini kemarin, pasti nggak aku kasih nomor rekeningku Nang.” Ucap Gudeg yang kecewa dengan Putra.
__ADS_1
“Gudeg, kamu tahu hutang itu harus dibayar secepatnya agar aku nggak lupa. Santailah Gudeg, aku masih punya tabungan kok lebih dari cukup. Kemarin tokoku kan sedang naik omsetnya jadi aku punya bekal untuk pergi. Oh ya, nih uang lima juta lagi untuk biaya Rumah Sakit selama tiga hari dan juga uang satu juta untuk membayarmu karena aku ingin menitipkan absen, kamu tahu sendiri kan aku akan lama perginya. Dan ini kartu siswaku untuk menyeken absensi karena ada barcodenya di kartu ini juga ada kertas magnetnya untuk menggesek, jika nggak pakai kartu ini bisa juga kan kamu mengetikkan NIS ku tahu kan nomor induk siswa. Mau ya kamu mengisi absensi walaupun aku bolos sekolah.” Ucap Putra yang tangan kirinya kesakitan. Putra mengambil uang enam juta rupiah di dalam tasnya.