Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
10. Anak Haram


__ADS_3

“Jangan ganggu Ajeng lagi *******, mulai sekarang hubunganmu dengan dia sudah berakhir.” Kata temannya Ajeng.


“Jika aku tahu kamu berhubungan lagi dengan dia, aku hajar lagi dasar anak haram.” Kata temannya Ajeng yang satunya. Putra yang tadinya tertelungkup mulai duduk, darah di hidungnya menetes. Dadanya tambah sakit lagi, dia mulai sesak nafas, karena dia sedikit shock dengan perlakuan yang tidak pantas dia terima. Mereka berempat meludahi tubuhnya Putra kemudian pergi.


“Ya Tuhan, kenapa remaja sekarang cenderung brutal seperti ini. Benar-benar anarkis mereka. Aduh, mungkin aku kena kutukannya Ajeng yang kemarin malam dia menyumpahiku agar celaka seumur hidup. Bukan salah dia sih jika dia menyumpahi seperti itu, tapi kesalahanku yang berbohong kepadanya sehingga dia marah sama aku. Dadaku rasanya tambah sakit terkena pukulan mereka, rasanya sulit sekali untuk bernafas.” Putra nafasnya megap-megap seperti tenggelam di dalam air. Penyakit dadanya belum sembuh ketika di tendang temannya Ajeng di rumahnya, sekarang di tambah lagi dengan pukulan yang bertubi-tubi di dadanya. Mengetahui Putra terkapar di lantai parkir, sohibnya Putra yang tanpa sengaja pergi ke parkiran yang akan pulang mendatanginya dan menolongnya untuk berdiri.


“Nang, apa yang terjadi, siapa yang melakukan kamu seperti ini.” Ucap Leak. Mereka ada empat orang yang mengerubungi Putra untuk menolongnya.


“Ah enggak ada apa-apa kok, tadi aku jatuh tersandung batu.”


“Mana mungkin, aku tahu jika kamu habis berkelahi. Dengan siapa kamu berkelahi, sepertinya kamu dikeroyok ya wajahmu babak belur seperti ini jujur saja sama kita biar kita balas Nang.”


“Ah enggak usah balas dendam kepada mereka, makasih ya kalian masih care sama aku. Lagian nggak pantas tangan kalian mengotori dengan perkelahian, biarlah ini aku rasakan sendiri aja.” Putra mulai berjalan mendekati bendinya.


“Nggak bisa begitu Nang, siapa saja mereka biar kita kumpulin Geng kita untuk menyerang Fakultas mereka.” 


“Aduh kalian jangan ikut-ikutan anarkis seperti itu, sudahlah relakanlah sahabatmu dianiaya seperti ini asalkan masih hidup ya enggak.” Putra bercanda agar mereka melupakan kejadian tadi   

__ADS_1


“Wah, kamu payah. Eh tau nggak jika sahabat dianiaya seperti ini sahabat yang di sekelilingmu juga merasakan sakit yang sama.” Jawab Leak tidak puas dengan sikap Putra yang tidak memberitahukan siapa saja mereka yang memukulinya.


“Sudahlah, aku pulang dulu, eh kalian jangan bilang sama anak kelas kita jika aku habis berkelahi. Leak aku mohon ya, untuk yang satu ini saja. Please yah Bro.”


“Gimana ya, tapi aku kasihan sama kamu Nang. Okelah untuk yang satu ini, tapi jika nantinya mereka macam-macam lagi kita turun tangan Nang. Kamu nggak boleh begitu, ingat harga dirimu sekarang di injak-injak seperti ini masih saja kamu diam. Harusnya kamu bilang kepada Dosen Pembimbing jika kamu difitnah agar mereka mengusut siapa saja yang berbuat sangat hina seperti itu.” Ucap Leak jika Putra kurang agresif.


“Ya ya ya, kapan-kapan deh, lagian aku baru sembuh kemarin dan juga aku baru masuk kemarin ya kan. Eh Leak, nanti juga akan sirna sendiri berita yang nggak jelas seperti itu. Aku yakin kok siswa disini nggak percaya begitu saja jika Bundaku seperti...Ah sudahlah aku nggak mau ngungkit Bundaku, kasihan Bundaku yang sudah tiada. Aku nggak rela nanti Bundaku ikut sedih di alam sana jika aku sedih. Udah ya aku pulang dulu.” Putra sedih jika Mamanya terkena fitnah di sekolahnya.


“Baiklah jika itu keputusanmu, kita pulang bareng Bro.” Mereka menaiki motor masing-masing untuk pergi dari sekolahnya yang sangat megah.


“Gudeg, kita pergi saja yuk.” Ucap Putra yang belum memesan makanan.


“Kenapa emangnya, mmm.... kamu cemburu ya Ajeng berdekatan dengan ketua BES yang duduk di sana.” Jawab Gudeg yang menebak pikiran Putra sambil tersenyum menggodanya.


“Ah enggak kok, siapa yang cemburu. Kita kan belum jadian, lagian kita baru sahabatan.” Jawab Putra salah tingkah dengan tuduhan Gudeg yang benar jika dia cemburu ketika Ajeng berdekatan dengan laki-laki lain. “Ya sudah jika kamu enggak mau pergi juga enggak apa-apa kok, biar aku pergi sendiri dari sini.”


“Alah Nang gitu aja marah, makanya jadi cowok itu jangan jaim, begini nih akibatnya. Kamu terluka kan hatimu jika Ajeng direbut cowok lain.” Jawab Gudeg. Putra diam sebentar, akhirnya dia bicara kepadanya.

__ADS_1


“Tapi Gudeg, ketua BES itu tunangannya Ajeng kan.”  Tanya Putra yang penasaran jika itu benar.


“Siapa bilang itu tunangannya dan siapa bilang Ajeng udah tunangan. Kata Cornelia dia belum tunangan entah ini benar apa enggak. Tapi jika aku jadi kamu Nang aku akan mendekati Ajeng dan mencintainya sebagai sahabat. Eh Nang sahabat itu harganya sangat mahal loh. Apalagi sama Ajeng yang sangat cantik, baik hati dan peduli banget dengan dirimu. Oh ya, Kata kamu Ajeng itu belahan jiwamu yang kecilnya kalian ditidurkan berdampingan. Nang, jika kamu benar-benar kehilangan Ajeng maka aku yakin sejuta kali kamu pasti akan terluka dan menderita. Memang jika aku melihat wajah kalian itu sepertinya ada kecocokan dan memang ditakdirkan untuk berjodoh dengan dirimu. Benar apa yang dikatakan almarhum Papamu jika kamu itu sahabat sejatinya Ajeng. Malahan aku pikir kalian bukan sekedar sahabat tapi sudah seperti Suami Istri saja yang keduanya terkena amnesia, ya itu tadi kalian kan belum menikah secara resmi. Tapi aku yakin jika Ajeng itu jodohmu, percaya deh sama aku jika feelingku itu selalu benar.”


“Ah mana mungkin. Kita kan masih kecil, masak mikirin nikah segala sih. Kita masih jauh Gudeg dengan pikiran semacam itu, tapi jika kita saling mencintai dan nantinya menikah okelah.”


“Tuh kan kamu masih cinta sama Ajeng, udah kejar dia jangan sampai hatinya yang terluka kemudian tertutup untuk dirimu yang pernah kamu melukai dirinya.” Jawab Gudeg sambil memukul bahunya Putra agar dia sadar. Putra hanya bisa melamun dan kadang melirik Ajeng yang sangat mesra sekali ngobrolnya dengan ketua BES. “Udah duduk dulu sini, kita makan dulu. Anggap saja Ajeng itu cewekmu yang sedang di uji kesetiannya dan kamu juga harus tahu ini baru permulaan dari kamu yang memutuskan persahabatan dengan dirinya. Pastinya ya Nang, selama tiga tahun yang akan datang kamu akan menderita karena dia enggak mencintaimu dan banyak laki-laki lain yang bercanda sama dia. Apalagi nantinya ada yang menyatakan cinta kepada Ajeng gimana enggak sakit hatimu hah.”


“Benar juga kamu Gudeg, tapi aku takut. Emangnya aku pantas mendapatkan Ajeng yang kaya, cantik, dan banyak laki-laki yang suka sama dia. Apalagi ketua BES itu dia sangat tampan dan kaya lagi.” Ucap Putra yang sedih.


“Alah kamu jangan minder dulu, jika aku lihat wajahmu kamu tampan kok. Malahan sebenarnya kamu itu paling tampan di sekolah kita, kamu sendiri sih yang nggak nyadar. Emang sih nasibmu saja yang kurang beruntung, naik bendi ke sekolah hahaha...” Gudeg tertawa membayangkan Putra naik bendi untuk menggodanya agar putra ikut tertawa tidak sedih lagi.


“Sialan kamu Fan. Yang namanya kaya itu juga takdir dari ilahi jika digariskan seperti itu. Aku juga nggak mau jadi anak yang miskin apalagi sebatang kara begini.” Putra menitikkan air matanya yang sedih mengenang kedua Orang Tuanya dan perjuangan hidupnya selama ini.


“Maafkan aku ya Nang jika aku keterlaluan dan menyinggung perasaanmu. Aku nggak nyangka jika perkataanku melukai hatimu.” Ucap Gudeg yang menyesal sambil merangkul bahunya.


“Ah nggak apa-apa, memang seperti ini nasibku Fan jika aku orang yang kere kayak aku.” Putra mengusap air matanya dan ingin pergi saja dari kantin yang membuatnya sedih. Ketika Putra menitikkan air mata, Ajeng melihat dari kejauhan melihat Putra yang sedih. Rasanya Ajeng ingin mendekatinya dan memeluknya jika putra sedih. Benar apa yang dikatakan Medina pikir Ajeng, jika Putra sedih dan ingin curhat sudah tidak ada yang menghiburnya lagi. Biasanya jika Putra sedih Ajenglah yang selalu menghiburnya dan memberikan semangat. Apalagi ketika itu Papanya pergi untuk selamanya. Ajeng menjadi sedih dan ikut menitikkan air mata jika Putra sedih. Ketua BES heran dengan Ajeng yang melamun sambil menitikkan air mata yang tadinya saling bercanda.

__ADS_1


__ADS_2