Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
8. Belahan Jiwaku


__ADS_3

“Lepaskan aku, sepertinya aku nggak punya waktu untuk hal seperti ini.” Kata Putra. Ajeng sedih dan menangis, dia tidak mengejar Putra lagi. Putra benar-benar sudah mengubur persahabatan dirinya dengan Ajeng. Apa yang dikatakan Gudeg ketika di kantin menjadi kenyataan. Dia di peluk Cornelia yang berada di sisinya, Naily, Yanti dan Fitri marah jika Ajeng di perlakukan Putra seperti itu. Putra keluar dari kafe yang di kejar Gudeg. 


Gudeg menasehati Putra agar dia tidak marah dengan Ajeng. Dia juga menasehatinya agar dia bisa tenang dan nantinya bisa berbicara dengan Ajeng secara baik-baik agar tidak bertengkar lagi. Sebenarnya hati Putra tidak benci malahan dia sangat rindu sekali. Namun, dia terlanjur benci sama Ajeng yang memfitnah Bundanya, pikir putra. Gudeg berbicara panjang lebar yang akhirnya bisa dipahami Putra. 


“Ngertikan kamu, ingat dia sangat cinta denganmu Nang.” Ucap Gudeg. Sepertinya pikiran Putra sudah tidak objektif lagi. Mana yang cinta dan mana yang fitnah, mana mungkin fitnah dan cinta jadi satu.


“Baiklah aku akan menemuinya untuk meminta maaf sama dia.” Jawab Putra melamun memandangi jalan raya yang ramai berlalu lalang kendaraan. Mereka berdua masuk lagi, di dalam Kafe itu terdengar musik dari Lagunya Group Band EFEK RUMAH KACA yang berjudul KAU DAN AKU MENUJU RUANG HAMPA.. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 54).


Gudeg dan Putra mendatangi mereka lagi yang berada di dalam kafe, Ajeng masih menangis di pelukan Cornelia yang sedang duduk. Ketika Putra melihat Ajeng seperti itu, dia juga sedih. Akhirnya mereka semua duduk, Naily, Fitri dan Yanti minta ijin untuk keluar dari kafe ini, pikirnya terlalu banyak orang. Ajeng dan Cornelia duduk bersebelahan, sedangkan Putra dan Gudeg duduk di depan mereka. Ajeng dan Putra masih diam, Ajeng juga mulai tenang yang tidak berani memandangi wajahnya Putra. Dia hanya memandangi minuman di atas meja di depannya. 

__ADS_1


“Nah, sekarang kita beri kesempatan untuk kalian berdua saling bicara. Biar aku dan Irfan keluar dari kafe sebentar, nanti aku duduk di sebelah sana. Aku mau memanggil Naily dan lainnya agar mereka masuk kemari, karena kita akan mengadakan meeting. Kalian disini aja yang baik-baik ya jangan berantem lagi.” Ucap Cornelia sambil berdiri menggandeng tangannya Gudeg. Mereka berdua keluar dari kafe untuk mendatangi ketiga cewek yang berada di luar. Ajeng dan Putra masih malu, mereka hanya diam berdua di dalam kafe yang masih sepi. Mereka saling pandang, Putra salah tingkah kemudian meminum orange juss yang berada di meja. Akhirnya Ajeng yang mulai membuka suara.


“Put, maafkan aku ya. Aku yang salah ketika itu. Apakah kamu enggak memaafkan aku.” Ajeng memandang wajahnya Putra.


“Eh, aku memaafkanmu. Tapi Yu’, kenapa kamu tega sama aku yu’. Apa salahku sehingga kamu berbuat seperti ini.”


“Perbuatan yang mana saja sih Put, bicaralah apa saja itu Put. Jika itu memang salah aku bersedia minta maaf. Apakah aku menamparmu waktu itu, atau aku sebut dirimu binatang.” Jawab Ajeng harap-harap cemas.


“Put, bukan seperti itu kejadiannya. Sebenarnya aku akan memberitahukanmu jika momentnya sudah tepat. Bukan aku yang memfitnahmu seperti itu, aku enggak tahu siapa yang tega memfitnahmu seperti itu. Aku juga sedih dan marah Put dengan fitnah itu. Maafkan aku ya, jika enggak ada kamu di sisiku rasanya sepi dan hati ini teriris luka Put.” Jawab Ajeng yang bisa menguasai perasaanya, dia tidak menangis lagi.

__ADS_1


“Tapi Yu’ aku udah nggak cinta lagi sama kamu. Aku juga udah tunangan dengan sahabat Ayahku dari Pekalongan.” Ucap Putra yang bohong untuk menyakitinya. Ajeng hanya diam, dia terkejut dengan omongannya Putra.


“Siapa Put, kamu juga sama enggak ngasih tahu aku jika kamu udah tunangan.” Ucap Ajeng yang penasaran. 


“Sudahlah, sebenarnya aku memang binatang Yu’. Kamu nggak tahu kan jika aku melihat kamu mandi selama ini dengan buku Passport milikku.” Ucap Putra yang bohong kepada Ajeng. Dia berbicara begini agar Ajeng marah sehingga tidak mengharapkan dirinya.


“Kamu bohong mana mungkin kamu seperti itu. Aku nggak percaya Put karena kamu orangnya baik. Aku percaya sama kamu, aku yakin ketika kamu meminta maaf kemarin kamu benar-benar tulus.” Ucap Ajeng yang tidak percaya dengan ucapannya Putra, jika dia berbicara seperti itu. Dia kecewa dengan Putra yang tidak tahu diri, dia juga malu jika Putra melakukan seperti itu. Dia malu jika tubuhnya dilihat Putra ketika mandi. Ajeng sedikit marah, di hatinya sangat benci jika Putra berbicara dan bersikap seperti itu. Tapi kali ini ulahnya Putra benar-benar keterlaluan, Ajeng akhirnya terpancing juga emosinya dengan omongannya Putra yang tidak tahu diri.


“Aku juga memanfaatkanmu agar kamu mau sama aku, sebenarnya aku punya rencana jahat sama kamu. Apa yang di tuduhkan selama ini di sekolah itu benar. Memang saat ini aku calo gituan karena aku enggak punya uang lagi. Kenapa emangnya, kamu heran ya. Inilah aslinya aku yang jahat, karena aku benar-benar jahat yang memanfaatkanmu. Jika aku bersamamu di sekolah berdua-duaan denganmu adalah agar orang lain iri dan meminta cara menggaet wanita, kemudian aku beri nomor hape milik wanita panggilan untuk aku kenalkan kepada mereka.” Ketika Putra berbicara seperti ini, hatinya menangis dia tidak tega membohongi Ajeng yang baik hati. Dia menyesal berkata seperti ini. Ajeng marah, dia melemparkan isi minumannya ke mukanya Putra. Wajah Putra basah terkena air orange juice, keduanya berdiri. Ajeng menampar Putra sangat keras sekali, sebelum pergi dari hadapannya Putra dia berkata kepadanya sambil menangis.

__ADS_1


“Aku nggak nyangka Put, jadi benar jika kamu itu binatang dan calo gituan. Hebat banget sandiwaramu selama ini. Oh Tuhan, kenapa Engkau kirimkan kepadaku sahabat yang jiwanya serigala berbulu domba semacam ini. Dasar kamu enggak tahu diri, aku sumpahin seumur hidupmu celaka. Kenapa juga aku harus bertemu denganmu, dasar pendusta.” Ajeng sakit hati. dia menampar Putra lagi. Ajeng mendorongnya ke belakang yang hampir terjatuh, dia berlari keluar dari kafe sambil menangis terisak, dia pergi menjauhi kafe menyusuri jalan agar tidak bertemu dengan Putra lagi yang menyakiti hatinya. Ajeng dikejar keempat sahabat ceweknya. Putra hanya berdiri diam dan duduk lagi, dia tidak menyangka jika ucapannya membuat marah besar sehingga menyakiti perasaan hatinya Ajeng. Air mata Putra menetes di pipinya, dia mengusapnya dengan tangannya. Gudeg masuk menanyakan apa yang terjadi. Putra hanya diam sambil berjalan keluar dari kafe tersebut, Gudeg juga ikut keluar.


“Nang, apa yang kamu katakan kepada Ajeng sehingga dia sangat marah banget sama kamu, juga kecewa denganmu. Kamu tega banget Nang dengan Ajeng, dia itu cinta mati sama kamu Bro. Sadarlah Bro, jangan sekali-kali kamu sakiti wanita, apalagi seperti Ajeng. Dia itu baik banget, aku nggak nyangka jika kamu tega melukai perasaannya.” Putra hanya diam sambil melamun.


__ADS_2