Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
7. Terpuruk


__ADS_3

Dua hari Putra istirahat setelah Gudeg bertemu dengan Ajeng di kantin. Putra mulai kuat dan sehat lagi, paginya dia berangkat ke sekolah bersama Gudeg naik motor Honda CBR 150 dari rumahnya Gudeg. Mereka mulai asik mengikuti pelajaran di kelasnya. Ketika mata pelajaran pertama selesai, siswa di kelasnya Putra keluar semua untuk pindah kelas mengikuti kelas Komunikasi Data. Sedangkan kelas yang tadinya mereka pakai sudah diisi dengan kakak kelas mereka dengan mata pelajaran Statistik. Ketika mata pelajaran Komunikasi Data kelasnya Putra selesai, mereka keluar dari kelas. Hari itu jam pelajaran mereka kosong, Putra dan beberapa sohibnya duduk-duduk nongkrong di lorong kelas mereka yang berada di lantai tiga. Ketika itu Putra akan pergi ke toilet di dekat mereka yang sedang asik nongkrong. Putra berdiri dan berjalan, ketika dia hampir nyampe di toilet, di dekatnya Putra ada sekelompok siswa yang kelasnya berbeda dengannya. Mereka semua membicarakan Putra dengan suara kencang melecehkannya sambil tertawa keras yang mengejek. Putra dihina dan dicaci dengan makian yang tidak pantas yaitu Putra disebut anak haram dan juga anak *******. Putra hanya diam menerima cacian itu tidak jadi masuk ke dalam toilet. Mengetahui Putra di hina seperti itu, sohibnya Putra yang berjumlah sepuluh siswa mendatangi Putra, mereka semua marah yang akan menghajar mereka yang menghina Putra. Ketika sohibnya Putra yang akan mengeroyok siswa berjumlah lima orang ini yang menghinanya, Putra menghalang-halangi para sohibnya agar tidak usah mengotori tangannya dengan memukuli mereka yang menghinanya. Tetap saja aksi baku hantam terjadi, tapi cuma sebentar karena kelimanya lari menghindar dari perkelahian yang tidak seimbang. Sohibnya Putra akan mengejarnya tapi di halangi oleh Putra. 


Siang hari Putra berniat akan mencari makan di kantin sekolahnya. Putra dari pagi belum makan walaupun Putra disuruh Gudeg untuk makan di rumahnya. Dia merasa sungkan di rumahnya Gudeg, jadinya dia pura-pura puasa sunah senin kamis. Kesedihan melanda Putra lagi, ketika dia pergi ke kantin sendirian yang belum sempat memesan makanan, dia dihina lagi dan dilecehkan harga dirinya oleh beberapa siswa. Putra hanya diam dan pergi dari sana, dia sangat marah jika Bundanya di sebut *******. Dia juga dituduh sebagai calo atau germo yang suka nawar-nawarin hal begituan. Dia hanya bisa pasrah karena percuma dia marah memukuli mereka yang menghinanya, yang terjadi pastinya dia babak belur. Siswa yang menghina Putra ini dari Kedokteran dan Farmasi temannya Ajeng anggota BES yang dulunya memukuli Putra di rumahnya Ajeng. 


Mengetahui Putra sudah masuk sekolah, Ajeng senang sekali jika nantinya dia bisa bertemu dengan Putra. Dia sudah rindu sekali dan merasakan bahagia untuk menemuinya, bahkan angan Ajeng juga akan memeluk Putra lagi untuk menjadi sahabat yang lebih akrab dari sebelumnya. Ajeng sendirian mencari Putra di kelas dan di sekolah. Dia juga menelepon Putra, jawaban hapenya Putra di luar area. Putra lupa jika hapenya hilang yang belum mengurus kartu perdananya di galeri Telkomsel dan Indosat, karena hapenya Putra mempunyai dua sim card. Mengetahui Ajeng mencari di kelasnya yang Putra tahu dari kejauhan, dia menghindar karena masih sakit hati. Apalagi gara-gara Ajeng mengatakan yang tidak-tidak waktu itu ketika Ajeng marah di rumahnya, sehingga membuat luka di kepalanya yang harus di rawat di Rumah Sakit. Hatinya Putra masih terngiang dengan perkataan Ajeng waktu itu, bahwasanya dia itu binatang yang tidak pantas untuk ditemani. Mulai sekarang Putra tahu, karena sekarang teman sekolahnya menjauhinya. Dirinya juga dianggap berkelakuan binatang. Dia marah sama Ajeng kemudian memutuskan pergi dari sekolahnya yang sedang sakit hati. Terdengar Lagu dari ANDRA & THE BACKBONE yang berjudul  MUSNAH di ruang SAPALA yaitu Siswa Pecinta Alam ketika dia melewatinya menuju pintu gerbang utama sekolahnya. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 53).

__ADS_1


Putra mulai rindu dengan rumahnya, dia naik bus menuju rumahnya yang berada di jalan Kaliurang. Sebelum dia masuk ke rumahnya dia mampir ke tokonya untuk bertemu dengan karyawannya bernama Mas Andre Mahasiswa drop out dari UGM. Putra bercerita banyak kepada Mas Andre selama ini dia dimana dan ngapain aja. Putra agak terhibur bisa kembali lagi ke tokonya untuk bertemu dengan Mas Andre.


Ajeng kecewa tidak bisa menemukan Putra, dia sedih lagi di kelasnya. Cornelia yang duduk di sebelahnya tahu jika dia tidak bisa menemukan Putra. Cornelia menemui Gudeg untuk membuat rencana mempertemukan Ajeng dan Putra di sebuah kafe di jalan Gejayan. Gudeg ke rumahnya Putra menjemputnya untuk cari makan pada malam hari. Mereka berdua pergi ke jalan Gejayan dan berhenti di sebuah kafe. Putra tidak sadar jika di dalam kafe itu sudah ada Ajeng dan para Flowers yaitu Naily, Fitri, Yanti dan Cornelia. Ajeng juga tidak tahu jika Putra akan datang, mereka membuat konspirasi untuk mempertemukan Ajeng dan Putra agar bisa baikan sehingga masalah mereka berdua bisa dibicarakan dengan cara baik-baik agar tidak terjadi permusuhan di antara mereka. 


“Udah nanti gampang, yang penting kita masuk kedalam dulu.” Jawab Gudeg. Mereka berdua masuk untuk mencari tempat duduk yang kosong, pikir Putra. Namun, rencana Gudeg adalah mencari kelima gadis yang menunggui mereka berdua. Akhirnya Gudeg menemukan mereka. “Eh, kebetulan kalian juga di sini ya. Wah sama siapa saja kamu Say.” Ucap Gudeg kepada Cornelia pacarnya.

__ADS_1


“Ini ada Naily, ada Yanti, ada Fitri dan juga Ajeng.” Jawab Cornelia. Mengetahui Ajeng disana, perasaan Putra mulai tidak enak dan jiwanya tidak tenang. Dia berpikir pasti ini kerjaan mereka untuk mempertemukan dia dengan Ajeng. Mengetahui Putra berdiri di belakangnya Gudeg, Ajeng berdiri dari kursinya kemudian berlari memeluk Putra. Mereka senang jika Ajeng masih sayang dengan Putra. Dia kaget dengan kelakuan Ajeng yang aneh. Dia masih sakit hati dengan Ajeng, bahkan dia menuduh Ajeng jika dialah yang memfitnah dirinya di sekolah. Dia juga berfikir tidak perlu lagi dengan persahabatan diantara mereka berdua karena bagi dirinya, dia takut nantinya di tuduh lagi yang sangat menyakitkan misalnya merebut tunangan orang lain. 


“Kenapa kamu Jeng, memelukku bukannya...” Ucapan Putra belum selesai. Dia hanya mengucapkan di dalam hati, bukannya aku ini binatang ucap Putra dalam hati. Ucapan Putra di putus Ajeng yang mengucapkan meminta maaf kepada dirinya. Dia sekarang juga tidak memanggil Ayu’ lagi, panggilan kesayangan untuk Ajeng.


“Maafkan aku Put yang berbuat salah terhadap dirimu.” Ajeng masih memeluk Putra sangat erat, dia tidak ingin kehilangan Putra. Dia juga teringat Putra yang di peluknya di dalam mimpi ketika Putra berpamitan akan pergi ke alam lain. Ajeng menangis dan bergembira bisa bertemu Putra lagi, sahabat yang paling di cintainya. “Mana Put luka itu, di sebelah mana Put. Sakitkah Put ketika itu maafkan aku ya.” Ajeng meraba luka bekas jahitan di belakang kepalanya Putra. Wajahnya Ajeng di dekatkan wajahnya Putra sangat lama sekali untuk melihatnya. Ajeng belum puas jika memeluknya saja, dia melihat wajahnya Putra sampai matanya tidak berkedip. “Put, aku cinta sama kamu Put. Aku mau dan bersedia apa yang kamu tawarkan dulu ketika kamu mencium pipiku di bulan Ramadhan lalu. Kamu masih ingatkan Put dengan ucapanmu itu.” Putra hanya diam melepaskan pelukannya Ajeng. Tangannya Ajeng yang merangkul di bahunya di pegang dengan kedua tangannya Putra. Setelah pelukan terlepas Putra mundur untuk pergi dari hadapannya Ajeng menuju pintu keluar. Ketika dia melangkahkan kakinya, Ajeng mengejarnya begitu juga Gudeg yang memegang bahunya Putra agar tidak pergi.

__ADS_1


__ADS_2