
“Gudeg sudahlah, aku nggak jadi makan aja, aku pergi dulu ya dari sini. Aku ada urusan sebentar sepertinya penting.” Ucap Putra yang berbohong kepada Gudeg. Padahal makanan yang di pesan sudah datang di hadapan mereka. Putra berdiri melangkahkan kaki dari sampingnya Gudeg.
“Mau kemana kamu, aku tahu kamu sedih. Duduklah disini sebentar, kita makan dulu. Aku tahu kamu jarang makan ya kan, kamu nggak usah bohong deh. Kamu sakit lambung kronis kan, obatmu masih ada di rumahku Nang. Dadamu juga sakit kan, kamu sering muntah darah kan Nang. Sudahlah duduklah disini sebentar agar hatimu tenang.” Ucap Gudeg. Ajeng mendengar perkataan Gudeg yang suaranya sangat keras. Ajeng menitikkan air mata, dia berjalan mendekati Putra. Setelah dia sudah dekat dengannya Ajeng memeluk Putra dari belakang yang sedang berdiri dipegangi tangannya sama Gudeg. Putra dan Gudeg kaget dengan Ajeng yang memeluk Putra sambil menangis sedih.
“Put maafkan aku, aku enggak tahu jika kamu terluka seperti ini. aku menyesal Put nggak peduli sama kamu. Maafkan aku ya Put, jangan pergi lagi dari sisiku.” Ucap Ajeng yang memeluk Putra sangat erat. Ajeng menangis membuat basah bajunya Putra. Dia membalikkan badan kemudian di peluk Ajeng lagi sambil menciumi pipinya Putra yang kemarin di tampar oleh dirinya. Ketika Ajeng menciumi Putra, siswa yang makan di sana kaget dengan Ajeng yang menangis, memeluk dan menciuminya. Bahkan ketua BES cemburu dengan Putra, sedangkan Gudeg merasa senang jika mereka baikan lagi dan feelingnya benar selama ini. “Sekarang kamu berkata apa terserah kamu Put, pokoknya aku sangat menyayangimu. Aku terlanjur cinta sama kamu Put. Kamu tahu kamu telah memberikan kehidupan kepadaku ketika kamu memberikan nafas buatan kepadaku. Aku cinta sama kamu Put.” Ajeng membisikkan di telinganya Putra, dan menciumnya lagi. Ajeng masih menangis, begitu juga Putra yang matanya berkaca-kaca karena rindu sekali dengan Ajeng.
“Udah kalian duduk di sini dulu jangan berdiri sambil pelukan. Malu dilihat seluruh siswa, apalagi kamu Jeng menciumi Putra. Sudah cepetan sini duduk di sini, kalian ngomong secara baik-baik biar aku menjadi penengahnya jika kalian nanti bertengkar lagi.” Ucap Gudeg yang menarik tangannya Putra dan Ajeng untuk duduk. Mereka berdua malu dan keduanya salah tingkah.
“Yu’ maafkan aku ya, yang melukaimu seperti ini.” Ajeng dan Putra duduknya saling berdekatan dan saling memegang tangan.
“Justru aku Put yang meminta maaf, maafkan aku ya Put. Aku nggak tahu jika kamu sakit seperti yang dibicarakan Gudeg. Apa lambungmu masih sakit Put, kenapa kok bisa. Apa selama ini kamu jarang makan, nanti aku bawain makanan dari rumahku yang aku bikin langsung dariku untukmu Put, agar kamu nggak sakit lambung lagi. Kenapa dadamu Put, mana yang sakit. Kenapa kok bisa sampai muntah darah dan juga kamu sering sesak nafas ya. Put maafkan aku Put, kamu terluka seperti ini. Kenapa kamu enggak bilang sama aku.” Ucap Ajeng yang memegangi dadanya Putra yang sakit. Mereka berdua baikan lagi dan bisa saling bercanda walaupun ada bekas luka di hati mereka. Ajeng dan Putra maupun Gudeg duduk di sana sampai siang hari. Akhirnya mereka bertiga pergi ke kelas masing-masing. Di kantin terdengar Suara Musik dari Lagunya DEWA 19 yang berjudul MATI AKU MATI. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 57).
__ADS_1
Malam hari Putra pergi naik bendinya mau cari makan, sedangkan Ajeng ke rumahnya Putra untuk mengajak makan, tapi dia sudah pergi. Ajeng agak kecewa dengan perginya Putra, padahal dia sangat rindu sekali. Ketika dia pergi ke Selokan Mataram, dia di buntuti sebuah mobil Jeep. Ternyata mereka adalah siswa yang di tampar Grace yaitu tingkat tahun pertama dari Kedokteran dan tingkat kedua dari Farmasi yang keduanya dendam dengan Putra. Di dalam mobil Jeep yang terbuka itu, Putra sayup-sayup mendengarkan musik dari mobil Jeep di barengi dengan teriakan mereka berempat menyuruh memberhentikan motornya yang melaju di depan mereka. Mengetahui nyawanya terancam, dia menaiki bendinya sangat kencang sekali yang di kejar oleh mereka.
Kedua siswa ini mengajak dua orang yang tubuhnya sangat kekar umurnya sekitar tiga puluh tahunan. Putra yang tahu dibuntuti berlari sekencang mungkin dengan bendinya ke arah timur menyusuri Selokan Mataram. Putra terjatuh ditabrak mereka, dia terjatuh di selokan mataram yang sepi dan jauh dari rumah penduduk. Mereka berempat turun dari mobil kemudian memegangi tubuhnya Putra untuk menyaksikan bendinya dibakar sambil mengatakan hubungan dirinya dengan Ajeng putus sampai di sini.
Bendinya Putra di pukuli dengan Stick Baseball dengan dua remaja ini yang berbeda jurusan dengan Putra. Kemudian bendi itu di bakar, wajahnya Putra dipegang agar menyaksikan bendinya terbakar habis. Putra tidak berdaya, dia tidak bisa melawan karena yang memegangi Putra tubuhnya sangat kekar. Dia menangis ketika bendinya habis termakan api karena merasa kehilangan kenangan dengan Ajeng yang selalu mengelilingi Yogyakarta dengan bendi kesayangannya. Di dalam Jeep itu terdengar suara musik dari Lagunya KOIL yang berjudul AJARAN MORAL SESAT. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 58).
Tidak cuma itu, setelah bendinya di bakar, Putra dihajar dan dipukuli lagi. Parahnya semua ini sedang mabuk terkena pengaruh minuman keras. Telapak tangan kirinya Putra di pegangi di taruh di atas aspal. Mereka memukul dengan Stick Baseball berkali-kali. Putra kesakitan dan menggeliat-nggeliat merasakan sakit luar biasa, dia berusaha melawan mereka berempat yang menganiaya dirinya. Ketika Stick Baseball itu mengenai telapak tangannya, dia berteriak sangat keras di malam itu yang sepi. Dia terkapar di jalan beraspal kemudian ditendangi kedua siswa ini sambil tertawa meminum sekaleng bir yang membuatnya mabuk. Perutnya Putra merasakan kesakitan, wajahnya yang berdarah ditendang dengan kaki mereka yang membuat tidak sadarkan diri, darah dari hidung dan mulutnya mengalir. Dia pingsan dan tidak merasakan sakit lagi ketika mereka berempat menganiaya Putra. Suara Musik dari CD Player mobil Jeep itu sekarang berganti secara otomatis memutar sebuah Lagu dari Group Band yang sama, Lagunya milik KOIL berjudul AKU LUPA AKU LUKA. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 59).
Malam yang tadinya mendung tiba-tiba hujan, Putra mengambil hape barunya untuk menelepon Gudeg lagi. Putra merasa malu meminta tolong kepada Gudeg apalagi dia merasa punya hutang pada Gudeg yaitu hutang biaya rumah sakit selama ini. Putra memencet nomor sembilan pada hapenya lama sekali, hapenya mulai tersambung. Putra mendengarkan Ring Back Tone miliknya Gudeg dengan judul Lagu HUJAN dari Group Band UTOPIA. Dia merasa kehilangan sahabatnya yaitu bendi motor vespa yang selalu setia mengantarkan kemana saja. Dia tidak percaya jika bendinya terbakar di depan matanya. Dia mengenang dengan bendinya yang pernah menaikinya pertama kali ketika itu yang mogok di Selokan Mataram di tempat terbakarnya bendinya. Dia masih mendengarkan Ring Back Tone miliknya Gudeg dengan judul Lagu HUJAN dari Group Band UTOPIA. Hapenya tersambung dengan miliknya Gudeg. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 60).
“Gudeg, tolong aku sekali lagi.”
__ADS_1
“Kenapa kamu Nang, memangnya ada apa.”
“Enggak ada apa-apa, kamu bisa menyusuri Selokan Mataram ketimurkan, motorku mogok.” Putra bohong jika dia terluka dan motornya terbakar yang masih menyala.
“Makanya beli yang baru Bro, emang bendimu sudah mau pensiun. Oke deh aku akan kesana, tunggu sebentar ya paling dua puluh menit enggak apa-apa kan.”
“enggak apa-apa asal kamu kesini.” Kata Putra yang kesakitan, hapenya terputus. Dia berbicara di dalam hati sendiri. “Aduh, ada apa ya dengan zaman ini. kenapa sekarang orang menggunakan kekerasan dalam mengambil keputusan. Ada apa dengan dua siswa itu, apa mereka salah didik oleh Orang Tuanya. Aku tahu mereka kaya, tapi bukan seperti ini seenaknya saja menganiaya orang lain. Dulu Ayahku juga kaya, tapi aku nggak seperti mereka. Ah gara-gara bisnis Ayahku terkena krisis sehingga beliau memulai karir dari bawah lagi. Mungkin jika Ayahku masih hidup dan aku kembali kaya pasti aku nggak dihina seperti ini. Di sekolah dihina dan dicaci, bahkan bersahabat dengan Ajeng yang kaya saja harus berkorban seperti ini. Aku harus mengalami penganiayaan jika bersahabat dengan dia. Aku nggak sanggup lagi, aku bersyukur kemarin aku udah baikan sama dia, sehingga jika aku pergi enggak merasa berat dan bersalah. Lebih baik aku pergi dari Yogyakarta dan berhijrah ke kota lain yang lebih ramah dengan keadaanku saat ini. Yu’, semahal inikah bersahabat denganmu yang harus dan selalu tersakiti badan ini dan selalu nyawaku akan terenggut. Kutukan apa ini sehingga aku kok menderita seperti ini. Maafkan aku Yu’ jika aku akan pergi meninggalkan kamu sekali lagi dan kali ini untuk selamanya, semoga kamu bahagia dengan tunanganmu Yu’. Terima kasih selama ini kamu peduli sama aku. Kita telah melalui senang dan susah bersama juga benci dan cinta yang saling berganti.” Putra terluka dan kehujanan, tubuhnya mulai menggigil dan linu terasa sakit di seluruh tubuhnya. Telapak Tangan kirinya tidak bisa untuk menggenggam, rasanya sakit sekali jika digerakkan apalagi jika telapaknya terkena sesuatu pasti dia kesakitan.
Gudeg datang menghampirinya, dia kaget dengan keadaan Putra yang babak belur. Gudeg juga merasakan kasihan kepadanya. Putra diajak ke Rumah Sakit lagi untuk memeriksa tangannya. Putra berpesan kepada Gudeg agar teman satu Gengnya jangan sampai tahu, apalagi dengan Ajeng. Gudeg merasa berat hati dan akhirnya dia mengiyakan dengan permintaan Putra. Ketika Putra terluka pada malam itu, Ajeng bermimpi jika Putra menderita dan kedinginan. Paginya Ajeng mencari ke rumahnya, tapi sayang di rumahnya Putra tidak ada di sana. Ajeng sedih dan rindu kepada Putra yang kesakitan dalam mimpinya pada malam itu. Dia merasa Putra itu bagaikan sudah menjadi satu tubuh dan jiwanya dengan dirinya. Jika Putra terkena musibah pasti Ajeng merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya. Putra di rawat di Rumah Sakit selama tiga hari. Telapak tangan Putra di gip. Sekarang Putra tidak mempunyai motor lagi. Bendinya sudah hangus menjadi rongsokan. Gudeg marah sekali jika Putra di perlakukan seperti ini, sahabat yang selalu bersamanya dianiaya. Gudeg tidak terima, tapi sayang Putra tidak mau menyebutkan siapa saja yang menganiaya dirinya sehingga Gudeg marah yang tidak bisa terlampiaskan, paling enggak melaporkan kepada polisi. Tapi ide ini di tolak sama Putra karena dia ikhlas jika diperlakukan seperti ini. Putra berfikir tidak mau merepotkan orang lain karena dia tahu inilah akhir dari hidupnya tinggal di kota Yogyakarta. Putra ingin pergi dengan tenang dan tidak ingin merepotkan temannya, apalagi membagi masalah kepada mereka ketika dia tidak ada di Yogyakarta.
##T##
__ADS_1