
Putra sambil nonton televisi di warung itu, dia memesan kopi walaupun tidak bagus saat ini untuk kesehatannya. Dasar Putra, dia sudah putus asa. Apapun yang dilakukan sudah tidak dipikirkan lagi resikonya. Saat ini Putra berfikir ingin bisa bertemu dengan Ayah apalagi Bundanya yang dicintainya di alam sana, sungguh sangat didamba oleh dirinya. Jangan heran saat ini Putra seperti melakukan bunuh diri yang sangat pelan sekali, tentunya rasanya sangat sakit. Dia masih punya akal karena dia tidak mau bunuh diri secara langsung, karena dia menunggu suatu keajaiban yang bisa menyenangkannya lagi di atas Bumi ini. Apalagi sekarang dia sudah semangat karena saat ini dia mempunyai saudara angkat yang dicintainya. Siapa lagi kalau bukan Gita, adik angkat yang di damba. Sudah lama dia menginginkan adik yang tidak kesampaian. Dan saat inilah cita-citanya punya adik yang kesampaian. Apalagi Gita yang sangat cantik sekali, baik hati dan peduli sama dirinya yang menerimanya apa adanya. Putra bermalam di warung itu mulai menghabiskan kacang goreng dan jajanan yang lainnya sampai habis. Sepertinya saat ini dia dendam terhadap makanan karena sudah lima hari ini dia tidak makan. Mungkin cacing di perutnya sudah kelaparan yang amat sangat.
Sedangkan belahan jiwanya Putra, kekasih hatinya Putra yang bernama Ajeng mulai tenang. Tubuhnya Ajeng tidak sakit lagi, bahkan dia bermimpi jika Putra baik-baik saja. Ajeng bersyukur sahabat yang dicintainya bisa selamat. Namun, dia masih sedih karena belum bisa menemukan Putra sampai saat ini yang kabarnya bagaimana. Ajeng berencana besoknya dia akan bercerita kepada dua sahabatnya yaitu Grace dan Medina mengenai mimpinya bertemu dengan Putra lagi.
__ADS_1
Putra terbangun dari tidurnya, dia dibangunkan dengan suara truk yang sedang dipanaskan mesinnya sama kernet truk. Tadi malam Putra sangat senang sekali karena di warung itu dia saling mengobrol ramah dengan sopir truk yang sedang istirahat bersamanya. Walaupun tadi malam di sana terlihat remang-remang, ada seorang sopir truk dengan seorang gadis yang bermesraan di pojok parkiran, entahlah gadis itu wanita baik-baik atau wanita begituan yang jelas dia tidak peduli dengan urusan orang lain apalagi nantinya salah paham bisa runyam kondisinya. Dia keluar dari warung itu yang mulai terang, sang surya telah terbit dari semayamnya. Pagi itu dia berniat pergi ke Semarang menunggu bus dari arah Kudus yang belum datang juga. Setelah dia memberhentikan bus dari arah Kudus, dia naik menuju ke Semarang. Setelah sampai di Terminal Semarang dia naik taksi menuju ke rumah Neneknya yang berada di daerah Tembalang. Putra sudah sampai juga di rumah Neneknya, dia memencet bel berkali-kali. Tak berapa lama pintu itu dibukakan Neneknya, melihat Putra sudah pulang beliau sangat terkejut dan bahagia. Namun, beliau sedih lagi karena wajahnya Putra berantakan dan tubuhnya Putra pun bau tidak sedap karena selama lima hari ini Putra belum mandi sama sekali.
“Ya Tuhan Putra. Kemana saja kamu selama ini nak, Nenek sama Tantemu sangat khawatir. Gita, Narin dan Lia juga khawatir dengan kepergianmu. Kenapa badanmu nggak karuan seperti ini, wajahmu penuh luka dan kamu bau banget.” Ucap Nenek yang memeluk Putra dan melepaskan lagi pelukannya, karena badan Putra sangat bau belum mandi selama penyekapan. Putra juga berbau amis, bau air laut. Neneknya putra sangat senang sekali Putra sudah pulang.
__ADS_1
Putra keluar dari kamar mandi yang hanya tubuhnya ditutupi sehelai handuk. Dia malu karena disana sudah ada Nenek yang menungguinya duduk di atas kasur. Dia mengambil baju di lemarinya kemudian pergi ke ruang ganti baju. Putra memakai bajunya sambil berbicara sama Neneknya.
“Pertanyaan Nenek yang tadi kok nggak dijawab sih sayang, kamu habis dari mana saja sampai badanmu bau amis dan wajahmu penuh dengan luka. Kenapa dadamu ada banyak lebam, apa kamu habis berkelahi atau bagaimana. Putra kamu harus jawab yang jujur sama Nenek, Nenek sangat mengkhawatirkanmu sayang.” Ucap Nenek yang sedih dan menangis kemudian beliau mengusap air matanya dengan tisu. Nenek sangat trauma jika Putra mengalami hal yang sama seperti di alami di Yogyakarta. Putra masih berada di ruang ganti, dia mendengarkan suaranya Neneknya. Sepertinya kali ini Putra berencana mau menutupi apa yang sedang terjadi dengan yang dialaminya. Dia takut jika Nenek sampai tahu malah menjadikan beban pikiran Neneknya, apalagi saat ini Nenek hidup sendiri tidak di temani Kakeknya yang kemarin telah meninggal dunia. Putra berbicara di dalam hati yang kebingungan untuk menjelaskan kepada Nenek dengan yang dialaminya.
__ADS_1
“Jika aku jujur sama Nenek, sudah pasti kasihan beliau yang mengkhawatirkan aku dan nanti jika Nenek sakit bagaimana. Tapi jika aku berdusta sama beliau, aku pasti berdosa sama Nenek yang baik hati banget sama aku. Terus bagaimana caranya memberikan penjelasan kepada Nenek yang aku sayangi.” Ucap Putra yang melamun di dalam ruang ganti sambil memakai bajunya. “Atau aku beri alasan yang nggak jujur aja ya, misalnya Nek aku habis mancing di laut terus aku terdampar di pulau selama empat hari sampai seorang nelayan menolongku. Nelayan ini yang mempunyai perahu yang kemarin aku tumpangi bersamanya. Ah alasan ini enggak rasional. Apa lagi ya alasan yang rasional, bagaimana kalau, Nek aku habis main bola di dekat rumahnya temanku di pinggir hutan, aku tersesat Nek ketika aku pulang ke rumahnya. Waktu itu aku di tinggal sendirian sama teman-temanku. Ini juga jawaban yang kurang rasional. Pastinya Nenek nggak percaya sama jawabanku ini, beliau pastinya nggak puas dengan pernyataanku dan alasanku ini.” Ucap Putra yang selesai memakai baju. Dia keluar dari ruang ganti baju untuk menemui Nenek di depannya. Putra tersenyum sama Neneknya kemudian memeluknya sangat erat sekali. “Maafkan aku ya Nek yang membuat Nenek khawatir. Aku harap dengan Pelukan dariku ini, Nenek bisa lebih tenang dan nggak khawatir lagi. Aku baik-baik saja kok Nek, benar aku nggak apa-apa. Nenek jangan khawatir ya.” Ucap Putra kepada Neneknya yang memeluknya sambil berdiri. “Bodohnya aku, harusnya aku membersihkan badanku dan mandi di tempat lain, bukan di rumahnya Nenek. Ah sudahlah ini sudah terlanjur, semoga Nenek nggak banyak bertanya mengenai permasalahan ini.” Ucap Putra di dalam hati.