Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
4. Girls Squad


__ADS_3

 Karena Ajeng sering melamun, Ajeng di bantu empat sahabat dekat sekelasnya, mereka sering menghiburnya dan juga membantu untuk mencari keberadaan Putra. Ajeng dipanggil dengan keempat sahabat dekat sekelasnya dengan nama Putri, sahabatnya Ajeng selalu setia menghiburnya. Sahabat dekat Ajeng bernama Yanti, Fitri, Naily dan Cornelia. Ajeng sering curhat dengan sahabat keempat cewek ini, dia sering di peluk jika sedih dan melamun. Cornelia adalah gadis keturunan Cina, dia sangat cantik sekali, demikian juga Fitri, Naily dan Yanti yang juga sangat cantik. Bisnis Papanya Cornelia adalah pedagang yang sangat cerdik, perdagangan Papanya menjangkau seluruh Indonesia. Biasanya Papanya Cornelia mendatangkan berbagai bahan dagangan dari Negara Tirai Bambu. Tahu enggak, Cornelia ini adalah pacarnya Gudeg itu loh Irfan Maulana sohibnya Putra. Sedangkan Fitri keturunan Arab, dia nampak anggun dengan jilbabnya. Papanya adalah pengusaha sekaligus bekerja di Pertamina, bahkan dia sendiri sudah mempunyai saham di dalam keluarganya dengan mendirikan beberapa pom bensin di daerah Pantura. Kalau Yanti sendiri asli orang Yogyakarta, dia adalah anak dari pemilik Yayasan Sekolah SMK yang sedang mereka tempati saat ini. sedangkan Naily orang Sunda pisan, Orang Tuanya mempunyai restoran masakan Sunda di Yogyakarta. Bahkan sekarang bisnisnya Orang Tuanya sedang naik omsetnya, karena Papanya yang mempunyai bisnis makanan Sunda di waralabakan di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Negeri Tetangga. 


Ajeng duduk melamun sendirian di taman, Fitri, Naily, Yanti dan Cornelia datang dari arah belakangnya Ajeng untuk mendatanginya. Ajeng tidak tahu jika mereka berempat datang.


“Putri, kok masih melamun sih. Jangan sedih ya, nanti kita bantu deh mencari Putra ya kan Flowers.” Ucap Cornelia yang memeluk Ajeng yang lagi duduk. Naily juga duduk di sampingnya Ajeng, sedangkan Yanti dan Fitri berdiri di depannya Ajeng. Nama Flowers adalah nama Geng mereka, jika memanggil Flowers berarti memanggil mereka semua.


“Iya Putri, betul itu.” Ucap mereka bertiga, Naily, Fitri dan juga Yanti.


“Aku takut jika Putra enggak selamat dan meninggalkan aku selamanya. Sudah tiga hari ini dia nggak masuk sekolah. Teman maupun sahabat dekatnya juga enggak tahu keberadaannya. Aku merasa bersalah dengan dirinya.” Ajeng menangis di pelukannya Cornelia, tubuh Ajeng kelihatan pucat karena dia sekarang jarang makan.


“Yang sabar ya sayang, jangan sedih lagi. Masih ada kita yang menemani kamu kok. Putri kamu nggak sendirian janganlah kamu menangis lagi.” Ucap Cornelia. Ajeng mulai duduknya tegak, dia tidak memeluk Cornelia lagi kemudian mengusap air matanya dengan tisu yang dibawanya. 


“Iya, aku akan tabah.” Ajeng diam sebentar. “Kalian nggak masuk kelas ya, kok kalian kesini sih.” Ucap Ajeng. Mereka berlima memakai seragam putih-putih semacam dokter yang masih remaja.  

__ADS_1


“Ah enggak kok Put. Kita sepakat untuk mencari kamu untuk menghibur dirimu yang sedang sedih.” Jawab Naily. “Jadi benar ya kamu udah tunangan, kok kita enggak kamu kasih tahu sih Putri.”


“Ya Tuhan, masalah ini lagi. Kok kalian bisa tahu sih.” Jawab Ajeng yang kaget dan shock mendengar kata tunangan dan agak jengkel dengan masalah yang satu ini.


“Ya tahu lah Putri. Eh kamu nggak nyadar ya, selama tiga hari ini berita mengenai kamu tunangan sangat heboh loh di sekolah.” Jawab Yanti.


“Oh ya, kok bisa sih. Ya Tuhan pasti kerjaan mereka yang menyebarkan berita ini.” Ucap Ajeng yang sadar dengan keempat teman laki-laki yang kemarin mampir ke rumahnya Ajeng.


“Apa benar Putri, kamu tunangan dengan ketua BES yang sangat di gila-gilai seluruh cewek di sekolah kita.” Tanya Cornelia.


“Eh Putri. Ada lagi loh berita yang sangat menyakitkan untuk di dengar.” Ucap Yanti yang diam sebentar. “Aku menemukan selebaran mengenai Putra loh, nih Flowers lihat yang aku bawa.” Yanti mengambil di sakunya berupa lipatan kertas. Dia membukanya kemudian memberikan kepada teman-temannya. Ajeng membacanya, setelah dia membacanya, dia sangat kaget sekali dan marah besar.


“Ya Tuhan jahat banget sih mereka, harga diri Putra dilecehkan seperti ini. kerjaan siapa sih ini. sungguh nggak bermoral dan ini fitnah yang sangat jahat.” Ucap Ajeng yang kaget sekaligus marahnya bertambah besar jika Putra difitnah seperti itu. Mereka berlima sangat asik sekali berbicara di taman, apalagi membahas selebaran yang baru saja mereka dapatkan. Ajeng marahnya sudah reda, dia sekarang bisa tersenyum walaupun marah dipendam di hatinya. Di dalam hatinya Ajeng, dia akan mendatangi keempat cowok temannya yang kurang ajar, pikirnya. Akhirnya kelimanya pergi meninggalkan taman untuk masuk ke kelas mereka yang berada di lantai lima.

__ADS_1


Selama seminggu Ajeng mencari Putra. Entah kenapa semenjak nggak ada Putra di sisinya, dia merasakan kehilangan separuh dari jiwanya. Ajeng belum bisa mengikhlaskan Putra pergi dari sisinya, walaupun statusnya bukan pacar dan hanya sahabat. Justru yang dirasakan Ajeng sangat kehilangan, karena perbedaan dari sahabat dan pacar adalah sahabat lebih care, lentur dan asik. Sedangkan pacaran lebih kaku dan maunya enak terus, giliran yang nggak enak aja saling melukai. Malam itu hari yang sangat dinanti oleh Ajeng. Ketika Mamanya pulang dari rumah sakit, Mamanya memanggil Ajeng memberitakan sebuah kabar yang dinantinya selama ini. Mamanya menyuruh Bibi pembantunya untuk memanggil Ajeng di kamarnya agar menemui Mamanya di ruang tengah. 


“Non Ajeng, di panggil Ibu, di suruh turun ke bawah katanya penting.” Kata pembantunya sambil mengetuk pintu kamarnya Ajeng.


“Iya Bi sebentar, nanti juga aku turun. Makasih ya Bi.” Jawab Ajeng yang membukakan pintu kamarnya. Pembantunya turun memberitahukan kepada Mamanya Ajeng, sedangkan Ajeng membereskan bukunya yang tadinya sedang belajar sambil mendengarkan radio. Ajeng turun ke bawah menemui Mamanya yang duduk di sofa, dia juga duduk di sofa sambil merebahkan kepalanya di pundak Mamanya.


“Ada apa Ma katanya penting ya.” Tanya Ajeng yang suaranya lirih tidak semangat.


“Ada kabar baik untuk kamu sayang.” Jawab Mamanya yang menaruh kacamatanya di atas meja. “Aku tahu Putri sayangku jika kamu mencari Putra ya kan.”


“Iya Mah, aku sedih Mah nggak bisa menemukan Putra lagi.”


“Putri sayang. Mulai sekarang kamu bisa senyum lagi, karena Mama tahu keberadaan Putra, tapi...” Sebelum kata-kata dilanjutkan oleh Mamanya, Ajeng memutus perkataan Mamanya.

__ADS_1


“Benar Mah. Sekarang dia ada dimana Mah, aku ingin bertemu dia lagi untuk meminta maaf kepadanya. Memang aku yang salah selama ini yang enggak peduli sama dia.” Ajeng duduknya tegak memandangi wajahnya Mamanya dengan berbinar senang.


__ADS_2