
“Yang sabar ya Put, kamu nggak sendirian masih ada aku.” Ucap Gita yang ikut sedih. Putra seperti anak kecil saja yang di peluk Gita.
“Iya Git, makasih banyak ya Git dengan perhatianmu. Sekarang aku bisa senang ada yang menggantikan untuk menghiburku jika aku sedih.” Ucap Putra yang membuat heran Gita dengan ucapannya.
“Maksudmu apa Put, memangnya siapa yang menghiburmu jika kamu sedih.” Tanya Gita yang mulai tidak memeluknya. Sekarang Gita memegangi tangan kanannya Putra agar dia berterus terang. Putra hanya diam sambil melamun melihat rumah Kakeknya..
“Eh, bukan siapa-siapa Git.” Jawab Putra yang salah tingkah. Sebenarnya dia teringat dengan Ajeng yang selalu menghiburnya di kala sedih.
“Masih terasa sakit Put. Lebih baik kita langsung aja ke rumahnya Eyang agar kamu bisa istirahat.” Ucap Gita kepada Putra yang mulai batuk-batuk.
“Udah enggak kok Git.” Jawab Putra yang menutupi mulutnya dengan tisu. Dia memperlihatkan kepada Gita tisu tadi yang menutupi mulutnya ada darahnya apa tidak untuk menyakinkannya. Gita melihat tisu itu dan memang tidak ada bekas darah.
“Kak, lebih baik kita pulang aja ke rumahnya Eyang. Kasihan Putra yang kecapaian dan rasa sakitnya mulai kambuh.” Ucap Gita kepada kakaknya yang berada di sampingnya.
__ADS_1
“Ya udah, kita ke sana aja. Lia kita berangkat lagi yuk.” Ucap Narin kakaknya Gita.
“Baiklah. Git, Putra ajak masuk ke mobil gi. Kasihan dia mengenang Ayahnya sampai seperti itu.” Ucap kak Lia temannya kak Narin.
“Iya kak.” Jawab Gita sambil menggandeng tangannya Putra. “Put, kita masuk ke mobil lagi yuk. Kamu udah puas kan melihat rumah Eyangmu.”
“Iya.” Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang di tunggu kak Narin dan kak Lia di dalam mobil. Keempatnya melanjutkan perjalanan ke utara lagi menuju ke rumah Eyangnya Gita yang berada di perempatan Besito belok ke kanan. Akhirnya mereka berempat sampai juga, di sana mereka sudah disambut Eyang Putrinya Gita yang sangat senang sekali. Apalagi ada Putra yang sudah di anggap cucunya sendiri. Rumah Eyang Putrinya Gita sangat besar dan megah, menampakkan tempat tinggalnya para konglomerat dan bangsawan. Paginya Gita mengajak Putra pergi ke Budenya yang berada di daerah Gondosari Gebog.
“Putra, kita ke rumahnya Budeku yuk. Kamu mau naik apa, mobil apa motor.” Ucap Gita yang duduk di sebelahnya Putra di kursi ruang tamu. Putra hanya tersenyum memandangi wajah cantiknya Gita.
Malamnya Gita berencana mengajak Putra pergi untuk jalan-jalan berduaan sambil nostalgia mengenang masa lalu bersama di kota Kudus, kali ini Gita memakai mobil kakaknya. Sebenarnya di rumah Eyangnya banyak mobil, apalagi mobil antik wuih banyak banget. Karena Omnya Gita yang tinggal bersama Eyangnya suka mengoleksi benda seperti itu. Apalagi koleksi ini turun temurun dari Eyang kakungnya Gita yang dulunya senang sekali mengoleksi mobil antik.
“Put, kita pergi yuk malam ini. kita mengenang masa lalu yang kamu sering boncengin aku jalan-jalan jika ke rumah Eyangku di Kudus. Sebenarnya sih jika tanganmu enggak luka, kayaknya lebih asik naik motor yah. Karena saat ini kamu sedang sakit lebih baik naik mobil aja untuk kita berdua yah.”
__ADS_1
“Rasanya aku malas Git untuk keluar rumah.” Jawab Putra duduk melamun di teras depan rumah Eyangnya Gita yang hanya ada mereka berdua.
“Ayolah Put. Kamu itu jangan suka melamun aja deh, eh obat mu sudah kamu minum tadi sore kan.”
“Oh iya, udah kok Git.” Jawab Putra yang masih melamun. Memang Putra bawa obat dari Yogyakarta yang cuma obat mengurangi nyeri, itupun obat untuk luka di tangannya agar tidak merasa linu. Jadi luka di dada dan lambungnya benar-benar tidak terobati karena komitmennya Putra untuk cepat mati, sepertinya saat ini dia sudah putus asa dari hidupnya. Semoga saja Putra tertolong dan Gita mengetahui idenya Putra yang menyakiti dirinya sendiri dengan cara bunuh diri secara pelan-pelan. Semoga juga Ajeng merasakan idenya Putra yang aneh karena saat ini Ajeng bisa merasakan apa yang dirasakan Putra. Sebab mereka sudah menjadi satu hati dan satu jiwa.
“Ayo Put kita berangkat. Kita jalan-jalannya sebentar saja, agar kamu terhibur nggak sedih lagi seperti ini. Emangnya ada apa sih Put, kok kamu sering diam dan melamun, lihat aja wajahmu menjadi sedih begini. Jika aku merasakan aura di dekatmu sepertinya bau keputusasaan dan bau aura kematian deh. Maaf loh Put jika aku berkata seperti ini, habisnya jika aku tanyain, kamu selalu diam sih.”
“Baiklah, kita pergi malam ini agar kamu dan aku puas merasakan seperti dulu lagi berkeliling di kota Kudus. Ah aku enggak putus asa kok Git, aku cuma mengenang Bundaku. Aku sangat rindu banget sama beliau. Kamu tahu Git, jika aku sedih aku ingin banget memeluknya karena aku belum pernah sama sekali memeluk beliau seumur hidup aku, itupun cuma lewat mimpi aku memeluknya yang hanya satu kali.” Kata Putra di paksa-paksain oleh dirinya agar kelihatan semangat. Supaya Gita tidak curiga jika dia mulai putus asa. Mendengar penjelasan dari Putra, Gita malah menitikkan air matanya. Mereka berdua melamun agak lama sekali, sampai Gita menawarkan sesuatu kepada Putra.
“Put, maukah kamu aku peluk untuk menggantikan Bundamu saat ini agar kamu enggak sedih lagi.” Ucap Gita yang nawarin kepada Putra.
“Ah enggak usah Git. Jangan, nanti jika di lihat orang apalagi sama Eyangmu dan juga kakakmu malah mereka salah sangka sama kita.” Ucap Putra yang malu dengan tawaran dari Gita. Sepertinya Gita sangat sayang sekali dengan Putra, sampai-sampai di belain memeluk Putra hanya agar Putra senang untuk merasakan di peluk sesosok wanita apalagi seperti layaknya Bundanya walaupun Gita bukan bundanya Putra.
__ADS_1
“Ya udah kalau kamu enggak mau. Jika kamu enggak mau aku peluk, aku minta sama kamu satu permintaan. Aku harap kamu enggak boleh sedih lagi yah. Semangat ya Put, nanti jika kamu sedih lagi aku akan memelukmu loh.”