Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
19. Adik Baruku


__ADS_3

“Benarkah kamu mau menjadi adikku Git, jika itu memang benar aku senang banget. Aku pikir kamu suka sama aku karena kamu cinta sama aku yang nantinya kita pacaran, tapi jika kamu berkata seperti itu aku mau bercerita banyak mengenai keluhanku Git.” Ucap Putra yang senang jika dia punya saudara lagi bukan sahabat apalagi pacar. 


“Memangnya berbeda ya Put antara saudara, teman, sahabat dan pacar. Sepertinya kamu lebih suka saudara ya Put. Apa gara-gara kamu udah enggak punya saudara lagi sehingga kamu ingin mempunya adik atau kakak.” Tanya Gita yang mulai mengambil bantal kursi untuk di taruh di pangkuannya.


“Iya Git, aku pingin punya saudara lagi. Aku sudah banyak kehilangan yang aku kasihi dan sayangi. Aku kehilangan Bundaku dan Ayahku, aku juga ingin mempunyai adik seperti kamu yang sangat cantik, pintar, dan menggemaskan. Aku nggak ingin pacar lagi Git, yang membuat hati ini luka dan tambah menderita. Aku pikir pacaran itu enak ternyata nggak enak sama sekali. Bersahabat juga sama Git, jika sahabat yang satunya dikhianati dan menyakiti, yang terjadi adalah putus persahabatan. Aku nggak ingin seperti itu, aku ingin mempunyai saudara. Aku ingin mempunyai adik yang jika marah dia mau memaafkanku apa adanya. Dia nggak membenciku malahan jika kita marahan bisa saling mengikat lagi rasa persaudaraan. Itulah yang aku ngerti punya saudara Git, seperti kamu jika marahan sama kakakmu pasti besoknya kalian sudah baikan dan saling menyayangi. Aku ingin seperti itu Git, kamu yakin mau menjadi adikku.” Ucap Putra yang bahagia sambil meneteskan air matanya karena dia sangat ingin sekali mempunyai adik perempuan dari dulu waktu masih sekolah dasar.


“Aku mau, malah aku berani bersumpah Put jika aku akan selalu menjadi adikmu yang akan selalu melindungi dan menjagamu jika kamu sakit.” Ucap Gita yang bersumpah di depan Putra. “Nah, sekarang gantian kamu bersumpah menjadi kakakku, karena aku senang banget mempunyai kakak seperti kamu yang baik hati dan peduli sama aku.” Putra juga bersumpah apa yang diminta Gita. Dia terus memaksanya agar Putra mau bercerita selama ini kenapa dia menderita dan melamun.

__ADS_1


“Gita, suatu saat nanti aja ya aku bercerita kepadamu sampai waktunya tepat, untuk kali ini jangan dulu lah yah. Aku ingin mengenang kembali rasa kasih sayang kita berdua menjadi adik dan kakak Git. Aku nggak ingin mengotorinya, karena bagi aku sumpah itu tadi sakral banget. Aku ingin merasakan menjadi kakak itu bagaimana dan cara membahagiakan saudaranya itu seperti apa Git. Kapan-kapan aja ya mau kan, kamu nggak marah kan Git.” Tanya Putra kepada Gita yang matanya berkaca-kaca melihat keseriusan dari Putra.


“Iya deh, kapan-kapan juga boleh loh kak.” Ucap Gita yang memanggil kakak kepada Putra.


“Aduh, aku sekarang di panggil kakak, betapa bahagianya hidupku hari ini mempunyai adik baru. Eh dik. Agak canggung ya Git jika memanggilmu adik.” Ucap Putra.


 “Iyah, kamu memanggilku adik rasanya aneh loh Put. Udah jika kamu malu atau canggung panggil aja dengan namaku  Gita oke kak.” 

__ADS_1


“Eh kak, aku bawa sesuatu loh di dalam tasku, aku sekarang sudah menjadi Seorang Penulis loh kak. Nih lihat Kerangka Novelku.” Ucap Gita yang serius. Kerangka Novel itu diberikan kepada Putra.


“Judulnya apa sih dik Gita, dengan Novelmu itu. Coba deh kamu ceritain sinopsisnya bagaimana.” Ucap Putra yang masih canggung memanggil Gita dengan adik.


“Judul Novelku adalah MENTARI PAGI DIBINGKAI TANAH SOLO, bagus kan kak judulnya. Nanti kalau udah jadi aku kirimin kepada penerbit Redaksi Fiksi, biar diterbitin loh kak. Aku ingin menjadi terkenal kak, aku juga ingin namaku terpampang di sampul Novel yang aku bikin sendiri. Bahkan nantinya, Novelku di pajang di Toko Buku deh. Kan bagus kak jika namaku SAGITA AINI AOYAMA SUDIRO Penulis Muda Berbakat Gadis Keturunan Jepang dan Jawa yang telah  menjadi Penulis Pemula di segani banyak kalangan yang penjualan Novelnya satu juta kopi dan Novelku menjadi best seller. Waduh hebat banget, jika itu terjadi aku bisa mandiri dan hebat banget hidupku. Aku bisa beli mobil sendiri nggak usah minta sama Mama lagi, apalagi nunggu sampai umur Tujuh Belas Tahun kelamaan kak.” Ucap Gita yang sangat semangat sekali. Dia juga menceritakan sinopsisnya kepada Putra. 


“Ceritanya bagus kok, tapi sayang aku bukan sastrawan dik Gita. Kalau kamu tanya mengenai komputer aku paham banget.” Ucap Putra yang mulai batuk-batuk sambil keluar dari ruang tamu menuju ke teras membawa tisu untuk menutupi mulutnya yang keluar darah, Gita juga ikut dari belakang yang panik.

__ADS_1


“Put eh kak, kamu enggak apa-apa kan. Badanmu panas dan berkeringat dingin kak, bahkan wajahmu pucat banget. Ya Tuhan kamu masih berdarah, aduh gimana ini. Tantemu tadi kemana Put eh kak.” Putra batuknya makin parah, darah dari mulutnya makin banyak, tubuhnya Putra terkulai lemah dan lemas. Putra berdiri yang hampir terjatuh, dia dipegangi Gita yang memeluknya ketika Putra mulai lemas. Mereka berdua terduduk di bawah, Putra pingsan di pangkuannya. Gita menangis menitikkan air mata di wajahnya Putra sambil memanggil Tante dan Neneknya Putra. Dia juga menciumi wajahnya Putra, takut jika dia tiada.  Tantenya Putra di rumah saat itu karena hari itu libur kerja. Tante dan Neneknya Putra berlari ke teras depan mendengar teriakan Gita yang histeris panik. Begitu juga dua pembantu dan sopirnya yang ikut mendatangi keduanya. Putra diangkat oleh mereka dibawa ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Mereka ikut masuk ke dalam mobil untuk pergi secepatnya dengan sopir pribadinya Nenek yang membawakan mobil sangat kencang. Sedangkan dua pembantunya panik di rumah dengan harap-harap cemas apa yang terjadi selanjutnya dengan den Putra.


Putra masih belum sadar yang di rawat di Instalasi Gawat Darurat. Gita masih menangis di luar ruangan. Di dalam para dokter memeriksa Putra, delapan jam Gita, Tante dan Neneknya menunggui di luar ruangan dengan harap-harap cemas. Akhirnya dokter keluar memberikan kabar bahwasanya Putra saat ini kondisinya baik, dokter paling tua mengatakan perlu pemeriksaan lebih lanjut. Putra dibawa ke ruang vip yang di pesan Tantenya, ruangan yang di pesan sangat luas dan megah. Tantenya tidak ingin kehilangan Putra seperti kehilangan Papanya yaitu kakeknya Putra yang di rawat di Rumah Sakit dan ruangan yang sama. Begitu juga Neneknya yang sangat sayang sekali dengan Putra. Mereka menunggui Putra di ruang vip, Gita selalu di sampingnya sambil membisikkan di telinganya Putra agar tetap semangat dan harus bisa melawan masa kritis. Dia sering memegang tangannya Putra dan menciumnya, kadang juga habis membisikkan di telinganya Gita tak jarang mencium keningnya Putra. Melihat sikapnya Gita, Tantenya hanya tersenyum begitu juga Neneknya. 


__ADS_2