Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
23. Makam


__ADS_3

PUTRA ingin nyekar sendirian ke makam Bundanya yang sangat dicintainya. Tangannya Putra sudah sembuh, gib di tangannya sudah di lepas. Dia harus belajar menggerakkan telapak tangannya agar tidak kaku dan bisa lues walaupun masih linu, demikian juga bekas luka kepalanya yang masih nyeri. Sedangkan dada dan lambungnya berangsur-angsur membaik walaupun belum sepenuhnya. Dia masih sesak nafas jika kondisi dirinya mengalami kepanikan. Memang dia sering trauma apalagi jika dia pergi tidur, pasti dia sering mengigau merasakan pukulan bertubi-tubi di tubuhnya serta air matanya mengalir karena yang dikasihi pergi meninggalkan dirinya. Jika dia mengigau pasti dadanya nyeri dan sesak nafas. 


“Put, pakai mobil aja kalau mau pergi ke Kudus. Kamu udah punya sim A kan, kalau nggak mau biar diantar sama Pak Rahmat.” Ucap Neneknya kepada Putra yang berpamitan sama beliau. Neneknya menyuruh Putra untuk menggunakan mobil untuk menyetir sendiri. Tapi jika tangannya masih sakit Neneknya menyuruh sopir pribadinya untuk mengantar Putra, sopir ini bernama Pak Rahmat. Sebenarnya Putra sudah punya sim A, karena waktu di kota Yogyakarta dia menggunakan jasa calo yang seharusnya dia belum berumur untuk mendapatkan simA. Seharusnya umur Tujuh Belas Tahun baru dapat memilikinya, tapi Putra baru Enam Belas Tahun sudah memilikinya.


“Makasih Nek, Putra pingin jalan-jalan sendiri dan merasakan kebebasan. Naik bus juga enggak apa-apa kok Nek. Putra minta doanya ya Nek biar Putra selamat di perjalanan. Oh ya, maaf Nek nanti jika Gita kesini bilang aja Putra nyekar ke Bundanya yang dicintainya. Makasih loh Nek, Putra pergi dulu ya.” Ucap Putra yang mencium tangan kanannya Nenek di depan pintu.


“Iya hati-hati ya Put, jaga badanmu jangan sampai sakit lagi. Nanti kalau sakit Nenek jadi sedih ingat Kakekmu.”

__ADS_1


“Nenek nggak boleh berkata seperti itu. Pasti deh Nek, Putra akan menjaga kondisi badannya Putra. Udah ya Nek Putra berangkat dulu. Assalamualaikum.” Ucap Putra yang melangkahkan kakinya sambil melambaikan tangannya.


“Waalaikumsalam, hati-hati ya Put.” Ucap Neneknya yang khawatir. Sepertinya hati Neneknya tidak tenang jika Putra pergi sendirian ke Kota Kudus. Beliau merasakan ada sesuatu yang mengganjal yang akan terjadi entah itu apa. Tiga jam setelah keberangkatannya Putra, Gita datang ke rumah Neneknya Putra. Beliau menyampaikan pesan cucu yang disayanginya kepada Gita jika Putra pergi ke kota Kudus.


“Kak Putra kok nggak ngajak aku sih, aku juga ingin kesana sambil mampir ke rumahnya Eyang.”


“Apa Git tadi, kamu tadi manggil nama Putra dengan kak Putra.” Ucap Neneknya yang heran. Tidak biasa-biasanya Gita memanggil Putra dengan kakak.

__ADS_1


Sementara itu, ketika Putra berada di Terminal Semarang, dia masuk ke dalam bus jurusan Semarang menuju Kudus. Di belakangnya Putra ada dua laki-laki yang mengikutinya. Dia ditodong dari belakang dengan pisau. Putra sadar mereka berdua adalah preman yang dulunya di sarkem atau pasar kembang di kawasan Malioboro yang mengganggu Grace dan Medina. Mereka bertiga di dalam bus, sedangkan nyawa Putra terancam dengan kedua preman ini yang sangat beringas. Putra dan kedua preman ini turun di wilayah Demak, Putra dipaksa untuk turun sambil menodongkan pisau di belakang badannya yang sering mendorong tubuhnya Putra untuk jalan sambil membentaknya. Mereka berjalan kaki ke arah pantai laut yang jaraknya cukup jauh dengan jalan raya antar kota. Putra dibawa ke Gudang Garam dekat pantai di wilayah Demak yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Putra di sekap di sana dan di hajar habis-habisan. Preman ini mempunyai dendam dengan Putra karena dua temannya tertangkap oleh Polisi waktu pengejaran di Malioboro. Tangannya Putra diikat, matanya ditutup dan mulutnya dilakban. Tangannya digantung ke atas, selama empat hari dia berdiri tidurpun dengan berdiri.


Lima hari penutup matanya dibuka, lakban yang menutup mulutnya juga dibuka. Dia hampir mati karena tiap pagi, sore dan malam kedua preman memukuli perut dan dadanya Putra yang saling bergantian menghajarnya. Di tambah lagi penyakit lambungnya kambuh lagi karena Putra tidak di kasih makan. Putra sering mengeluarkan darah lewat mulutnya jika mereka menganiaya dirinya. Tubuhnya pucat dan tidak berdaya, hapenya Putra di matikan oleh mereka yang tidak bisa di hubungi sama keluarga angkatnya Putra sehingga Gita, Nenek serta Tantenya gelisah karena Putra tidak pulang selama lima hari. Ketika dia mulai kritis, yang diingat Putra hanya wajahnya Ajeng yang sangat dicintainya. Putra di pagi hari sering kepanasan terkena Sinar Matahari. Pagi itu hapenya dinyalakan oleh salah satu dari preman yang jahat itu. Terdengar deringan hapenya Putra yang mungkin di hubungi Gita atau Neneknya. Deringan hapenya Putra terdengar Suara Musik dari Lagunya AGNES MONICA dengan Judul Lagu MATAHARIKU, mendengar lagu itu Putra makin rindu saja dengan Ajeng. Di hatinya Putra, dia meminta maaf kepada Ajeng jikalau nantinya dia akan mati dan pergi meninggalkan dirinya. Apalagi dia merasa bersalah tidak berpamitan kepada Ajeng secara langsung waktu itu. 


“Yu’, maafkan aku yang telah tega meninggalkan dirimu. Mungkin ini Yu’ kecerobohanku untuk selalu bersumpah kepadamu yang akan mendatangkan maut enggak aku pikirkan akibatnya. Aku selalu bersumpah dengan jaminan nyawaku Yu’ untuk aku korbankan dengan sumpah yang aku ucapkan kepadamu, sebenarnya aku mencintaimu tapi aku bingung Yu’ aku harus bagaimana.” Ucap Putra yang hanya melamun ketika tubuhnya mulai lemas. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 73).


Sedangkan Ajeng yang selalu diharapkan Putra untuk meminta maaf darinya, tiap malam selalu memimpikan Putra. Apalagi kondisi saat ini Putra yang di sandera dengan kedua preman yang jahat. Di dalam mimpinya Ajeng, Putra selalu meminta tolong dan meminta maaf kepadanya. Malam ini Ajeng bermimpi lagi bertemu dengan Putra di sebuah taman sekolah yang hanya mereka berdua. Ajeng duduk di kursi taman sedang melamun di datangi Putra yang tubuhnya pucat. Putra duduk di sampingnya Ajeng. Mengetahui dia di datangi Putra pujaan hatinya, Ajeng senang sekali dan memeluknya. Setelah merasa puas memeluk Putra, Ajeng merebahkan kepalanya di pundaknya Putra.

__ADS_1


“Putra, kemana saja kamu selama ini. Aku rindu banget denganmu Put.” Ucap Ajeng mengelus wajahnya putra yang putih dan bersinar kemudian memeluknya lagi.


“Aku sakit Yu’, tolong aku. Aku disandera dengan preman yang akan menggoda Grace dan Medina di sekitar Malioboro waktu itu. Ayu’ tolong aku, aku sangat merindukanmu.” Ucap Putra yang tersenyum kecut menandakan kesedihan. Di dalam mimpi, Ajeng menciumi wajahnya Putra agar dia tidak ketakutan.


__ADS_2