
“Kak, kenapa nasibmu sangat menderita seperti ini. tanganmu belum sembuh, sekarang kamu terkulai lemah dan lemas di kasur.” Ucap Gita yang menitikkan air mata. Putra masih belum sadar, wajahnya juga beraura kedamaian dan sangat tenang dalam tidurnya. Sementara di Yogyakarta, tubuhnya Ajeng merasa sakit. Dia merasakan jika Putra sakit lagi. Dia berharap agar tidak terjadi apa-apa dengan Putra. Dia menangis, dadanya Ajeng tiba-tiba merasa sakit dan lambungnya juga sakit seperti apa yang dialami Putra.
Satu hari penuh Putra belum sadar, akhirnya siang itu dia terbangun dari pingsannya. Ketika Putra sadar dia melihat Tante, Nenek, Gita, kak Narin dan kak Lia yang berada di sekelilingnya. Dia bingung berada dimana, Gita sayang sekali dengan Putra. Ketika Putra terbangun Gita memeluknya dan mencium di pipinya, kakaknya Gita heran dengan sikapnya Gita. Namun, Narin hanya diam saja tidak menegur dirinya. Mereka berada disana menunggui Putra sambil saling berbincang mengenai keadaan Putra sampai malam hari. Dokter yang menangani Putra datang, mereka keluar ruangan. Di dalam ruangan hanya ada Putra dan Gita saja yang menunggui. Mereka keluar karena dokter ingin memberikan informasi jika Putra sakit pada paru-parunya yang memar, jika telat sedikit saja dia bisa mati. Sedangkan lambungnya tidak begitu parah, tapi perlu diwaspadai. Jadi pikir Neneknya, Putra sudah kena komplikasi, mendengar ungkapan hati neneknya Putra dokter hanya tersenyum. Dokter mengatakan jika paru-parunya terkena benturan benda tumpul yang sangat keras, beruntung tidak terjadi keretakan pada tulang rusuknya. sedangkan lambungnya, Putra jarang makan tepat waktu. Dokter memberikan harapan jika Putra masih bisa tertolong dan nantinya sembuh.
“Yang penting saat ini dia harus banyak istirahat dan selalu mengecek ke Rumah Sakit jika nanti di bawa pulang untuk mengetahui perkembangannya. Ini hasil scan tubuhnya pasien yang bernama Putra.” Ucap dokter yang meminta izin untuk pergi lagi, karena masih mengurusi pasiennya. Mereka semua bersyukur jika Putra masih bisa tertolong, apalagi jika terjadi kelainan dengan paru-parunya yang selamanya akan sesak nafas. Dokter juga menjelaskan dan memberikan hasil scan kepada mereka setelah itu dia pergi.
__ADS_1
Seminggu Putra di rawat di Rumah Sakit yang kondisinya masih lemah. Ketika masih di Rumah Sakit, Putra bercerita kepada Gita yang di anggap adiknya. Anggapan Putra sekarang dia mempunya saudara yang harus saling berbagi. Dia bercerita mengenai kenapa di harus pergi dari Yogyakarta. Gita mendengarkan dengan antusias di ruang vip yang hanya mereka berdua.
“Jadi, kak Putra jatuh cinta ya sama Putri. Bahkan dia sudah tunangan dengan orang lain, hebat banget ya Putri masih kecil kok udah tunangan sih. Menurut aku kasihan Putrilah, pastinya dia sekarang enggak merasa tenang lagi gara-gara tunangan itu. Emangnya di Toko Buku Gramedia ada Buku Passport semacam itu yang bisa seperti hape. Hebat banget yah di Toko Buku Gramedia ada buku semacam itu. Seperti apa sih buku itu, tapi sayang ya kak bukumu udah kamu kasihkan kepada Putri dan teman-temannya untuk dikembalikan ke Toko Buku Gramedia.” Ucap Gita yang takjub dengan Buku Passport 3 Alam milik Toko Buku Gramedia. “Jahat banget sih teman-temanmu Put eh kak, mereka menganiaya kamu seperti ini. Harusnya mereka itu di penjara aja biar nggak nyakitin orang lain. Mereka memukuli dadamu dan membakar motormu di tambah lagi memukuli tanganmu seperti ini, sadis banget sih mereka kak.”
“Seperti itulah Git keadaanku di Yogyakarta. Aku juga punya salah sama Ajeng dan sahabatnya yang berada di Jakarta. Dua sahabat baruku itu bernama Grace dan Medina. Kita berempat pada malam itu menemukan Buku Passport 3 Alam Git.” Ucap Putra duduk bersandar di kasurnya yang bisa di buat seperti kursi saja. “Aku malu jika bercerita mengenai yang satu ini Git, lebih baik jika kamu bertemu dengan Ajeng kamu tanyain aja sama dia kenapa mereka sangat marah banget sama aku ketika itu. Sekarang aku ingin melupakan Ajeng Git, entahlah jika aku bertemu lagi sepertinya aku nggak sanggup lagi. Mungkin aku depresi bertemu dengannya, karena jika aku mengenang Ajeng seluruh tubuhku terasa sakit. Mungkin aku trauma yang akhir-akhir ini aku bersahabat dengan dirinya, ada permasalahan seperti ini dan jiwa maupun tubuhku tersakiti dan teraniaya. Aku sakit Git jika mengenang dia, entah kenapa seperti ini. Itulah kenapa aku ingin melupakan kehidupanku di Yogyakarta sambil melupakan Ayahku yang pernah hidup di Yogyakarta. Gita, sebenarnya aku takut sendirian dan sebatang kara seperti ini Git apalagi di Yogyakarta yang harus hidup sendirian. Terus terang tiap malam aku menangis jika aku mengenang rasa sakit yang aku derita. Aku benar-benar shock semenjak Ayahku tiada bahkan masalah dengan Ajeng di tambah lagi dengan temanku yang menganiaya diriku.” Ucap Putra yang merasa sakit hatinya, jiwanya serta badannya untuk mengenang masa lalunya di Yogyakarta. Gita menangis mendengar penjelasan dari Putra. Dia berdiri sambil memeluk Putra yang terbaring duduk di kasurnya.
__ADS_1
“Kamu kamu nggak masuk sekolah sih Git, kok kamu masih di sini. Nenek kemana Git.”
“Iya, aku bolos udah titip absen sama sahabatku. Eyang aku suruh pulang kak agar dia istirahat kak, beliau sama sopirnya pergi sejam yang lalu.” Kata Gita memandangi wajahnya Putra yang sedih dengan menceritakan pengalaman hidupnya di Yogyakarta.
iiiii
__ADS_1
Dua bulan sudah berlalu, hari ini memasuki minggu tenang untuk mengadakan Ujian Akhir Semester Satu. Geng Flowers belajar di rumahnya Ajeng, biasanya setelah mereka belajar di sempatkan membahas Putra yang tak kunjung nampak batang hidungnya di Yogyakarta. Mereka asik sekali belajar di ruang tamu yang serius sambil bercanda untuk menghilangkan kepenatan. Gudeg menelepon Cornelia pacarnya, ada sesuatu yang di omongin kepada mereka terutama kepada Ajeng. Cornelia memberitahukan kepada Gengnya jika Gudeg akan mampir, Ajeng dan Gengnya setuju untuk menyuruh Cornelia agar Gudeg datang ke rumahnya Ajeng. Gudeg datang sendirian menaiki motornya, dia masuk ke teras di sambut Cornelia di depan pintu rumahnya Ajeng. Matanya Gudeg nampak berkaca-kaca memerah membuat heran Cornelia.