
“Sebentar sayang, bicaranya jangan buru-buru dan jangan di putus di tengah jalan gitu ah.” Kata Mamanya yang kaget dengan gembiranya Ajeng. “Gini ya Putri, kemarin Putra di Rumah Sakit Sarjito, dia menginap dan dirawat di sana. Mama baru tahu kemarin tanpa sengaja menemuinya, dia kondisinya sehat dan pulih lagi walaupun masih susah untuk bangun. Tapi, gara-gara dia tahu aku menjenguknya tanpa sengaja ketika itu, sekarang dia udah keluar dari Rumah Sakit. Tadi aku cari dia nggak ada, entahlah dia sekarang berada dimana lagi.”
“Yang benar Mah, ah pastinya sekarang dia masih di Rumah Sakit Sardjito. Biar aku susul ya Mah malam ini.” Ucap Ajeng yang gembira.
“Aduh sayang, kamu harus fokus dengan omongannya Mama dong, jangan melamun aja.” Ucap Mamanya yang membelai rambutnya Ajeng. “Putri sayang, sahabatmu Putra udah nggak ada di rumah sakit, dia sudah pergi. Aku sudah mengeceknya di administrasi Rumah Sakit dan menanyakan dengan petugas disana jika Putra benar-benar udah keluar dari Rumah Sakit.” Ajeng sedih lagi sambil memeluk Mamanya, dia diam membisu kemudian melamun lagi. Dia agak senang jika Putra masih hidup yang sudah bertemu dengan Mamanya. “Kamu nggak usah sedih ya sayang. Kemarin aku berbicara dengan temannya yang bernama Irfan Maulana, coba deh besok kamu jika pergi ke sekolah tanya sama dia. Mungkin dia tahu keberadaan Putra, sepertinya Putra berada di rumahnya deh.”
“Iya Mah, aku akan bertanya sama dia. Aku sudah rindu ingin bertemu dengan Putra lagi.” Ajeng mulai menangis. Dia merasakan gembira dan sedih, gembira karena Putra masih hidup dan sedih karena dia belum bisa bertemu dengan Putra.
“Aduh sayang jangan nangis, pasti besok kamu bisa bertemu dengan Putra lagi. Percaya deh sama Mama. Seharusnya kamu itu gembira karena Putra kondisinya sudah sehat.”
“Iya Mah.” Ajeng memeluk Mamanya lagi. “Maafkan aku ya Mah.” Di dalam hatinya Ajeng dia ingin sekali memeluk Putra yang telah meninggal kan dirinya gara-gara kesalahan dirinya, pikir Ajeng. “Put, maafkan aku yah, sahabatmu yang telah melukai hati dan fisikmu. Maafkan aku ya Putra, aku mohon kepada Tuhan untuk menyampai kan kata maaf ini kepadamu. Ya Tuhan sampaikan lah maafku kepada Putra yang mungkin saat ini sedang tidur untuk istirahat.”
__ADS_1
Paginya Ajeng pergi ke sekolah, dia mencari Irfan Maulana di kelasnya. Namun, Ajeng tidak menemukannya. Akhirnya dia ke kantin bersama Geng Flowers yaitu dia sendiri, Cornelia, Naily, Yanti dan Fitri. Ternyata ketika asik makan bakso bersama Geangnya, Irfan datang sendirian ke kantin. Irfan yang mengetahui ada mereka berlima mendatangi Cornelia pacaranya kemudian duduk di samping Cornelia. Mereka berdua sangat mesra sekali, membuat iri jika melihatnya. Ajeng bertanya kepada Irfan mengenai Putra.
“Irfan, kamu tahu enggak keberadaan Putra.” Tanya Ajeng yang bersebelahan dengan Naily dan Yanti. Sedangkan Irfan, Cornelia dan Fitri duduk di depan mereka.
“Putra ya. Aku kurang tahu yah dia sekarang ada di mana.” Jawab Irfan yang kaget kemudian dia diam yang tadinya bercanda dengan Cornelia.
“Irfan, jangan bohong kamu. Aku tahu dia di rumahmu ya kan.” Tanya Ajeng yang tidak sabar.
“Kamu jangan dusta, kata Mamaku kamu yang menunggui Putra di rumah sakit dan pastinya kamu membawanya pulang ke rumahmu ya kan.” Ajeng menangis. Dia di peluk Naily.
“Irfan kamu jangan bohong, kamu harus jujur. Lihatlah sahabatku ini yang menderita selama ini kehilangan Putra sahabat dekatnya. Apa kamu enggak kasihan melihatnya seperti ini.” Tanya Cornelia yang menuntut Irfan untuk jujur. Irfan tidak enak hati melihat Ajeng yang menangis sedih. Dia memandangi wajahnya Ajeng dan memandangi wajahnya Cornelia pacarnya.
__ADS_1
“Maafkan aku ya Jeng, sebenarnya aku berdusta seperti ini atas perintahnya Putra. Katanya Putra, dia enggak ingin menemuimu lagi dan juga dia enggak ingin mengganggu kehidupanmu lagi. Kamu tahu enggak Jeng, dia juga putus asa seperti kamu. Tapi sekarang dia bahagia dengan kesendiriannya, dia berusaha menerima kenyataan jika kamu memutuskan persahabatan antara dirinya. Putra juga bilang kepadaku dia enggak ingin mengganggu kamu dengan tuananganmu. Katanya dia sih ingin banget meminta maaf kepadamu. Tapi dia trauma bertemu kamu lagi Jeng, sepertinya hatinya udah terluka. Katanya jika bertemu kamu lagi, dia merasakan bukan bertemu dengan dirimu yang dia kenal dulu lagi. Jika aku nilai ya Jeng, sepertinya Putra ingin mengubur kenangan dengan dirimu yang telah lalu.” Ucap Irfan yang ikut sedih. “Aku harap kepada kamu ya Jeng, untuk saat ini biarkanlah dia sendiri dulu sampai hatinya tenang. Nanti juga dia akan pergi ke sekolah kok jika kondisinya udah baikan. Dia berjanji sama aku untuk tegar dan mau ke sekolah sampai dia siap untuk bertemu kamu lagi yang nantinya kamu dianggap teman biasa. Aku harap kalian bisa baikan lagi dan bersahabat seperti dulu lagi yah.” Mendengar penjelasan dari Irfan, Ajeng nampak kecewa sekali dengan sikapnya Putra yang akan memutus dirinya dari persahabatan yang sudah lama terikat.
“Kondisinya Putra udah mulai baik ya Fan. Rasanya aku ingin ke rumahmu aja deh.” Ucap Ajeng yang tidak sabar ingin bertemu dengan Putra.
“Jeng, jangan dulu. Biarkan dia untuk menenangkan hatinya, jika dia udah siap aku yakin pasti dia ingin menemuimu. Kondisi Putra baik kok, kamu jangan kawatir ya.” Jawab Irfan yang kasihan dengan Ajeng. Tatapan matanya Ajeng kosong dan melamun lagi, dia sudah tidak berselera untuk makan. Ajeng pergi meninggalkan mereka berjalan pergi dari kantin. Naily, Fitri, Yanti dan Cornelia serta Irfan mengikuti Ajeng dari belakang.
“Putri, kamu mau kemana.” Ucap Naily yang menghampiri di sampingnya. Ajeng hanya diam berjalan menyusuri beberapa gedung sekolahnya. Kemudian kepalanya Ajeng di sandarkan ke bahunya Naily agar hatinya tenang dan Ajeng pun di rangkulnya. “Yang sabar ya Putri, jangan kamu bawa kesedihanmu sampai seperti ini.”
Di dalam kelas Ajeng tidak fokus dengan pelajaran yang di sampaikan Asisten Dosen dari kakak kelas mereka. Ajeng hanya diam sambil memandangi buku di depannya. Sorenya dia pulang dari sekolahnya karena Dosennya tidak datang. Setelah sampai di rumah, dia duduk di sofa tengah sambil menonton televisi. Dia mengambil handphone di sakunya, dia menelepon Grace dan Medina jika Putra baik-baik saja. Ajeng juga curhat jika nantinya mereka akan putus bersahabatan dengan Putra.
Sementara itu Gudeg atau Irfan Maulana pulang ke rumahnya. Dia memberitahukan kepada Putra di kamarnya, jika Ajeng bertunangan dengan ketua BES yang menghebohkan di sekolah. Dan sedihnya lagi Gudeg memberitahukan kepadanya bahwasanya dia terkena fitnah yang sangat jahat. Gudeg juga memberikan selebaran isi dari fitnah itu yang di berikan kepadanya. Ketika Putra selesai membacanya, dia sedih dan sangat marah sekali jika Bunda dan Ayahnya di perlakukan seperti itu. Putra juga jengkel dengan penyebar fitnah dan menduga-duga siapa gerangan yang tega merendahkan harga diri Orang Tuanya. Gudeg juga bercerita jika dia bertemu dengan Ajeng di kantin, Gudeg memberitahukan jika Ajeng ingin bertemu dengan dirinya.
__ADS_1
##T##