
“Apa lagi ini Nang, pakai bayar aku lagi. Udah kamu nggak usah ngasih aku uang lagi. Simpan saja uang enam juta itu, aku ikhlas kok membantumu. Sekarang nomor rekeningmu berapa, aku mau balikin uangmu yang sudah masuk ke rekeningku. Sialan kamu Nang, ngasih uang ke aku. Aku nggak berhak menerimanya Nang, justru aku malah memberikan uang kepadamu karena saat ini kamu menderita yang berkepanjangan. Yang selalu dianiaya sama teman sendiri tapi kamu hanya diam saja menerima dengan ikhlas, aku sangat salut kepadamu Nang.” Jawab Gudeg sambil geleng-geleng kepalanya karena dia enggak nyangka jika Putra memberikan uang begitu banyak. Memang sih biaya kemarin selama seminggu habis dua puluh juta rupiah tapi dia ikhlas membantunya karena Putra seperti saudara sendiri. Orang Tuanya Gudeg saja sudah menganggap Putra itu anaknya.
“Udah nggak usah, biar uang itu di tabunganmu. Nih uang enam jutanya aku mohon kamu menerimanya. Kalau kamu nggak mau menerima juga aku taruh diatas meja ya.” Ucap Putra yang menaruh amplop berisi uang di atas mejanya Gudeg, karena Gudeg nggak mau memegang amplopnya Putra.
“Nang jangan Nang, udah ah. Kamu jangan aneh-aneh gini. Uang itu simpan saja untukmu Nang, ah kamu payah Bro. Udah ambil lagi ini taruh di tasmu.” Ucap Gudeg yang mengambil amplop itu dan menaruh secara paksa di tasnya Putra. Dia agak marah sama Putra, Gudeg malah sedih dan matanya berkaca-kaca melihat Putra yang sangat baik dan bertanggung jawab. “Bro, hatimu memang baik banget Bro, sampai hutang aja kamu pikirin seperti ini. Salut aku mempunyai sahabat yang bertanggung jawab, masalahnya keluargaku ikhlas menolongmu. Kita nggak hitung-hitungan lagi masalah seperti ini, jika kamu bahagia itu sangat cukup bagi keluargaku Nang. Udahlah Nang aku mohon, ini enggak usah didebatkan dan simpan uangmu itu. Aku tahu uang segitu bayaknya hasil jerih payahmu selama ini yang membanting tulang seorang diri. Nang, kamu itu kaya Nang dibandingkan aku. Pasti kamu bertanya kenapa kok bisa, karena aku masih ngandelin Orang Tua Nang. Sedangkan kamu udah mandiri seperti ini.” Ucap Gudeg yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya, dia mulai menitikkan air mata melihat Putra berulah seperti ini. Dia tidak tega menerima uangnya Putra, apalagi Putra yang hidup seorang diri pasti uang itu sangat penting buat dia.
__ADS_1
“Udahlah, terima aja ya. Jika kamu enggak terima juga aku malah merasa bersalah yang selalu merepotkanmu.”
“Nang, jika uang ini aku terima dan aku kasih tahu Orang Tuaku pasti mereka akan marah besar sama aku Nang. Sudahlah uang itu simpan saja dan besok pasti aku balikin uangmu yang ada di rekeningku. Jika hari ini kamu nggak mau ngasih nomor rekeningmu juga, tetap saja uang yang kamu tranfer di rekeningku itu selamanya uangmu Nang. Jika kamu memaksa juga uang yang berada di amplop itu kamu tinggal di kamarku tetap saja itu uangmu. Aku akan simpan dan akan mengembalikan kepadamu jika kamu balik ke Yogyakarta lagi. Tapi Nang simpan saja amplop itu. Udah jangan diambil lagi di dalam tasmu itu. Lagian kamu kan butuh pengobatan nantinya yang dirimu terluka, kamu harus ingat menjaga tubuhmu. Kesehatan itu lebih penting Nang, kamu kan masih sakit lambungmu, belum lagi dadamu yang katanya di tendang sama teman satu sekolah. Memang mereka itu kurang ajar, suatu saat nanti aku bikin perhitungan.” Ucap Gudeg yang menaruh uang itu di dalam tasnya Putra dan membawa tas itu agar Putra tidak mengambil uang itu.
“Ya udah kalau gitu, pokoknya aku punya utang sama kamu yang akan aku bayar besoknya atau suatu saat nanti. Eh Gudeg, bisa nggak kamu anterin ke rumahku dan kita menginap di sana. Aku mau siap-siap mengepak baju ke dalam koper.”
__ADS_1
“Gudeg, ini sekuntum bunga mawar dan juga coklat dan kado kecil ini untuk dia. Oh ya karena aku akan pergi jauh untuk menenangkan diri, nih sekuntum bunga melati sebagai lambang maafku kepadanya.” Ucap Putra yang membohongi Gudeg jika dia hanya pergi sebentar ke kota Semarang dan pergi ke rumah saudara Bundanya yang berada di Bali. Padahal dia hanya keceplosan saja untuk memperkuat alibinya agar Gudeg tidak curiga jika dia akan pergi untuk selamanya.
“Iya deh, tapi jika dia besok tahu pasti Ajeng akan terpukul dengan tindakanmu. Tak apalah kamu kan cuma sebentar perginya ya kan.” Ucap Gudeg yang mulai curiga ada gelagat tidak baik dari Putra jika dia pergi untuk selamanya.
“Percayalah, aku pasti balik kesini kok. Kamu jangan berpikiran aneh ya.” Ucap Putra yang meyakinkan Gudeg. Paginya mereka berdua pergi ke Terminal Jombor untuk pergi ke Semarang. Setelah mereka berdua beli tiket bus patas, mereka duduk-duduk di taman di bawah pohon besar yang berada di terminal dekat penjualan tiket. Mereka saling bercanda dan kelihatan asik sendiri. Akhirnya Putra berkata kepada Gudeg sesuatu yang sangat penting yaitu dia berpesan untuk merahasiakan kepergiannya dari Gengnya. Jika ada yang bertanya mengenai dirinya bilang saja tidak tahu. tapi kali ini Gudeg keberatan dengan permintaan Putra. Dia juga berpesan kepada Gudeg untuk tidak usah dendam dengan orang yang selama ini menyakiti fisiknya berkali-kali. Gudeg hanya diam, sepertinya Gudeg tidak setuju dengan permintaan Putra.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, Busnya Putra sudah datang dari terminal Giwangan. Sebelum Putra menaiki bus, Gudeg perpesan agar Putra tetap sabar dengan yang dialaminya, terutama saat ini yang kehilangan Orang Tuanya. Putra dan Gudeg menaiki dan masuk ke dalam bus, mereka bersalaman saling merangkul sebagai tanda perpisahan untuk terakhir kalinya di dalam bus. Gudeg turun dari bus, dia pergi mengendarai motornya untuk pulang ke rumahnya dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah karena ada kuliah pada jam sembilan. Di dalam bus, Putra duduk sendirian di dekat kaca pada baris kursi kedua di belakang sopir. Nampak masih ada beberapa kursi yang kosong, dia melamun melihat keluar jendela sambil mendengarkan Suara Musik di dalam bus yang dia naiki. Musik itu mengalun dengan Judul Lagu LUBANG HATI dari Group Band LETTO. (Dengerin Musiknya SAMBIL MELANJUTKAN MEMBACA. PLAYLIST. NO. 63).
“Jika aku mendengar lagu ini teringat sesuatu, oh ya aku teringat sahabatku yang tinggal di Pekalongan. Dia baik banget sama aku, udah gitu dia juga peduli sama aku. Kebaikan dia seperti Ayu’. Oh ya kemarin aku bilang sama Ayu’ jika aku udah tunangan sama dia, tapi Ayu’ enggak percaya. Ya iyalah masak sih aku beneran tunangan seperti dirinya. Tapi aku jelasin kok jika aku enggak tunangan, mendengar berita ini kenapa dia bahagia ya jika aku enggak ada yang memiliki. Sepertinya Ayu’ cinta banget sama aku. Tapi sayang dia udah ada yang punya, dia pun bertanya siapa yang aku maksud gadis dari Pekalongan ini. sungguh sahabatku dari pekalongan ini cantiknya bukan main, kecantikannya seperti Ayu’. Gita-Gita kamu membuatku rindu. Ayu’ memaksaku untuk memberitahukan siapa namanya, bukankah dia pernah bertemu waktu SMP kelas tiga ketika Gita pergi ke rumahku bersama Orang Tuanya. Aku jawab saja namanya SAGITA AINI AOYAMA SUDIRO, mendengar nama ini Ayu’ malah tertawa. Ternyata sejak Gita datang ke rumahku diam-diam mereka sudah menjadi sahabat pena. Malu banget aku sama Ayu’, kok bisa ya mereka kan bertemunya cuma sehari tapi kok bisa cepat akrab ya.” Putra mendengarkan Musik dari Lagunya LETTO dengan Judul Lagu LUBANG HATI sambil malamun. (STOP. Dengerin Musiknya).