Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
15. Pengusaha Rokok


__ADS_3

Sagita Aini Aoyama Sudiro adalah anak dari keturunan Pengusaha Rokok dan Tembakau serta Cengkeh di Kudus yang sangat kaya raya. Karena Kakeknya dulu Jaman Belanda adalah pengusaha yang sukses di Kudus. Itulah kenapa Kota Kudus disebut Kota Kretek sampai sekarang. Keluarga Papanya Gita diberi Gelar Sudiro turun temurun sampai cicit-cicitnya yang berdarah Jawa Tulen. Sedangkan Mamanya Gita adalah asli dari Jepang. Mamanya juga mempunyai Gelar Aoyama karena Leluhur Wanitanya pintar membuat Samurai juga Baju Kimono yang sangat indah serta seni yang lain dari Jepang. Mamanya Gita dulunya adalah seorang Model yang paling cantik di sana dan akhirnya beliau memutuskan ikut program pertukaran Budaya ketika masih Kuliah. Hingga akhirnya kedua Orang Tuanya dipertemukan satu Kuliah yang menyukai Budaya. Jika Papanya Gita suka Budaya Jepang sedangkan Mamanya Gita yang berasal dari Jepang suka Budaya Jawa. Sekarang bisnis orang tuanya Gita tidak membuat Pabrik Rokok tapi membuat Pabrik Batik di Kota Pekalongan yang sangat indah. Seni membatiknya selalu di padu dengan seni dari Jepang, bisa di bilang perkawinan Seni Jepang dan Seni Jawa di campur jadi satu. Seperti kehidupan pribadinya Gita sendiri yang tercampur darah Jepang dan Jawa. Wanita inilah yang menjadikan Putra tergila-gila karena kecantikan dan keanggunannya. Dia tidak seperti Gadis Jawa pada umumnya karena pribadi Gita mempunyai sentuhan Jepang yang ulet, cute dan anggun. Entah kenapa kepribadian seperti ini dimiliki juga sama Ajeng, Putra sangat bahagia sekali mempunyai dua sahabat yang cantik, cerdas dan anggun apalagi baik hati sama dirinya. Sedangkan nama Sagita sendiri adalah berasal dari Sagitarius itu kata Gita sama Putra karena lahirnya Gita tepat pada bintang itu. Kalau Aini sendiri dari Bahasa Arab yang artinya Mata, memang mata Gita sungguh indah seperti dua bulan sabit jika Gita tertawa. Inilah yang membuat Putra kangen ingin bertemu dengannya jika Gita tertawa, kulitnya juga putih seksi lagi dan juga tinggi semampai seperti Ajeng yang juga tinggi dan seksi ditambah lagi mereka berdua sangat cantik. Umur Gita sendiri Lima Belas Tahun yang kemarin dirayakan secara meriah di rumahnya di Kota Pekalongan.


Akhirnya mereka berempat nyampe juga di kota Semarang yang turun di pinggir jalan tidak turun di Terminal Semarang, karena nantinya terlalu jauh dari rumah mereka. Keempatnya naik taksi untuk pergi ke kontrakannya Gita yang sangat megah dan mewah.


“Wah rumah barumu besar banget Git.” Kata Putra yang duduk di sofa di ruang tamu yang hanya mereka berdua saja disana. Sedangkan Narin dan Lia pergi ke kamar atas.

__ADS_1


“Enggak kok Put, ini bukan rumahku, ini kontrakan. Rumahku di Semarang belum jadi, malah dekat rumah Kakekmu ya kan.” Ucap Gita mendekat Putra yang duduknya bersebelahan.


“Enak ya kamu, bikin rumah langsung jadi nggak seperti aku.” Ucap Putra yang memegangi tangannya yang sakit. Gita malah memeluk Putra di sampingnya dan menangis. 


“Put, kamu jangan berkata begitu. Aku jadi sedih dengan kesendirianmu, aku malah merasa berdosa melihat kesombongan keluargaku yang kaya. Tapi bukan aku bermaksud pamer sama kamu Put.” Dia menangis sambil memeluk Putra dengan erat karena dia sayang sekali dengan Putra.

__ADS_1


iiiii


Sementara itu, Gudeg pergi ke sekolah. Siang itu dia bertemu dengan Ajeng dan Cornelia di taman sekolah yang asik sedang duduk sambil membicarakan Putra yang tidak tahu kemana perginya selama empat hari ini. Gudeg memberikan titipannya Putra kepada Ajeng, dia sangat sedih sekali jika Putra sudah pergi dari kota Yogyakarta. Apalagi Putra tidak berpamitan dengan dirinya. Ajeng menangis di pelukan Cornelia yang berada di sampingnya. Apalagi ketika itu dia bermimpi jika Putra merasa kesakitan yang sedang sedih dan kedinginan. Ajeng bertanya kepada Gudeg perginya kemana dan juga kenapa dia pergi meninggalkan kota Yogyakarta. Gudeg hanya menjawab, perginya ke Semarang terus pergi ke Bali. Gudeg juga mengatakan kemarin malam Putra dianiaya sama teman satu sekolah dan bendinya juga dibakar. Mendengar Putra dianiaya, Ajeng pingsan sambil menitikkan air mata di pelukan Cornelia, Ajeng di bopong mereka berdua menuju mobilnya Cornelia. Gudeg dan Cornelia mengantar Ajeng ke rumahnya.


Ajeng belum siuman yang berada di kamarnya, Papa dan Mamanya pulang buru-buru dari Rumah Sakit. Gudeg dan Cornelia menunggu dengan setia, Cornelia menghubungi satu Gengnya agar datang ke rumahnya Ajeng. Naily, Yanti dan Fitri secepatnya meluncur ke rumahnya Ajeng ketika mereka berada di dalam kelas. Mama dan Papanya Ajeng sudah ada di kamarnya menunggui anak semata wayangnya, begitu juga Naily, Yanti dan Fitri yang menjenguk sahabat dekatnya. Cornelia memegangi tangannya Ajeng sedangkan Gudeg merasa bersalah karena membiarkan Putra pergi. Apalagi dia tidak menasehati Putra untuk berpamitan dulu sama Ajeng juga tidak mengabari Ajeng jika kemarin Putra berada di rumah sakit. Gudeg bercerita panjang lebar tentang keadaan Putra kepada Papa dan Mamanya Ajeng yang menyebabkan Ajeng pingsan. Geng Flowers juga di beritahu sama Cornelia jika Ajeng sampai seperti ini. Ajeng masih pingsan yang terlelap tidur di atas kasur. Sampai suatu ketika terdengar deruan awan yang lewat di hatinya. Ajeng terbangun dari pingsannya pada jam tiga malam ketika Papa dan Mamanya satu jam yang lalu turun ke bawah mengambil sesuatu. Ajeng menangis dan duduk di kasur sendirian, air matanya mengalir di pipinya yang di usap dengan tisu. Dia masih memikirkan Putra, apalagi dengan kondisinya saat ini yang terluka. Ajeng trauma jika Putra sakit lagi, dia tidak ingin belahan jiwanya sakit baik fisik dan jiwanya. Ajeng membayangkan luka di tangannya Putra yang merasa kesakitan. Ketika dia masih melamun tanpa sengaja dia melirik meja belajarnya melihat bungkusan dan dua buah tangkai bunga Mawar dan Melati. Dia berdiri untuk mengambilnya kemudian dia duduk di kursi belajarnya. Ajeng membuka bungkusan itu, dia menemukan sebuah Ipod dan secarik surat. Isi surat itu cuma beberapa kata yang menyuruh Ajeng untuk mendengarkan Ipod suaranya Putra yang kemarin malam di rekam sama dirinya. Rekaman itu berjumlah empat file. Ajeng meraih Stereo Portable Handsfree milik Ipod untuk di taruh di telinganya. Dia mulai mendengarkan penuturan suara Putra yang membuatnya merindu. Ajeng membuka file rekaman pertama dari Putra.

__ADS_1


“Ayu’ sahabatku, maafkanlah diriku yang pergi tanpa pamit kepadamu. Relakanlah sahabatmu yang nggak tahu diri ini yang selalu membuatmu menderita. Memang kita saat ini sedang putus dari tempat yang jauh, tapi suatu saat nanti aku juga nyambung persahabatan dengan dirimu jika kamu masih mau bersahabat denganku. Dengarkanlah lagu BBB yang berjudul PUTUS NYAMBUNG, seperti inilah persahabatan kita. Aku pergi dari sisimu karena aku ingin menenangkan diri Yu’. Dan aku ucapkan semoga kamu bahagia dengan tunanganmu.” Ucap Putra di dalam rekaman. Ajeng membuka Mp3 dari Ipod, dia mulai mendengarkan Musik dari Lagunya BBB dengan judul Lagu PUTUS NYAMBUNG. Di dalam Ipod yang di pegang Ajeng banyak sekali lagu dari Musisi Indonesia. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 65).


__ADS_2