
“Iya deh, aku akan semangat. Emangnya kita mau pergi kemana aja sih Git.”
“Kita cari makan malam yuk. Seperti dulu, tepatnya di depan penjara yang berada di perempatan Kojan. Atau di Ramayana mall aja di sana kan ada KFC. Tapi lebih asik di tempat lesehan aja lah Put, kelihatan romantis untuk kita yah.”
“Terserah kamu lah Git. Aku sih ayo aja, asalkan enak enggak apa-apa kok.” Mereka berdua masuk ke dalam mobil sedan Civic milik kakaknya Gita, sebenarnya Gita kepingin punya mobil sendiri. Namun, tidak boleh sama Mamanya karena Gita masih belum punya sim A. Jadinya pinjam milik kakaknya, janji Mamanya sih jika dia udah ulang tahun ke tujuh belas Orang Tuanya akan membelikan Gita sebuah mobil.
Mereka berdua berangkat, Gita menyetir mobilnya. Di dalam mobil mereka asik bercanda, kesedihan Putra mulai sedikit berkurang dengan candaan Gita yang cute. Gita melewati perempatan Jember dan belok ke kiri dari arah utara, mobilnya berjalan di perempatan menara. Entah kenapa Putra meminta kepada Gita untuk belok ke kiri menuju ke Menara Kudus untuk mengenang sesuatu, Gita membelokkan mobilnya memasuki gang. Gita memarkirkan mobilnya di depan Menara Kudus, dia mematikan mesin mobilnya.
__ADS_1
“Git, aku keluar dulu ya, aku kepingin mengenang di bawah menara sana. Aku ingat dulu waktu kecil berumur tujuh tahun di ajak Ayahku berfoto di bawah menara sana Git, waktu itu malam hari seperti sekarang ini.” Ucap Putra yang agak sedikit senang bernostalgia mengenang Ayahnya yang telah tiada.
“Eh tunggu dulu deh Put, aku ikut. Sekalian aku udah bawa kamera, nanti kita foto di sana ya berdua oke.” Jawab Gita yang buru-buru ikut keluar dari mobil. Mereka berdua pergi di bawah Menara di samping Taman Masjid Menara. keduanya asik berfoto bergantian, kadang juga berfoto berdua saling merangkul yang membuat heran para pengunjung dan peziarah di sana. Banyak juga santri yang melihat mereka berdua yang sedikit mesra. Mengetahui mereka di jadikan tontonan, mereka berdua malu. Gita mengajak Putra untuk masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalan. Akhirnya mereka berdua sampai juga di depan penjara, keduanya turun dari mobil untuk memasuki lesehan dan duduk berdua. Gita memesan ayam panggang dua porsi sama dua es jeruk, sedangkan Putra melihat tangannya yang kadang masih linu. Mereka berdua asik bercanda sambil menunggu pesanan ayam panggang mereka. Kadang kala Putra merasakan cinta dengan Gita, dalam sekejap dia menepisnya. Mulai saat ini dia tidak boleh mencintai seseorang apalagi sama Gita yang baik hati. Di hatinya dia sudah terluka tidak mau jatuh cinta lagi yang membuat sakit, sebagaimana ketika dia jatuh cinta dengan Ajeng. Putra juga sudah janji untuk secepatnya meninggalkan Dunia ini yang akan menyusul kedua Orang Tuanya di alam sana.
Pesanan dua porsi sudah datang, ketika Putra makan, Gita menyuapinya sambil bercanda. Putra malu di lihat banyak pelanggan yang melihat keduanya sangat mesra membuat iri seluruh pelanggan di sana.
“Alah Put, cuek aja. Enggak apa-apa kok nyantai aja lagi. Aku ingin kamu bahagia, aku tahu kamu lagi sedih. Ya udah kalau gitu, ayo Put terusin makannya kalau bisa tambah porsi lagi biar kamu nggak kurus seperti ini.” jawab Gita yang menggoda Putra agar tersenyum. Mereka berdua sudah merasa kenyang kemudian melanjutkan pergi lagi ke alun-alun Kudus. Gita memberhentikan mobilnya di depan pelataran Kabupaten Kudus sambil melihat Layar Digital yang cukup besar milik perusahaan Rokok Djarum untuk melihat pertandingan Bola Liga Inggris, MU melawan Liverpool karena Putra sangat suka bola bahkan sudah kecanduan dengan bola. Mereka di sana cuma sebentar karena Putra mengajak pulang ke rumah Eyangnya Gita.
__ADS_1
Dua hari mereka di rumah Eyangnya Gita, hari ini juga keempatnya memutuskan untuk pergi ke Semarang lagi. Gita kembali ke sekolah begitu juga Ajeng dan teman-temannya, sedangkan Putra tidak sekolah lagi. Kerjaan Putra hanya melamun sambil merasakan badannya yang masih sakit terutama bagian dada dan lambungnya, kadang dia batuk-batuk mengeluarkan darah. Gita sering ke rumah Neneknya Putra untuk menghiburnya, karena sekarang dia sudah pindah ke rumah barunya yang dekat dengan rumah Neneknya Putra. Apalagi tiga hari yang lalu, Kakeknya Putra meninggal dunia di rawat di Rumah Sakit yang terkena serangan jantung. Putra begadang untuk menunggui kakeknya waktu itu, badannya makin sakit dan jiwanya juga sakit karena apa yang disayanginya selalu meninggalkan dirinya. Hari minggu Gita pergi ke rumah Neneknya untuk menjenguk Putra yang sering melamun. Keduanya duduk di ruang tamu rumah Neneknya Putra yang cukup megah, karena Kakek angkatnya dulu adalah seorang jendral. Disana juga tinggal Tante angkatnya Putra yang bungsu dari tiga bersaudara. Tantenya Putra masih single yang sekarang bekerja menjadi PNS, jabatannya sebagai sekretaris di Walikota Semarang. Mereka saling bercanda di ruang tamu dengan pembicaraan yang mulai tidak jelas. Gita menemui Putra membawa tas ransel entah apa isinya di dalam tasnya. Sepertinya kali ini pembicaraan mereka sangat penting tidak seperti biasanya.
“Put, kok kamu enggak pernah balik lagi ke Yogyakarta sih. Sebentar lagi kan Ujian Akhir Semester Satu.” Ucap Gita yang penasaran kenapa Putra sekarang tidak sekolah lagi. “Kenapa bulan kemarin kamu mau pindah ke sekolah SMA N 1 Gebog di dekat rumah Budeku sih Put. Ada apa emangnya, ceritakanlah kepadaku. Sebenarnya kamu mengalami apa aja sih di Yogyakarta sehingga kamu seolah-olah menghindar dan lari ke Semarang. Pasti luka yang kamu derita ini ada sangkut pautnya dengan kepergianmu dari Yogyakarta, iya kan. Aku nggak percaya jika kamu terkena penyakit TBC, kemarin aku lihat ketika kamu melepas bajumu seperti ada memar di dadamu deh. Kenapa dengan dadamu Put, kamu selalu sesak nafas malah kadang sampai muntah darah. Aku takut jika paru-parumu memar di dalam nantinya infeksi, jika telat mengobatinya maka kamu bisa mati Put.” Ucap Gita yang sangat cemas sekali.
“Sekarang nggak muntah darah lagi kok Git. Nyerinya juga mulai berkurang, yah memang agak sakit sih jika bernafas.” Ucap Putra yang duduk lemas di kursi ruang tamu.
“Eyang Putri kamu tahu Put jika kamu sakit seperti ini. Kenapa pertanyaanku enggak kamu jawab sih Put mengenai kamu nggak sekolah lagi dan sebab dari luka ini.” Tanya Gita memaksa Putra untuk jujur. Putra hanya diam memandangi wajahnya Gita yang sangat cantik. Kepala Putra disandarkan di kursi sambil tersenyum karena badannya mulai melemah dan kelihatan pucat. Gita mendekati Putra yang tadinya duduk di depannya yang dibatasi meja sekarang dia duduk di sebelahnya. “Putra, curhatlah ke aku jika itu bisa melegakan hatimu. Mungkin kamu malu bercerita dengan Eyang Putri dan Tantemu. Aku tahu mereka pasti bertanya-tanya kenapa kamu nggak balik lagi ke Yogyakarta. Jika mereka bertanya kepadamu mengenai kehidupanmu di Yogyakarta pasti wajahmu sedih kemudian kamu murung dan melamun. Beliau berdua nggak memaksamu untuk cerita karena keduanya takut melukai hatimu yang ditinggal Ayahmu. Aku sering bertanya kepada beliau berdua mengenai dirimu Put, tapi aku kurang puas dengan jawaban mereka. Apa kamu mau aku peluk lagi agar sedihmu bisa berkurang. Jarang-jarang loh Put sahabat cewek memeluk sahabat cowoknya, tapi khusus kamu aku rela kok karena aku anggap dirimu itu seperti kakakku. Karena aku sendiri nggak punya kakak cowok Put, kakakku cewek itupun satu, Kak Narin. Aku juga belum punya adik lagi, pengennya sih punya adik cowok Put.”
__ADS_1