
“Merendah adalah manusia yang sempurna, bagus banget Puisi yang dibacakan Laras. Dia sangat hebat membawakannya, salut aku kepadanya. Baiklah kita lanjutkan lagi dengan Puisi yang dibawakan Dewi. Dia adalah artis dan pemain sinetron yang berbakat, dia juga presenter yang hebat. Wajahnya mirip sekali dengan Dian, sepertinya mereka kembar ya.” Ucap Rafi yang tergila-gila dengan kecantikan mereka berdua. “Baiklah kita panggilkan saja Dewi untuk menaiki panggung ini, dia akan membacakan Puisi dengan Judul Satu Jiwa Satu Nafas. Tempat dan waktu kami persilahkan.”
...SATU JIWA SATU NAFAS...
Renungan malam itu memaksaku tuk menyadarinya
Aku telah lama pulang dari tidurku yang sedikit menghina
Terkotori dengan rayuan itu yang telah lama berlalu
Bisikan gaib itu menerawang ke ujung langit sana
Adinda dan Kakanda saling berpelukan
Merasakan perasaan saling Jatuh Cinta
Merasakan Satu Jiwa yang berbeda
Nafas itu telah lama tiada
Sekarang, tergantikan dengan nafas kekasihku
Kekasih yang telah lama menyendiri dan mencintai aku apa adanya
Nafas Tuhanku yang selalu ku lupakan
Jiwa ini menjadi satu dengan Cintaku
Aku merasakan sangat senang sekali
Oh Tuhanku jangan hukum aku yang telah lalai
Aku Cinta sama kamu seumur hidupku
Karena Engkau adalah Sahabat sekaligus Kekasihku
Matikanlah aku dalam Cinta kepadaMu
Agar aku dapat mencintai kekasihku di dunia
Dialah Belahan Jiwaku
Dialah Satu Jiwaku
Satukanlah Jiwa kami menjadi satu yang saling mengasihi
Aku Cinta kamu, sungguh aku Cinta kamu Oh Tuhanku
__ADS_1
Engkaulah sahabatku ketika aku sendirian dalam pelukan rasa sedih dan terluka di hati ini
Bukankah Engkau selalu Maha Mencintai
Maka jadikanlah kami berdua Satu Jiwa
Satu Jiwa yang saling mencintai
Satu Jiwa yang saling menghargai
Oh Belahan Jiwaku
Dengarkanlah suaraku
Dengarkanlah panggilanku
Datanglah kepadaku
Akan aku peluk dirimu selamanya
Aku mencintaimu
Cintailah aku
Peluklah aku yang mulai kedinginan
Aku rindu dengan Satu Jiwa
Dialah Belahan Jiwaku
Dialah Cintaku
Dialah nafas hidupku
Puisi yang dibacakan Dewi sungguh mempesona. Puisi ini mengingatkan arti sebuah kekasih yang saling mencinta. Dewi turun dari panggung, gaun yang di pakai sungguh indah sekali. Apabila ada laki-laki melihatnya pastinya akan tertarik dan takjub melihatnya. Ketika Dewi turun panggung Puisi yang selesai dibacanya diiringi sebuah musik yang indah. Musik itu dari Group Band UNGU yang berjudul DENGAN NAFASMU. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 82).
“Sungguh luar biasa yang dibacakan Dewi ini, puisinya mengingatkan tentang apa arti cinta dan pengorbanan. Dan yang paling, paling, paling lebih penting lagi adalah, dimanakah keberadaan belahan jiwa kita masing-masing di muka bumi ini. Mungkin belahan jiwaku adalah musisi yang paling hebat, aku harapkan sih seperti itu.” Kata Luna sambil melamunkan belahan jiwanya yang sangat dicintainya entah itu siapa.
“Wah emang kamu punya belahan jiwa ya Lun. Katanya kamu masih single, jangan-jangan cowok itu yah.” Kata Olga yang akan memberitahu kan kepada khalayak ramai. Namun, Olga belum sempat bicara karena mulutnya Olga di tutupi dengan kedua tangannya Luna yang agak marah. akhirnya keduanya tertawa saling bercanda lagi.
“Udah Olga jangan dibahas lagi. Kita lanjutin lagi acaranya yah, selanjutnya puisi ini dibacakan Rafi teman seprofesi saya. Emangnya Rafi bisa baca puisi, dia kan anaknya pecicilan. Baiklah kita buktikan saja di atas panggung ini, sehebat apa sih dia. Buat Rafi tempat dan waktu kami persilahkan untuk naik panggung. Dengan membacakan puisi yang berjudul Jiwa Yang Hilang.” Ucap Luna.
...JIWA YANG HILANG...
Ketika Pujangga berkata untuk menggoreskan tinta emasnya di atas kertas
__ADS_1
Kamu tahu apa yang dilihat Sang Pujangga itu
Kertas itu berubah menjadi Batu yang membara merah
Terkena kutukan Dusta selama ini
Tiba-tiba Sang Pujangga Mukso entah kemana
Jiwanya telah hilang tersedot goresan tinta emas yang di poles di tubuhnya
Hatinya termakan hembusan godaan Nafsu yang bergejolak
Katanya Sang Pujangga sudah melupakan Belahan Jiwanya
Namun Hati Kecilnya menuntut untuk menyatu dengan Karyanya
Emang dia telah menyatu menjadi satu
Kamu tahu dengan siapa dia menyatu
Dengan Kekasih Hati yang selalu diPujanya
Dialah Tuhan yang membimbingnya untuk menemukan jalan setapak
Menuju Jalan yang telah tersihir menghilang dari Pandangan Mata
Hilang, itulah Kata yang Terakhir diUcapkan Sang Pujangga
Menggoreskan Karyanya yang Paling Akhir
Hampa, itulah Karya yang Sangat di Dambanya
Karya yang sulit ditiru dengan Nafsu yang telah sirna dan menghilang
Dunia ini pun menjadi sirna dibuatnya
Pintu Maaf pun terucap untuk membuka Jalan menuju KekasihNya yang menanti
Marilah kita kesana untuk menemuiNya dan mencintaiNya
Oh Tuhan, Daku sangat Cinta dan Rindu kepadaMU
Rafi turun dari panggung dengan perasaan bangga dan senang. Dia mendekati Luna dan Olga yang berada di balik panggung dengan meledek mereka berdua. Olga cemburu karena Rafi pintar dalam memainkan kata-kata. Setelah puisinya Rafi telah selesai, kini giliran merdunya Musik dari Group Band GIGI dengan membawakan sebuah Lagu yang berjudul HILANG. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 83).
Luna dan Olga naik ke panggung untuk membawakan acara selanjutnya. Sedangkan Rafi masih di bawah panggung berbicara dengan teman seprofesinya. Tiba-tiba di luar Gedung Taman Ismail Marzuki di kagetkan dengan hujan dan guntur yang malu dan benci. Guntur ini malu dengan manusia yang selalu membuatnya rindu jika manusia mendapatkan sinar matahari yang cerah. Sedangkan guntur marah jika Ibundanya dianiaya oleh tangan-tangan manusia. Beliaulah Ibunda seluruh Ibunda di muka Bumi ini, beliaulah Ibunda yang indah dengan gaun biru dan putihnya. Jika kalian melihatnya pasti akan takjub sendiri, beliaulah Ibunda Bumi namanya. Sungguh telah lama menderita karena kerakusan manusia yang menjadi parasit dan kutu yang merugikan sejak lama. Beliau menampar kita dengan pukulan yang dideritanya, pukulan itu mengenai muka kita semua yang sangat terhina bagi kita sebagai pemimpin bagi seluruh makhluk bumi serta penghuni kedua. Sungguh keterlaluan dengan perbuatan kita yang merendahkan diri kita sendiri. Sehingga Raja pengurus awan putih pun telah menurunkan binatang ternaknya, dialah makhluk yang sangat tidak di sukai seluruh makhluk Bumi. Global Warming adalah binatang ternak yang menyusahkan kita semua.
“Baiklah Luna, kita lanjutkan lagi yah acaranya. Tahu nggak Lun, kali ini puisi akan dibacakan oleh Adinda Titian. Dia adalah gadis cantik, imut-imut dan kalau tertawa menggemaskan. Waktu dan tempat kami haturkan, mangga non Titian naik ke panggung.” Kata Olga di sampingnya Luna.
__ADS_1
“Bener banget Olga, dia akan membacakan puisi yang berjudul Cahaya Cinta Cahaya Kebenaran.” Ucap Luna yang mengajak Olga untuk turun ke panggung. Titian menaiki panggung di malam itu yang sedang hujan di luar Gedung Taman Ismail Marzuki. Dia menghela nafas sambil memegang kertas berisi puisi yang dibawanya. Walaupun tiap hari Titian murah senyum, tapi kali ini dia berusaha untuk menahan senyumnya. Malahan dia berusaha senatural mungkin untuk menyatu dengan puisi yang dibacanya.