Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
28. Dengan Nafasmu


__ADS_3

“Merendah adalah manusia yang sempurna, bagus banget Puisi yang dibacakan Laras. Dia sangat hebat membawakannya, salut aku kepadanya. Baiklah kita lanjutkan lagi dengan Puisi yang dibawakan Dewi. Dia adalah artis dan pemain sinetron yang berbakat, dia juga presenter yang hebat. Wajahnya mirip sekali dengan Dian, sepertinya mereka kembar ya.” Ucap Rafi yang tergila-gila dengan kecantikan mereka berdua. “Baiklah kita panggilkan saja Dewi untuk menaiki panggung ini, dia akan membacakan Puisi dengan Judul Satu Jiwa Satu Nafas. Tempat dan waktu kami persilahkan.”


...SATU JIWA SATU NAFAS...


Renungan malam itu memaksaku tuk menyadarinya


Aku telah lama pulang dari tidurku yang sedikit menghina


Terkotori dengan rayuan itu yang telah lama berlalu


Bisikan gaib itu menerawang ke ujung langit sana


Adinda dan Kakanda saling berpelukan


Merasakan perasaan saling Jatuh Cinta


Merasakan Satu Jiwa yang berbeda


Nafas itu telah lama tiada


Sekarang, tergantikan dengan nafas kekasihku


Kekasih yang telah lama menyendiri dan mencintai aku apa adanya


Nafas Tuhanku yang selalu ku lupakan


Jiwa ini menjadi satu dengan Cintaku


Aku merasakan sangat senang sekali


Oh Tuhanku jangan hukum aku yang telah lalai


Aku Cinta sama kamu seumur hidupku


Karena Engkau adalah Sahabat sekaligus Kekasihku


Matikanlah aku dalam Cinta kepadaMu


Agar aku dapat mencintai kekasihku di dunia


Dialah  Belahan Jiwaku


Dialah Satu Jiwaku


Satukanlah Jiwa kami menjadi satu yang saling mengasihi


Aku Cinta kamu, sungguh aku Cinta kamu Oh Tuhanku

__ADS_1


Engkaulah sahabatku ketika aku sendirian dalam pelukan rasa sedih dan terluka di hati ini


Bukankah Engkau selalu Maha Mencintai


Maka jadikanlah kami berdua Satu Jiwa


Satu Jiwa yang saling mencintai


Satu Jiwa yang saling menghargai


Oh Belahan Jiwaku


Dengarkanlah suaraku


Dengarkanlah panggilanku


    Datanglah kepadaku


Akan aku peluk dirimu selamanya


Aku mencintaimu


Cintailah aku


Peluklah aku yang mulai kedinginan


Aku rindu dengan Satu Jiwa


Dialah Belahan Jiwaku


Dialah Cintaku


Dialah nafas hidupku


 


Puisi yang dibacakan Dewi sungguh mempesona. Puisi ini mengingatkan arti sebuah kekasih yang saling mencinta. Dewi turun dari panggung, gaun yang di pakai sungguh indah sekali. Apabila ada laki-laki melihatnya pastinya akan tertarik dan takjub melihatnya. Ketika Dewi turun panggung Puisi yang selesai dibacanya diiringi sebuah musik yang indah. Musik itu dari Group Band UNGU  yang berjudul DENGAN NAFASMU. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 82).


“Sungguh luar biasa yang dibacakan Dewi ini, puisinya mengingatkan tentang apa arti cinta dan pengorbanan. Dan yang paling, paling, paling lebih penting lagi adalah, dimanakah keberadaan belahan jiwa kita masing-masing di muka bumi ini. Mungkin belahan jiwaku adalah musisi yang paling hebat, aku harapkan sih seperti itu.” Kata Luna sambil melamunkan belahan jiwanya yang sangat dicintainya entah itu siapa.


“Wah emang kamu punya belahan jiwa ya Lun. Katanya kamu masih single, jangan-jangan cowok itu yah.” Kata Olga yang akan memberitahu kan kepada khalayak ramai. Namun, Olga belum sempat bicara karena mulutnya Olga di tutupi dengan kedua tangannya Luna yang agak marah. akhirnya keduanya tertawa saling bercanda lagi.


“Udah Olga jangan dibahas lagi. Kita lanjutin lagi acaranya yah, selanjutnya puisi ini dibacakan Rafi teman seprofesi saya. Emangnya Rafi bisa baca puisi, dia kan anaknya pecicilan. Baiklah kita buktikan saja di atas panggung ini, sehebat apa sih dia. Buat Rafi tempat dan waktu kami persilahkan untuk naik panggung. Dengan membacakan puisi yang berjudul Jiwa Yang Hilang.” Ucap Luna.


...JIWA YANG HILANG...


Ketika Pujangga berkata untuk menggoreskan tinta emasnya di atas kertas

__ADS_1


Kamu tahu apa yang dilihat Sang Pujangga itu


Kertas itu berubah menjadi Batu yang membara merah


Terkena kutukan Dusta selama ini


Tiba-tiba Sang Pujangga Mukso entah kemana


Jiwanya telah hilang tersedot goresan tinta emas yang di poles di tubuhnya


Hatinya termakan hembusan godaan Nafsu yang bergejolak


Katanya Sang Pujangga sudah melupakan Belahan Jiwanya


Namun Hati Kecilnya menuntut untuk menyatu dengan Karyanya


Emang dia telah menyatu menjadi satu


Kamu tahu dengan siapa dia menyatu


Dengan Kekasih Hati yang selalu diPujanya


Dialah Tuhan yang membimbingnya untuk menemukan jalan setapak


Menuju Jalan yang telah tersihir menghilang dari Pandangan Mata


Hilang, itulah Kata yang Terakhir diUcapkan Sang Pujangga 


Menggoreskan Karyanya yang Paling Akhir


Hampa, itulah Karya yang Sangat di Dambanya 


Karya yang sulit ditiru dengan Nafsu yang telah sirna dan menghilang


Dunia ini pun menjadi sirna dibuatnya


Pintu Maaf pun terucap untuk membuka Jalan menuju KekasihNya yang menanti


Marilah kita kesana untuk menemuiNya dan mencintaiNya


Oh Tuhan, Daku sangat Cinta dan Rindu kepadaMU


Rafi turun dari panggung dengan perasaan bangga dan senang. Dia mendekati Luna dan Olga yang berada di balik panggung dengan meledek mereka berdua. Olga cemburu karena Rafi pintar dalam memainkan kata-kata. Setelah puisinya Rafi telah selesai, kini giliran merdunya Musik dari Group Band GIGI dengan membawakan sebuah Lagu yang berjudul HILANG. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 83).


Luna dan Olga naik ke panggung untuk membawakan acara selanjutnya. Sedangkan Rafi masih di bawah panggung berbicara dengan teman seprofesinya. Tiba-tiba di luar Gedung Taman Ismail Marzuki di kagetkan dengan hujan dan guntur yang malu dan benci. Guntur ini malu dengan manusia yang selalu membuatnya rindu jika manusia mendapatkan sinar matahari yang cerah. Sedangkan guntur marah jika Ibundanya dianiaya oleh tangan-tangan manusia. Beliaulah Ibunda seluruh Ibunda di muka Bumi ini, beliaulah Ibunda yang indah dengan gaun biru dan putihnya. Jika kalian melihatnya pasti akan takjub sendiri, beliaulah Ibunda Bumi namanya. Sungguh telah lama menderita karena kerakusan manusia yang menjadi parasit dan kutu yang merugikan sejak lama. Beliau menampar kita dengan pukulan yang dideritanya, pukulan itu mengenai muka kita semua yang sangat terhina bagi kita sebagai pemimpin bagi seluruh makhluk bumi serta penghuni kedua. Sungguh keterlaluan dengan perbuatan kita yang merendahkan diri kita sendiri. Sehingga Raja pengurus awan putih pun telah menurunkan binatang ternaknya, dialah makhluk yang sangat tidak di sukai seluruh makhluk Bumi. Global Warming adalah binatang ternak yang menyusahkan kita semua.


“Baiklah Luna, kita lanjutkan lagi yah acaranya. Tahu nggak Lun, kali ini puisi akan dibacakan oleh Adinda Titian. Dia adalah gadis cantik, imut-imut dan kalau tertawa menggemaskan. Waktu dan tempat kami haturkan, mangga non Titian naik ke panggung.” Kata Olga di sampingnya Luna. 

__ADS_1


“Bener banget Olga, dia akan membacakan puisi yang berjudul Cahaya Cinta Cahaya Kebenaran.” Ucap Luna yang mengajak Olga untuk turun ke panggung. Titian menaiki panggung di malam itu yang sedang hujan di luar Gedung Taman Ismail Marzuki. Dia menghela nafas sambil memegang kertas berisi puisi yang dibawanya. Walaupun tiap hari Titian murah senyum, tapi kali ini dia berusaha untuk menahan senyumnya. Malahan dia berusaha senatural mungkin untuk menyatu dengan puisi yang dibacanya.


__ADS_2