Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
26 Belahan Jiwa


__ADS_3

“Jangan Jo, saat ini kita dicari Polisi gara-gara teman kita tertangkap. Mereka pasti di hajar habis-habisan sama aparat, agar ngaku siapa saja teman mereka selama ini. Apalagi mereka residivis yang telah menjual narkoba. Kita tidak boleh tertangkap, aku kemarin menyelundupkan satu ton ganja dari Aceh. Sayang sopir sama truknya tertangkap sama aparat di Medan, pasti saat ini mereka mencariku. Sopir yang memegang truk itu kan **** banget, mulutnya tidak bisa di kontrol, sukanya mabuk. Nanti jika aparat menyekoki sampai dia mabuk apalagi polisi mendatangkan ahli hipnotis dan menghipnotisnya agar ngaku siapa saja teman-teman dia, bisa tertangkap kita. Ingat, saat ini aparat sedang perang dan gencar-gencarnya mencari penyelundup dan pengedar narkoba dan hukumannya sangat berat sekali.”


“Terus Min, teman dari Afrika kemarin yang di Jakarta bagaimana. Dia kan menyelundupkan heroin satu kilo ke Jakarta lewat istri barunya yang baru di kawin siri di Bogor. Emang kurang ajar ya pengedar dari Afrika, caranya sungguh licik, mereka memanfaatkan orang kita. Mereka menggauli wanita dari bangsa kita untuk melancarkan penyelundupan barang miliknya. Kenapa wanita yang dikawin siri ini tidak tahu jika dia menjadi kurir. Bodoh banget sih, wanita kita kok mau-maunya kawin dengan orang Afrika yang kebanyakan pengedar narkoba, apalagi ini heroin benar-benar kelas kakap.” 


“Bukan salah wanita itu Jo, yang salah itu pemerintah kita yang saat ini tidak bisa mencarikan dan membuat lapangan kerja bagi kita. Lihat saja TKW dari Negara kita, dijadikan budak sama Negara lain. Masak sih kita harus mengirimkan pembantu kepada negara lain, malu kita Jo.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita jadi *******, belajar membuat bom. Kita pura-pura jadi TKI terus kita melumatkan Negara yang memperbudak para wanita dari Negara kita. Bagus tidak ideku ini.” 


“Alah Jo, makan aja susah sekarang ini. Lagian buat apa ngurusin yang begituan, lebih baik saat ini bisnis kotor kita jangan sampai diketahui orang. Besok kita ke Kalimantan naik kapal berangkat dari Semarang saja. Sepertinya temanku dari Kalimantan sudah mendapatkan sepuluh gadis yang akan dijual ke Papua. Dasar, sepertinya para gadis itu kurang pengalaman, mereka percaya saja dengan di iming-imingi sebuah pekerjaan oleh temanku, kita malah menjualnya. Kenapa wanita dari bangsa kita gampang di pengaruhi ya, sepertinya kebanyakan dari mereka kurang pendidikan. Kalau begini kita yang diuntungkan bisa mengelabui mereka, hahaha...” Kedua Preman ini bahagia karena bisa mengelabui para gadis yang masih lugu. Bahkan gadis pintar pun diembat juga seperti Grace dan Medina yang akan menjadi korban Trafficking.


“Dasar *******, kok ada makhluk seperti ini hidup di Negara Indonesia. Seharusnya makhluk yang jahat ini di kasihkan ke Segawon saja.” Ucap Putra. Dia marah dan sedih melihat dua preman yang merencanaan sesuatu yang sangat jahat sekali. Putra berfikir makhluk seperti ini pantasnya di makan makhluk Segawon Bermoncong Serigala yang memperbudak Roh Gentayangan. 

__ADS_1


“Iya lah Jo, sejak kita menangkapnya sampai sekarang orang ini belum makan sama sekali. Malahan orang ini makanannya bogem mentah dari kita hahaha....” mereka berdua tertawa bahagia sekali bisa menghajar Putra yang pingsan lagi.


Sungguh doanya Belahan Jiwanya Putra sangat manjur. Akhirnya Putra bisa bebas berkat doanya Ajeng yang tulus dan sangat berharap. Ikatan Putra yang menggantung di atas di lepas mereka, tapi tangannya masih di tali ke depan. Mereka pikir Putra sudah tidak berdaya, salah satu dari mereka mendudukan Putra di bawah. Keduanya tidak ingin membunuh Putra karena takut di tangkap Polisi. Apalagi saat ini Polisi bekerjasama dengan para cenayang yang sangat canggih dengan alam kegaiban. Sebenarnya rencana mereka besoknya akan pergi ke pelabuhan Semarang kemudian pergi ke Kalimantan dan meninggalkan Putra. Namun, sebelumnya mereka akan membutakan matanya agar Putra tidak bisa menjadi saksi jika mereka melakukan kejahatan. Apabila nantinya mereka tertangkap dan Putra di jadikan saksi di pengadilan. 


Beruntung nasibnya Putra yang bisa bebas ketika mereka lengah. Pada malam hari preman yang bernama Tukimin mencari makanan yang belum balik ke Gudang Garam, sedangkan temannya yang satunya menjaga Putra berjaga-jaga agar tidak kabur. Preman ini mengambil suntikan di sakunya, dia menyuntikkan di lengannya. Preman ini sedang ngefly, dia lagi terbang memasuki dunia angan yang menipu dengan heroin yang di milikinya. Sungguh disayangkan, sepertinya preman ini over dosis. Dia kelebihan dosis sehingga mulutnya berbusa dan kejang-kejang. Mengetahui preman ini tidak berdaya yang sedang sakaratul maut antara hidup dan mati. Jika mati pasti masuk ke neraka paling bawah sekali. Habisnya dosanya enggak terampuni sih, ini kata para korban yang telah meninggal dari preman yang sekarat ini. Putra bangkit dari duduknya untuk mengambil pisau di sebelah preman yang over dosis. 

__ADS_1


Putra memotong tali yang berada di tangannya, setelah tangannya bebas dari tali yang memebelenggunya dia mengambil roti dan memakannya. Disana banyak sekali minuman keras juga beberapa minuman bersoda baik itu Coca Cola, Fanta dan Pepsi. Putra mengambil Pocari Sweat kemudian meminumnya, saat ini dia membutuhkan ion tubuh yang berkurang gara-gara tidak makan selama lima hari pikirnya. Dia juga mengambil uangnya lima ratus ribu dari kantong preman yang over dosis. Karena dompet dan uangnya  diambil sama kedua preman. Pada awalnya uang yang berada di dompetnya Putra sebesar dua juta rupiah. Untung saja kartu ATMnya ke makan mesin ATM ketika dia mengambil uang waktu itu yang sedang melamun mengenang Bundanya dan Ajeng, mengakibatkan dia salah memasukkan pin sampai tiga kali. Jika tidak, pasti kedua preman memaksa Putra untuk menguras habis tabungannya di bank. Dia juga mengambil hapenya yang di nonaktifkan kedua preman ini, kemudian dia menghidupkan hapenya yang baru saja dia beli. Lima puluh pesan dari Gita masuk ke hapenya Putra yang baru sampai, padahal sudah lima hari yang lalu sms dari Gita dikirim sama dirinya. Terdengar nada dering sms hapenya Putra yang berbunyi sebuah Lagu dari SEVENTEEN dengan Judul Lagu LELAKI HEBAT. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 78).


“Dasar ********, rasakan akibatnya jika kalian menganiaya orang juga menjual orang seenaknya saja. Makan tuh narkoba, Makhluk seperti kamu memang enggak pantas untuk hidup di muka bumi, apalagi hidup di tanah Indonesia ini.” Ucap Putra sambil makan roti dan minum pocari sweat. Ketika minumannya habis dia mengambil tiga kaleng minuman bersoda Coca cola, pepsi dan Fanta untuk di minumnya yang sangat kehausan. Setelah dia selesasi minum sampai empat kaleng, tubuhnya mulai segar dan semangat lagi. Memang sih Putra agak tega sambil makan dan minum melihat orang sekarat. Sepertinya Putra benar-benar sakit hati melihat makhluk yang dosanya sebesar Gunung Himalaya. Dia berdiri melihat preman yang menyandranya terkapar di bawahnya. “Sepertinya penjahat ini enggak akan selamat, lebih baik aku pergi dari sini sebelum temannya datang. Tapi tubuhku masih lemas banget, ah enggak ada waktu untuk istirahat sebentar. Aku harus berjalan ke luar untuk kembali lagi ke Semarang. Kasihan Nenek, Tante dan Gita yang pastinya gelisah dengan kehilangan diriku.” Dia pergi meninggalkan preman yang terkapar tidak sadarkan diri. Malam yang kelabu buat Putra sungguh sangat menguntungkannya. Tubuhnya tidak lemas lagi karena dia sudah makan dan minum yang membuatnya semangat. Putra berjalan tertatih-tatih yang kesakitan seluruh tubuhnya, apalagi dada dan lambungnya. Dia menyusuri jalan setapak menuju jalan raya berusaha menjauhi tempat itu agar dirinya tidak di tangkap lagi. Ketika dia sampai di jalan raya antar kota, dia melihat dari jauh sebuah warung. Ternyata warung ini buka sampai dua puluh empat jam. Putra duduk di sana mulai memesan makanan, dia makan sepuasnya di warung itu sambil menonton televisi yang di sediakan. Sepertinya warung yang di tempati Putra adalah tempat berkumpul dan istirahat untuk sopir dan kernet truk yang melakukan perjalanan jauh karena di sekitar warung banyak sekali truk yang di parkir. Putra beli rokok sebungkus untuk menenagkan dirinya, dia menyalakan rokoknya dan menghisapnya. Tapi sayang dia terbatuk-batuk yang sangat hebat dan muntah darah, sepertinya kali ini dia tidak bisa merokok lagi karena paru-parunya menolaknya untuk merokok jika paru-parunya kesakitan dan menjerit. Mungkin paru-parunya Putra trauma, paru-parunya berfikir pukulan di dadanya dari benda tumpul di anggap gempa bumi yang berkepanjangan. Apalagi terkena asap rokok di dalam paru-paru, pastinya paru-parunya berfikir terkena asap kebakaran hutan yang hebat. Memangnya paru-paru bisa berfikir, ah ngaco ah pikir Putra sambil melamun melihat darah dari mulutnya yang berada di telapak tangannya. Yang pasti kalian jangan sering merokok oke, jaga kesehatan tubuh dan sayangi rupiah anda. Ingat loh sayang kesehatan harganya sangat muahaaal bangeeet, pikir Putra lagi sambil melamun mematikan rokoknya.  


__ADS_2