Petualangan Gembira 1 Bagian 2

Petualangan Gembira 1 Bagian 2
16. Cintailah Diriku


__ADS_3

“Putra, bukan seperti ini arti persahabatan. Aku cinta sama kamu, sungguh aku sangat cinta sama kamu Put. Kamu tahu kenapa Put, kamu itu sangat berbeda dari cowok lain dari sebagian sahabat cowok yang aku kenal. Kamu selalu membuat rindu sama aku Put, apalagi kamu telah mencium bibirku dan memberikan nafas kehidupan kepadaku waktu itu yang aku anggap kamu menggerayangiku dan menciumi aku. Ternyata aku salah Put, sekarang kamu adalah belahan jiwaku karena jika kamu merasa sakit aku juga ikut sakit Put. Sepertinya jiwamu telah merasuki ke relung jiwaku, maka aku nggak heran jika kamu merasa sedih dan bahagia, aku bisa merasakannya. Seharusnya Musik itu bukan dari Lagunya BBB tapi dari DERBY  yang berjudul CINTAILAH DIRIKU.” Ucap Ajeng di dalam hati sambil melamun. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 66).


“Tapi sayang Put, sepertinya cinta kita berdua menjadi terlarang karena cinta kita berdua terhalang oleh diriku yang udah tunangan. Aku tahu Put, kamu cinta banget sama aku, karena bahasa tubuhmu mengatakan seperti itu. Aku juga cinta sama kamu Put walaupun kita masih berumur remaja yang saat ini aku berumur Lima Belas Tahun.” Ajeng membuka musik dari Mp3 untuk mendengarkan Musik dari Lagunya DERBY lagi dengan judul Lagu CINTA TERLARANG. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 67).


Ajeng membuka file rekamannya Putra dua dan tiga yang membuat sedih karena Putra memutuskan persahabatan diantara mereka berdua. Padahal kemarin mereka sudah baikan dan berkomitmen untuk selalu melindungi sebagai persahabatan yang kompak. Ajeng tidak terima jika Putra memutuskan persahabatan sebelah pihak saja. Ajeng sedih, suara Musik dari Ipod Lagunya derby selesai, secara otomatis tergantikan suara Musik dari Lagunya MULAN JAMEELA dengan judul LAGU SEDIH. Mendengar lagu ini Ajeng makin sedih lagi dan menangis, dia pergi ke tempat tidur dan duduk disana sambil membawa bunga pemberian Putra. Ajeng mendengarkan file rekaman ke empat dari Putra. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 68).

__ADS_1


“Ayu’ terima kasih banyak atas perhatianmu selama ini dan seperti ini. Emang benar kata teman-temanmu Yu’ yang nggak setuju jika aku bersamamu. Aku tahu diri Yu’, siapa diriku. Orang yang miskin dan sebatang kara ini, pastinya enggak akan sanggup membahagiakanmu. Memang sepertinya Tuhan berkehendak jika kita putus disini, karena apa Yu’, bendi, teman kita malah lebih dari teman Yu’. Dia sudah menjadi sahabat kita berdua yang selalu bersamanya untuk bernostalgia dan berkeliling di kota Yogyakarta yang kita selalu bersama sudah terbakar habis. Mungkin seperti ini Yu’ persahabatan kita yang berakhir hangus terbakar seperti bendi kesayangan kita. Untuk ucapan akhir dari persahabatan kita, aku kirimkan sekuntum bunga melati sebagai simbol sayap hati yang patah. Mungkin suatu ketika bisa tersambung lagi jika takdir menghendaki seperti itu.” Kata Putra. Ajeng tambah sedih lagi, dia juga sedih dengan bendinya Putra yang terbakar. Dia juga mengenang yang selalu di boncengin Putra naik bendi yang dirinya selalu memegang pinggangnya Putra. Tak jarang Ajeng sering memeluknya dari belakang.


“Put. Kenapa hanya sebuah bendi saja kamu tega memutuskan persahabatan yang kita ikat sejak lama. Kenapa hanya sebuah bendi, hati kita harus menjadi korban. Kenapa kamu tega dan jahat sama aku yang selalu diriku rindu sama kamu. Semestinya kita berdua tuh satu hati Put seperti bunga melati ini yang kamu kirimkan kepadaku. Seharusnya bukan suara Musik dari Lagunya BBB yang kamu rekomendasikan kepadaku untuk mendengarkannya, perpisahan kita berdua seperti ini. Tapi seharusnya Lagu dari MAHADEWI dengan judul SATU HATI.” Ucap Ajeng di kamarnya yang lampunya meredup sebagaimana hatinya meredup pada malam itu yang membuat terluka seluruh jiwanya. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 69).


Paginya Ajeng memberitahukan kepada sahabatnya yang berada di Jakarta jika Putra pergi dari Yogyakarta. Ajeng juga menanyakan kepada Mamanya apa benar Putra mempunyai saudara di Bali. Jawaban dari Mamanya sungguh mengejutkan dirinya karena Mamanya tidak tahu malah cenderung tidak percaya jika Putra punya saudara disana. Perasaan Ajeng tidak enak dan sangat mengganjal hatinya sambil bertanya-tanya apa sebenarnya yang direncanakan Putra, kekasih hatinya anggapan dia.

__ADS_1


Putra berencana pergi ke kota Kudus untuk nyekar ke makam Bundanya. Dia sudah satu tahun belum pernah datang lagi untuk nyekar. Mengetahui Putra akan nyekar ke kota Kudus, Gita sebagai sahabatnya yang saat ini sangat peduli sama Putra menemaninya ke kota Kudus sambil pulang ke rumah Eyangnya di sana. Tidak cuma Gita dan Putra saja yang pergi ke kota Kudus, kakaknya Gita yang bernama Narin beserta temannya Lia anak dari Bupati Pekalongan juga ikut kesana mengendarai mobil sedan milik kakaknya Gita. Akhirnya mereka sampai juga di kota Kudus, tepatnya di Bakalan Krapyak. Narin memarkirkan mobilnya di depan pabrik milik Polytron. Karena di depannya ada Makam Muslim Sedio Luhur. Mereka berempat memasuki kawasan tempat Makam itu sambil berjalan menyusuri beberapa makam orang lain. Mereka berjalan kaki ke tengah makam, akhirnya sampai juga yang dituju. Putra terduduk lemas di pusara Bundanya yang di pegangi Gita. Dia menangis teringat tuduhan teman-temannya yang menuduh Bundanya seorang *******. 


“Bunda, kenapa mereka begitu tega menuduhmu seperti itu. Engkau adalah Bunda yang paling baik di seluruh Dunia walaupun diriku belum pernah sekalipun memelukmu hanya sebatas mimpi aja Bun.” Ucap Putra dengarkan Gita yang merasa heran. Putra masih menangis di sampingnya Gita, melihat dia menangis ketiganya juga menitikkan air mata. Putra membersihkan rumput di atas pusara Bundanya di bantu mereka bertiga. Dia memegang batu nisan Bundanya kemudian menyiramkan air beserta menaburkan bunga yang telah dibawanya. Selesai berdo’a, dia berdiri dan di peluk Gita. Putra masih menangis yang mengakibatkan dadanya sesak dan batuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia mengambil tisu dari sakunya, hidungnya di usap juga karena mimisan. Gita melihatnya kemudian memegang wajahnya Putra, Gita memegangi tisu yang berdarah dari tangannya Putra. Melihat Putra berdarah ketiganya kaget dan heran jika Putra sakit sedemikian parah. Dia sulit sekali bernafas karena dia panik jika ketahuan sakit di depan mereka. Sms masuk dari hapenya Narin, dering nada dari hapenya sangat kencang di tengah kuburan. Lagu dari dering itu berjudul SEMESTINYA KITA LUPA (IBUNDA) dari Group Band ANGKASA. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 70).


“Putra, kamu sakit apa. Kenapa kamu berdarah dan sulit bernafas. Kamu harus dibawa ke Dokter saat ini juga. Ayo kak kita bawa ke rumah sakit.” Ucap Gita yang panik demikian juga keduanya. Putra hanya tersenyum pucat, tubuhnya pun pura-pura dikuat-kuatkan agar mereka tidak membawa ke Rumah Sakit.

__ADS_1


“Enggak apa-apa kok. Aku kemarin sudah dari Rumah Sakit, katanya penyakit ini penyakit biasa. Mungkin aku terkena TBC yang belum parah banget, kata Dokter sih seperti itu.” Ucap Putra yang bohong, agar mereka percaya. Putra menyakinkan mereka bertiga dengan penjelasan yang sedikit ilmiah walaupun dia tidak tahu penyakit yang dideritanya apa. Akhirnya ketiganya percaya juga jika penyakitnya Putra TBC yang belum kronis. Walaupun penyakit TBC, Gita masih khawatir dengan keadaan Putra karena bisa merenggut nyawa pikir Gita. Mereka melanjutkan pergi ke utara dengan mobil sedannya, putra meminta kepada Kakaknya Gita untuk mampir sebentar ke rumah Kakeknya sebentar karena Putra dulu pernah tinggal di sana. Mereka membelokkan ke kanan jalan memasuki gang tiga di daerah Blender Peganjaran Bae Kudus. Mereka berempat turun di depan rumah Kakeknya Putra, ternyata rumah Kakeknya Putra sudah rata dengan tanah yang hanya ditumbuhi ilalang yang meninggi. Putra matanya berkaca-kaca mengenang Almarhum Ayahnya yang pernah tinggal sebentar disini bersamanya. Putra dipeluk Gita lagi dan merangkulnya, dia juga mengusap air matanya Putra.


__ADS_2