
Ketika bus akan berangkat, pintu bus bagian depan dibuka ternyata ada tiga cewek masuk. Dua orang duduk di belakang sopir sedangkan satunya duduk di belakangnya di sebelah Putra. Cewek ini menyapa Putra yang kaget dan bahagia, demikian juga Putra yang merasa senang. Suara Musik di bus berganti, sekarang Lagunya adalah dari MULAN JAMEELA. Gadis cantik ini yang membuat Putra tergila-gila dalam hidupnya.
“Kamu Putra kan, aduh gimana kabarmu sekarang.” Ucap gadis cantik ini yang berada di sebelahnya Putra.
“Eh ya Tuhan kamu to, Sagita. Lagi ngapain di Yogyakarta kok nggak mampir ke rumahku sih.” Ucap Putra. Tak disangka Putra bertemu dengan Sagita Aini Aoyama Sudiro yang sedari tadi di angankan Putra. “Sama siapa saja kamu Git.”
“Tuh sama kakak dan temannya yang duduk di depanmu. Ya Tuhan Put, kok kamu sekarang berubah sih enggak seperti tahun yang lalu. Ada apa Put, tanganmu kenapa Put dan di kepalamu bagian depan sama bagian belakangmu sepertinya bekas luka jahitan deh. sekarang wajahmu pucat banget juga banyak lebam di pipimu dan juga di dekat matamu. Emang kamu sedang ngalamin apa aja kok kamu sampai begini.” Ucap Gita yang sedih. Tangan Gita meraba wajahnya Putra yang luka dan memegangi telapak tangan kirinya Putra yang di gib. Dia tidak menyangka jika Putra menderita seperti ini, dia juga merasakan aura kesedihan dan keputusasaan dari Putra. “Maaf Put, aku belum bisa mampir ke rumahmu. Habisnya aku telepon kamu enggak kamu angkat sih. Jadinya ya aku mampir aja ke rumahnya Bude yang berada di Yogyakarta sambil ngasih titipan dari Papa di Pekalongan.”
“Ah enggak apa-apa kok Git, luka ini aku habis jatuh dari motor. Lihat aja tangan kiriku ini sampai di gib segala.” Ucap Putra yang membayangkan rasa sakit di aniaya ketika itu di Selokan Mataram yang membuat trauma lagi tinggal di Yogyakarta. Hapenya Putra hilang waktu itu, dia juga tidak sadarkan diri yang menginap di Rumah Sakit setelah kepalanya terbentur batu yang lancip di depan rumahnya Ajeng.
“Kamu mau kemana Put, dan bagaimana kabar Papamu.” Ucap Gita yang mendekati tubuhnya Putra agar Putra merasa nyaman dengan dirinya. Dia juga memegangi terus tangannya Putra yang terluka sambil melihat lukanya Putra di dalam bungkusan gib.
__ADS_1
“Aku mau ke Semarang Git, mau menjenguk Nenek dan Kakek yang berada di sana. Dan Ayahku....” Putra hanya diam dengan tatapan matanya yang kosong melihat ke depan. Dia melamun dan sedih, tapi dia tidak menangis karena dia berkomitmen untuk tegar dan banyak tersenyum. Dia tahu dengan keyakinan sebentar lagi dia akan mati pikir Putra, makanya dia tidak mau menangis lagi.
“Papamu kenapa Put, kok kamu diam sih.” Tanya Gita yang memandang wajahnya Putra yang sedih. Putra masih diam membisu dan melamun, tangan Gita di taruh di depan matanya Putra. Gita heran karena Putra tidak mengedipkan matanya. “Put sadar, kok kamu melamun sih, Papamu kenapa Put. Kok kamu diam sih.” Ucap Gita yang menggoyangkan badannya, Putra kaget jika dia melamun agak lama.
“Ayahku..., Ayahku sudah tiada Git. Beliau menjadi korban pesawat yang meledak kemarin, beliau kecelakaan Git. Sekarang aku sendirian tinggal di Yogyakarta, dan sekarang aku pun kesepian yang hidup sebatang kara.” Ucap Putra yang putus asa. Mendengar berita ini, Gita menitikkan air mata dan menyandarkan kepalanya di bahunya Putra sambil merangkulnya. Gita sedih tidak menyangka jika saat ini Putra harus hidup seorang diri dan tidak menyangka juga sahabat Orang Tuanya sudah meninggal dunia. Parahnya lagi Orang Tuanya Gita belum tahu jika sahabat Orang Tuanya telah tiada.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Put, kenapa kamu nggak ngasih tahu keluargaku. Kenapa kamu harus menyimpan kesedihanmu Put. Ya Tuhan Put, Papamu udah nggak ada.” Gita menangis dan memeluk Putra sangat erat. Dia juga menempelkan pipinya di pipinya Putra. “Terus sekarang kamu gimana Put, sekolahmu bagaimana. Kamu sekarang tinggal dimana dan sama siapa.” Ucap Gita yang mencium tiga kali pipinya Putra. Putra kaget dicium Gita yang sangat cantik dan rambutnya yang panjang sebahu sungguh hitam kemerahan karena dia adalah keturunan Putri dari Jepang. Gita mencium pipinya Putra agar dia terhibur pikir Gita.
“Aku sekarang sekolah di Sekolah Menengah Atas Semarang Unggulan Terpadu yang saat ini ngambil Jurusan Bahasa, sekolahku seperti sekolahmu kan. Katanya kamu sekolah di SMK Yogyakarta Unggulan Terpadu kan.” Ucap Gita yang sedih. Gita melihat wajahnya Putra, dia ingin sekali menolongnya terlepas dari kesedihan yang dilanda Putra saat ini. Dia bersumpah akan membahagiakan sahabat yang sudah lama terikat dengan perasaan cinta dan saling menghargai.
“Iya, Ajeng juga sama di sana. Dia mengambil Kedokteran sedangkan aku ngambil Teknologi Informasi. Kamu masih ingat Ajeng kan.” Ucap Putra yang menebak pasti dia sangat ingat dengan Ajeng yang sekarang menjadi sahabat jauhnya yang tidak diketahui Putra sampai Ajeng membongkarnya.
__ADS_1
“Iya Put. Aku tahulah Ajeng dia kan sahabatku.”
“Kok kamu nggak ngasih tahu aku sih jika kalian menjadi sahabatan dan saling menelepon dan mengobrol. Apa aku udah nggak kalian anggap sebagai sahabat lagi.” Ucap Putra yang agak jengkel sepertinya dia di acuhkan mereka berdua.
“Maafkan aku ya Put. Habisnya inikan ada urusan cewek Put, seharusnya tahun ini Ajeng memberitahukanmu saat ini juga Put. Tapi aku malah bertemu sama kamu disini. Loh kok kamu tahu jika aku sering menelepon dia. Pasti kamu di kasih tahu ya sama Ajeng.” Ucap Gita yang kembali menuduh Putra. “Kenapa aku nggak dikasih tahu Ajeng ya jika kamu kena musibah. Oh ya terakhir kali dia nelpon aku enam bulan yang lalu. Nomor hapenya Ajeng sekarang berapa Put, kemarin hapeku hilang, semua data nomor teleponku hilang kecuali milikmu yang masih aku ingat.”
“Iya, aku di kasih tahu sama dia.” Ucap Putra ketus karena waktu itu ada masalah dengan Ajeng yang habis bertengkar di kafe. Dia juga merasa malu sama Ajeng jika dia ngaku udah tunangan dengan gadis dari Pekalongan dan dia adalah Gita yang sudah menjadi sahabatnya Ajeng. “Aduh hapeku ketinggalan di rumahku Git, aku kelupaan.” Ucap Putra. Padahal yang sebenarnya adalah Putra sengaja meninggalkan hapenya dan menonaktifkannya agar tidak bisa dihubungi lagi. Dia benar-benar hengkang dari kehidupan Yogyakarta.
Eh Put, Baju kimono yang aku berikan masih ada kan. Ingat loh itu aku yang bikin loh Put dan juga aku yang membatiknya sendiri. Kimono itu sangat spesial untukmu.” Ucap Gita. Putra baru ingat jika Baju Kimono masih dibawa Ajeng yang belum dikembalikan.
“Masih kok git, malahan aku simpan dengan rapi.” Ucap Putra yang membohongi Gita. Putra berfikir, ah enggak apa-apa di bawa Ajeng lagian mereka sekarang kan udah jadi sahabat. Mereka berdua sangat asik sekali bercanda, kadang Gita menitikkan air mata jika mengenang Papanya Putra dan kesendirian Putra saat ini. Gita berdiri dan memberi tahukan sama kakaknya jika Putra berada dalam satu bus. Kakaknya Gita bernama Narin Aini Aoyama Sudiro sedangkan nama teman kakaknya Gita bernama Yuliantina Wijayanti, dia adalah anak Bupati dari Pekalongan. Mereka berdua sekarang kuliah di UNDIP atas yang berada di Tembalang, demikian juga Gita yang sekolahnya dekat dengan UNDIP atas. Rumah Nenek dan Kakek angkatnya Putra juga dekat dengan UNDIP atas. Suara Musik dari Lagunya MULAN JAMEELA dengan Judul JATUH CINTA LAGI masih mengalun. Putra merasakan aura kebahagiaan yang bisa menemukan cinta lagi. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 64).
__ADS_1