Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR I: Hitam dan Putih Kehidupan


__ADS_3

Terimakasih sudah mau mampir. Jangan lupa tinggalkan komen dan like kalian, support kalian sangat membantu Sofi untuk menulis cerita yang lebih baik. Enjoy the story!


💖


💖


💖


💖


💖


Ciumannya yang buas menembus semua pertahanan yang dimiliki Mona. Gama mendorong Mona hingga punggungnya menabrak tembok lalu menciumnya terus. Orang-orang yang tengah berjalan di lorong apartemen terus memandangi kedua pasangan yang sudah gila nafsu tersebut.


Ketika akhirnya mereka tiba di depan kamar Mona, sambil masih berciuman Mona dengan susah payah menggesek kartu masuk pintu masuk menuju kamar. Saat pintu terbuka, Gama langsung mendorong Mona masuk lalu menutup pintu dengan kakinya.


Deru napas keduanya liar mengikuti alur permainan buas mereka. Ciuman basah yang melibatkan permainan lidah terus dilakukan. Gama beralih sejenak ke leher Mona saat keduanya harus mengambil napas.


Saat sudah merasa cukup kuat, Mona menangkup wajah Gama lalu menciumnya sekali lagi. Sambil susah payah menebak arah kamar, Mona pelan-pelan membuka kancing kemeja Gama seraya bibirnya masih sibuk ******* bibir mungil Gama.


Keduanya tiba di kamar dan seluruh kancing di kemeja Gama sudah lepas. Gama tersenyum lalu mendorong Mona keatas ranjang. Gama membuang kemejanya ke lantai lalu segera menindih tubuh Mona yang membuat gadis itu mengerang kecil.


Gama memberi kecupan kecil ke leher Mona lalu lanjut ke bahunya dan menggigit tali bra-nya. Gama terus menggigit seolah mencoba melepaskannya dari samping. Hal itu membuat Mona tertawa kecil.


“Yang benar dong bukanya haha.”


“Susah ya kalo bukanya dari samping.”

__ADS_1


“Iya lah. Bentar..”


Mona beranjak bangun lalu duduk di atas ranjang hendak membuka pengaitnya. Namun Gama yang tengah menunggu menyadari kalau smartphone Mona bergetar. Gama melirik lalu berkata, “Mon, nyokap lo nelfon.”


“Hadeh… Biarin aja.”


Gama menyambar smartphone Mona. “Jangan durhaka. Angkat dulu gih.”


Mona mendengus kesal lalu mengangkat telfon Mamanya.


“Halo… Kenapa, Ma?”


“Kamu ga lagi tidur, ‘kan?”


“Ga sih, tapi aku capek banget nih, baru pulang kantor soalnya. Mama ada yang mau diomongin?”


“Tsk, Mama….”


“Mama harap kalian bakalan cocok dan bisa secepatnya tunangan. Mama udah atur semua. Kamu tinggal datang ke restoran biasa lalu ketemu dia. Anaknya baik kok.”


“Tapi besok aku sibuk.”


“Oh sudah mulai belajar bohong ya sekarang. Barusan Mama telfon asisten kamu dan dia bilang katanya kamu besok free kok. Jangan macam-macam! Pokoknya besok datang! Awas nggak!”


Dan dengan begitu telfon pun dimatikan begitu saja oleh Mamanya Mona.


Mona menghela napas berat sambil menatap sendu kearah Gama yang senyam-senyum. Mona ingin berkata sesuatu tapi Gama mendahuluinya.

__ADS_1


“Iya, gue paham, lo udah ga mood, ‘kan?”


“Iya… Sorry banget, ya….”


Gama menghela napas panjang lalu kembali tersenyum. “Santai aja. Es krim gue yang waktu itu masih ada, ‘kan? Habisin yuk sebelum kadaluarsa.”


Gama bangkit dari kasur dan berjalan ke dapur masih sambil telanjang dada. Melihat ini Mona tersenyum simpul lalu memakai kembali pakaiannya. Setelah selesai dia menemukan Gama tengah memakan es krim sambil nonton di ruang tamunya.


Mona menghempaskan tubuhnya disebelah Gama lalu menghela napas berat.


“Nyokap lo mau ngenaliin ke siapa kali ini? Politikus? Hakim? Pengacara? Atau pebisnis lagi?”


Mona mendengus. “Ga tau.”


“Mau es krim?” Gama menyodorkan satu sendok penuh es krim vanilla.


Mona membuka mulut lalu melahapnya sampai habis.


Lalu keduanya duduk semalaman di ruang tamu apartemen itu sambil bercerita dan makan es krim. Hal ini sering terjadi di tengah percumbuan mereka dan apabila sudah begini maka Gama akan berubah dari serigala haus nafsu menjadi seorang pendengar setia yang khidmat.


Mona dan Gama. Mona adalah seorang pegawai kantor perusahaan swasta milik bapaknya. Sementara Gama adalah pengusaha muda yang baru saja mewarisi bisnis bawah tanah keluarganya.


Keduanya berteman sejak masih kuliah dulu dan hingga sekarang tetap berteman. Hanya saja pertemanan mereka sedikit spesial karena keduanya seringkali melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh pasangan.


Namun bedanya, keduanya tidak melakukan itu atas didasari oleh perasaan. Hanya sebatas nafsu. Dari awal keduanya memang tidak pernah memiliki perasaan pada satu dengan yang lain.


Mereka hanyalah Friends With Benefits.

__ADS_1


__ADS_2