Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XXVII: Serangan Pertama


__ADS_3

Suara gemuruh tembakkan mendadak mengisi langit malam. Orang-orang yang tengah berada di plaza buru-buru melarikan diri menyelamatkan nyawa masing-masing.


Sekelompok Kolandam turun dari mobil dan mulai menembaki rumah persembunyian keluarga Kaligis. Rumah persembunyian yang terletak di pusat perbelanjaan itu segera dihujani peluru yang menembus dengan membabi buta.


Gama keluar dari mobil dan menarik granat tangan lalu melemparnya kearah jendela. Beberapa detik kemudian, ledakkan besar terjadi.


Dentumannya terdengar hingga beberapa radius km jauhnya. Setelah puas menghancurkan rumah persembunyian keluarga Kaligis di pusat kota, Gama perlahan mendekati pintu masuknya.


Beberapa anggota keluarga Kolandam yang lain mengikuti Gama dari belakang. Gama menendang pintu rumah persembunyian lalu perlahan masuk kedalam rumah.


 


Setibanya di dalam, Gama langsung memberi kode untuk seluruh anggotanya untuk menggeledah seisi ruangan. Serpihan kayu dan kaca-kaca pecah mengisi permukaan lantai.


Setelah beberapa saat mengecek seluruh isi rumah, mereka akhirnya tidak menemukan apapun.


Sepupu Gama yang bernama Sonny muncul dari dapur kemudian berkata, “Mereka tidak ada disini. Sepertinya sudah sejak tadi pergi.”


Gama mengangguk.


Namun tiba-tiba dari lantai atas terdengar jeritan dan tidak lama kemudian orang-orang keluarga Kolandam berkata, “Bos! Kami menemukan mereka!”


Gama dan Sonny buru-buru berlari keatas untuk memastikan.


Mereka berbelok di lorong menuju ruang penyimpanan. Disana mereka menemukan seorang wanita tengah bersembunyi dan mengigil ketakutan.


Orang-orang Kolandam mendirikan wanita itu dihadapan Gama kemudian Gama pun bertanya, “Siapa namamu?”


“Ri-Riza, Tuan! Tolong, jangan bunuh saya!”


Gama melirik kearah Sonny yang dengan cepat mengecek daftar petinggi-petinggi Kaligis. Tidak ada nama ataupun foto Riza disana.


Sonny menggeleng dan Gama pun lanjut bertanya, “Apa pekerjaanmu disini?”


“Saya hanya sekretaris!”


“Begitu. Kenapa tidak ada satupun orang disini?”


“Mereka semua pergi beberapa jam yang lalu.”


“Kemana?”


“Kepala keluarga Kaligis tengah berada di kota. Semua anggota dibutuhkan untuk penjagaannya.”


Gama mengangguk kecil, “Terimakasih, Riza. Kau boleh pergi sekarang.”


Dengan cepat senyum Riza merekah lebar. Wanita itu meraih tangan Gama dan menciumnya sebagai tanda terimakasih.


Wanita itu berlari di lorong dan saat hendak berbelok, Gama menarik pelatuk pistolnya dan menembaknya tepat di kepala.


Sonny yang disamping Gama menelan ludah. Gama lalu pergi ke kantor yang berada tepat didepannya dan memerintahkan orang-orangnya untuk menggeledah.

__ADS_1


“Gam, emang perlu banget ya bunuh si sekretaris?” tanya Sonny.


“Dia gak beruntung. Meskipun kita lepasin dia, para Kaligis bakalan tetap ngebunuh dia.”


“Kenapa?”


“Dia baru saja bocorin informasi keluarga. Di dalam bisnis begni, hukum tutup mulut itu mutlak.”


Sonny mengangguk kecil mencoba terbiasa.


“Komputernya menggunakan kata sandi. Apa harus kita bawa?” tanya seorang anak buah.


“Masukkan kedalam mobil.”


Semuanya mengangguk lalu menuruti perintah Gama. Gama memperhatikan seluruh kantor dan memandang ke sekitar. Kantor ini terlihat begitu konvensional dan tidak mencolok.


Rumah persembunyian ini pasti merupakan tempat mereka melakukan negosiasi kecil-kecilan dan mendengar keluh-kesah klien mereka.


Tiba-tiba saja hp Gama berdering dan itu adalah panggilan dari komisariat polisi, Gama segera mengangkat telfon.


“Kalian masih lama? Saya harus mengirimkan orang-orang kesana! Saya terus menerima 20 keluhan dari penduduk di sekitar plaza.”


“Tidak, kau bisa mengirimkannya sekarang.”


“Oke, terimakasih!”


Gama berjalan keluar ruangan dan terus kebawah. Sesampainya disana dia langsung masuk kedalam mobil dan menyuruh Sonny untuk memberitahu semuanya mereka akan segera pergi.


Gama memandang ke luar jendela dimana hasil kerjanya terpampang. Rumah persembunyian itu hancur dengan lubang-lubang kecil disekitarnya.


Meski begitu kini pikiran Gama bergerak cepat memikirkan langkah selanjutnya. Kedatangan kepala keluarga Kaligis berarti mereka kini tengah menyiapkan pasukan untuk serangan balasan.


Gama mulai menggigiti jarinya. Kebiasaan buruknya kalau tengah berpikir keras. Sonny akhirnya masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Gama dan mereka siap pergi.


Sepanjang perjalanan Gama terus memutar otak mencoba menerka apa yang tengah Kaligis lakukan. Dengan mengumpulkan pasukan itu berarti mereka tengah bersiap untuk menyerang.


Tapi kemana mereka akan menyerang?


Atau mungkin mereka tidak menyerang dan hanya melakukan penjagaa?


Lagipula ada Felix dan kini kepala keluarga mereka. Sudah pasti mereka butuh penjagaan ekstra.


Gama memandang gedung-gedung pencakar langit disebelahnya dan akhirnya memutuskan untuk tetap berada di rencana awal mereka.


Gama sudah memerintahkan tim lain yang dipimpin sepupunya Toni untuk menggeledah rumah-rumah persembunyian keluarga Kaligis yang lain.


Gama mengeluarkan hp dan mencoba menghubungi.


Tidak ada jawaban.


Gama mencoba lagi.

__ADS_1


Tetap masih tidak ada jawaban.


Mendadak perasaannya tidak enak. Tidak biasanya Toni tidak menjawab telfon.


Melihat kegelisahan Gama, Sonny disebelahnya kemudian berkata, “Mungkin dia sudah selesai dan kini sedang dijalan.”


Gama tidak menggubris. Perasaannya tetap saja tidak enak.


Saat akhirnya lampu lalulintas berubah hijau, mobil yang mereka tumpangi akhirnya berjalan kembali. Namun tepat saat mobil Gama berada di tengah perempatan, Gama dengan cepat menyadari ada yang tidak beres.


Sebuah mobil truk dari arah samping melaju dengan kecepatan tinggi kearah mereka.


Mata Gama terbelalak dan lansgung sadar dia dalam bahaya.


Tapi semuanya terlambat.


Truk itu menghantam mobil Gama dengan kekuatan penuh dan menghempaskannya sampai ke sisi lain jalanan.


Untuk detik-detik yang terasa begitu lambat, Gama dapat merasakan pusing yang luar biasa saat mobilnya melayang diudara. Saat akhirnya mobilnya mendarat dan menghantam tiang jalanan, Gama terhempas menabrak Sonny dan keduanya terlempar keluar melalui kaca mobil.


Gama dengan cepat mencoba bangkit, setelan hitamnya dengan cepat penuh oleh noda darah. Beberapa kali dia mencoba, namun kembali jatuh.


Disebelahnya Sonny masih terbaring tak sadarkan diri dan bersimbah darah. Saat akhirnya Gama mengkokohkan kakinya untuk berdiri, pemandangan baku tembak kembali terjadi.


Orang-orang Kaligis turun dari dalam mobil truk dan mulai menembaki orang-orang Gama yang masih terjebak di dalam mobil.


Gama menelan ludah lalu buru-buru berjalan semponyongan kearah Sonny.


“Sonny! Hei!”


Gama memutar Sonny menghadapnya lalu menemukan Sonny yang tak sadarkan diri. Gama mendengus kesal lalu dengan cepat menarik Sonny dan menggopohnya.


Ada setitik pikiran untuk pergi kesana dan ikut bertarung dengan anak buahnya, namun Gama buru-buru mengurungkan niatnya.


Mereka baru saja disergap. Melawan balik tidak ada gunanya. Maka dengan begitu Gama memutuskan untuk pergi bersama Sonny yang masih bersimbah darah.


Gama buru-buru bergabung di trotoar dimana para pejalan kaki malam memandangi mereka yang penuh noda darah dengan keheranan.


Gama terus berjalan tertatih-tatih, dengan kaki yang perlahan mulai mati rasa, tapi dia terus berjalan dan tidak memedulikan rasa sakit yang perlahan makin nyata.


Saat akhirnya Gama menemukan taksi yang tengah berhenti di jalanan, Gama langsung membuka pintunya dan mendudukkan Sonny di kursi penumpang.


Sementara itu Gama duduk di kursi penumpang di sisi lain.


“Hei bung, apa yang terjadi pada kalian? Apa harus kutelfon ambulans?” tanya supir taksi yang masih begitu muda.


Gama mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke kapala si supir dan berkata, “Jalan.”


Supir itu mengangkat tangannya lalu dengan panik melakukan perintah Gama.


Gama melirik kebelakang, melihat anak buahnya yang telah menyerah di tangkap dan dimasukkan kedalam truk.

__ADS_1


Gama kembali menggigit jarinya. Pikirannya berkecamuk penasaran bagaimana Kaligis tahu rencananya.


Apakah ada pengkhianat di keluarganya?


__ADS_2