Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XXVI: Dan Dimulai


__ADS_3

Your author here. Maaf dua minggu belakangan ini gak up. Lagi sibuk banget soalnya. Tapi mudah-mudahan mulai hari ini udah balik ke jadwal semula.


Makasih banget buat kalian yang masih nunggu kelanjutan Affair Of The Heart!


Selamat membaca!


⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️ ⭕️


Devin menutup pintu depan lalu berjalan kembali ke ruang makan. Disana sudah tidak ada siapa-siapa. Terdengar suara dari halaman belakang dimana suara khas Mona melengking saat Luna menumpahkan saos.


Devin tersenyum kecil lalu segera menuju halaman belakang. Disana mereka semua sudah berdiri mengitari firepit sambil menghangatkan diri. Udara mala mini memang cukup dingin.


Saat Devin sampai di sebelah Mona, Mona segera menyodorkan satu bungkus kripik kentang untuknya. Devin tersenyum kecil dan meraih beberapa untuk dimakan.


Mona menatap Devin lekat-lekat kemudian bertanya dengan cepat, “Kenapa orang itu bisa berteman denganmu?”


“Gama? Ah, kebetulan bisnis kami bersilangan jadi kami saling membantu.”


Mona menyipitkan matanya mencoba membaca raut wajah Devin.


“Apa kamu gak akrab dengan Gama saat masih kuliah?”


“Akrab. Lumayan. Ngomong-ngomong kemana dia?”


“Dia harus pergi. Ada beberapa hal yang kayaknya harus dia lakukan.”


“Ah, dia memang selalu sok sibuk.”


“Haha kamu kedengaran kayak benar-benar akrab sama dia.”


Mona hanya mendengus lalu memakan lebih banyak keripik kentang. Malam itu dihabiskan dengan mereka yang duduk mengitari api sambil bertukar cerita. Lebih tepatnya, mendengar papa-mama bercerita.


Keduanya terus bercerita hingga akhirnya Mona bertanya, “Tunggu dulu, berarti papa sama mama ketemu pas SMA?”


Papa mengangguk, “Mama kamu dulu cewek paling top di sekolah.”


“Serius? Wah….”


“Tapi itu dulu ya. Sekarang ya…. Kalian lihat aja sendiri.”


Mama menatap papa garang kemudian membalas, “Asal kalian tahu aja, papa kalian dulunya preman dan super bodoh. Hampir semua di mata pelajaran dia dapat nilai jelek.”


“Berarti mama nikahin orang bodoh ya?” tanya Mona.


“Yup. Untung sekarang udah cerai.”

__ADS_1


Semuanya tertawa kecil mendengarnya. Mona melirik kearah Luna yang kini tengah menatap papa lekat-lekat.


Sorot matanya bukan sorot mata yang bersahabat. Dia nampak bak predator yang tengah mengawasi mangsanya.


Kini Mona makin penasaran dengan alasan Luna yang begitu menghindari papa.


Setelah puas saling bersenda gurau, pukul 10 malam akhirnya Devin memutuskan untuk balik. Begitu juga dengan papa. Mona pun mengantar keduanya kedepan.


Sampai di depan, Devin tiba-tiba berhenti lalu berbalik menghadap Mona dan berkata, “Kamu mau jalan-jalan?”


“Kapan?”


“Entahlah, besok mungkin.”


Mona mengerutkan dahi, “Aku bukan kepala perusahaan sepertimu yang bebas melakukan segalanya. Aku rasa papa akan memarahiku kalau aku membolos.”


“Benar juga. Kapan kamu senggang?”


“Entahlah, aku baru aja ngambil proyek besar jadi mungkin akan sibuk belakangan ini.”


“Begitu. Kalau aku mampir ke kantormu gak apa kan?”


“Haha untuk apa?”


“Seenggaknya kita bisa makan siang bareng.”


“Oke deal ya berarti.”


Mona tersenyum lebar mendengarnya. Keduanya saling pandang sejenak lalu tiba-tiba Devin mengangkat tangannya dan meletakkannya diatas kepala Mona. Devin mengelus puncak kepala Mona dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Itu membuat Mona menunduk pelan lalu tersipu malu.


Melihat pemandangan itu papa, mama, dan Luna hanya bisa tersenyum kecil.


Devin menghentikan usapannya kemudian bilang, “Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok.”


Mona mengangguk kikuk lalu terus memperhatikan Devin dan papa naik kedalam mobil. Pada akhirnya mobil yang mereka tumpangi berjalan menjauh.


Saat Mona berbalik, dia menemukan mama dan Luna tersenyum lebar menunjukkan gigi mereka kearah Mona. Mona yang terlanjur malu hanya mendengus lalu masuk kedalam rumah.


Mona pergi ke kamar lamanya, mengunci pintu lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Mona menenggelamkan kepalanya di bantal lalu berteriak sekuat tenaga.


Tentu saja suaranya diredam oleh bantal, namun Luna yang tengah lewat di depan kamarnya tetap bisa mendengar teriakkan Mona.


Setelah merasa agak baikkan, Mona mengangkat wajahnya sedikit memperhatikan dinding kamarnya.

__ADS_1


Jantungnya masih berdebar, bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Devin. Pria itu dengan sendirinya memberikan perhatian dan sentuhan kebahagiaan yang Mona inginkan.


Perasaan kecil dimana membuat kita tersenyum, membuat kita bahagia, membuat kita merasa dilindungi, semua itu Mona rasakan saat bersama Devin.


Mona membalikkan tubuhnya dan berbaring menghadap langit-langit kamarnya. Entah mengapa dia merasa seperti remaja yang tengah jatuh hati.


Sambil memeluk erat-erat bantalnya, Mona perlahan hanyut dalam perasaan sukanya melupakan sosok Gama yang tadi juga sebenarnya ada disana.


***


Gama mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju kantor lama kakeknya yang kini dia gunakan. Kantor tersebut terletak di pusat kota, saat akhirnya mobil Gama mulai nampak dari kejauhan, beberapa penjaga bertubuh besar langsung berdiri di pinggir jalan untuk menyambutnya.


Gama turun dari mobil dan salah satu penjaga langsung masuk kedalam mobil untuk membawa mobil itu ke basement.


Gama melewati para penjaga yang berbaris rapi membiarkan Gama lewat. Sesampainya di ruko kecil yang disulap jadi kantor itu, Gama langsung naik keatas dan menuju ruang kerja.


Gama menghempaskan tubuh di kursi beludru tinggi kesukaan kakeknya dan menyandarkan bahu-bahu kakunya disana. Entah mengapa dia merasa begitu lelah hari ini.


Mulai besok Gama harus bekerja ekstra untuk memastikan kemenangan mereka. Mungkin lebih tepatnya, kemenangan Devin.


Memikirkan itu bayangan tentang Devin yang tengah makan malam dengan Mona langsung terlintas di benak Gama.


Beberapa jam yang lalu Gama tengah menyusuri lorong dingin distrik pasar malam saat informannya menginformasikan soal kakak Devin, Felix dan para Kaligis.


Gama langsung saat itu juga pergi ke tempat Devin berada. Dia tidak pernah mengira Devin dan Mona saling kenal. Apalagi dekat. Namun Gama tetap bersikap professional dan sebisa mungkin menjauhkan pandangannya dari Mona.


Namun semua itu terlalu sulit. Gama baru saja menghabiskan malamnya dengan Mona kemarin. Berpura-pura begitu membuatnya sedikit tidak nyaman.


Tapi karena kini semua sudah selesai, Gama hanya perlu mengfokuskan diri pada kerjaannya.


Namun tetap saja pikiran soal Devin dan Mona terus menganggunya. Gama menggaruk kepalanya lalu menyalakan pengeras suara di sudut ruangan dan memutar permainan piano yang begitu lembut.


Melodi lagu klasik itu benar-benar membuatnya tenang. Tiba-tiba diselingan permainan piano itu terdengar suara seorang wanita yang berkata, “Kamu bisa mengulanginya?”


“Tidak.”


“Ayolah, coba dulu, Gam.”


“Gak.”


“Hah…. Gimana kamu mau jago kalau kamu gak mau main?”


“Aku lebih suka kamu yang main.”


Mendengar itu Gama tersenyum kecil. Dia ingat betul momen-momen selanjutnya. Wanita itu pasti akan mencubit gemas pipinya.

__ADS_1


Ingatan masa lalu itu membuatnya tersenyum kecil. Sudah 10 tahun sejak kematiannya. Tidak pernah sehari pun terlewat bagi Gama tanpa mengingat gadis itu.


Kata orang cinta pertama selalu membekas. Tapi untuk Gama, tidak ada yang namanya cinta pertama. Yang ada hanya satu. Hanya dia satu-satunya yang bisa membuat Gama begitu merasa hidup.


__ADS_2