
Devin memandang gadis tersebut dengan tatapan malas. Mona yang tidak mengerti mengapa Devin tiba-tiba terlihat begitu dongkol membuatnya langsung berasumsi bahwa gadis ini adalah orang yang dibenci Devin.
“Ternyata lagi asik-asikkan main disini ya. Wah, bajunya juga couple-an gitu.” kata gadis itu sambil tersenyum mengejek.
Mona memandang kearah Devin meminta penjelasan namun Devin masih nampak kesal pada gadis tersebut. Devin pun bertanya dengan suara lantang, “Ngapain lo disini?”
“Hmm? Kalau kakak angkat telfon Audrey dari tadi siang kakak pasti ngerti kenapa Audrey sampai bela-belaiin datang dari rumah kesini.”
“Ada apa?”
Gadis itu menghela napas berat. “Papa udah keluar dari rumah sakit. Dia ingin bicara sama penerus bisnisnya.”
Devin terbelalak, gadis itu tersenyum makin lebar. “Makanya kalau ditelfon tuangkat.”
Devin mendengus lalu beralih pada Mona dan berkata, “Maaf, Mon. Kencannya malah jadi gini.”
Mona menggeleng pelan, “Gapapa, Dev.”
Devin tersenyum pada Mona, “Ayo, aku yg bakalan ngantarin kamu pulang.”
Maka ketiganya pun berjalan menuju parkiran mobil dimana Devin dan Mona berjalan di depan sementara gadis yang sejak tadi senyam-senyum mengejek mengekor dibelakang mereka. Ketiganya tiba di parkiran dan gadis itu langsung melemparkan kunci mobilnya pada Devin.
Setelah masuk kedalam mobil, Devin duduk di kursi kemudi sementara Mona disebelahnya dan gadis itu mengambil kursi penumpang dibelakang. Gadis tersebut tiba-tiba mendongak diantara mereka menyalakan radio dan menatap Mona sambil tersenyum.
“Halo, kak. Aku Audrey.” gadis itu mengulurkan tangan.
“Ah, iya, aku Mona.”
“Kakak udah berapa lama pacaran sama kak Devin? Kok aku gak tahu ya?”
Mona bingung harus menjawab apa dan Devin pun yang menjawab, “Kita gak pacaran. Audrey, mending kamu duduk yang bener deh.”
Audrey tertawa kecil dan melakukan perintah Devin. Mobil dikemudikan keluar dari taman hiburan menuju jalan protokol ke kota. Selama perjalanan Audrey terus tersenyum menunggu momen yang tepat untuk mengajak Mona ngobrol.
__ADS_1
Saat akhirnya mereka masuk kedalam tol Audrey tiba-tiba bertanya, “Kakak umurnya berapa?”
“Aku 26. Audrey sendiri berapa?”
“Aku 20. Berarti kita selisih 6 tahun, terus kak Mona selisih 4 tahun sama kak Devin.”
“Gitu ya. Audrey berarti sekarang kuliah?”
“Iya, aku ngambil jurusan komunikasi.”
“Keren dong. Audrey kalo lulus mau jadi apa?”
“Hmm, mungkin ngambil alih bisnis Papa dari kak Devin.”
Mendengar itu Mona langsung bingung harus membalas apa. Devin sendiri pura-pura tidak mendengar dan terus sibuk menyetir. Audrey tiba-tiba tertawa dan meremas pundak Devin, “Hahahaha becanda doang! Serius amat sih kak!”
Devin masih belum membalas dan serius menyetir. Mona yang melihat hubungan aneh mereka jadi teringat hubungannya dengan adiknya sendiri. Meski tidak separah hubungan Devin dan Audrey sih.
Mona langsung menatap Devin kaget. Namun seperti biasa Devin masih belum menunjukkan reaksi apa-apa. Mona menelan ludah lalu memberanikan diri bertanya, “Maksudnya?”
“Iya, jadi Papa kami punya semacam cewek simpanan. Aku dengar dia gadis muda, baru lulus SMA dan langsung jadi simpanan Papa. Dia dibelikan apartemen dan Papa selalu kesana pulang kerja. Ibu Audrey juga tahu soal ini tapi gak bilang apa-apa. Suatu hari Papa bawa anak bayi kerumah dan namaiin dia Devin. Rupanya dia anaknya selir Papa hahahaha. Gara-gara Papa bawa kak Devin ke rumah kakak tertua kami Felix jadi benci banget sama Papa. Setelah kak Felix lulus dan keadaan Papa memburuk kak Devin langsung diusir deh hahaha!”
Mendengar semua cerita itu Mona akhirnya paham masalah apa yang telah dilalui Devin selama ini. Dia tahu mendengar semua ini tanpa ijin Devin bukan hal yang benar tapi dia penasaran dengan orang disebelahnya. Pria yang tidak diakui, namun berusaha keras menyatu dengan keluarga yang tidak menginginkannya.
Mona menelan ludah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau itu terjadi pada dirinya.
“Hahhhh tapi sekarang kak Felix malah kabur. Aku gak nyangka dia bakal kena kasus narkoba gitu. Padahal orangnya selalu hidup bersih loh.”
Audrey mengatakan itu seolah mencoba menyudutkan Devin.
Namun Devin tetap diam dan terus menyetir. Audrey menambahkan, “Di keluarga kami aturannya masih ketat gitu kak Mon. Cewek dianggap belum mampu dan ga boleh warisin bisnis selama masih ada anak cowok. Tapi…. Kalau seandainya kak Devin kabur juga kayak kak Felix kayaknya Papa bakalan kasih bisnis ini ke aku.”
Kali ini Audrey tidak tertawa, dia hanya tersenyum penuh kepastian dan Devin pun membalas senyumnya dari spion. Melihat pertentangan ini Mona masih tidak habis pikir. Sejak tadi Audrey terang-terangan mengancam Devin, apabila ini terjadi di keluarga Mona mungkin dia dan adiknya sudah saling bunuh sejak tadi.
__ADS_1
Tapi tidak dengan keluarga Devin. Mereka mengatakan sesuatu yang begitu serius dengan nada bergurau. Seolah hidup mereka hanya permainan monopoli untuk mencari kekuasaan sebanyak-banyaknya.
“Audrey, lo mau jadi penerus bisnis kerajaan Dubois?” tanya Devin tiba-tiba.
Audrey mengangguk mantap, “Mau dong.”
“Kalau begitu cepat lulus kuliahnya. Gak adil rasanya kalo gue saingan sama bocah.”
“Hahahaha tenang aja kak, anak haram gak bakal menang sama pewaris sebenarnya. Kakak tahu sendiri kan gak ada satu pun anggota keluarga Dubois yang bakal ngedukung kakak?”
Devin mengangguk kecil, “Tau kok.”
“Haha kalau begitu bagus deh.”
“Tapi kayaknya lupa kalau keluarga kita bukan yang terkuat lagi, Audrey. Berapa anggota keluarga kita jadi hakim sekarang? Pengacara? Atau bahkan orang-orang di kedinasan deh. Gak ada. Kalau pun ada bisa dihitung pake jari. Keluarga kita sudah lewat masa jayanya, lo mesti ingat itu kalau mau saingan sama gue.”
Audrey terbelalak sejenak tapi dia buru-buru mendengus, “Audrey paham kok kak. Kakak punya keluarga Chandra sama Tjitro sebagai bekingan. Dengar-dengar, kalian juga aliansi sama keluarga bawah tanah kayak Kolandam.”
Mendengar nama keluarga Gama disebut Mona semakin kaget. Dia tidak pernah masuk ke dunia bisnis semacam ini sebelumnya jadi dia masih tidak paham apa yang dibicarakan Devin dan adiknya.
“Kita lihat aja nanti kak siapa yang bakal nguasaiin semua ini nantinya. Audrey gak peduli kakak mau punya bekingan kayak apa, yang pasti keluarga Dubois gak bakal kalah.” kata Audrey penuh keyakinan.
Devin pun mengangguk lalu membalas, “Semoga beruntung.”
Setelah itu ketiganya pun hanya diam. Tidak terasa mereka akhirnya tiba di depan apartemen Mona. Mobil masuk ketempat lobi dropout dan Devin keluar dari mobil untuk mengambilkan plastik yang berisi baju basah Mona di bagasi.
Mona menerima bungkusan tersebut dan berkata, “Makasih yah untuk hari ini. Maaf aku jadi ngerepotin.”
Devin menggeleng, “Aku yang harusnya mintaa maaf. Gara-gara Audrey kamu harus dengar semuanya yang barusan. Jangan dipikirin, ya.”
Mona mengangguk kecil. Devin tersenyum dan mengusap puncak kepala Mona lalu kembali masuk kedalam mobil. Saat akhirnya mobil kembali berjalan Audrey menjulurkan kepalanya keluar dan melambai pada Mona.
Mona berdiri sendiri di depan lobi apartemennya. Masih tercengang dengan semua omongan dua saudara itu. Belum lagi tentang keluarga Kolandam yang disebut-sebut. Itu membuat Mona ingin menanyakan lebih jauh pada Gama soal ini.
__ADS_1