Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XXIII: Rencana Mama


__ADS_3

Mona masih menatap adiknya dengan sorot mata menyelidik. Setelah lama tidak bertemu, Luna seperti biasa masih tetap menjadi Luna yang murah senyum dan memancarkan aura bersahabat yang menjengkelkan menurut Mona.


Meskipun Mona mewarisi kontur wajah yang sama dengan adiknya, Luna mewarisi lebih banyak gen mamanya ketimbang Mona. Mulai dari rambut, postur tubuh, hingga gaya berjalan.


Semuanya nyaris sama semua. Apabila Luna dan mama mereka berjalan bersebelahan orang-orang mungkin akan menyangka mereka adalah adik-kakak ketimbang anak-ibu.


Terlepas dari itu semua, satu hal yang membuat Mona tidak ingin akrab dengan Luna adalah karena sifat licik Luna. Dibalik senyuman dan anggukan manisnya, gadis ini luar biasa picik.


Tidak bisa dibilang mirip adik Devin, Audrey, yang secara terang-terangan menunjukkan diri bahwa dirinya ambisius, Luna lebih pada pendekatan bahwa dia dapat mengendalikan segalanya.


Mulai dari cara berpikir, langkah selanjutnya, atau penampilan, bergaul dengan Luna akan membuatnya mendominasi hal-hal tersebut. Tanpa sadar kita malah mengikuti segala keinginannya.


Dengan kata lain, Luna tipe orang yang menghilangkan jati diri orang lain.


“Mama mana?” tanya Mona saat akhirnya Luna berjalan mendekat.


“Di kolam. Ayo,” Luna mengambil sekeranjang buah-buahan dan membawanya bersamanya.


Mona dengan malas bangkit dari sofa dan mengikuti Luna. Setibanya mereka di halaman belakang, mama mereka yang tengah berjemur masih belum sadar keberadaan mereka.


Saat akhirnya Luna meletakkan sekeranjang buah-buahan tepat disebelahnya baru lah mama melepas kacamatanya dan melihat kearah mereka berdua bergantian.


“Kalau kalian berdua berdiri bersebelahan begitu aku jadi sulit mengenalinya. Apa jangan-jangan kalian kembar ya?”


Mona tidak merespon guyonan mama dan memilih untuk duduk di kursi santai disebelahnya kemudian bertanya, “Kenapa tiba-tiba minta ketemu?”


“Ah, sialan anak satu ini. Apa salah orang yang melahirkanmu minta ketemu? Apa mama harus minta ijin dulu darimu?”


Mona tidak membalas dan hanya diam. Sementara itu Luna disebelah mereka hanya terkikik kecil melihat tingkah khas keduanya.


“Mama cuman kangen. Lagian kamu juga udah lama gak pulang. Mumpung hari libur kan, jadi main lah kesini. Lagian ini rumahmu.”


Mendengar itu semua Mona hanya menghela napas. Mona menaikkan kakinya di kursi santai lalu menyandarkan punggungnya. Tidak lupa mengambil kacamata hitam mamanya lalu memakainya.


Melihat ini semua Luna buru-buru mengambil alih, “Mama sepertinya kelihatan lesu. Lagi banyak pikiran?”


“Ya iyalah. Mama gak habis pikir gimana bisa kakakmu punya reputasi yang buruk di kalangan orang-orang kita sementara kamu terus melejit tapi malah menolak kerja di perusahaan papamu. Apa yang salah dengan kalian berdua, hah?”


Luna tersenyum kecil lalu menjawab, “Aku gak mau bergantung pada papa, itu aja.”


“Hmm itu bagus, tapi kenapa kamu malah jadi model? Mama kan lebih suka kamu pilih pekerjaan yang lebih cocok sama kamu.”


“Haha gimana ya, Ma, orang yang aku suka ada disana ya jadi….”


Mendengar itu semua mama langsung terdiam. Dia memilih untuk tidak mengomentari hal tersebut. Dia sadar Luna kini berada di jalur yang tepat dan tidak ingin meributkannya.

__ADS_1


Mata mama berpindah kembali pada anak sulungnya dan bertanya, “Mama dengar sekarang kamu dekat dengan Devin Dubois? Benarkah?”


Mona mengangguk kecil.


“Pantesan, semua pria menolak buat dikenalkan ke kamu. Rupanya kamu sudah punya pacar ya. Kalian ketemu dimana?”


“Papa yang mengaturnya.”


“Sudah mama duga. Apa kalian cocok?”


“Cukup cocok. Setidaknya dia lebih baik dari semua cowok yang pernah mama kenalin.”


“Kenapa dengan pilihan mama?”


“Mereka dungu dan gak bermoral.”


“Serius? Bahkan Terry Aswin yang mama kenalkan dulu?”


“Dia yang terparah.”


“Hmm, padahal anaknya sangat sopan. Dia bahkan memujimu pas mama ketemu dia kemaren.”


Mengingat kejadian malam itu langsung membuat Mona jengkel. Dia masih tidak menyangka Terry mengetahui soal Gama. Syukurlah dia selalu merekam pembicaraan dengan teman kencannya.


Tapi mereka salah besar kalau menyangka Mona tidak akan menunjukkan perlawanan.


Mona menguap lebar lalu merasa kantuknya mampir kembali. Melihat ini Luna langsung bertanya, “Kak, aku boleh minta tolong?”


“Apa itu?”


“Aku ada pemotretan minggu depan. Temanya kantoran gitu. Aku boleh pinjam rooftop kantor kalian gak?”


“Boleh-boleh aja sih, tapi kenapa gak bilang ke papa aja langsung?”


“Ah, aku lagi gak mau bicara sama papa.”


“Kenapa?”


Luna tersenyum dan membalas, “Gak kenapa-napa.”


Sambil tersenyum menipu Luna mengambil satu buah apel lalu menggigitnya. Mona memperhatikan gerak-gerik adiknya dan sadar ada yang dia sembunyikan.


Dari dulu hubungan Luna dan ayahnya memang tidak pernah baik. Terutama setelah perceraiian orang tuanya. Luna agaknya memang condong pada mamanya. Namun setelah tumbuh dewasa Luna semakin menunjukkan rasa tidak sukanya pada papanya.


Ada barang sekali atau dua Mona mencoba menanyakan soal itu namun seperti biasa Luna pasti menghindari pertanyaan itu. Seperti ada yang coba dia sembunyikan.

__ADS_1


“Si Devin itu orangnya gimana, Mon?” tanya mama.


“Baik dan perhatian.”


“Gitu doang? Polos banget.”


Luna tertawa kecil lalu membalas, “Ma, sebenarnya Devin itu hebat loh.”


“Maksudnya?”


“Dia bukan pewaris utama tapi dengan koneksinya dia berhasil bikin kakaknya kabur dari kota.”


“Wah orangnya bahaya juga.” Mama memegang dagunya mencoba berpikir. Setelah agak lama dia bertanya pada Mona, “Apa kegiatannya hari ini?”


“Entah.”


“Coba tanya gih, Mon.”


“Moh, mager banget.”


“Yaudah, mama yang tanya. Hp mama mana tadi ya….”


Mona mengintip gerak-gerik mamanya dari balik kacamatanya. Dia tidak yakin mamanya punya nomor telfon Devin. Dia pasti hanya menggertak.


Atau paling tidak itu yang Mona pikir.


“Halo, Sis, minta nomor telfonnya Devin Dubois dong. Iya, itu yang lagi dekat sama Mona. Haha iya-ya, nanti deh pas ketemuan baru kita omongin. Hah? Hehe oke deh makasih ya….”


Setelah itu pesan masuk dan isinya adalah nomor telfon Devin. Mama menunjukkan layar ponselnya pada Mona lalu berkata, “Kamu mau tanya dia sekarang atau mama yang telfon?”


Mona mendengus lalu berbalik dan memunggungi mamanya, “Terserah.”


“Okkalau begitu.”


Mona terdiam. Cara kerja mamanya dari dulu memang seperti ini. Penuh dengan ancaman dan segala konsekuensi yang menyebalkan. Tidak heran Luna mewarisi sifat ini juga.


“Halo, ini Devin? Ah, iya. Saya mamanya Mona. Haha santai aja. Nak Devin sibuk hari ini? Oh? Bagus lah. Mau ikut kita makan malam?”


Mona langsung berbalik dan duduk di kursinya sambil melotot pada mama.


“Ok deh, jam 8 ya…. Ah, gak usah. Kamu bisa datang aja sudah cukup kok. Ok, bye.”


Mona menatap mamanya penuh emosi. Berbuat sesukanya begini sudah menjadi ciri khas mama. Namun kali ini dia benar-benar kelewatan.


Sementara itu mama tersenyum dan mengangkat bahu lalu berkata, “Sudah mama bilang, kalau gak mau ya mama yang tanyaiin. Jangan cemberut gitu dong.”

__ADS_1


__ADS_2