
Semua mata kini tertuju pada Mona. Reaksinya yang berlebihan dan tidak biasanya keras kepala membuat semuanya bertanya-tanya ada apa gerangan.
Melihat ini bahkan Papa Mona cukup terkejut dibuatnya. Namun Mona tetap kokoh dengan pendiriannya dan memilih untuk tidak mengalah.
Setelah kesunyian yang tidak mengenakkan Ethan pun berdeham lalu berkata, “Direktur Mona, saya mengerti ini proposal anda, tapi mendapat bantuan bukan lah ide yang buruk.”
Mona mendengus, “Saya menerima bantuan tapi tidak dari anda. Siapapun kecuali anda.”
Mendengar itu semua orang dengan cepat paham situasinya. Permasalahan diantara mereka bukan lagi soal bisnis belaka tetapi lebih mendalam. Melihat ini semua Seno buru-buru melanjutkan rapat dengan mengalihkan pembicaraan.
Mona dan Ethan masih saling pandang. Tatapan keduanya tajam dan tidak mengenakan. Setelah akhirnya rapat mereka ditunda untuk istirahat makan siang, semuanya langsung berdiri untuk meninggalkan ruang rapat.
“Direktur Mona?”
Mona segera berhenti saat mendengar panggilan Papanya. Papanya memberinya kode untuk tetap di ruangan dan duduk di dekatnya. Mona melakukan apa yang diminta. Setelah ruangan benar-benar kosong baru lah keduanya bicara.
“Kamu kenapa? Apa kamu punya masalah dengan pegawai baru itu?”
Mona mengerutkan dahi, “Ya. Cukup banyak. Dia teman SMA-ku.”
“Ah, begitu ya. Papa tidak tahu apa masalah kalian tapi tolong professional. Kau bukan remaja lagi. Kita sedang membicarakan bisnis, kenapa egois begitu?”
“Itu membuatku tidak nyaman bekerja. Lagipula kenapa bisa-bisanya Papa mempekerjakan dia? Dia kan baru balik ke Indonesia seminggu yang lalu.”
“Iya, tahu kok. Dia muda, berbakat, dan gigih. Papa mendengar itu terus selama perjalanan bisnis ke Munich. Tentu saja sangat disayangkan kalau dibiarkan begitu saja.”
Mona bertambah kesal setelah mendengar itu semua. Jadi alasan Ethan disini adalah karena Papa yang memintanya. Sungguh kebetulan luar biasa yang menyebalkan.
Melihat anaknya cemberut begitu Papa Mona tertawa kecil kemudian bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan Devin?”
Mendadak suasana hati Mona membaik setelah mendengar nama Devin. Mona pun menjawab, “Kami baik. Cukup akrab juga.”
“Begitu ya kalian cocok rupanya. Bagaimana? Pilihan Papa lebih baik dari Mama bukan?”
“Tentu saja.”
Papa Mona tersenyum. Ada kebanggaan tersendiri saat dia menunjukkan senyum tersebut.
“Kalian tidak perlu buru-buru berhubungan atau apalah. Santai saja, jalani saja. Kalau memang kedepannya kalian mau serius pasti Papa dukung kok.”
Mona mengangguk kecil. Tiba-tiba dia teringat dengan Audrey dan langsung bertanya, “Papa, ada apa dengan keluarga Dubois?”
“Maksudnya?”
“Kenapa mereka kelihatan saling bermusuhan begitu?”
“Siapa? Devin dan anggota keluarganya? Haha itu urusan mereka tapi yang pasti keluarga Dubois tidak mengakui Devin sebagai Dubois. Satu-satunya yang mendukungnya hanya kepala keluarga mereka yang sekarang ya ayah Devin sendiri.”
__ADS_1
Mona nampak sedih untuk sejenak. Dia bertanya lagi, “Aku dengar, ibu Devin selingkuhan bapaknya….”
“Oh,soal itu benar. Sayang sekali anak sehebat itu lahir dari seorang selingkuhan. Kalau saja situasinya tepat sudah pasti keluarga Dubois bakalan jadi hebat dibawah pimpinannya yang sekarang.”
Mona mengangguk kecil, ayahnya pun melanjutkan, “Kamu gak perlu khawatir. Ayah sudah pasti akan mendukung Devin selama dia baik padamu. Ada banyak keluarga besar yang ingin Devin menang, termasuk keluarga bawah tanah dan kriminal kayak keluarga Kolandam. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Mendengar nama Kolandam lagi membuat Mona sedikit resah. Tapi dia mengabaikan perasaan tersebut. Mona pun membalas, “Baiklah. Oh ya, ngomong-ngomong si Sherly ada disini sekarang.”
“Begitu ya. Akhirnya dia selesai dengan petualangan konyolnya.”
“Gak kok, dia kesini cuman mau nyari duit. Habis itu balik lagi kesana.”
“Ah, gitu…. Dimana dia tinggal sekarang?”
“Denganku.”
“Begitu. Ya sudah tambahkan saja dia ke timmu.”
“Serius? Ok deh! Makasih Papa!”
Mona bangkit dan mengecup pipi Papanya. Setelah itu dengan langkah riang Mona meninggalkan ruang rapat. Mona berjalan terus kebawah dan saat hendak masuk ke lift dia menemukan sosok Sherly dengan tangan penuh kantung plastik sedang berdiri kepayahan.
“Haha ngapain lo Sher?”
“Hah? Lo udahan rapatnya?”
“Baru aja.”
Mona melakukan apa yang diminta Sherly lalu naik keatas bersamanya. Sesampainya mereka diatas, mereka tidak disambut oleh teriknya matahari siang melainkan sebuah taman hijau segar dengan sofa dan bahkan ayunan untuk bersantai.
Ide garden rooftop ini direalisasikan perusahaan saat Mona masih SMA. Sejak itu Mona selalu bersemangat berkunjung kesini untuk bersantai di taman atap ini.
Keduanya mengambil tempat di sofa putih dan meletakkan bungkusan belanjaan Sherly disana. Sherly mengeluarkan minuman bersoda dan Mona dengan cepat sadar apa yang dibeli Sherly.
Dua burger ukuran raksasa lengkap dengan kentang goreng. Biasanya Mona menghindari makan makanan cepat saji saat makan siang. Tapi berhubung dia bersama Sherly jadi dia melakukan pengecualian.
“Jadi, gimana rapatnya?” tanya Sherly.
Mona mengerutkan dahi, “Tebak ada siapa disana.”
“Siapa?”
“Si Ethan.”
“Lah?Kok bisa?”
“Rupanya dia balik ke Indonesia gara-gara bokap yang ngajakin dia kerja.”
__ADS_1
“Wah parah sih.”
Mona mengangguk lalu membasahi tenggorokannya dengan soda dingin.
Sherly bertanya lagi, “Tapi gue masih belum tau loh kenapa kalian berantem….”
Mona diam tidak menjawab. Dia hanya menundukkan wajahnya diam tak membalas.
“Yaudah sih kalau gak mau cerita. Btw, gue tadi nelfon si Gama.”
“Ngapain?”
“Ngajakin dia makan siang lah. Dia masih suka shawarma pedes kan? Udah gue beliin. Tapi ditelfon ga diangkat sih. Jadi gue tinggalin pesan suara aja.”
“Haha dia belum bangun kalo jam segini.”
“Masa? Wah gila sih tuh anak.”
“Dia biasanya baru bangun sore.”
“Kok gitu?”
“Kan tidurnya jam 8 pagi.”
“Nokturnal banget hidupnya.”
Mona tersenyum dan mulai memakan burgernya. Saat itu Mona menyadari Sherly yang menyingkirkan selada dari burgernya. Lalu mengangkat potongan tomat dan membuangnya juga. Yang terakhir adalah bawang merah.
Sherly tidak terlalu suka sayuran. Dia pemilih dan keras kepala kalau dikasih tahu. Akhirnya hingga dewasa begini pun makannya masih pilih-pilih.
“Kemaren lo kemana seharian?” tanya Sherly dengan mulut penuh.
“Jalan ke taman hiburan sama Devin.”
“Devin? Devin siapa?”
“Ada deh.”
Sherly memberikan sorot mata menyelidik. Dia hendak bertanya lebih jauh tapi dia tahu Mona tidak mungkin menjawabnya. Jadi dia pun hanya diam dan memilih untuk berspekulasi seorang diri.
Ditengah itu semua Ethan yang makan disudut lain taman terus memandang ke bawah kearah Mona dan Sherly diam-diam. Dia hendak menghampiri Mona tapi takut dia akan melarikan diri lagi.
Ethan menghela napas. Padahal dia hanya ingin bicara. Namun semuanya malah jadi berantakan begini. Tiba-tiba saja Sherly mengambil kentang dan melempar di udara untuk menangkapnya dengan mulut. Tapi saat itu dia melihat sosok Ethan.
Sherly pun berhasil menelan kentangnya tapi tersedak akibat kaget. Mona langsung menolong Sherly dan saat dia buru-buru meminum sodanya.
“Udah dibilang jangan mainan makanan.”
__ADS_1
“Hehe sorry.”
Sherly tersenyum lalu menatap kembali kearah tempat Ethan berdiri. Dia sudah tidak lagi disana. Sherly tersenyum, dia masih penasaran kenapa Mona begitu marah pada Ethan dan apabila Mona tidak mau cerita maka dia akan memaksa Ethan untuk bilang padanya.