Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR VIII: Sahabatnya


__ADS_3

Mona menarik tangannya tinggi ke udara dan mulai meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal. Mona memandang ke sekitar, hari sudah gelap dan kantornya sudah sunyi. Mona melirik arloji yang kini menunjukkan waktu telah pukul 9 malam.


Mona pun memutuskan untuk pulang dan melanjutkan kerjanya besok. Suasana kantor yang sunyi hanya ditemani oleh lampu remang-remang sebagai penerangan seadanya. Mona berjalan terus hingga ke basement dan segera berjalan menuju mobilnya.


Saat Mona mengemudikan mobilnya keluar menuju jalan raya, Mona dikejutkan dengan suasana macet tepat diluar kantornya. Mona mengerutkan dahi lalu bersiap dengan perjalanan pulang yang melelahkan.


Setengah jam kemudian baru lah dia tiba di apartemen dan buru-buru menuju kamarnya. Mona berjalan dengan langkah gontai karena letih seharian bekerja. Tepat di depan pintu kamarnya Mona mengeluarkan kartu aksesnya namun dia mendengar sesuatu dari dalam kamarnya.


Ada alunan lagu yang diputar dari pengeras suara dalam kamarnya. Mona ingat betul padahal dia sama sekali tidak menyalakan pengeras suaranya hari ini. Mona berbalik dan menjauh sedikit dari kamarnya lalu melakukan sebuah panggilan.


“Halo, Gam, lo lagi dikamar gue sekarang?”


“Hah? Gak kok.”


“Lah terus siapa yang dikamar gue sekarang?”


“Lo yakin kunci pintu pas pergi, ‘kan?”


“Iya, gimana dong ini?”


“Bentar, gue kirim orang kesana. Lo tunggu aja.”


Gama menutup panggilan mereka lalu Mona pun menunggu. Sepuluh menit kemudian 4 orang pria dengan penampilan serba hitam dan wajah serba sangar tiba di depan Mona berkata kalau mereka orang suruhan bos mereka Gama.


Mona hanya menyengir takjub dengan orang kiriman Gama lalu menuntun mereka menuju kamarnya. Mona membuka pintu dengan kartu aksesnya lalu dua pria masuk lebih dulu sementara dua lainnya menjaga dari belakang.


Seluruh lampu kamar Mona menyala, pengeras suara tengah memutar musik, dan ada aroma bumbu rempah dari dapurnya. Mendadak pintu kamar mandi terbuka dan para pengawal bersiap untuk menyergap namun yang muncul adalah wanita dengan kimono mandi merah, masker wajah, dan rambut yang masih dililit handuk.


“ASTAGA! Apa-apaan ini?!” wanita itu menjerit kaget.


Mona mengintip dari balik bahu lebar salah satu pengawal dan langsung mengenali wanita tersebut sebagai Sherly Atmadja, sepupunya. Melihat Mona yang tengah mengintip Sherly memandangnya dengan bingung.


Mona pun buru-buru menarik lengan baju pengawal didepannya kemudian berkata, “Hehe, Om, maaf ya, ternyata itu sepupu saya.”


Para pengawal pun akhirnya berjalan keluar meninggalkan kamar Mona kemudian berkata, “Kalau besok-besok lagi butuh kami, tinggal lapor saja ke, Bos. Selamat malam.”

__ADS_1


Mona mengangguk kikuk lalu menatap kepergian mereka lalu kembali masuk ke kamarnya. Disana Sherly sudah berdiri berkacak pinggang, Mona tersenyum lalu segera berlari kearahnya dan memeluknya erat.


Sherly yang tengah kesal melupakan luapan emosinya dan memeluk Mona balik.


“Kenapa sih gak ngabarin dulu?” tanya Mona.


“Kan niatnya surprise gitu. Yang tadi itu siapa?”


“Ah, itu…. satpam dibawah.”


“Nyeremin banget tampangnya. Yaudah, lo mesti capek, ‘kan? Makan dulu yuk!”


Sherly menarik tangan Mona ke meja makan dan mendudukkannya. Sementara itu Sherly ke dapur dan kembali dengan telur mata sapi sempurna yang di taburi rempah-rempah dari timur. Keduanya langsung melahap makan malam mereka dengan khdimat.


Pada saat yang sama, Mona yang makan menggunakan tangan kanan yang masih dibaluti plester mengundang tanya di benak Sherly. “Tangan lo kenapa?”


Mata tajam Sherly memperhatikan tangan Mona yang terluka. Sherly melepas garpunya lalu dengan cepat menarik tangan Mona untuk memeriksanya dengan cermat. Mona tersenyum riang dan dengan perlahan menarik kembali tangannya, “Jangan khawatir. Cuman kegores kaca dikit kok kemaren.”


“Kegores? Sobek ya? Lukanya pasti parah kan? Kenapa sih lo ceroboh gini?!" Sherly mengerutkan kening dan menatapnya dengan sedih, lalu dia memeriksa tangan Mona lagi dengan detail. Ketika dia melihat bibir Mona yang sedikit mengerucut, diaperlahan melepaskan dan mengurungkan niatnya untuk mengomel lebih lama.


Sherly Atmadjaja tumbuh besar bersama Mona di rumahnya. Orang tua Sherly meninggal di usianya yang masih terlalu muda karena kecelakaan. Namun Sherly kecil menolak tinggal bersama dua kakak laki-lakinya yang sudah dewasa dan memilih untuk tinggal bersama keluarga Mona. Karena seumuran, Sherly jadi cepat akrab dengannya.


Keduanya pergi ke sekolah bersama lalu setelah lulus pergi ke universitas yang sama dan jurusan yang sama juga. Itu tentunya juga membuatnya mengenal Gamaliel. Setelah lulus dua tahun yang lalu Sherly memutuskan untuk beristirahat dan pergi berkelana keliling dunia. Dia telah pergi ke berbagai belahan dunia, bertemu orang-orang baru dan budayanya, serta mempelajari hal baru dalam kehidupan


“Gue kira gak bakal ketemu lo lagi.” kata Mona yang tersenyum lalu memasukkan kuning telur kedalam mulutnya.


“Yah, gue maunya tetap tinggal di Indonesia timur. Tapi biaya hidup disana mahal banget. Gue kesini cuman mau ngumpulin duit terus balik lagi kesana.”


“Hmm, gitu ya. Kalo gitu nanti gue ngomong ke Papa deh lo lagi butuh kerja.”


“Haha, thanks, Mon. Btw, lo udah cek group SMA? Katanya pada mau bikin reunian.”


“Serius? Kapan?”


“Besok. Pergi yuk.”

__ADS_1


Mona terdiam sejenak. Mona memang ingin pergi. Dia menyukai masa SMA-nya dan luar biasa kangen, tapi dia tidak ingin bertemu dengan seorang pria yang pernah dia kenal dulu.


Menyadari sosok Mona tengah berpikir keras, Sherly langsung bertanya dengan santai, “Lo males datang karena ada si Ethan, ‘kan?”


Mona mengangguk kecil.


“Udah, jangan dipikirin. Terakhir dia ngabarin gue katanya dia masih ngurus S2-nya di Berlin.”


“Lo masih kontakkan sama dia?”


Sherly mengangguk, “Dia nelfon gue sebulan sekali cuman buat nanya kabar lo.”


“Terus?”


“Ya gue bilang aja lo sibuk.”


“Gitu ya….”


“Udah santai aja, gak mungkin juga kan dia tiba-tiba muncul gitu. Jerman-Indonesia itu beda benua kali.” Sherly menyelesaikan makanannya lalu menyeka mulut dengan tisu.


Sementara Sherly pergi ke dapur untuk mencuci piring Mona terus terngiang dengan pria bernama Ethan itu. Ethan adalah sosok manusia yang pernah jadi sangat dekat dengan Mona. Keduanya tidak pacaran tapi tahu kalau mereka saling suka. Keduanya akrab tanpa terkecuali namun karena kejadian setelah pesta kelulusan malam itu maka semuanya berubah.


Mona jadi membenci Ethan dan Ethan pun tidak bisa henti-hentinya merasa bersalah karena malam itu. Kini Mona selalu menghindari Ethan bagaimanapun caranya. Hatinya terasa nyeri setiap saat mengingat momen tersebut.


“Mon, nanya dong.” kata Sherly dari dapur.


“Kenapa, Sher?”


“Kok di lemari lo banyak baju cowok gitu?”


Mata Mona langsung terbelalak. Dia ingat kalau baju-baju itu adalah milik Gama. Mona pun langsung dengan cepat berdalih, “Pu-Punya gue Sher!”


“Masa sih? Orang ukurannya aja ukuran cowok, terus ada jas juga. Lo ngapain pake jas cowok?”


Mona bisa merasakan keringat dingin meluncur di pelipisnya. Saat akhirnya Sherly selesai mencuci piring dan pergi mengambil minuman di kulkas Shery bertanya lagi, “Punya pacar lo, ya?”

__ADS_1


“Hehe.…”


Hanya itu yang bisa Mona katakan. Hehe….


__ADS_2