Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XI: Tempatku Bersandar


__ADS_3

Menjelang jam sibuk, orang-orang berkeliaran diluar kantor untuk pergi makan siang. Semua orang bergegas nampak sibuk dengan urusan masing-masing dan dengan cepat menyusuri jalanan padat menuju plaza dekat kantor.


Mona yang baru selesai makan siang bersama asisten barunya berbalik dan menyerahkan selembar dokumen penting kepadanya.


“Tolong review bagian akhirnya. Lakukan juga riset pasar besok pagi dan serahkan pada saya senin depan. Juga, tentang proyek-proyek Grand Lava yang kemarin kirim saja filenya. Akan saya kerjakan sisanya. Jangan sampai telat.”


“Siap bos!” asisten yang bernama Kath itu melanjutkan. “Oh iya bos, barusan Pak Eko ngirim data untuk Media Utama Group.”


Monamenerima folder hitam dan melihatnya sekilas. Mona membalik-balik foldertersebut membaca hanya di poin-poin  tertentu saja. Dia akhirnya mengangguk dan berkata. “Mmm, sepertinya program mereka baik-baik saja. Katakan pada merekauntuk melanjutkan kinerja kayak biasa.”


“Siap!”


Mona pun masuk ke dalam lift dan Kath menekan tombol lantai kantor Mona. Setibanya di lantai 10 Mona langsung masuk ke ruangannya dan duduk di kursi beludrunya. Mona menghela napas panjang. Pekerjaannya hari ini lumayan padat.


Kepalanya sejak tadi pagi berdenyut, bukan karena dia lapar atau belum makan melainkan karena beban pikirannya cukup banyak hari ini. Diantaranya adalah Ethan. Entah mengapa masa lalunya terus-terusan mengikutinya hingga ke kantor.


Diatidak suka saat pikiran seperti ini mengganggunya di kantor. Mona melirik layar desktopnya dan dengan malas melanjutkan pekerjaannya.


***


Pukul 7 malam Kath mengintip dari daun pintu kantor Mona dan Mona yang menyadari keberadaannya bertanya, “Belum pulang, Kath? Waktu kerja kamu kan selesai dua jam yang lalu.”


“Hehe belum bos, saya baru nyelesaiin riset yang buat senin nanti.”


Mona nampak terkejut. “Cepat banget. Padahal itu masih minggu depan, lho.”


“Iya, gabut soalnya tadi. Makanya saya kerjaiin aja. Lagian hitung-hitung buatngeringanin beban bos juga.”


Mona tersenyum mendengar hal tersebut lalu menyimpan filenya dan mematikan desktop.


Dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju Kath, “Kamu pulang naik apa?”


“Bus kayak biasa. Bos nitip sesuatu buat besok?”


“Nggak sih. Jam segini pasti bus rame banget. Naik mobil saya aja.”


Kath melonjak kaget, “Eh! Gausah bos! Jadi gak enak ngerepotin!”


Mona tertawa kecil dan berjalan melewati Kath. Mau tidak mau Kath pun mengikuti dari belakang. Keduanya turun ke basement dan masuk kedalam mobil Mona. Mona menyalakan mesin dan mengemudikan mobil keluar dari kantor.


Saat mobil sudah diluar suasana jalan raya macet dan begitu padat. Mona menarik rem tangan di lampu merah perempatan dan tiba-tiba Kath bertanya, “Bos, sepertinya belakangan ini sibuk banget?”


“Saya? Nggak kok.”


“Tapi bos kelihatan lelah tiap hari.”

__ADS_1


“Haha masa sih?”


“Oh ya, anak-anak kantor pada suka ngegosipin bos, lho, hihi….”


Mona tersenyum, “Gosip apaan?”


“Hmm, mereka taruhan katanya nona direktur sudah punya pacar atau belum. Beberapa bilang katanya bos single tapi ada yang bilang sering liat bos bareng cowok rapi gitu. Katanya selalu pake jas hitam, dasi merah, sama bros kecil gitu di pinggir kerah kemejanya.”


Mona tertawa kecil mendengar deskripsi Kath tentang Gama.


“Kalau menurut kamu?”


“Menurutaku sih bos masih single.”


“Kenapa begitu?”


“Karena bos jarang buka hp atau ngebalas chat bahkan pas kita makan.”


“Begitu ya. Menurut kalian aku ini orangnya gimana?”


“Bos itu orangnya misterius. Susah ditebak juga, kadang keliatan baik kadang juga keliatan jahat. Galak banget kalau marah-marah dan omongannya ngena banget, tapi kayak masuk akal gitu jadi kitanya gak bisa ngomong apa-apa.”


“Hahah…. Kamu orangnya jujur banget ya, Kath?”


“Heh? Ah, maaf bos.”


Setelah berkendara sambil ngobrol 30 menit kemudian, akhirnya mereka tiba di kosan Kath. Kosan itu cukup besar dengan pagar kayu geser yang tinggi. Kath lalu menunduk berterimakasih dan keluar dari mobil.


Mona memutar balik mobilnya dan kembali melaju di jalan raya. Malam itu pikirannya yang kalang-kabut bercampur dengan segala kesal yang kini mewarnai hatinya. Ngobrol panjang dengan Kath sedikit membuatnya santai. Namun itu tidak cukup.


Dia ingin teralihkan dari perasaan sebal ini. Dia tidak suka ini dan dia tahu betul apa yang harus dilakukannya. Mona ingat kalau besok dia tidak perlu datang ke kantor pagi-pagi jadi dia bisa menikmati malamnya dan bangun lebih siang.


Mona pun akhirnya mengemudikan mobilnya menuju salah satu klub malam tempatnya yang biasa nongkrong bareng Gama. Sesampainya disana suara musik menggema dari seluruh penjuru.


Mona memarkirkan mobil dan mengirim menelfon Gama. Tidak ada jawaban. Mona pun mengirimnya pesan yang memberitahukan Gama kalau dia sedang di tempat biasa.


Mona turun dari mobil dan masuk kedalam. Sesampainya di dalam dia disambut oleh musik pesta dunia malam yang begitu mendebarkan. Mona tersenyum dan berjalan menuju bar untuk memesan minuman.


“Satu botol whiskey.” kata Mona sambil membuka dompet.


Bartender itu nampak ragu-ragu untuk melayani pesanan Mona awalnya, mungkin dia merasa kasihan dengan wanita yang masuk ke diskotik dengan pakaian kantor namunsetelah mendapat tatapan dingin Mona pria itu langsung menghidangkan pesanan Mona.


Mona menuang minumannya sendiri dan menghabiskan gelas pertama dengan satu tegukkan.Dia bisa merasakan  dengan jelas tenggorokannya terasa hidup dengan segelas minuman keras. Rasa terbakar yang menggerogoti tenggorokan dan mendarat keras di perutnya membuat Mona merasa sedikit baikkan.


Satu gelas, menjadi dua gelas, lalu menjadi tiga, dan perlahan Mona mulai kehilangan hitungannya. Pikiran soal pekerjaan dan stress yang selama ini menggantung di kepalanya perlahan hilang seiring dengan kesadaran Mona yang semakin berat.

__ADS_1


Mona terus minum untuk menghilangkan perasaan risih di hatinya. Ini adalah minggu yang berat untuknya. Biasanya hanya ibunya yang memintanya untuk pergi ke perjodohan tapi kini ayahnya juga ikut-ikutan.


Walau Mona tidak kecewa dengan pria yang dikenalkan ayahnya dia tetap merasa jengkel harus menuruti semua permintaan orang tuanya. Lalu ada juga Ethan yang kembali. Itu membuatnya bertambah jengkel dan membuatnya badmood seharian.


Mona terus minum dan saat dia melipat tangannya di atas bar dia perlahan mulai kehilangan kesadaran. Sementara itu di bangku di sebelah Mona ada seseorangyang mendudukinya. Mona bisa mendengar orang itu menuang  minuman.


SaatMona membuka mata dan melihat Gama tengah minum dari gelasnya Mona tersenyu dan berkata, “Itu punya gue….”


Gama tersenyum mengejek melihat Mona yang sudah setengah mabuk.


“Lo ngapain sih kesini pas hari kerja?”


“Gue stresssssss.”


“Kenapa?”


“Gue ketemu orang yang gue paaaaaling benci minggu ini.”


Gama


menuangkan lebih banyak minuman lalu meneguknya. “Siapa?”


“Orang yang ngerenggut keperawanan gue.” kata Mona sambil tersenyum.


Gama berhenti minum dan menatap Mona serius. Wajah Mona yang memerah membuatnya semakin mirip dengan kepiting rebus. Gama menghabiskan minuman di gelasnya.


Gama tidak pernah tahu dengan kisah cinta Mona sebelumnya. Mendengarnya begini membuat Gama jadi tertarik serta penasaran.


“Mantan lo?”


“Gak. Kita gak pernah pacaran.”


“FWB-an kayak kita gini?”


“Gak lah. Dia itu sahabat gue. Tapi dia malah ngejahatin gue pas gue lagi mabok gini.”


Gama tidak membalas dan hanya menatap dengan wajah tertarik.


“Lo gak bakal ngapa-ngapain gue kan kalo gue lagi kondisi gini?”


Gama tersenyum mengejek. “Gak. Mager banget pas lagi gituan kalo lo muntah.”


“Hehemakasih ya Gam….”


Mona mengangkat tangannya dan menangkup wajah Gama. Keduanya saling pandang cukup lama lalu Mona melepaskannya perlahan. Tidak lama kemudian dia kembali tertidur di bar.

__ADS_1


Melihat ini Gama hanya menghela napas berat dan menghabiskan botol whiskey yang dipesan Mona.


__ADS_2