Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XX: Bicara Mona


__ADS_3

Rapat hari itu dilanjutkan setelah waktu makan siang berakhir. Mona kembali ke ruangan rapat dan sekali lagi harus bertemu dengan wajah Ethan.


“Kalau begitu, saya harap anda akan bertanggung jawab atas proyek ini, Direktur Mona. Saya akan memberi anda waktu satu bulan dan mudah-mudahan, anda dapat mengajukan proposal yang baik pada pertemuan bulanan berikutnya. Apa ada hal lain yang hendak anda sampaikan?” tanya papa Mona di akhir.


Mona sendiri menggeleng pelan sebagai jawaban kemudian berkata, “Terima kasih karena telah mempercayai saya, Pak Benny. Saya akan melakukan yang terbaik dan tidak mengecewakan anda.”


Papa Mona mengangguk dan kemudian memandang semua orang. “Saya harap semua orang bisa mengerjakan tugas yang telah diberikan. Akan ada hadiah jika kuota dipenuhi setiap kuartal. Jika ada surplus hasil, saya akan mengambil 5% dari keuntungan murni dari departemen Anda dan di berikan sebagai bonus secara personal. Berapa banyak yang Anda dapatkan tergantung pada seberapa keras anda bekerja.”


Semua orang bersemangat. Siapa yang tidak senang mengetahui bahwa mereka bisa mendapatkan lebih banyak uang?


Papa Mona menjadi begitu murah hati dan menggunakan bala bantuan seperti uang untuk mendorong karyawan bekerja lebih keras. Maksudnya, orang mana yang tidak akan bekerja keras untuk mendapatkan bonus? Mereka akan mendapatkan lebih banyak jika mereka bekerja lebih keras?


“Ada lagi yang inging ditanyakan?” tanya papa Mona.


Semua orang menggelengkan kepala.


“Kalau begitu rapatnya sampai disini saja.”


Setelah papa Mona berdiri dan keluar ruangan baru lah yang lain mengikuti.


***


Sementara itu di meja resepsionis depan ruang rapat ada Sherly yang tengah bersembunyi mengintip dari counter.


Tepat setelah semuanya keluar Sherly menundukkan kepalanya lebih dalam. Dia melihat papa Mona keluar ditemani asistennya lalu Mona dan segerombolan pegawai yang lain.


Dia masih menunggu sosok Ethan untuk muncul dan akhirnya pria itu muncul paling akhir.


“Psst! Ethan!”


Ethan dengan cepat menyadari keberadaan Sherly lalu tersenyum.


“Ngapain lo Sher ngumpet disitu?”


“Udah gak penting, habis ini lo masih ada kerjaan gak?”


“Gak sih tapi—”


“Nah, kalo gitu buruan ke basement, gue tunggu samping lift.”


Setelah bilang begitu Sherly menepuk pundak resepsionis yang telah membiarkannya sembunyi disana lalu berlari turun menggunakan tangga darurat.


Setelah menunggu 10 menit dibawah akhirnya Ethan muncul juga. Sherly tersenyum lebar kemudian berkata, “Mobil lo yang mana?”


“Gue gak punya mobil.”


Sherly mengerutkan dahi. “Gimana sih? Lo kerja sama papanya Mona tapi gak bisa beli mobil. Kurang duit lo hah?”

__ADS_1


Ethan tersenyum mendengar ledekkan tersebut kemudian menjawab, “Kan gue baru balik Sher. Lo sendiri emang gak punya mobil?”


“Gue kan juga baru balik.”


“Darimana?”


“Surga Nusantara. Udah deh, kita mending jalan kaki aja. Lo tahu tempat nongkrong enak dekat sini nggak?”


Ethan mengangguk lalu kembali menekan lift. Sherly terus menatap Ethan saat keduanya masuk kedalam lift. Sejak dulu Sherly selalu penasaran dengan hubungan Ethan dan Mona.


Keduanya akrab namun tidak pacaran. Tapi mereka tidak pernah dekat dengan lawan jenis masing-masing dan selalu kelihatan mesra. Mungkin dulunya mereka pacaran, mungkin terikat sesuatu yang tidak diketahui Sherly.


Tapi yang pasti kini Sherly tahu itu semua masa lalu dan sudah saatnya dia mencari tahu. Keduanya keluar lewat pintu depan lalu berjalan menuju café dekat sini.


Hanya butuh waktu 10 menit untuk tiba dan keduanya langsung memesan minuman masing-masing. Keduanya pun mengambil tempat yang agak dipojok berjaga kalau-kalau Mona kesini.


Sherly tidak ingin Mona melihatnya sedang bersama orang yang paling dibenci. Oleh karenanya dia harus sembunyi-sembunyi. Setelah keduanya duduk, Sherly terus mengamati sosok Ethan.


Penasaran, apa yang menjadikan pria muda ini jadi orang yang paling dibenci Mona.


“Jadi, kenapa tiba-tiba ngajak ketemuan?” tanya Ethan.


“Gue penasaran aja kenapa Mona benci banget sama lo.”


Ethan nampak kaget kemudian balas bertanya, “Lo gak tahu?”


“Kalau begitu mending lo tanya ke dia.”


“Dia gak mau cerita. Kenapa gak lo aja sih yang cerita?”


“Sama halnya kayak Mona. Gue juga gak bisa cerita.”


Sherly menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya di kursi dan berkata, “Kalau begini sia-sia dong gue ngajakin lo ketemuan.”


“Haha sorry ya.”


Sherly mendengus lalu pelayan mengantarkan minuman mereka. Ethan langsung menyeruput kopi panasnya dan tersenyum.


Sherly terus memperhatikan Ethan dengan sorot mata yang tak percaya. Dia masih bingung harus bagaimana lagi untuk membuat salah satu dari mereka bicara.


Ditengah itu semua Ethan tiba-tiba bertanya, “Sher, gue bisa minta tolong gak?”


“Apaan? Kalau ada hubungannya sama Mona gue gak yakin bisa.”


“Sebenarnya ini ada hubungannya sama Mona. Lo bisa ngatur biar gue sama dia ketemuan gak?”


“Wah gila, bisa-bisa gue diusir dari kamar dia kalo gue setuju. Nggak! Gak bisa!”

__ADS_1


“Kayak ketemu kebetulan gitu aja. Contohnya kayak pas lo lagi nongkrong dimana sama dia terus gak sengaja ketemuan gitu.”


“Picik banget. Gak ah, terlalu beresiko.”


“Gue janji gue bakal cerita soal masalah gue sama Mona kalau lo setuju.”


Mendengar itu Sherly terhanyut sejenak. Dia tergiur. Dia memang sangat penasaran dengan masalah keduanya.


Tapi dia tahu Mona pasti akan sangat kecewa padanya kalau dia tahu Sherly menjebaknya. Oleh karenanya Sherly pun mengkokohkan hatinya kemudian menggeleng.


“Sorry, kalau soal yang begituan lo gak bisa minta tolong ke gue.”


“Begitu ya…. Sorry ya udah minta yang aneh-aneh. Gue boleh nanya sesuatu gak?”


Sherly mengangguk kecil.


“Mona punya pacar gak sekarang?”


Wajah Sherly langsung berseri-seri dan nampak sangat bersemangat dengan topik ini.


“Gak tahu juga sih. Lebih tepatnya gue belum pasti. Pernah sekali waktu Mona mabuk berat, dia diantar sama teman kuliah kita dulu namanya Gama. Orangnya emang ganteng sih tapi kayak misterius banget gitu.”


“Berarti si Gama ini kemungkinan besar pacarnya Mona?”


Sherly menggeleng kemudian menjawab, “Ada satu lagi! Namanya Devin! Kemaren kata Mona mereka ke taman hiburan bareng.”


“Devin? Devin siapa?”


“Gak tahu. Emang kenapa?”


“Ah, nggak. Gue kenal ada rekan kerja papanya Mona yang namanya Devin juga dan diakayaknya seumuran kayak  kita.”


“Hmm, gitu. Bisa aja.”


“Tapi kalau begitu Mona belum pasti kan punya pacar atau nggak?”


“Kayaknya dia punya deh. Banyak baju cowok soalnya di apartnya dia.”


“Begitu….”


Ethan menyereput kopinya. Sementara itu Sherly meminum jusnya. Keduanya saling pandang lalu Ethan tertawa kecil.


“Mona orangnya tertutup banget, ya?” tanya Ethan.


Sherly hanya menghela napas dan menjawab, “Dari dulu.”


Pada akhirnya keduanya hanya duduk seharian disana sambil membicarakan Mona. Satu-satunya topik yang mengaitkan keduanya hanyalah Mona.

__ADS_1


Mona yang tengah berada di kantornya mendadak bersin tanpa alasan karena sejak tadi dibicarakan.


__ADS_2