Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XVII: Teman Serumah


__ADS_3

Kakek Lim menggaruk pipinya dan berkata, “Aku ingin kau membawa anak buah kita dan menjaga toko-toko yang kita lindungi di pusat kota. Para polisi bayaran kita mengatakan bahwa para Kaligis mulai melakukan pergerakkan dan mereka nampaknya akan menyerang besok.”


“Baik, kakek.”


“Mengenai yang barusan, aku ingin kau menjaga Ernie dan anaknya. Tidak ada investasi khusus atau apapun. Mereka teman lama, aku ingin kau memperlakukan mereka layaknya keluarga.”


“Baik, kakek.”


Kakek Lim mengeluarkan sebuah pil obat yang biasa diminumnya dan meneguknya sampai habis dengan air. Melihat kondisi kakeknya ini Gama tahu benar bahwa kakeknya tidak akan hidup selamanya.


Kakeknya yang kini sudah berusia 72 tahun menolak pensiun dari bisnis keluarga. Dia masih keras kepala dan menganggap mampu melakukan segalanya seorang diri. Namun semua itu berakhir buruk karena kakek Lim yang mudah sakit kepala harus lebih sering meminum obatnya.


“Sekarang pergilah. Aku tahu kau lelah. Bawa mereka bersamamu.”


Gama mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan sang kakek. Gama keluar dari kantor dan menuju lobi depan dimana para penjaga segera memberi hormat sopan padanya. Disana, Ernie dan anaknya sudah menunggu.


Keduanya segera berdiri saat melihat Gama lalu Ernie pun berkata, “Ah, halo, maaf saya tidak mengenali anda lebih awal.”


“Tidak apa-apa. Apa kalian ada barang bawaan yang harus dibawa?”


Ernie dan anaknya menggeleng. Dengan begitu ketiganya masuk kedalam mobil Gama dan mereka pun pergi ke rumah. Sepanjang perjalanan ketiganya hanya diam di dalam mobil. Hanya lampu jalan dan suara bising kendaraan yang menemani.


Selama menyetir Gama melirik lewat kaca spion dan melihat wajah keduanya benar-benar kelelahan. Gama pun menaikkan kecepatannya di jalan sunyi agar mereka dapat sampai lebih cepat.


Setelah berkendara 30 menit akhirnya mereka tiba di kompleks perumahan Gama. Pada pukul 3 pagi, suasana di kompleks perumahan sudah lama sunyi. Para satpam yang berjaga tengahmenyeduh kopi hangat mereka dan  anjing-anjing penjaga dibiarkan tidur sejak pukul 10.


Malam itu udara dingin dari puncak terasa lebih menusuk dari biasanya. Hembusan angina sepoi-sepoi datang beriringan mengisi setiap sudut rumah yang bisa dimasuki.


Mobil yang mereka tumpangi masuk kedalam pekarangan rumah Gama. Setelah mobil benar-benar berhenti baru lah ketiganya turun. Di dalam rumah, mereka disambut oleh pemandangan ruang tamu yang penuh dengan sentuhan artistic modern.


Satu hal yang dengan cepat disadari Ernie adalah ruang tamu ini hanya di dominasi oleh warna putih dan abu-abu. Kebanyakan warna putih. Ernie terus berjalan masuk lebih dalam, dan menemukan sofa-sofa empuk tanpa sandaran berjejer rapi mengitari sudut ruang tamu.


Sebuah meja kopi lengkap dengan mangkuk di atasnya berisikan buah-buahan segar untuk dimakan. Sebuah TV layar lebar keluaran terbaru bertengger di ujung ruang tamu Sertasebuah vas bunga raksasa di sudut ruangan. Ernie  menelan ludah membayangkan harga ruang tamu ini.


“Kamar kalian di lantai dua. Ada dua kamar disana, terserah kalian mau menggunakan yang mana. Kalau kalian butuh sesuatu, kalian bisa memanggil salah satu pembantu kami. Biasanyamereka masih terjaga sampai  jam 3 pagi.”


“Ah, iya, terimakasih banyak, Gama. Kau anak yang baik.”


Gama mengangguk kecil lalu segera pergi ke dapur untuk mencari cemilan malam. Sementara itu Ernie dan anaknya segera pergi ke kamar mereka.


***

__ADS_1


Gama yang baru saja selesai memasak kini tengah menyantap makanannya seorang diri di dapur. Dia menggoreng sosis dan telur seadanya lalu makan tanpa protes.


Dari arah tangga terdengar langkah kaki, Gama melirik sejenak kesana dan menemukan anak Ernie yang bernama Gwen hendak pergi ke dapur. Dia sedikit kaget melihat Gama masih di berada di dapur.


Gama sebagai tuan rumah yang baik pun bertanya, “Haus ya?”


Gadis muda itu mengangguk kecil.


Gama lalu repot-repot bangkit dari kursinya lalu pergi mengambilkan gelas dan mengisi air untuk gadis muda tersebut. Setelah gelas terisi penuh baru lah Gama menyodorkannya pada Gwen.


“Terimakasih.”


Gama mengangguk kecil lalu pergi duduk kembali di meja makan dan makan. Gwen masih minum sambil menatap Gama seolah penasaran dengan sesuatu. Setelah itu dia memberanikan diri untuk duduk dihadapan Gama.


“Makasih Om sudah nampung kita.”


“Jangan pakai kata nampung dong. Kalian kan bukan hewan.”


Gwen tertawa kecil mendengarnya kemudian bertanya, “Om adiknya mama, ya?”


Gama mengerutkan dahi, “Maksudnya? Mama kamu gak cerita aku siapa?”


Gwen menggeleng, “Mama gak mau cerita. Aku juga gak tahu gimana caranya mama bisa diijinin tinggal di rumah sebesar ini.”


“Begitu ya…. Om masih muda tapi sudah sukses banget, ya?”


“Begitulah.”


“Apa bisnis, Om?”


“Menyediakan perlindungan untuk pebisnis lain.”


“Perlindungan?”


“Yup, seperti jasa bodyguard gitu.”


“Perlindungan dari apa?”


“Dari orang-orang yang mau mengacaukan bisnis klien.”


Gwen mangguk-mangguk, “Kedengarannya menarik. Setelah lulus SMA nanti apakah aku boleh gabung?”

__ADS_1


“Hahaha kayaknya kamu gak bakalan cocok dengan bisnis ini.”


“Kok gitu?”


“Pekerjaan kami menuntut kami terjaga semalaman. Om gak yakin kamu kuat begadang.”


“Iya sih….”


“Lagian mama kamu kan maunya kamu kuliah. Kenapa gak kuliah dulu? Kalau sudah lulus dan masih mau kerja di keluarga Kolandam mungkin Om bisa ngasih kamu kesempatan.”


“Haha janji ya!”


Keduanya terus ngobrol sampai waktu pun tidak terasa sudah pukul 2 pagi. Gama segera menyelesaikan makanannya dan mencuci piring. Gwen masih mengekor dibelakangnya kemudian bertanya.


“Om punya pacar?”


“Gak punya.”


“Gebetan?”


“Gak juga.”


“Terus?Masa gak suka cewek?”


“Haha gak lah. Saking sibuknya Om gak punya waktu buat begituan. Tapi Om punya teman main yang sering seru-seruan bareng. Namanya Mona.”


“Mona?”


“Iya, dia orangnya asyik. Kapan-kapan deh dikenalin.”


Gama melirik jam dinding di dapur kemudian berkata, “Bentar lagi pagi. Kamu pergi tidur gih.”


“Oke, makasih sudah ditemanin ngobrol ya, Om!”


“Iya, gak apa.”


Gwen memberikan satu senyum manis sebelum pergi lalu kembali keatas ke kamarnya. Gama hanya tertawa kecil melihat tingkah Gwen yang menggemaskan. Dia tidak ingat kalau anak SMA dapat bertingkah semanis itu.


Gama berjalan keluar menuju kolam renang di halaman belakang lalu menyandarkan tubuhnya di kursi santai di pinggir kolam. Sekujur tubuh Gama terasa pegal akibat bekerja seharian. Belum lagi besok dia harus bangun pagi-pagi untuk berjaga dari para Kaligis.


Semuaitu membuatnya lelah dan membuatnya ingin rehat sejenak. Tapi dia tidak mungkin bisa tidur jam segini.

__ADS_1


Gama mengeluarkan ponsel dan coba menghubungi Mona.


Tidak ada jawaban. Sejak tadi siang ponsel Mona tidak dapat dihubungi. Entah apa kesibukkan yang membuat gadis itu sampai tidak mengecek ponselnya.


__ADS_2