
Pagi berikutnya, Mona bangun seperti biasa. Dia bersiap-siap pergi kerja dengan membawa koper tebal dan tas tangannya sendiri setelah sarapan ringan. Hari ini mereka ada rapat penting.
Mona turun ke lantai dasar dan masuk kedalam mobil. Mobil itu bergerak ke arah Greenpoint Majesty Group dengan cepat. Sepanjang jalan, Mona mencari toko binatu langganannya dan akhirnya menemukannya.
“Kapan selesainya, Bu?” Mona bertanya ketika dia mengambil kwitansi.
“Besok sudah selesai kok.”
Mona mengangguk. “Terima kasih. Aku akan datang dan mengambilnya besok malam.”
Dia menyimpan kwitansi dan kembali ke mobilnya. Butuh waktu cukup lama baginya untuk menemukan toko binatu karena dia selalu lupa dengan posisi tokonya dan dia berharap bisa melakukannya lebih cepat karena kini dia sudah terlambat.
Sudah lewat jam 9 pagi dan ini adalah pertama kalinya dia terlambat bekerja. Selain itu, mengingat bahwa hari ini ayahnya akan hadir di rapat membuat Mona semakin salah tingkah. Ayahnya memang tipe yang hobi bercanda, namun kepribadiannyaberubah saat tengah memimpin rapat. Dia menjadi sosok menyeramkan dan itu membuat Mona tidak nyaman.
Dia menghela nafas dan tanpa memikirkannya, dia langsung menuju ruang pertemuan di lantai 7.
Pada saat ini, di dalam ruang pertemuan yang bersih dan rapi di lantai 7, meja-meja panjang diapit oleh orang-orang berjas dan serba rapi serta ruangan dipenuhi dengan atmosfer yang berat.
Ayah Mona yang duduk di ujung meja menatap semuanya dengan wajah dingin tak bersahabat. Senyum hangat yang biasa dibagikan pada Mona seolah pupus dan tidak pernah ada.
Sebagian besar dari pegawai disini telah mendengar tentang metode Ketua Benny yang tidak lazim dalam memperluas bisnis di luar negeri, dan semua orang khawatir nasib buruk akan menimpa mereka karena ada desas-desus internal tentang dia yang bermaksud merestrukturisasi level manajemen.
Sekarang, semua orang hanya menatap ayah Mona sambil berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.
Setelah beberapa saat, ayah Mona meletakkan dokumen itu dan mengangkat kepalanya untuk menghadap semua orang. Matanya melirik ke kursi kosong di sisi kanannya dan dia mengerutkan kening.
“Apakah seseorang cuti hari ini?”
Seno teman kerja Mona dengan cepat menjawab ketika dia melihat reaksi ayah Mona, “Pak Benny, itu tempat Direktur Mona. Dia mungkintertunda oleh sesuatu karena dia selalu tepat waktu. Aku akan meneleponnya sekarang dan memeriksa apa yangterjadi padanya.”
__ADS_1
Seno yang berperawakan tinggi jakung buru-buru bangkit dari kursinya dan mencoba menghubungi Mona. Sebelum ada yang bisa bereaksi, pintu ke ruang pertemuan dibuka dari luar.
“Maaf saya terlambat!” Mona berhenti di tepat di depan pintu dan meminta maaf. Wajahnya sedikit merah karena dia bergegas.
Mona menundukkan wajahnya dan segera pergi ke kursinya. Namun sesaat dia duduk Mona dikejutkan oleh sosok familiar lain yang duduk di dekat ayahnya. Itu adalah Ethan, teman SMA-nya dan pria yang menjadi sumber sakit kepala Mona tiap kali mengingatnya.
Bagaimana mungkin dia bisa ada disini?!
Butuh beberapa saat bagi Mona untuk kembali ke akal sehatnya. Ethan mengangkat kepalanya dan memandangi gadis yang baru saja menerobos masuk. Matanya tampak tenang seperti biasa sementara beberapa orang melemparkan pandangan bercampur ke arah Mona.
Ayah Mona berdeham. “Kembalilah ke tempat dudukmu. Lain kali tidak akan ada pengecualian.”
Mona mengangguk dan pergi ke kursinya. Dia dengan cepat menarik dokumen rapat dari tasnya.
Ruang rapat terdiam sekali lagi.
Setelah beberapa saat, ayah Mona berbicara dengan suaranya yang dalam dan dingin, “Siapa yang bertanggung jawab atas proyek dengan Blue Sky Corporation di Surabaya? Tolong laporkan kemajuannya.”
Seno tersebut nampak tertekan dan melaporkan seluruh kemajuan proyek dengan jelas. Secara historis, tidak mungkin bagi seorang manajer di Greenpoint Majesty Group untuk istirahat di bawah tekanan ayah Mona.
Sementara itu Ethan tidak mengatakan apa-apa dan hanya duduk di sana sambil diam-diam mendengarkan laporan manajer. Dia hanya mengangguk dan mencatat di beberapa bagian penting di akhir.
Mona mencoba untuk fokus dan mendengarkan dengan seksama. Namun keberadaan Ethan terus membuatnya pusing dan nyaris-nyaris muntah.
Tiba-tiba saja ayahnya memandang kearah Mona kemudian berkata, “Direktur Mona, tolong beri tahu kami tentang perkembangan proyek Mirabello Plaza.”
Mona baru sadar bahwa Seno sudah menyelesaikan laporannya dan sekarang gilirannya.
Ada keheningan singkat sebelum dia membuka dokumennya.
__ADS_1
Suaranya dingin dan tegas. “Proposal Mirabello Plaza sudah selesai. Saat ini, kami berada di tahap terakhir untuk memantau operasi bisnis. Saya sudah menganalisis data di sini. Hasilnya mirip dengan harapan kami. Informasi lebih rinci akan membutuhkan riset pasar lebih lanjut.”
Mona kemudian mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya yang dingin.
Ayah Mona mengangguk lalu Seno yang peka langsung pergi ke Mona dan mengambil dokumen darinya dan menyerahkannya kepada ayah Mona.
Dia membolak-balik dokumen tersebut dan akhirnya mengatakan sesuatu setelah diam lama, “Saya sudah pergi mengecek lahan untuk Mirabello Plaza secara pribadi. Secara umum terlihat cukup bagus. Seno, buat tim baru untuk membantu direktur Mona. Dia nampaknya kepayahan”
Ayah Mona perlahan-lahan menutup dokumen saat berbicara.
“Saat pergi ke daerah sekitar Mirabello Plaza dan saya ingat bahwa seseorang pernah membuat proposal tentang pengembangan daerah itu sebelumnya. Saya sudah membahasnya dengan Wakil Presiden dan kami pikir itu berpotensi meskipun disingkirkan karena proyek lain seperti Mirabello Plaza.”
Ayah Mona berbalik dan menatap Seno yang dengan cepat menyerahkan dokumen lain padanya.
Seno menjelaskan, “Proposal ini dibuat oleh Direktur Mona dan Direktur Herman. Saya
merasa bahwa upaya gabungan mereka terasa berani dan sangat segar.”
“Proposalnya sudah jadi, saya ingin mencoba proyek ini, tapi saya akan membutuhkan proposal yang lebih spesifik. Apakah ada orang yang cukup percaya diri untuk menyelesaikan proyek ini?"
Mereka semua saling melirik. Setelah beberapa berbisik di sana-sini, semua orang secara kebetulan mengunci mata mereka pada Mona.
Jumlah sumber daya dan bahan yang dibutuhkan untuk proyek sebesar itu tidak terbayangkan. Banyak orang akan senang mencoba namun takut karena konsekuensi gagal yang lebih besar.
Sementara semua orang sibuk saling pandang atau menunduk untuk menghindar dari tatapan ayah Mona, tiba-tiba Ethan yang sejak tadi diam tiba-tiba mengangkat tangannya dan berkata, “Pak Benny, kalau boleh bicara, saya ingin mencoba proyek ini.”
Mendengar itu Mona langsung melotot dan memandang Ethan lekat-lekat. Mona yang masih tidak mengerti kenapa ada Ethan disini membuatnya keheranan. Kini dia mengajukan diri untuk mengambil proyek ini.
Secara tidak langsung proyek ini akan membuat keduanya bekerja sama. Mona yang paham betul situasinya buru-buru memotong, “Tidak, ini proposal saya jadi saya yang akan mengerjakannya. Saya tidak butuh bantuan orang luar.”
__ADS_1
Kini semua orang memandang keduanya bergantian. Suasana di ruang rapat jadi memanas dan Mona akan melakukan segalanya untuk tidak berada dekat-dekat dengan orang ini.