Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR X: Tiga Pewaris


__ADS_3

💖💖💖💖💖


Terimakasih sudah mau mampir. Jangan lupa tinggalkan komen dan like kalian, support kalian sangat membantu Sofi untuk menulis cerita yang lebih baik. Enjoy the story!


💖💖💖💖💖


“Kamu kenapa disini?”


Tanya Mona sambil mengelap matanya yang berair. Dia menatapnya, dan setelah diam lama mona menurunkan pandangannya. Dia berbalik, tidak ingin membiarkan orang melihat kekecewaan dan kelemahan di matanya bahwa dia tidak bisa menyamar danmenyembunyikan perasaannya.


Sayangnya suara Mona yang serak dan wajahnya yang pucat telah memberikan fakta bahwa dia telah mengalami semacam siksaan batin yang melemahkan. Devin tidak langsung menjawab. Tatapannya yang diam terfokus pada tangan Mona yang masih diperban.


Setelah beberapa saat, dia berkata dengan suara khawatir, “Kamu baik-baik saja?”


Mona berbalik dan menatapnya, bibirnya sedikit terbuka hendak mengatakan sesuatu. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi setelah beberapa lama, dia masih tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Beberapa saat kemudian, Mona menarik napas panjang dan melihat ke atas. Dia menyisipkan senyum pahit di wajah manisnya dan berusaha berkata dengan santai, “Aku merasa tidak nyaman membiarkanmu melihatku dalam keadaan kacau seperti ini.”


Devin menatapnya dengan tajam. Matanya berkilat-kilat oleh sorotan lampu kendaraan yang lewat seolah menambah daya tarik yang aneh. Tapi satu hal yang pasti, entah mengapa melihat Mona seperti ini tiba-tiba membuatnya teringat pada masa lalunya saat dia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia.


Devin buru-buru menghilangkan ingatan gelapnya dan bertanya dengan santai, “Kamu sering ke sini juga?”


“Ah, itu, kayaknya ini pertama kalinya.”


Devin tersenyum samar. Devin dengan santai memandang ke jalanan di sekitar dan berkata, “Ini adalah area bisnis yang cukup strategis.”


Mona tertawa kecil mendengar pengalihan topik yang begitu mendadak.


“Aku serius, aku ingat betul dulunya tempat ini adalah kompleks perumahan dan ada sekolah di pinggir jalan sana, tapi sekarang sudah jadi area bisnis. Bahkan ada mal bukan yang tidak jauh dari sini?”


Mona mengangguk kecil masih merasa lucu dengan perubahan Devin.


“Tanganmu gimana?”


“Lumayan baikkan. Oh, ya, maaf soal hari itu.”


“Santai aja.”


“Kalau kamu mau kita bisa pergi jalan bareng kapan-kapan.”


Devin tersenyum, “Wah, aku benar-benar senang kamu mau mengajakku.”

__ADS_1


Mona menunduk dan tersenyum.


“Gimana kalau besok?”


“Maaf, tapi aku benar-benar sibuk besok. Gimana kalau kita chattingan aja nanti sekalian bahas waktunya?”


“Tentu.”


Keduanya pun bertukar nomor telpon dan sosial media lainnya. Tepat setelah Mona menyimpan nomor Devin, mendadak seorang pria gemuk dengan rambut cepat berteriak dari depan restoran, “Vin! Ayo, sudah mau dimulai!”


Devin


mengangguk pada pria tersebut dan berkata pada Mona, “Sampai jumpa nanti, Mona.


Ah, sebaiknya kamu ambil ini. Meskipun kamu kelihatan cantik saat menangis aku


lebih suka versi yang bahagia.”


Devin menangkap tangan Mona dan memberikannya sebuah sapu tangan hitam. Devin pun langsung berbalik dan kembali masuk kedalam restoran. Mona terus memandangi pria tersebut sampai dia benar-benar hilang masuk kedalam. Mona pun tersenyum. Dia merasa hatinya sedikit tersentuh oleh kepekaan pria tersebut.


Mona segera menghubungi nomor Sherly dan berkata, “Sher, ayo pulang.”


***


Ketiganya adalah teman kecil dan kini mereka memegang perusahaan masing-masing yang diwarisi oleh kakek dan orang tua mereka. Devin kembali duduk di sofanya sementara dua rekan bisnisnya duduk di sofa panjang yang lain.


Aaron mengeluarkan obat sakit kepalanya dan menelannya tanpa air, dia berkata, “Semua pekerjaan ini bikin sakit kepala gue makin parah. Gak heran banyak pebisnis yang mati bunuh diri.”


Devin dan Nicholas tertawa kecil mendengarnya.


“Dev, lo tau gak gimana susahnya lengserin kakak tiri lo dari jabatan lo yang sekarang? Gila, orangnya batu banget kalo dibilangin tapi kalo udah masalah bisnis pasti curigaan banget. Untung ada keluarga Mafia itu yang ngebantuin. Apa nama keluarganya, Nic?”


Nicholas meneguk birnya. “Kolandam. Mereka kerjanya bagus.”


“Nah itu! Gila, kita hampir setahun ngejebak kakak tiri lo gabisa-bisa, tapi mereka cuman sebulan! Bayangin sebulan doang kakak lo langsung kabur darisini.”


Devin mengangguk. Dia ingat kalau alasannya meninggalkan Indonesia adalah karenakakak tirinya. Ayahnya  memiliki satu istri dan wanita simpanan, Devin anak yang terlahir dari wanita simpanan ayahnya namun diijinkan tinggal di rumah utama.


Devin tidak benar-benar mengenal ibunya, yang dia tahu ibunya hanyalah seorang gadis muda waktu melahirkannya dan kini tinggal di suatu pulau di Indonesia jauh dari keramaian. Devin tumbuh besar di rumah utama bersama ayah, ibu tiri, dan kakaktirinya.


Devin dan kakak tirinya membenci satu sama lain tapi tidak benar-benar pernah menunjukkannya. Saat kakaknya ditunjuk menjadi penerus, Aaron dan Nicholas yang dari awal juga tidak menyukai kakak Devin memutuskan bekerjasama untuk melengserkannya.

__ADS_1


Kini kakaknya kabur akibat skandalnya dan ayah Devin yang sudah tua terpaksa mempercayakan perusahaan pada anak haramnya. Devin paham betul statusnya di keluarga Dubois. Oleh karenanya dia butuh semacam pembuktian diri untuk bisa diterima.


“Sekarang lo udah balik, kita harus ngebahas rencana bisnis kedepan. Keluarga Dubois sekarang lagi goyah. Banyak keluarga jauh lo yang mulai klaim bisnis sana-sini. Apalagi sepupu lo.” kata Aaron dengan nada serius.


“Gue dengar lo lagi dekat sama anaknya pemilik Greenpoint Majesty Group, ya?” tanya Nicholas.


Aaron mangguk-mangguk, “Orang kaya baru itu ya…. Lumayan sih. Haha boleh juga lo Dev  baru balik udah nangkap satu ikan.”


“Sebenarnya gue dekat karena gue emang suka sama dia.”


Jawaban Devin membuat Aaron dan Nicholas menatap bingung kearahnya. Devin pun hanya menuang air ke gelasnya dan meneguknya sampai habis.


Aaron mengangkat bahu, “Well, kalau gitu beruntung deh. Jarang bisa nemuin orang yang tepat kalau lagi ngomongin pernikahan bisnis. Tapi tunggu, jangan-jangan anak pemilik Greenpoint Majesty Group itu yang tadi, ya?”


Devin mengangguk.


Aaron semakin terbelalak. Nicholas yang bingung bertanya, “Yang mana sih?”


“Tadisialan satu ini keluar kan buat mesan es batu tambah satu lagi, ternyata dia ketemu cewek yang ternyata Greenpoint Majesty Group. Ah, gila, lo hoki banget sumpah kalo bisa nikah sama cewek kayak gitu.”


“Cantik banget emang?” tanya Nicholas.


Aaron mendengus, “Yoi, istri lo mah kalah jauh. Kalo bandingin istri lo sama cewek barusan bagaikan langit sama dasar sumur tau gak hahah.”


Nicholas hanya tertawa kecil mendengar guyonan Aaron tentang istrinya. Nicholas meneguk lebih banyak birnya kemudian berkata, “Seenggaknya gue bukan tipe cowok yang kaku kalau ketemu cewek.”


Kini giliran Nicholas dan Devin yang tertawa.


Nicholas menyandarkan punggungnya di sofa lalu bertanya, “Dev, bokap lo gimana? Kemaren pas gue kesana kayaknya parah banget, deh. Dia emang udah tua sih….”


“Gue belum jenguk.”


“Wah durhaka emang. Lo gak takut apa dia nyabut hak waris lo?”


“Dia belum mau gue ngejenguk dia.”


Mendengar ini Aaron menghela napas berat. Dia ingat betul situasi Devin yang tidak menguntungkan dalam keluarga Dubois. Bahkan untuk bertemu dengan ayahnya sendiri dia perlu ijin dari keluarga yang lain.


Nicholas menatap tajam kearah Devin, “Jadi gimana? Lo mau kita ‘ngurusin’ keluarga utama lo yang lain?”


Devin diam sejenak memikirkan. “Itu emang efisien. Tapi mending jangan dulu. Kasus kakak gue masih lagi panas-panasnya, kalau om sama tante gue juga kena orang-orang pada bakal curiga.”

__ADS_1


Aaron tertawa kecil, “Gue juga ngerasa gitu. Mending santai aja dulu dan fokus sama bisnis. Hah, kayaknya untuk 20 tahun kedepan kerjaan kita cuman mempertahankan kerajaan bisnis yang udah dibangun generasi sebelumnya. Bersulang untuk hidup kaya yang menyebalkan!”


Nicholas mengangkat birnya dan Devin mengangkat gelas air putihnya. Ketiganya bersulang untuk masa depan yang bergejolak yang akan menghampiri mereka.


__ADS_2