Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XIII: Dia Yang Begitu Mendadak


__ADS_3

Setelah semalaman hujan, angin dingin berhembus dari puncak bukit dan tanah mulai mengering, meninggalkan sensasi segar udara dingin di pagi hari.


Angin sepoi-sepoi yang sejuk masuk ke ruangan melalui celah kecil di balkon, menggoyang tirai yang abu-abu kamarnya. Sakit kepala yang berdebar membangunkan Mona dari tidurnya. Dia membuka matanya yang berat dan mengangkat sekujur tubuhnya yang sakit turun dari kasur.


Mona memegang kepalanya yang berkedut sambil melirik jam yang tengah menunjukkan kini pukul 9 pagi. Mona berjalan menuju kamar mandi dan melihat kamar tamunya yang ditempati Sherly masih terkunci rapat.


Setelah mandi dan bersiap-siap Mona menuangkan cereal kedalam gelasnya dan meneguknya dengan susu putih. Cara yang tidak labil tapi efisien. Setelah perutnya terisi sedikit Mona yang masih sempoyongan akibat hangover berjalan kesana-kemari mencari kunci mobilnya.


Gagal menemukan kuncinya Mona pun pergi ke lobi dan naik taksi. Sesampainya di kantor Mona langsung pergi ke ruangannya dengan kepala pusing. Mona duduk di kursi beludrunya dan menatap layar desktop dengan malas. Mau tidak mau dia pun bekerja kembali.


***


Saat waktu makan siang Mona masih merasa pusing. Dia sudah bolak-balik dua kali ke kamar mandi untuk muntah. Mona menyandarkan punggungnya di kursi beludru sambil memandang langit-langit ruang kerjanya.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk, Mona melirik kearah pintu dan setelah pintu terbuka itu adalah Devin. Mona buru-buru bangkit dari kursinya dan berdiri dengan kikuk.


“Hai, kamu gak makan siang?” tanya Devin sambil tersenyum.


“Ah, aku lagi gak lapar….”


“Begitu, ya. Kalau begitu mau nemanin aku makan? Aku masih belum hafal jalan disekitar sini.”


Mona nampak ragu sejenak namun akhirnya mengiyakan. Keduanya turun ke lobi dan Devin pun mengatakan kalau dia mencari restoran dekat sini. Mona pun membawanya ke sebuah restoran paling dekat dari kantor.


Selama perjalanan kesana dibawah sinar matahari yang terik, kepala pusing Mona berdenyut makin hebat. Tubuhnya keringatan dan dia bisa merasakan kemeja hitamnya menjadi tidak nyaman. Setibanya mereka disana seorang pramusaji dengan seragam serba hitam menyambut dan mengantarkan mereka menuju meja paling pojok.


“Bisa saya catat pesanannya?”


“Saya pesan sup panas satu. Mungkin sup kental asin.” kata Devin tanpa membuka buku menu.


“Baik. Kalau untuk, mbaknya?”


Mona menggeleng pelan.


Pramusaji itu pun segera pergi.


“Kamu masih harus bekerja kan setelah ini?” tanya Devin.


“Iya, tapi tidak banyak lagi. Aku mungkin akan pulang setelah ini. Kamu sendiri kok bisa disini?”


“Aku sedang senggang dan aku mau menemuimu. Gak apa, ‘kan?”


Mona tersipu lalu mengangguk kecil.


Devin melirik tangan Mona, “Lukanya sepertinya sudah baikkan.”


“Iya, masih agak perih kalo kena air tapi setidaknya gak infeksi.”


“Kamu harus berhati-hati.”


“Iya, aku memang agak gegabah belakangan ini.”


“Banyak pikiran?”


“Yah.”


“Kerjaan?”


“Sedikit, hanya masalah gak masuk akal.”

__ADS_1


“Aku suka masalah yang tidak masuk akal.”


Mona pun tertawa mendengarnya. Keduanya terus asyik ngobrol sampai akhirnya sup yang diminta dihidangkan diatas meja. Devin mengaduk supnya, menambahkan sedikit banyak merica lalu mengangkat sendoknya kehadapan Mona.


“Ada apa?” tanya Mona bingung.


“Coba cicipi.”


Mona pun melakukan yang diminta Devin. Devin tersenyum kemudian bertanya, “Bagaimana rasanya?”


“Cukup enak.”


Devin mengaduk supnya lagi lalu mengisi sendoknya lagi kali ini sampai penuh lalu menyodorkan pada Mona sekali lagi.


“Kenapa lagi?”


“Coba lagi.”


Mona menatap curiga, “Kamu gak lagi ngeracunin aku, ‘kan?”


“Haha kalau mau aku punya beberapa di mobil.”


Mona pun tersenyum dan melahap supnya. Dia berkata dengan mulut penuh, “Sup ini enak.”


Devin tiba-tiba menyodorkan mangkuk supnya pada Mona. “Makan lah kalau begitu.”


“Heh? Tapi?”


“Aku tahu kepalamu sedang pusing makanya aku memesan sup. Permisi mbak!”


Pramusaji yang tadi kembali ke meja mereka, “Iya, pak?”


“Tentu, pak. Ikan air tawar atau asin?”


“Yang mana saja yang penting tulangnya gak banyak.”


“Baik, minumannya mungkin?”


“Teh panas untuk mbak ini dan saya minta air putih biasa.”


Pramusaji itu mengangguk lalu segera berbalik pergi.


Mona memandang Devin dengan mata menyelidik.


Devin pun tertawa kecil dan berkata, “Makan saja. Kalau tidak habis aku yang habiskan.”


“Makanmu banyak juga.”


“Aku butuh tenaga ekstra untuk acara kita setelah ini.”


“Acara kita?”


“Yah, ayo pergi ke taman hiburan setelah ini. Kamu kan katanya mau pulang setelah ini.”


“Lah? Memangnya kamu gak ada pekerjaan yang harus dilakukan?”


“Asistenku akan mengerjakannya.”


Mona menatap Devin tak percaya. Bagaimana cara orang ini memanipulasinya untuk makan dan kini mengajaknya berkencan dadakan membuatnya nampak sedikit susah di prediksi. Pandangan Mona tentang Devin adalah dia hanya seorang pria kaya dari keluarga terpandang.

__ADS_1


Patuh pada orang tuanya dan baik hati. Namun setelah melihat sisi Devin yang begitu ulet dalam mempengaruhi orang lain membuat Mona sedikit kaget. Dia tidak pernah benar-benar bertemu dengan seseorang yang begitu mudah mempengaruhi dirinya.


Mona pun menyeruput supnya dalam diam. Dia tahu jauh dalam hati kecilnya tumbuh perasaan penasaran terhadap pria didepannya. Dia berbeda.


“Apa kamu punya pacar?” tanya Mona dengan nada serius.


“Tidak.”


“Bagaimana dengan istri?”


“Haha belum juga. Kenapa tiba-tiba bertanya?”


“Maaf, aku hanya paranoid. Biasanya orang baik yang mendekatiku biasanya sudah punya pacar atau istri. Aku hanya ingin memastikan.”


Devin tersenyum, “Bagaimana denganmu? Apa kamu punya pacar? Atau suami mungkin?”


Dalam sekejap wajah Gama langsung muncul di kepalanya namun Mona buru-buru menghilangkan pikiran itu dan menjawab, “Aku jomblo.”


“Aku juga. Jadi tidak masalah kan kita pergi ke taman hiburan bersama?”


“Tentu.”


Devin tersenyum, “Tapi kau sebaiknya menghabiskan makananmu. Kita akan menguras banyak tenaga setelah ini.”


“Kenapa begitu?”


“Kapan terakhir kali kamu naik bis?”


Mata Mona terbelalak, “Kamu mau kita kesana naik bis? Jam segini?”


“Haha kenapa nggak? Pasti seru.”


Seumur hidupnya dia pernah mendengar ada cowok yang mengajaknya berkencan dan harus naik transportasi umum. Mendengar ini Mona merasa sedikit aneh. Tapi keberanian Devin membuat Mona semakin penasaran dengannya.


“Baiklah, aku terima tantanganmu. Apa kamu takut ketinggian?” tanya Mona.


“Lumayan.”


“Kalau begitu aku mau kita naik roller coaster.”


“Haha baiklah.”


Mona masih memandang Devin sambil memikirkan serangan balasan selanjutnya namun tiba-tiba ponsel Devin berdering dan setelah melihat nama yang tertera di layar wajah Devin langsung gusar seketika.


Devin berusaha untuk meyembunyikannya namun emosi dan aura gelap berkumpul disekitarnya. Mona yang merasakan perubahan ekspresi Devin yang begitu mendadak membuatnya penasaran. Tapi dia tetap diam dan hanya mengamati sambil memakan sup.


Untuk kedua kalinya ponsel Devin berdering lagi. Devin menyambar ponselnya dan langsung mematikan hpnya. Dia menghela napas berat lalu memandang Mona dan berkata, “Maaf.”


Mona yang sedang makan menggeleng kecil dan berkata, “Tidak apa-apa. Memangnya siapa tadi?”


“Ah, hanya adik perempuanku.”


"Wah,  aku juga punya adik perempuan. Aku tidak akrab dengannya.”


“Kita sama sepertinya.” Devin pun tersenyum. Devin melanjutkan, “Aku harap kencan kali ini kamu tidak terluka.”


Mona tersenyum mengejek, “Jangan khawatir, aku kuat kok.”


Devin pun hanya tertawa dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2