Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XXI: Insecure


__ADS_3

đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–


WARNING 21+


Terimakasih sudah mau mampir. Jangan lupa tinggalkan komen dan like kalian, support kalian sangat membantu Sofi untuk menulis cerita yang lebih baik. Enjoy the story!


 


 


đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–


Gama mengiris daging steak Mona hingga menjadi potongan-potongan kecil lalu meletakkannya kembali di hadapan Mona.


Sementara itu Mona masih termanggu, bengong sambil menatap langit-langit restoran. Restoran steak langganan mereka nampak begitu padat malam ini. Wajar saja, ini adalah malam minggu.


Melihat ini Gama memasukkan potongan paling besar ke dalam mulutnya kemudian bertanya dengan mulut penuh, “Hari rabu kemaren lo kemana?”


Mona tersadar dari lamunannya, “Hah? Gimana?”


“Gue telfon gak lo angkat.”


“Ah, sorry gue lagi ke taman hiburan.”


“Pas hari kerja?”


“Iya, lagian itu mendadak banget.”


“Bareng Sherly?”


Mona menggeleng pelan, “Sama cowok yang dikenalin bokap waktu itu. Si Devin.”


Gama menatap Mona yang tengah mengambil garpu dan pisau lalu memakan steaknya. Sorot mata Gama yang tajam menyiratkan bahwa dia merasa kalau posisinya sedang tidak baik sekarang.


“Lo udah pacaran sama dia?”


“Siapa? Devin? Nggak kok.”


“Tapi dekat kan?”


“Lumayan. Kenapa emang?”


Gama meletakkan perlengkapan makannya di meja lalu menyandarkan punggung di kursinya. Gama menatap Mona yang tengah makan kemudian berkata, “Kita makan bareng gini gapapa?”


“Gapapa kok. Emang kenapa sih? Tumben deh lo malam ini aneh banget.”


“Lah kan lo sendiri yang bilang waktu itu kalau lo udah punya pacar hubungan FWB-an kita harus break dulu.”


“Tapi kan gue sama Devin gak pacaran.”


“Kan lagi dekat.”


“Dekat belum tentu pacaran lagi. Udah deh, gak usah bahas gituan dulu. Yang pasti malam ini gue mau malam mingguan bareng lo.”

__ADS_1


Gama tertawa kecil mendengarnya kemudian kembali memakan steaknya. Keduanya kembali terdiam dan makan dalam kesunyian.


Gama diam-diam terus memperhatikan Mona. Wanita di depannya ini nampak beda dari sebelumnya. Nampak lebih pendiam dan lebih mudah terganggu.


Sesuatu pasti masih menganggunya. Entah apa, tapi Gama yakin betul bertanya langsung tidak mungkin dijawab oleh orang seperti Mona.


Setelah makanan keduanya habis, Gama masih terus memandangi Mona. Mona yang sadar sedang diperhatikan tersenyum kemudian berkata, “Kenapa sih? Liatinnya kok sampai gitu banget.”


“Lo cantik malam ini.”


Pujian itu membuat jantung Mona berdebar kencang. Jarang-jarang Gama memujinya begitu. Mona meraih gelas lemon squashnya lalu meneguk cukup banyak.


Setelah merasa cukup tenang baru lah dia membalas, “Halah, gombal banget. Pasti ada maunya.”


“Gak juga, lo emang cantik malam ini.”


“Biasanya enggak ya?”


“Iya.”


Mona langsung mengerutkan dahi, “Makasih loh.”


“Mon, menurut lo kalau kita pacaran bakalan cocok nggak?”


“Kenapa tiba-tiba nanya gituan sih? Sumpah lo malam ini aneh banget.”


“Jawab aja.”


Gama menghela napas berat, “Gue ngerasa bakalan kangen aja. Gak tahu kenapa, ngebayangin lo udah punya pacar nanti bikin gue bakal kangen banget sama lo.”


“Maksudnya sama tubuh gue?”


“Itu juga, tapi lebih dari itu. Lo lebih dari sekedar teman FWB-an, gue ngerasa kita sahabatan, teman curhat, bisa jadi teman ranjang itu nilai plusnya.”


Mona tersenyum lebar. Dia merasa senang mendengar kejujuran Gama. Mona berkata, “Lo tahu gak apa yang bikin gue betah banget lama-lama ngehabisin waktu sama lo?”


Gama menyeduh soda dinginnya dan mengangkat alis tanda bertanya.


“Lo orangnya blak-blakan banget dan gak tahu malu. Gue suka cowok yang kayak gitu.”


Gama mendengus, “Siapa sih yang gak suka orang jujur?”


“Iya-iya….”


Keduanya kembali terdiam. Saling pandang sejenak lalu membuang muka ke tempat lain. Saat itu keduanya sadar bahwa ini pertama kalinya keduanya membicarakan perasaan mereka yang sesungguhnya.


Bukan suka, apalagi cinta, hanya perasaan nyaman dan membutuhkan satu sama lain.


“Lo belum jawab pertanyaan gue,” kata Gama.


“Oh iya, soal kita pacaran bakal cocok itu ya? Hmm, menurut gue sih kayaknya cocok-cocok aja sih. Lo orangnya kan cuek gitu, gak ngatur-ngatur juga, iya, kayaknya bakalan cocok sih.”


“Gitu ya. Tapi gue gak suka sama lo, gimana dong?”

__ADS_1


Mona meringis pelan, “Cih, lagian siapa juga yang bilang suka sama lo!”


Gama tertawa lalu Mona pun ikut tertawa. Keduanya terus bersenda gurau sampai waktu tidak terasa sudah lewat dua jam.


Pemandangan keduanya yang bercanda akrab mengirimkan sinyal salah bagi orang-orang yang melihat keduanya. Dikira pasangan, padahal bukan. Sahabat, mereka kelihatan terlalu intim.


Akibatnya orang-orang ditinggalkan dengan menebak-nebak apa hubungan mereka sesungguhnya. Mona menghapus air matanya akibat tertawa terlalu keras kemudian berkata, “Gam, malam ini gak bisa ke apart gue. Kan ada si Sherly. Di rumah lo aja gimana?”


“Yah rumah gue juga lagi ada tamu.”


“Ya terus? Kita kan di kamar gak di ruang tamu atau dapur kali.”


“Gimana ya, lo kalo ngerang keras banget. Tamu gue punya anak ntar kalau dia dengar gituan kan kasihan.”


Pipi Mona memerah mengingat bagaimana dia mengerang terakhir kali mereka bermain.


“Jadi…. Ke hotel aja?”


Gama tersenyum kecil, “Boleh.”


Keduanya pun membayar makanan masing-masing lalu berjalan ke parkiran. Gama mengemudikan mobil Mona menuju hotel disekitar situ. Setelah memesan kamar dan mendapat kunci keduanya langsung masuk ke lift menuju kamar mereka.


Di dalam lift, Mona yang tengah berkaca tiba-tiba merasakan tangan kiri Gama melingkar di pinggangnya. Gama berpose seolah dia model dan itu membuat Mona tersenyum.


“Kita kalo dekat gini kayak orang pacaran, ya?”


“Haha becandaan mulu lo mah.” Mona menoyor kepala Gama pelan.


Saat pintu lift terbuka keduanya langsung menuju kamar mereka. Sesampainya disana Mona nampak takjub dengan kamar mereka. Rupa-rupanya Gama memesan kamar paling mewah yang tersedia.


Mona meletakkan tasnya di kasur dan berdiri di jendela melihat pemandangan kota diluar sana. Lampu kerlap-kerlip yang gemerlapan menghiasi seluruh penjuru kota.


Dari atas sini, semuanya kelihatan begitu kecil bak semut. Melihat Mona yang tengah terenyak dengan pemandangan memberikan Gama kesempatan untuk memeluknya dari belakang.


Mona tersenyum lalu memberikan kecupan ringan di pipi Gama.


“Lo suka pemandangannya?” tanya Gama.


“Banget. Kenapa ya apart gue gak bisa dapat pemandangan sebagus ini?”


“Kalau mau gue bisa tambah satu malam lagi buat besok.”


Mona tersenyum, “Boleh.”


Tepat setelah Mona bilang begitu Gama yang dari tadi sudah tidak bisa menahan diri langsung memberikan ciuman mesra ke bibir Mona.


Mona mau tidak mau langsung berbalik menghadap Gama dan membalas ciumannya. Selama ciuman panjang itu tangan Gama menjalar ke pinggang Mona dan terus ke bawah.


Mona yang biasanya selalu di dominasi berganti menyerang balik dan mencium Gama sambil mendorongnya perlahan kearah kasur.


Saat akhirnya kaki Gama menabrak ujung kasur, keduanya langsung terjungkal ke kasur dan tertawa kecil. Namun Mona buru-buru mengambil posisi di atas lalu lanjut mengulum bibir Gama.


Sambil terus menciumnya, Mona perlahan membuka resleting celan chino coklat Gama dan mengeluarkan kejantanannya. Mona perlahan turun lalu memberikan jenis foreplay yang paling disukai Gama sebelum waktu bercinta panjang mereka malam ini

__ADS_1


__ADS_2