Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR V: Salah Tingkah


__ADS_3

Mona sedikit mengangguk ketika dia menurunkan pandangannya untuk menyuap lebih banyak es krim kedalam mulutnya. Dia berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk menjelaskan, “Sejak saya masih SMP, ibu saya selalu melarang saya memakan makanan manis berlebih. Seperti es krim ini dan coklat batangan. Waktu masih kecil saya tumbuh dengan gigi susu yang keropos dan nyaris hitam semua akibat terlalu banyak mengkonsumsi gula. Ketika saya bertambah dewasa, saya kembali pada kebiasaan buruk ini dan terus memakan makanan manis.”


Devin tersenyum mendengarnya. Saat dia hendak mengatakan sesuatu, ponselnya tiba-tiba berdengung. Dia memandang dan mengangguk sebagai kode meminta maaf sebelum menjawab panggilan.


“Halo, pak Benny.”


Mona nyaris memuntahkan es krim yang tengah ditelannya saat mendengar nama tersebut. Nama Papanya. Mona pun langsung memasang telinga berusaha mendengar percakapan keduanya.


“Ah, iya, saya sedang bersama Mona sekarang. Iya, kami sedang makan es krim. Baiklah, terimaksih banyak kalau begitu. Selamat malam.”


Devin menutup panggilan barusan dan tersenyum lebar kearah Mona. “Pak Benny benar-benar perhatian kepada anda.”


Mona mengangguk kecil.


“Kau sepertinya diberkahi dua orangtua yang benar-benar peduli kepadamu.”


“Tidak juga, mereka hanya melakukan semua itu untuk menjaga citra mereka. Kau tahu kan kalau kedua orangtuaku sudah bercerai?”


Devin mengangguk, “Aku dengar mereka berpisah beberapa tahun yang lalu.”


“Tepatnya saat aku masih SMA. Saat harusnya aku debut SMA sebagai gadis cantik dengan latar belakang sempurna, kedua orang itu malah mengacaukannya.”


Mona memasukkan lebih banyak es krim kedalam mulutnya karena kesal mengingat momen tersebut. Ingatan masa lalu yang selalu dikuburnya dalam-dalam mendadak tumpah keluar dan mau tidak mau itu membuatnya emosional.


Keduanya saling mendiamkan sejenak untuk menikmati momen es krim mereka. Ruangan spesial mereka yang menghadap jendela kaca raksasa yang menunjukkan pemandangan taman membuat keduanya betah saling mendiamkan.


Angin dingin berhembus masuk dari jendela, rasa dingin yang tiba-tiba menyerang saat hening mereka. Mona yang menggunakan pakaian tipis mau tidak mau menggigil pelan.


Hawa dingin yang merasuk membuat Mona buru-buru mencari penghangatan. Matanya tertuju pada teko teh yang terbuat dari kaca yang tadi dipesan Devin sebelum dirinya datang. Mona menempelkan tangannya ke permukaan teko tapi panasnya berlebihan dan membuatnya kaget.

__ADS_1


Mona tanpa sengaja menyenggol teko tersebut dan jatuh ke lantai dan pecah.


“Astaga! Maaf!”


Mona buru-buru berdiri lalu membungkuk untuk memungut pecahan kaca dari teko tersebut. Namun saat Mona mencoba menyentuh salah satu potongan terbesar tersebut itu malah menyayat permukaan tangannya.


Mona meringis kecil, Devin yang melihat semua ini buru-buru berdiri dan menghampiri Mona. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jeansnya lalu buru-buru membalut tangan Mona. Selama proses ini Mona hanya bisa diam dan menonton termanggu.


“Hati-hati.”


Mona nampak ragu-ragu sejenak, lalu perlahan menerimanya.


“Terimakasih.” Mona mengucapkan terima kasih dengan lembut dan senyum minta maaf menyebar di wajah mungilnya yang cantik.


“Apakah terasa perih?”


Mona dengan ringan menggelengkan kepalanya. Cahaya di matanya tampak sangat redup, namun dia tersenyum dan menjawab dengan susah payah, “Jangan khawatir. Kalo sudah sampai dikamar aku akan mengobatinya.”


Devin dengan acuh tak acuh memandang ke luar jendela yang ditatap Mona sebelumnya. Suasana abu-abu tanpa batas diluar sana dengan angin sepoi-sepoi yang dingin masuk melalui jendela tampaknya membawa kelembaban dan mereka bisa melihat gerimis yang jatuh.


Setelah selesai membaluti permukaan tangan Mona yang terluka Devin membolak-balikkannya seolah mengecek seluruh sisinya.


“Ayo pergi ke rumah sakit. Sebaiknya diobati sebelum terkena infeksi.”


Devin membantu Mona berdiri lalu keduanya berjalan keluar. Sesampainya diluar Devin berkata, “Dimana mobilmu?”


“Yang itu.”


Devin pelan-pelan membawa Mona menuju mobilnya lalu mendudukkannya di kursi penumpang.

__ADS_1


“Aku akan kedalam sebentar dan membayar. Tidak akan lama. Tunggu sebentar ya.”


Mona hanya mengangguk. Didalam mobil seorang diri Mona hanya bisa diam dan menahansakitnya. Dia tidak tahu  perasaan apa yang tengah mengisi hatinya. Jantungnya berdebar kencang tapi bukan dalam artian menyakitkan.


Setelah agak lama Devin kembali dan duduk di kursi kemudi di samping Mona.


“Kuncimu.”


Mona dengan susah payah membuka tasnya lalu menyerahkan kunci mobilnya. Devin menerima kunci tersebut dan langsung menyalakan mobil lalu mengemudikannya ke jalan raya.


Keduanya kembali diam. Di luar sana berkabut dan gerimis. Jalanan basah dan para pejalan kaki bergegas mencari tempat berteduh. AC mobil sengaja Devin naikkan agar suhu tidak terlalu dingin tapi tetap tidak membuat kaca mobil beruap. Dalam suasa dingin tersebut ada kehangatan sederhana yang mengalir di dalam mobil, mengusir rasa dingin yang datang dari luar.


“Kota ini banyak berubah. Waktu kecil dulu aku ingat kawasan sekitar disini masih dalam pembangunan. Sekarang sudah menjadi area bisnis yang padat. Waktu berjalan begitu cepat.”


Mona menoleh kearah Devin lalu mengangguk kecil. Mona tiba-tiba ingat bahwa Devin telah tinggal di Jepang selama beberapa tahun terakhir, jadi dia tersenyum dan berkata, “Ya, terutama beberapa tahun terakhir ini, walikota yang baru bekerja dengan sangat baik dan membuat kawasan ini jadi kawasan paling produktif di kota ini.”


Perusahaan bapaknya, Greenpoint Majesty Group, memiliki beberapa proyek di sekitar kawasan ini juga dan Mona bertanggung jawab atas salah satu proyek yang ada sehingga Mona cukup familiar dengan suasana disini.


Itu adalah akhir pekan. Mona dipaksa Papanya yang selama ini diam soal perjodohan dan harus pergi meskipun kabut dan gerimis di hari libur begini. Namun entah mengapa Mona tidak menyesal seperti biasanya. Dia diam-diam melirik kearah Devin selama perjalanan mereka menuju rumah sakit terdekat. Satu hal yang Mona ketahui, jantungnya terus berdebar kencang disamping pria ini.


Terimakasih sudah mau mampir. Jangan lupa tinggalkan komen dan like kalian, support kalian sangat membantu Sofi untuk menulis cerita yang lebih baik. Enjoy the story!


💖


💖


💖


💖

__ADS_1


💖


Terimakasih sudah mau mampir. Jangan lupa tinggalkan komen dan like kalian, support kalian sangat membantu Sofi untuk menulis cerita yang lebih baik. Enjoy the story!


__ADS_2