
Sementara Mona baru saja pulang ke apartemennya untuk beristirahat, Gama harus pergi ke distrik selatan karena sang kakek memanggilnya.
“Siapa wanita ini? Apa dia orang penting?” tanya Gama sembari menyisir rambut.
“Seorang teman lama.” Jawab Arnold sekretaris kakeknya singkat.
Gama mangguk-mangguk paham lalu berbelok di ujung lorong dan masuk kedalam kantor yang telah disiapkan. Di dalam sana, duduk seorang wanita paruh baya. Rambutnya pendek seleher model bob. Sementara hidungnya pesek nyaris bersembunyi malu. Kulitnya terang dan nampak kencang tanpa kerut.
Saat Gama masuk, wanita itu segera berbalik lalu memberi anggukkan kecil seolah memberi penghormatan sebagaimana mestinya tamu yang menghormati kebaikkan tuan rumah. Gama melakukan hal yang sama.
Setelah formalitas seadanya, wanita itu berbalik lagi menghadap kakek Lim, kakek Gama sekaligus kepala keluarga kolandam yang kini tengah duduk di kursi beludru. Pria tersebut kelihatan tua dimakan usia, wajahnya yang cacat miring ke samping akibat luka lama di masa muda membuatnya nampak menyeramkan. Rambut-rambutnya yang memutih disisir rapi kebelakang. Tubuh tuanya yang renta nampak bungkuk, bahkan saat duduk. Meski dengan penampilan wajah yang fatal, kakek Lim memperlakukan tamunya dengan hangat.
“Ernie, sayang, senang bertemu denganmu lagi. Apa yang bisa kulakukan untukmu di hari bahagia ini?” tanya kakek Lim dengan nada parau yang berat seolah dia nyaris kehilangan suaranya.
“Tuan Lim, sebelumnya aku ingin minta maaf karena tidak pernah berkunjung. Anda tahu keadaan keluargaku. Kami bahkan terlalu miskin untuk pergi berlibur dan harus kuakui itu salahku dan suamiku. Hutang kami masih menumpuk, nyaris semua gaji suamiku digunakan untuk membayar hutang dan cicilan. Hanya tersedia sedikit untuk putriku, Gwen.”
Wanita bernama Ernie itu menghela napas dan melanjutkan. “Putriku sebentar lagi dewasa dan aku tidak ingin hidupnya sepertiku. Dia anak yang baik, penurut, dan bisa diandalkan. Akan sayang sekali kalau hidupnya berakhir menyedihkan sepertiku. Aku ingin dia jadi wanita percaya diri yang independen yang tidak perlu bergantung pada suaminya setelah mereka menikah nanti.
Oleh karenanya, aku ingin dia seTuan Limlah dan pergi kuliah di kampus besar juga mendapatkan fasiltas terbaik yang bisa kami berikan. Namun suamiku punya pikiran lain, otaknya Tuan Limlot dan tidak mau mengikuti perkembangan zaman. Dia hanya mau melihat putrinya menikah, lalu jadi ibu rumah tangga biasa yang taat pada suaminya. Karena itu kami sering bertengkar.
Suamiku juga mulai sering minum-minum dan aku tidak tahu bagaimana menghentikannya. Aku tahu dia sendiri punya masalah. Masalah pria pada umumnya dan dia sama sekali tidak pernah membicarakan masalah-masalah itu padaku, jadi bagaimana aku bisa menolongnya? Dia bahkan jarang di rumah saat tidak bekerja.
Dia lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya ketimbang bersama anak tunggalnya. Baiklah, aku tidak mempermasalahkan itu. Lagi pula sudah sejak lama aku berhenti peduli padanya. Hanya saja apabila dia tidak punya waktu untuk kami, paling tidak berikan aku sedikit uang tambahan agar bisa memberikan Gwen les musik yang dia inginkan.
Gadis malang itu bahkan pernah ketangkapan ayahnya bekerja paruh waktu sepulang sekolah, setiap hari hingga tengah malam hanya demi dapat uang dan ikut les. Demi Tuhan, saat aku mengetahuinya aku langsung menangis. Saat itu juga aku merasa gagal sebagai seorang ibu.”
Ernie buru-buru menyeka air matanya yang nyaris jatuh kemudian melanjutkan, “Aku kesini untuk meminta pertolonganmu, Tuan Lim. Kemarin malam aku bertengkar dengan suamiku seperti biasa. Dia pulang dalam keadaan setengah mabuk dan mulai cari gara-gara. Saat bertengkar, aku tidak sengaja menghantam belakang kepalanya dengan kendi.
Dia masih hidup dan hanya pingsan setelah pukulan kecil itu. Waktu itu aku seolah tidak sadar dengan apa yang kulakukan. Aku takut setengah mati kalau dia sudah sadar nanti dia bakal membalasku bahkan mungkin membunuhku. Aku panik, aku memutuskan untuk kabur sambil membawa anakku kesini.
Saat ini kami tidak punya uang lagi, hanya menetap di penginapan murah dekat sini dan demi Tuhan aku bahkan tidak tahu uangku cukup untuk makan besok. Tuan Lim, aku kesini minta pertolongan. Tolong berikan kami perlindunganmu dan jauhkan kami dari balas dendam suamiku. Hanya Tuan Lim yang bisa menolong kami, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain, Tuan Lim, jadi kumohon, aku benar-benar butuh pertolongan kali ini.”
Kakek Lim menggaruk pipinya. Wajahnya berubah jengkel dan dingin, “Kenapa kau melakukannya? Memukul suamimu dengan kendi begitu? Apa kau berniat membunuhnya?”
Keringat dingin menghujami punggung Ernie dan dia buru-buru mengangkat tangan menggelengkan kepalanya lalu menjawab, “Bukan begitu, Tuan Lim! Itu spontan, dia menampar pipiku dan aku serentak mengambil apapun yang ada di belakangku dan kebetulan itu adalah kendi keramik. Aku sama sekali tidak berniat membunuhnya, sumpah demi Tuhan!”
Kakek Lim bergegas menyela, “Apa kau memastikan dia tidak mati?”
“Anakku mengobatinya saat dia belum sadarkan diri. Tidak ada darah, jadi aku yakin dia baik-baik saja.”
Kakek Lim menyandarkan punggungnya di kursi kemudian berkata singkat, “Sejak kapan kalian mulai bertengkar?”
“Lima tahun yang lalu. Gwen masih SMP waktu itu dan suamiku nampak kacau sepulang kerja. Aku tahu harinya buruk oleh karenanya aku mencoba mendekatinya. Menolong layaknya istri yang baik, tapi dia malah mengusirku.
Aku benar-benar kaget malam itu. Tidak pernah aku melihatnya kesal sedemikian rupa seumur hidup. Dia laki-laki pendiam sebelumnya. Jarang mengeluh dan bahkan kalau pun ada bukan sesuatu yang benar-benar besar.
Namun kini dia berubah kacau dan aku sama sekali tidak tahu alasannya. Beberapa kali aku mencoba cari tahu tapi dia tidak pernah mau bicara. Bahkan di saat dia kelihatan stabil pun mulutnya tetap terkatup rapat menolak beri tahu. Lama kelamaan aku ikut jengkel juga dengan tingkah egoisnya.
Kalau seandainya dia memang punya masalah dan tidak bisa membicarakannya denganku, paling tidak jangan mengacau dan buat orang lain kesusahan. Lagaknya perlahan berubah menjengkelkan, dia mulai menuntut yang aneh-aneh saat di rumah seolah dia raja dunia. Ah, mungkin sejak itu lah aku sadar perubahannya ini bukan jenis yang sementara.
__ADS_1
Dia mulai bertransformasi jadi orang lain dan aku benar-benar menyesalinya. Untuk beberapa tahun aku mencoba melawan memperjuangkan hakku sebagai istri. Tapi dia malah menghajarku bilang kalau aku tidak tahu terimakasih dan bahwa aku yang jadi alasan karirnya kandas selama ini.
Aku mulai melawan saat dia mengataiku, membalasnya kalau dia berani memukulku, tapi bukannya sadar dia malah nampak menikmatinya. Aku tidak mengerti kenapa dia sangat suka bertengkar dan cari masalah denganku layaknya anak kecil.
Sering kali dia pulang waktu mabuk dan mulai memecahkan piring dan gelas di dapur hanya untuk membangunkanku dan memulai pertengkaran. Sulit untuk tidak meladeninya, saraf-sarafku tidak muda lagi dan aku mulai tersinggung dengan segala tindak-tanduknya. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya.”
Wajah Kakek Lim masih dingin tak bersimpatik. “Ernie, urusan bagaimana orang memperlakukan keluarganya bukan sesuatu yang bisa aku campuri. Meski suamimu memukulimu atau mengataimu, itu semua bukan sesuatu yang harusnya kau limpahkan ke orang luar sepertiku.
Ya, aku sahabat ayahmu. Ya, kamu juga pernah membantu mengurusi cucu-cucuku setelah ibu dan ayah mereka yang malang meninggal 15 tahun yang lalu, semoga jiwa mereka tenang disana. Sejatinya aku memang teramat senang bisa membalas semua kebaikkanmu yang sudah dilakukan pada keluargaku.
Kamu wanita yang baik dan aku menghormatimu. Tapi aku tidak bisa membantumu begitu saja dan ikut campur kecuali suamimu juga setuju untuk membiarkanmu dibantu. Lagi pula, aku hanyalah orang luar.”
“Berarti aku harus meminta ijin dulu padanya?”
Kakek Lim menatap sengit. “Dia suamimu dan sudah semestinya begitu. Kita mencoba melakukan kebaikkan disini. Kalau memang seandainya dia memang merasa kau jadi penghalang karirnya selama ini, harusnya dia senang kau tidak lagi ada disekitarnya.”
Ernie mengernyit dan merasa timpang hatinya. Logika yang coba dijejalkan kakek Lim terasa menggelikan di kepalanya. Namun dia sebisa mungkin memasang muka hormat dihadapannya. Ernie mencoba menjelaskan, “Tuan Lim, sepertinya kamu salah mengerti. Suamiku memiliki tantrum setara dengan anak 5 tahun dan suka melihat orang lain kesusahan. Hatinya berisik dengan bisikkan setan dan dia senang berbuat sesukanya. Bicara baik-baik tidak akan berhasil. Aku sudah mencobanya. Sedetik setelah Tuan menjejalkan pikiran baik tadi dia akan langsung menolak dan memintamu menyerahkanku.”
Kakek Lim berkata jengkel, “Lalu kenapa kalau dia minta begitu? Itu haknya bukan sebagai suami? Anggap lah aku tua dan tidak fleksibel, aku memang orang kampung yang masih menghargai norma dan adat kita. Hubungan suami-istri merupakan sesuatu yang sakral, kalian mengikat janji dihadapan Tuhan, entah bagaimana cara kalian
saling memperlakukan bukan lagi urusan orang-orang dan akan ada hari pertanggung jawaban untuk semua yang kalian lakukan. Sekarang kamu disini, datang di hari pernikahan cucuku dan mengacaukan suasana malam dengan semua rengekkan manjamu. Oh, aku harus bagaimana ini? Suamiku memukuliku dan aku sudah tidak tahan lagi.”
Peniruan mendadak dari kakek Lim membuat Gama tertawa lepas sementara Ernie menunduk malu. Namun kakek Lim masih belum selesai, dia melanjutkan, “Jangan mulai menyalahkan seperti itu seolah kamu orang paling malang di bumi ini. Kamu selalu jadi sosok wanita yang keras dari dulu. Paling sok tahu mana yang benar dan terbaik untuk diri sendiri.
Sekarang lihat dirimu. Masih bisa berbangga dengan semuanya? Saat ayahmu menjodohkanmu dengan putra bungsuku kamu dengan gampang menolaknya seolah dia golongan paling rendah. Kamu merasa terlalu hebat dan terlalu baik untuk putraku yang tidak lebih hanya seorang lulusan SMA.
Ayahmu datang kepadaku tanpa daya menjelaskan kalau kamu menginginkan pria yang lebih matang, lebih berkelas dan punya penampilan menarik anak kota metropolitan. Sedari dulu ayahmu selalu menjadikanmu anak favorit dan kamu tahu itu.
Ernie menundukkan wajah lebih dalam dan kedua pipinya mulai memerah. Rasa malu kini mengisi rongga-rongga tubuhnya. Hatinya kalut beragam dengan semua perasaan yang mulai mengacaukan. Sedikit dia melirik hanya untuk menemukan sorot mata Ko Sami masih menunggu jawabannya. Ernie menunduk lagi menghindari tatapan menghakimi. Dia memilih untuk diam takut kalau-kalau jawabannya malahan memperburuk keadaan.
“Kau berteman baik dengan cucu tertuaku, oleh karenanya kuijinkan kau datang kesini sebagai bentuk penghormatan pribadiku padamu. Saat mereka bilang kau kesini untuk minta pertolongan, aku pun menerimamu dan mendengarkan semuanya baik-baik.
Tapi kenapa tingkahmu jadi lebih menjengkelkan dari biasanya? Tinggal di ibukota membuatmu merasa hebat? Merasa lebih baik dari kaummu, lebih tinggi derajatmu dari orang-orang kita yang nasibnya tidak seberuntungmu?”
Ernie mendadak merasa cukup. Emosinya yang tidak tertahan ditumpahkan dengan nada menantang, “Dengan segala hormat, aku sama sekali tidak merasa begitu. Aku kesini mencari bantuan, bukan untuk diperlakukan begini.
Kalau permintaanku dirasa terlalu berat maka anggaplah ini semua bisnis belaka. Tidak perlu mengingatkanku soal masa lalu begitu. Aku akan membayar semuanya saat aku sudah punya uang yang cukup. Permintaanku hanya satu, jaga anakku, sekolahkan dia dan jadikan dia wanita mandiri.”
Begitu mendengarnya, baik Arnold maupun Gama langsung mengernyit, kagum dengan keberanian wanita ini. Gama tiba-tiba tertawa kecil sambil diam-diam menatap kakek Lim dan Ernie bergantian. Tidak sabar menunggu balasan kakek Lim pada wanita ini. Sementara itu mata Ernie masih berkilat-kilat penuh emosi menatap kakek Lim bak rubah mengawasi si raja hutan.
Kakek Lim bangkit dari belakang meja, air mukanya masih datar berubah keruh dengan perasaan gundah yang mengisi. Dengan suara menggelegar ditunjukkan pada Ernie dia berkata, “Aku sudah mengenalmu sejak kau masih belajar berjalan di atas lantai dingin rumahmu. Kau tumbuh jadi gadis angkuh yang tidak pernah mengenal kata puas diri.
Kau tidak mengenal yang namanya berterimakasih dan sopan santun pada orang yang lebih tua. Aku tahu apa
memperlakukanmu layaknya tuan putri seperti yang dilakukan orang-orang di kota asal kita.
Kau kemudian membalasnya dengan menolak perjodohan yang diatur ayahmu hanya untuk mempermalukan kami berdua. Dengan begitu kau menunjukkan pada semua orang bahwa kau bukan wanita pada umumnya dan mampu mengendalikan nasibmu sendiri.”
“Tuan Lim, bukan itu maksudku.”
__ADS_1
“Tidak. Jangan bicara. Kau menganggap kau spesial, diberkahi dengan wajah yang rupawan dan otak gemilang yang bahkan aku pun tak mampu menyangkalnya. Disaat kau merasa matang, kau lari dari rumah supaya bisa bersama suamimu.
Kau bahkan tidak pernah mengabari ayah dan ibumu yang tiap hari menunggumu kembali. Pernah sekali waktu itu ayahmu yang tua datang ke tempatku, sujud dihadapanku lalu menyembah-nyembah mohon agar aku menggunakan orang-orangku untuk membawamu paksa kembali ke kota tempatmu dibesarkan.
Tapi asal kau tahu saja, aku menolaknya. Kukatakan, ‘Ernie sudah dewasa. Tahu mana yang benar mana yang salah. Dia tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kalian justru harusnya bangga pada anak itu.’ aku terus menasehatinya untuk berjam-jam kemudian sampai akhirnya dia lelah sendiri dan pamit.
Sejak itu, dia kelihatan lebih segar dan kesehatannya pun kembali. Aku mendengar kabar kalau di tahun-tahun awal setelah pernikahanmu kau juga bekerja. Dengan begitu kau dan suamimu mendapat kehidupan yang layak di ibukota.
Tapi tidak lama kemudian kau dan suamimu ditipu dan uang yang kalian investasikan hilang semua. Kalian meminjam uang pada lintah darat dan bukannya datang pada kami untuk minta bantuan.
Apa yang kau pikirkan,
hah? Apa menurutmu kami tidak cukup baik untuk membantumu? Dasar anak ini. Sejak
itu kudengar kalian hidup sulit dan serba kekurangan. Kuberi tahu ini bukan
untuk menghinamu, bukan, tapi sesaat setelah mendengar kau jatuh miskin
orang-orang di kota asal pada berhura kesenangan. Mereka senang melihat wanita
sombong sepertimu akhirnya jatuh miskin sama seperti mereka.”
Mendengar semua itu Ernie hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam tidak tahu mau membalas apalagi. Dalam hatinya emosi masih berkobar tapi menumpahkannya butuh keberanian ekstra kali ini dan Ernie sama sekali tidak memilikinya.
Ernie menarik napas, menatap langit-langit diatasnya seolah ada jawaban disana. Bayangan tentang orang tuanya perlahan terpampang jelas bak putaran film lama. Bagaimana perilakunya kepada kedua orang tuanya selama ini telah menyebabkan orang-orang benci padanya dan bagaimana dia memperlakukan orang-orang di masa mudanya bikin dia malu sendiri sekarang. Ernie terdiam.
Menunggu, membiarkan emosinya yang bercampur-aduk runtuh hancur menjadi satu kesatuan. Saat akhirnya pikirannya telah tenang kembali dia bisa menemukan bahwa diakhir itu semua adalah rasa penyesalan dan rasa bersalah. Ernie pun menangis layaknya putri kecil yang ditolak keinginannya.
Melihat ini semua kakek Lim sama sekali tidak terpengaruh. Ketetapan hatinya masih keras, bukan pertama kalinya dia melihat wanita menangis begini. Kakek Lim melanjutkan, “Kau meninggalkan orang tuamu yang telah susah payah membesarkanmu hanya demi pria yang kau cintai, kemudian kau datang kesini mengeluh kalau hidupmu susah dan suamimu memukulimu, kau, seorang Ernie, menyesali keputusan dan datang ke padaku, benar-benar tidak masuk akal.
Kau membawa anakmu kemari, meminta pertolonganku, semuanya kulayani dengan baik. Lalu sebagai orang yang lebih tua aku menasehatimu, tapi kau malah menolak bahkan menentang, lalu kau minta bisnis? Baiklah, mari bicara bisnis.
Apa yang bisa diberikan wanita sepertimu? Apa pekerjaanmu sekarang? Apa kau punya tempat untuk tinggal? Lalu bagaimana kau akan membalas kebaikkanku? Kau akan jadi begal dan menghantam orang-orang dijalan dengan kendi keramikmu lalu mengambil uang mereka, hah? Demi Tuhan, Ernie, kehidupan apa yang kau jalani sampai jadi rusak begini? Kau menjalani hidup seperti orang bodoh dan sebentar lagi kau akan mati seperti orang bodoh.”
Isak tangis Ernie bertambah nyata setelah mendengar ini semua. Realita yang digambarkan pria tua ini terlalu berat untuknya dan dia tidak sanggup untuk menahannya. Sementara itu Arnold buru-buru mengeluarkan sapu tangannya dan menyerahkannya pada Ernie. Ernie menggunakan sapu tangan itu untuk membersihkan air matanya. Kini matanya bengkak, nampak merah dengan garis tipis-tipis di sekitar pupilnya.
“Apa yang harus kulakukan sekarang, Tuan Lim? Kumohon, maafkan aku atas kebodohanku barusan. Aku sama sekali tidak tahu apa yang kubicarakan.”
Kakek Lim mendadak melunak. Nada putus asa Ernie rupanya sesuatu yang sejak tadi dia tunggu-tunggu. Kakek Lim mendekatinya lalu meremas pundaknya lemah berusaha menenangkan wanita malang itu.
Kakek Lim menatap lurus padanya kemudian berkata, “Pria ini adalah cucuku. Namanya Gama dan dia tinggal di kota ini sendiri. Aku memberikannya sebuah rumah dan kurasa rumah itu terlalu besar apabila ditempati oleh dia sendiri.
Kau tinggal lah bersamanya disana untuk sementara sampai kami selesai mengurusi masalahmu. Gama bocah pendiam jadi kau tidak perlu mengeluh soal aksi gila yang biasa dilakukan pria seumurannya. Bagaimana menurutmu?”
Ernie dengan cepat mengangguk. Dia pun meraih tangan Ko Sami dan menciumnya tanpa diminta. Setelah ciuman penghormatan itu selesai, Ko Sami mengusap puncak kepala Ernie dan berkata lembut, “Sekarang kembali lah pada anakmu. Akan kami hubungi kalau ada perkembangan dengan suamimu.”
Ernie mengangguk lagi, bangkit dari kursinya lalu buru-buru berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Setelah Ernie keluar, Kakek Lim kembali duduk di kursinya dan menghela napas berat. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengamati reaksi Gama. Pemuda itu menyugingkan senyum lebar, menunjukkan kalau dia terhibur dengan penampilan barusan.
Kakek Lim beralih pada Arnold sekretarisnya kemudian berkata, “Pergilah ke tempat suaminya besok pagi. Tawarkan dia sejumlah uang untuk melupakan masalah malam itu. Katakan kalau kita siap membantunya soal masalahnya di kantor. Dia akan mengerti. Lagipula dia belum sepenuhnya berubah jadi orang bodoh.”
__ADS_1
Arnold mengangguk paham sekaligus mengerti kalau itu juga merupakan isyarat baginya untuk meninggalkan ruangan ini. Maka itu lah yang juga dia lakukan. Sementara itu kini tersisa kakek Lim dan Gama di ruangan tersebut. Kakek Lim memandang Gama lekat-lekat mencoba memahami apa yang ada di isi kepala bocah ini.
“Duduk lah. Aku punya pekerjaan untukmu.” kata kakek Lim dengan nada suara tegas.