
Mona dan Sherly meninggalkan apartemen tepat pukul 8 malam. Keduanya berkendara menuju sebuah restoran keluarga di pusat kota untuk menghadiri pesta reunian SMA mereka. Sesampainya disana Sherly dengan penuh semangat keluar dari mobil lebih dulu dan menatap ke sekitar kegirangan.
Keduanya masuk kedalam restoran lalu berjalan menuju halaman belakang dimana lampu-lampu gantung yang memanjang bergelantungan di langit malam diatas mereka. Rumput taman dengan aroma khusus menyebar ke seluruh permukaan.
Puluhan pria dan wanita dewasa bersenda gurau melepas kangen, ditemani alunan musik santai dan atraksi bartender memainkan botol-botol minumannya. Mona dan Sherly dengan cepat mengenali sosok orang-orang disini. Teman-teman semasa SMA-nya kelihatan begitu dewasa sekarang, jauh dari kata kekanak-kanakan seperti 5 tahun yang lalu.
Beberapa datang dengan pakian santai sementara yang lainnya harus datang dengan seragam dinas lengkap mereka. Seorang pria dengan senyum lebar menyadari keberadaan Mona dan Sherly dan langsung berkata, “Eh si kembar datang!”
Mona dan Sherly saling pandang. Sudah lama mereka tidak mendengar julukkan tersebut. Karena tinggal serumah dan kemana-mana selalu bareng akhirnya mereka dijuluki si kembar. Semua mata dengan cepat tertuju pada dua pendatang baru.
Sekelompok wanita langsung berlari menghampiri mereka, memeluk dan mencium, itu adalah teman-teman nongkrong mereka dulu waktu masih SMA. Mereka membawa Mona ke meja panjang dan mendudukkannya disana.
Keduanya langsung ditawari makan yang mana dengan cepat diterima Sherly sementara Mona hanya minta disuguhkan air minum. Mereka dengan cepat memasang telinga untukkisah petualangan Sherly di pulau-pulau tropis di Indonesia timur.
Sementara yang lain sibuk mendengar cerita Sherly, mata Mona dengan cepat menangkap sosokyang selalu dihindarinya. Awalnya dia mengira semua itu hanya ilusi malam akibat kelelahan bekerja, namun setelah dia mengerjap beberapa kali dia tahu semua itu nyata.
Mona dengan cepat meremas paha Sherly dan menggoyangkannya.
Sherly menatap Mona lalu sadar kalau wajah sepupunya sudah pucat pasi mirip mayat hidup. Sherly pun mengikuti arah pandang Mona dan menyadari ada Ethan yang tengah melirik sana-sini mencari sosok Mona.
Bertepatan dengan itu semua mendadak Ethan menemukan mereka. Dia pun kini berjalan kearah Mona. Mona buru-buru membuang muka lalu berbisik pada Sherly, “Gimana sih?! Katanya dia lagi di Berlin!”
“Gatau! Dia sendiri yang bilang waktu itu!”
“Ah gimana sih lo..”
“Mona?”
Suara lembut yang menyebut nama Mona membuat kedua orang yang bisik-bisik itu terkejut kaget. Mereka memandang kebelakang dan menemukan sosok Ethan yang jakung tengah berdiri disana. Mona menelan ludah dan terdiam.
“Eh, Ethan! Gue kira lo masih di Berlin?” tanya salah satu wanita yang sejak tadi ngobrol dengan Sherly.
__ADS_1
Ethan mengangguk kecil, “Gue baru sampai berapa jam lalu ini.”
“Wah niat banget. Tunggu, jangan-jangan lo kesini cuman demi ketemu Mona? Ah, sweet banget sih lo!”
Mona masih membuang mukanya bingung harus berbuat apa.
Ethan mendadak berubah serius dan berkata, “Mon, boleh bicara bentar?”
Para wanita yang mendengarnya langsung menggoda, “Ciee CLBK-an!”
Mona masih diam dan membelakangi Ethan. Mona memandang Sherly dalam-dalam yang menggeleng tanda dia tidak ingin Mona pergi bersama Ethan. Tapi Mona tahu dia harus menghadapi ketakutannya. Harus menghadapi masa lalunya.
Dia berbalik menatap Ethan lalu bangkit dari kursinya.
Ethan pun langsung menarik tangan Mona dan membawanya pergi. Mona hanya mengikut. Melihat semua ini Sherly hanya menggeleng pelan. Sherly tidak pernah tau apa yang terjadi pada keduanya pada pesta kelulusan waktu itu.
Yang Sherly tahu mereka pergi di tengah pesta dan Mona tidak pulang ke rumah malam itu. Selebihnya dia tidak lagi karena dia terlalu mabuk malam itu.
Ethan membawa Mona menuju sudut paling sepi dan melepaskan genggamannya. Kini keduanya berdiri saling berhadapan untuk menyelesaikan semua ini untuk selamanya.
Mona hanya mengangguk kecil.
“Kita masih temenan, ‘kan?”
Mona menatap Ethan tak percaya, lalu menundukkan kepalanya lagi. “Gue gak tahu.”
“Gue…. Minta maaf soal malam itu.”
Mona mengangguk kecil sekali lagi. Perasaannya mulai gusar dan dia jadi teringat semua kejadian malam itu.
“Jujur gue gak ada maksud apa-apa awalnya. Cuman ya….”
__ADS_1
“Apa yang lo lakuin malam itu benar-benar jahat.”
“Iya, gue tahu makanya gue mau minta maaf. Tapi lo gak pernah ngasih gue kesempatan. Lo nge-block akun sosial media gue, gak pernah mau angkat telfon, bahkan pas gue ke rumah lo malah nyuruh Sherly ngusir gue. Gimana gue mau ngomongnya coba?”
Mendengar nada menyalahkan yang coba diselipkan Ethan, Mona jadi naik pitam. Dia menatap Ethan tajam lalu berkata dengan nada naik satu oktaf, “Jadi lo salahin gue sekarang?”
“Bukan gitu….”
“Lo tau gak gimana hancurnya dunia gue malam itu? Satu-satunya orang dimana gue bisa cerita soal masalah hidup gue dan lo malah hancurin gue kayak gitu. Maaf, tapi gue gak yakin mau lagi temenan lagi sama lo, Ethan.”
“Mon, dengerin dulu, kita sama-sama mabuk malam itu, jadi wajar dong kalo hasilnya gitu.”
“Hah?! Mabuk? Perasaan yang mabuk gue doang malam itu! Gue ingat betul lo gotong gue masuk kedalam kamar hotel jadi jangan sembarangan deh!”
Ethanmenggaruk belakang kepalanya yang sama sekali gak gatal dan berusaha mencari pembelaan.
Namun Mona yang kembali mengingat semua kejadian malam itu tidak akan pernah melupakan atau memaafkan Ethan. Dia selalu percaya Ethan, dia tidak pernah meragukannya. Akan tetapi apa yang Ethan lakukan padanya adalah hal terburuk yang bisa dilakukan oleh seorang teman.
Monamenghela napas panjang. Hatinya terasa nyeri dan awan hitam mulai merudung isi kepalanya. Kepercayaan dirinya luntur dengan segala sisa sakit hati yang terus mengalir bak sungai. Namun dia tetap memaksakan diri untuk kuat.
“Maaf.” kata Ethan sekali lagi.
Mona menatap Ethan dalam-dalam. Nampak jelas penyesalannya tapi Mona tidak pernah memberikan kesempatan kedua. Mona mendengus lalu berjalan pergi meninggalkan Ethan. Ethan terus memanggilnya tapi Mona sudah terlanjur meneteskan air matanya dan dia tidak ingin dilihat dalam keadaan seperti ini.
Mona masuk kedalam restoran dan berjalan terus menuju pintu keluar dan akhirnya tiba kembali di parkiran. Udara malam saat itu terasa menyejukkan. Mona buru-buru menghapus air matanya. Sudah lama dia tidak menangis seperti ini.
Mona menatap langit malam yang tak berbintang. Dia merasa aneh. Entah kenapa dia selalu berharap kali pertamanya melakukan itu adalah dengan suami tampan yang mencintainya. Bukan seorang Ethan. Dia memang menyukai Ethan. Terlalu suka malah. Tapi bukan berarti dia ingin Ethan merenggut keperawanannya seperti itu.
Mona tertawa sekali lagi. Dia jadi merasa lucu bagaimana dia begitu membenci Ethan yang hanya melakukannya sekali padanya namun terbiasa dengan permainan Gama yang telah mereka lakukan berkali-kali.
Mona menghela napas panjang meratapi hidup menyedihkannya.
__ADS_1
“Sudah kuduga, mobil sedan silver ini pasti punyamu. Meskipun hanya menyetirnya sekali aku tidak pernah lupa perasaannya. Sedang apa sendirian disini?”
Mona langsung berbalik menatap sosok tersebut. Dia terengah dan nampak bingung. Tanpa disadari dia tersenyum lebar dengan sosok Devin yang tiba-tiba muncul didepannya.