Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XII: Penasaran


__ADS_3

Gama menggendong Mona keluar dari lift apartemennya dan segera menuju kamarnya. Mona yang sudah tidak sadarkan diri melingkarkan lengannya di leher Gama. Setelah tiba di depan kamar, Gama mengeluarkan kartu akses kamar Mona dan menggeseknya.


Gama mendorong pintu dan masuk kedalam menuju ruang tidur. Gama membaringkan Mona lalu melepaskan sepatunya dan merapikannya di pinggir kamar. Gama menghela napas panjang. Merasa sedikit lelah Gama pergi ke dapur dan membuka kulkas mencari minuman dingin.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan sosok Sherly yang baru selesai mandi muncul. Gamamendongak kaget  dan Sherly yang tengah mengeringkan rambutnya dengan haduk menunjuk kearah Gama.


“Lah,ngapain lo disini?”


Sherly memandang kearah kamar yang terbuka dan melihat Mona yang tidak sadarkan diri.


“Wah parah, lo habis ngapain sepupu gue? Macam-macam gue laporin polisi lo!”


Gama menghela napas lalu berkata, “Sepupu lo mabuk makanya gue bawa kesini.”


“Heh?” Sherly masuk ke kamar dan mengecek keadaan Mona. Setelah yakin Mona mabuk dari aroma napasnya yang bau alkohol Sherly pun berjalan keluar dan berkata, “Hmm,ok.”


Melihat ini Gama hanya menggeleng lalu meneguk air dingin langsung dari botolnya.Sherly yang masih heran  kenapa Gama bisa ada disini perlahan berjalan mendekatinya.


“Kok lo bisa tau Mona lagi minum-minum?”


“Dia nge-chat.”


“Dia sering gini, ya?”


Gama mengangguk kecil, meletakkan kembali botol minum dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Gama melonggarkan dasinya dan membuka kancing teratasnya. Sherly sedikit bingung melihat Gama yang sangat santai di kamar orang lain apalagi cewek.


Sherly mengambil tempat di sebelah Gama, “Lo kerja dimana sekarang?”


“Ngurusin bisnis keluarga.”


“Gitu, ya. Gue masih gak nyangka lo sama Mona temenan akrab banget. Padahal waktu kuliah kalian gak dekat-dekat banget, ‘kan?”


Gama mengingat-ingat, “Mungkin.”


“Kalian pacaran, ya?”


Gama menatap tajam kearah Sherly lalu menjawab singkat, “Nggak.”


“Gitu ya….”


Gama melirik kaos hitam yang digunakan Sherly dan sadar kalau itu kaosnya yang pernah dia tinggalkan disini waktu menginap. Sherly memegang dagunya dan berpikir sejenak.

__ADS_1


“Gue sebenarnya curiga sama Mona.”


“Curiga kenapa?”


“Dia bilangnya sih gak punya pacar, tapi di lemarinya banyak banget baju cowok. Terus sikat gigi di kamar mandi ada dua pas gue kesini. Lo tahu pacarnya Mona gak?”


Gama memandang langit-langit pura-pura berpikir, “Gak tuh.”


“Masa? Lo tau kan dia sering dijodohin sama nyokapnya. Jangan-jangan salah satu dari mereka?”


“Kalau gak salah kemaren sih Mona bilang dia nemu satu yang cocok sama dia.”


“Masa sih? Kok dia gak cerita ke gue ya. Malah cerita ke lo…. Seriusan ini aneh banget lho. Kalian gak pacaran, akrab banget sampai lo masuk kamarnya Mona aja santai banget, lo beneran gak pacaran sama Mona, ‘kan?”


Gama hanya memberikan satu tatapan malas pada Sherly dan Sherly pun melanjutkan spekulasinya. Dia kembali berpikir dan memutar otak.


Namun ditengah itu semua Gama tiba-tiba berkata, “Lo kemana aja? Habis lulus kok udah gak keliatan?”


“Hehe gue bosan sama kehidupan kota. Ini aja balik cuman mau ngumpulin duit buat balik lagi kesana.” Sherly tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.


“Tinggal di pulau terpencil gitu?”


“Selamat deh.”


“Lo gak ada niat mau ikut?”


Gama menaikkan alis, “Ngapain gue tinggal di pulau gitu?”


“Biar gue ada teman aja sih. Kalo ada lo kan bisa gampang minta tolong ini itu. Ayo dong, kita kan temenan dari semester satu dulu.”


“Bukan berarti akrab kan.”


“Masa sih? Padahal gue ngerasa kita akrab banget.”


Gama tertawa kecil mendengarnya.


“Eh, seriusan! Kan lo kenal Mona juga gara-gara gue.”


Gama menggali ingatannya. Apa yang dikatakan Sherly sebenarnya ada benarnya juga. Waktu itu kelas mereka sedang mengadakan penelitian lapangan. Sherly dan Gama yang kebetulan sekelompok diberikan topik wawancara kepada para pebisnis.


Sherly pun langsung mengkontak Mona yang saat itu beda kelas dengan mereka. Keduanya lalumenemui Mona sepulang kuliah dan pergi ke kantor ayahnya Mona untuk sebuah wawancara. Gama masih ingat sosok Mona yang waktu itu, begitu acuh dan seolah tidak tertarik pada dunia.

__ADS_1


Rambut Mona waktu itu masih berponi dan riasan wajahnya seperti biasa nampak natural. Dari awal bertemu Mona tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengenal Gama lebih jauh. Gama pun sebaliknya, dia tidak merasa tertarik pada gadis itu.


Ketiganya menyelesaikan wawancara saat mataharinya akhirnya terbenam dan mereka pergi makan ke restoran cepat saji bertiga. Sementara Mona dan Sherly sibuk ngobrol Gama hanya diam dan menghabiskan makanannya.


 


Mona tidak pernah benar-benar memperhatikannya sampai hari dimana Gama menyelamatkannya. Malam itu untuk selamanya mengubah hubungan keduanya.


Gama tersenyum, “Iya, lo yang ngenalin gue ke Mona.”


“Iya, ‘kan? Tapi gue masih kaget kalau lo teman minum-minum Mona.”


“Kita sering ketemu dulu.”


“Begitu, ya. Dasar anak itu…. Padahal dia gak kuat minum tapi malah maksaiin diri buat minum-minum.”


Untuk waktu-waktu selanjutnya Sherly terus bicara dan bercerita mengenai banyak hal. Gama ingat betul dengan kebiasaan gadis ini. Dia susah dihentikan kalau sudah cerita. Maka dengan begitu Gama kembali menjadi pendengar yang baik dan mendengarkan semuanya sampai selesai.


Sherly bercerita mengenai bagaimana pulau-pulau di Indonesia timur yang begitu indah dengan pasir putih dan hutan hujan tropis yang belum terjamah. Tapi Sherly disela itu Sherly terus-terusan protes dengan biaya hidup yang mahal.


Sherly juga cerita mengenai impiannya untuk membuka sebuah sekolah disana. Dia masih belum tahu harus membuka sekolah apa tapi dia ingin menyediakan sebuah gratis untuk mereka yang disana.


Mendengar itu Gama mangguk-mangguk. Dia tidak pernah memikirkan hal-hal tersebut. Pikirannya selalu terokupasi oleh bisnis keluarganya dan perang dengan keluarga Kaligis. Sejak malam itu Gama kemana-mana harus membawa pistol karena takut disergap oleh para Kaligis.


Setelah percakapan panjang lebar mereka Gama tiba-tiba melihat arlojinya yang menunjukkan kini pukul 1 pagi dan berkata, “Gue balik dulu.”


“Eh, udah larut banget, ya? Sorry ya gue jadi keasyikan sendiri.”


“Gak apa. Lagian gue jadi punya alasan telat buat ketemu klien gue habis ini.”


“Lo masih mau ketemu klien jam segini? Malam banget meeting lo.”


Gama hanya tertawa kecil mendengarnya. “Gitu deh. Besok pagi si Mona jangan lupa dibangunin jam 10. Dia biasanya pas bangun muntah dulu ke kamar mandi, terus ngeluh pusing, sambil dengerin dia ngeracau lo bikinin aja dia telur mata sapi setengah matang.”


“Wah sampai tau detil banget gitu. Oke deh, makasih infonya.”


“Ah, iya, suruh aja dia naik taksi. Bahaya kalo dia nyetir. Ini kuncinya.”


Sherly mengangguk. Gama pun bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu keluar. Sebelum pergi dia melihat sosok Mona yang masih terlelap bak bayi di kasurnya. Gama tersenyum melihat wajah manis Mona yang memerah.


Gama pun berjalan keluar dan Sherly menutup pintu. Sherly berjalan ke kamar Mona lalu duduk di pinggir ranjang dan berbisik kepadanya, “Besok lo mesti jelasin banyak hal ke gue, Mon. Banyak banget. Sekarang puasin tidurnya….”

__ADS_1


__ADS_2