
Mona terbangun akibat aroma lezat sarapan pagi. Sambil membuka mata perlahan, Mona duduk di kasurnya dengan wajah bantalnya yang khas. Dia memandang ke sebelahnya dan tidak menemukan Gama.
Mona berganti pandang ke sekitar ruangan hotel. Tirai jendela telah dibuka, pintu beranda juga terbuka. Mona melirik ke sumber aroma lezat yang membangunkannya dan menemukan bubur panas di meja kopi di tengah kamar.
Mona duduk di pinggir tempat tidur lalu memaksakan diri untuk bangkit dari rasa kantuknya. Perasaan berputar akibat percintaan mereka semalam masih membekas. Serbesit ingatan soal berbagai macam gaya yang mereka lakukan semalam membuatnya tersipu.
Mona menggeleng pelan mengeluarkan pikiran joroknya pagi-pagi. Saat dia berjalan melewati beranda Mona melihat sosok Gama yang bertelanjang dada tengah bertelfon dengan seseorang.
Melihat ini Mona tidak bisa menahan diri untuk berjalan mengendap-ngendap di belakang Gama lalu memeluknya erat dari belakang. Tubuhnya terasa dingin dan keras. Mona menyukai itu.
“Tidak perlu. Kalian bisa menggunakannya sesukanya. Baiklah, telfon saja kalau butuh sesuatu. Hati-hati dijalan, Gwen,” kata Gama.
Mendengar nama wanita lain disebut, Mona langsung mengangkat wajahnya dan bertanya, “Siapa itu?”
“Tamu gue. Gwen dan ibunya.”
“Gebetan lo ya?”
“Ngawur mulu, lagian Gwen masih bocah. Udah ah, sarapan yuk.”
Gama berbalik dan menemukan sosok Mona yang hanya berbalut selimut tanpa sehelai benang di tubuhnya. Melihat ini, Gama langsung memberikan ciuman mendadak yang terasa mesra.
Mona pun membalas ciuman ini. Ciuman basah mereka berujung pada Gama yang tiba-tiba mengangkat tubuh Mona dan membawanya kedalam.
Untuk beberapa saat selanjutnya, keduanya kembali bercinta untuk sejam berikutnya.
***
Mona menyugingkan senyum mengejek saat memasukkan bubur kedalam mulutnya. Sementara itu Gama menguap lebar akibat kurang tidur dari permainan liar mereka.
Setelah bercinta di pagi hari begini, nafsu makan mereka menggebu. Bersyukur Gama telah memesan layanan kamar dan meminta sarapan untuk diantarkan ke kamar mereka.
“Gam, kenapa sih lo bangun pagi kalau habis tidur sama gue?” tanya Mona sambil menggigit kerupuk udangnya.
“Gak tau. Tapi mungkin kalau sama lo gue tidur lebih awal terus.”
__ADS_1
“Jam 1 pagi itu bukan awal kali.”
Gama hanya mangguk-mangguk lalu melahap habis sendok terakhir di buburnya. Gama menuangkan gelar air untuk keduanya lalu menyandarkan punggungnya di sofa.
Matanya menatap wajah manis Mona. Dia kelihatan lebih segar akibat olahraga pagi mereka. Tidak seperti malam itu saat dia harus membawa Mona pulang akibat minum-minum, Mona yang sekarang kelihatan lebih bersemangat dan terasa lebih hidup.
Saat akhirnya makanan Mona habis, dia langsung meminum air dan tersenyum pada Gama.
Keduanya saling pandang lagi. Mencoba memancing gairah masing-masing untuk ronde-ronde selanjutnya. Hari libur begini, apabila orang pada umumnya menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan sebagainya, Mona sudah cukup senang hanya dengan menghabiskan hari liburnya dengan bercinta seharian.
Mona mengangkat kakinya dan sengaja mengelus betis Gama dengan perlahan. Melihat ini Gama sebisa mungkin tidak menunjukkan ketertarikannya. Permainan tarik ulur mereka pun dimulai.
Mona terus mencoba memancing, dengan sesekali mengangkat alis menggoda. Saat akhirnya Gama bereaksi, tiba-tiba nada dering telfon Mona berbunyi.
Mona mencoba mengabaikannya tapi Gama memberinya kode untuk mengangkat telfonnya lebih dulu.
Saat akhirnya Mona meraih ponsel dan melihat nama yang tertera di layar, Mona langsung jengkel dan dengan nada sebal dia menjawab telfon dan bilang, “Halo, Ma.”
“Mona! Kemana aja sih? Mama telfon dari tadi kok nggak diangkat?”
“Aku lagi sarapan. Emang kenapa, Ma? Gak biasanya Mama sudah bangun jam segini.”
“Tapi Ma—”
“Jangan banyak protes.”
Dan telfon dimatikan begitu saja. Mona menghela napas berat lalu mengerut dahinya. Perasaan Mona yang semula bahagia mendadak gelap di rudung awan hitam di atas kepalanya.
“Nyokap lo kenapa lagi?” tanya Gama.
“Biasa nyebelin.”
“Disuruh kencan lagi? Bukannya lo udah dekat sama si Itu.”
“Gak tahu deh. Gue siap-siap dulu kalau gitu. Sorry ya Gam, belakangan ini jadi kayak gini terus.”
__ADS_1
“Santai aja.”
Mona sekali lagi menghela napas lalu berjalan menuju kamar mandi dan mandi.
***
Mona masuk ke kompleks perumahan dan mengurangi kecepatannya saat melewati pos satpam. Satpam penjaga dengan cepat mengenali Mona dan membuka palang pintu lalu mengangguk kecil untuknya.
Mona mengemudikan mobil terus menuju rumah ibunya. Rumah tempat dirinya tumbuh besar, dimana berbagai ingatan mengikis semua permukaan hati tiap kali diingat.
Mobil Mona berbelok masuk kedalam pekarangan luas depan rumahnya dan berhenti tepat di teras depan. Mona turun dari mobil lalu memandang kesekitar dengan lesu.
Menyebut tempat ini rumahnya agaknya kurang tepat. Pasalnya ukuran tanahnya yang begitu luas lengkap dengan lapangan tenis dan kolam renang pribadi membuat tempat ini lebih cocok disebut mansion.
Rumah ini dibeli saat perusahaan papa Mona akhirnya melejit dan menjadi salah satu yang paling dominan di kota ini. Saat itu Mona tumbuh besar layaknya gadis kaya pada umumnya.
Bergelimang harta, semua kebutuhan terpenuhi, dan yang terpenting waktu bersama orang tua. Namun setelah keduanya bercerai Mona terpaksa membagi waktunya antara bersama sang ibu atau bersama papanya.
Itu membuatnya stres berat, perpisahan yang tidak pernah dia ketahui alasannya membuat Mona susah tidur tiap malam. Kedua orang tua Mona menolak untuk memberitahu alasan mereka bercerai dan kini Mona sudah menyerah untuk mencari tahu.
Saat Mona masuk, dia dengan cepat mengenali aroma parfum yang mengendap di udara. Aroma menyengat ini adalah aroma parfum mamanya. Bukan aroma yang dia benci tapi entah sejak kapan segala hal yang berkaitan dengan mamanya selalu membuatnya muak.
Mona berjalan menuju ruang tamu dan tidak menemukan ibunya. Beberapa menit kemudian Mona pergi ke dapur dan juga tidak menemukan mamanya. Mona menghela napas. Mencari mamanya di rumah sebesar ini di setiap ruangan yang ada hanya akan membuatnya lelah.
Mona kembali ke ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Sekujur tubuhnya yang tadinya terasa ringan kini berubah berat dan mendadak menjadi malas.
Mona memandang kearah foto keluarganya, disana ada dia dan adiknya juga mamanya. Semua itu tanpa papanya. Foto ini diambil saat Mona masih SMA kelas 3 dan menjelang kelulusan.
Lebih tepatnya setahun setelah perceraian orang tuanya. Di rumah papanya, ada foto yang sama namun tanpa mamanya. Hubungan orang tuanya setelah bercerai memang tidak lah buruk, namun keduanya sebisa mungkin tidak berada satu ruangan di saat yang sama.
Akan tetapi wisuda Mona dan adiknya menjadi pengecualian. Keduanya rela berfoto bersama dengan putri-putri mereka hanya demi menjaga citra keluarga.
Namun kepalsuan itu selalu membuat Mona muak. Itu juga alasannya tidak ingin tinggal dengan keduanya lagi.
Setelah menunggu cukup lama, Mona akhirnya mendengar pantulan suara hak yang menghantam anak tangga. Saat Mona berbalik, bukan sosok ibunya, melainkan sosok langsing wajah cantik dengan rambut yang lebih panjang dibuat ikal berponi.
__ADS_1
Wanita muda itu tersenyum dan berkata, “Halo, kak.”
Mona mengerutkan dahi. Wanita ini tumbuh menjelma menjadi mamanya hanya saja dengan versi yang lebih muda. Mona mengangguk dan membalas, “Halo Luna.”