Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XIV: Keseruan Jenis Lain


__ADS_3

Mona menahan napasnya saat akhirnya dia melangkah masuk kedalam bis. Udara dingin dari AC menerpa wajahnya dan dia berjalan terus lalu mengambil tempat duduk kosong dekat pintu. Mona melirik sana-kesini takjub dengan padatnya orang-orang yang mengisi bis.


Orang-orang dengan pakaian kerja, anak-anak SMA yang membolos, dan masih banyak lagi kriteria yang jarang Mona perhatikan semuanya bergabung menjadi satu. Tidak lama kemudian Devin muncul dan mengambil tempat disebelah Mona.


Devin tersenyum melihat wajah Mona yang kebingungan mirip anak kecil kemudian berkata, “Kapan terakhir kamu naik bis?”


“Entah, mungkin waktu SMP. Aku dan sepupuku Sherly suka menyelinap keluar dan pergi berkeliaran. Waktu itu kalau gak salah uang kami tidak cukup untuk pulang naik taksi jadi kami memutuskan untuk naik bis.”


Devin mangguk-mangguk mendengarnya.


Mona berbalik menatap Devin dan bertanya, “Kamu sudah mengecek arah tujuannya, ‘kan?”


“Kita hanya perlu ke utara bukan?”


“Iyasih,tapi kan banyak rutenya.”


“Ah, akan kucek.”


Devin menatap peta rute bis yang ditempelkan diatas pintu masuk. Namun tiba-tibamuncul seorang wanita paruh baya yang tengah menggendong anaknya yang masih kecil dan dia menangis. Melihat ini Devin buru-buru bangkit dari kursinya dan memberikannya pada si wanita.


Wanita itu tersenyum dan mengangguk lalu mengucapkan, “Makasih.”


Devin tersenyum balik. Devin kini berada tepat didepannya dan Mona terus mengamatinya. Pria jakung ini begitu ramah dan baik pada orang disekitarnya. Diamudah bersahabat dengan siapapun dimanapun dan itu membuat Mona merasa nyaman didekatnya.


***


Keduanya akhirnya tiba di rute akhir dan turun dari bis. Mereka akhirnya tiba di taman hiburan setelah hampir sejam di dalam bis. Keduanya turun dan langsung pergi menuju lobi untuk membeli tiket.


Tidak banyak orang yang mengantri saat itu karena ini memang bukan hari ideal untukpergi ke taman bermain. Setelah membeli tiket dan masuk kedalam keduanya langsung di sambut lagu tema taman bermain. Lagu itu membawa kenangan tersendiri untuk Mona. Dia ingat dia sering kesini waktu kecil bersama Sherly, adiknya, dan orang tuanya.


“Jadi mau langsung naik roller coaster?”


Mona tersenyum mengejek, “Tentu saja, aku gak sabar lihat wajah ketakutanmu.”


Keduanya pergi menuju antrian roller coaster lalu mengantri sejenak dan akhirnya naik ke roller coaster. Mona terus tersenyum penuh keberanian. Sementara itu Devin tetap tenang. Perjalanan mereka dimulai dengan roller coaster yang menanjak. Mona masih tersenyum yakin.


Setelah beberapa detik bulu kuduknya berdiri, roller coaster ini menanjak lebih tinggi dari ingatannya. Mona melakukan kesalahan dengan melirik kebawah dan sadar betapa tinggi kini mereka. Pikiran Mona tentang jatuh ataupun kesalahan sistem yang dapat membunuhnya membuat Mona tidak bisa tenang.


“Takut?” tanya Devin sambil tersenyum mengejek.


Mona melirik Devin tidak terima tapi saat itu akhirnya roller coaster meluncur turun dengan kecepatan biasa. Mona dengan cepat bisa merasakan kesadarannya tersedot habis oleh laju roller coaster.


Setelah beberapa tikungan dan putaran akhirnya roller coaster kembali. Baru setelah roller coaster benar-benar berhenti Mona mendapatkan kesadarannya kembali. Dia turun dengan tubuh berat sempoyongan.

__ADS_1


Devin membantunya berjalan, keduanya melewati layar lebar yang menunjukkan foto-foto mereka barusan. Mona melihat jelas matanya melotot lebar hingga mau keluar sementara Devin hanya tersenyum menikmati.


Mona berbalik pada Devin dan menatapnya tajam, “Katanya kamu takut ketinggian?”


“Aku memang takut kok. Ini buktinya.” Devin menunjuk layar yang menunjukkan wajahnya tengah memaksakan senyum.


Mona mengerutkan dahi, “Kamu senyum gitu kok dibilang ketakutan.”


“Iya, aku kalau ketakutan senyum begitu.”


“Ah itu gak adil. Ayo nyoba yang lain!”


Devin pun mengekor Mona yang berjalan cepat di depannya. Masih bertekad untuk melihat wajah ketakutan Devin, Mona memilih lebih banyak wahana menakutkan yang bisa bikin orang manapun pingsan dalam sekejap.


Di setiap wahana yang dipilih Mona sedikit demi sedikit mulai lelah sendiri. Jantungnya berdebar kencang tiap kali kendaraan wahana yang dinaikinya menukik turun kebawah dengan kecepatan luar biasa.


Lama-kalamaan, dia pun terbiasa. Saat akhirnya hari mulai sore keduanya beristirahat di bangku taman hiburan sambil membeli es krim. Mona menyandarkan punggungnya kemudian berkata, “Aku tidak menyangka akan seseru ini.”


Devin tersenyum, “Syukurlah kamu menikmatinya.”


“Haha makasih ya. Aku benar-benar butuh keseruan kayak gini.”


“Kenapa begitu?”


Mona melahap puncak es krimnya dan berkata, “Masa lalu.”


“Mereka datang dan mengacaukan masa depan.”


Mendengar itu Devin tersenyum lalu berkata, “Kamu bisa cerita padaku kalau mau.”


Mona dengan cepat menatap kearah Devin. Dia tahu Devin orang yang baik, namun mengungkapkan masalah seperti itu kepadanya rasanya terlalu cepat. Dia masih belum bisa mengatakan soal Ethan dan kejadian malam itu.


“Akan kuceritakan suatu hari.”


“Kalau begitu aku akan menunggu.”


Mona mengangguk, “Bagaimana denganmu? Bukannya tadi kamu sempat jengkel ya sama adikmu?”


“Ah, iya, dia punya kebiasaan buruk yang kubenci.”


“Apa itu?”


“Dia suka mempermainkan orang lain. Dia usil dan suka melihat orang lain jengkel dengan perilakunya. Aku tidak bilang kalau aku membencinya. Aku hanya membenci sifatnya.”

__ADS_1


“Pasti merepotkan.”


Devin mengangguk, “Tapi dia aslinya baik. Aku ingat waktu kecil dulu dia tidak seperti itu. Entah apa yang terjadi padanya selama aku di Jepang.”


Mona menatap Devin serius kemudian bertanya, “Kenapa kamu pergi ke Jepang dulu?”


Devin balas menatap serius tapi akhirnya tertawa dan berkata, “Kakak tertuaku menyingkirkanku. Dia tidak mau punya pewaris saingan. Saat aku masuk SMA dia akhirnya menyelesaikan kuliahnya. Aku ingat betul pagi itu seluruh barang-barangku di keluarkan dan dia menyuruhku pergi ke Jepang. Tanpa persiapan, tanpa teman, apalagi keluarga, aku pergi ke Jepang hari itu juga dan tidak pernah kembali ke Indonesia hingga sebulan lalu.”


Mendengar cerita itu Mona meringis pelan, “Kedengarannya kakak dan adik perempuanmu begitu menjengkelkan. Tapi karena kamu sudah kembali aku yakin kalian pasti sudah baikkan.”


“Ah, tidak, kakak tertuaku melarikan diri setelah skandalnya. Jadi orangtuaku terpakasa memintaku kembali.”


“Skandal?” Mona mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa bulan terakhir lalu tiba-tiba teringat, “Tunggu dulu, kakakmu itu si Felix?”


“Yup.”


“Wah, kalau kasusnya seperti itu parah juga sih.”


“Begitulah. Maaf ya aku jadi ngomong gak jelas begini.”


“Gak apa. Kita kan memang kesini untuk melepas stress. Jadi ayo bersenang-senang sepuasnya!”


Setelah keduanya menghabiskan es krim Mona kembali memilih wahana selanjutnya. Kali ini adalah arum jeram. Mona dan Devin yang mengantri dengan pakaian kantor nampak kontras dengan mereka yang mengantri dengan pakaian santai.


Saat akhirnya mereka mulai menaiki wahana, Mona langsung teringat dia sama sekali tidak membawa baju ganti. Namun semuanya terlambat. Dia terlanjur basah akibat wahana air tersebut. Setelah akhirnya mereka selesai Devin langsung membawanya menuju toko hadiah terdekat.


“Kamu mau yang ini?” tanya Devin sambil menarik baju pasangan berwarna putih dengan logo taman bermain di tengahnya.


“Haha keliatan lucu sih. Tapi kan itu baju pasangan. Memangnya gak apa?”


“Kalau kamu mau kita bisa pilih yang itu.” Devin menunjuk kearah kostum maskot taman hiburan. Alias kostum badut.


“Gak makasih hahaha. Ayo beli yang couple aja.”


Devin membayar untuk baju mereka dan keduanya pergi ke ruang ganti untuk bergnati. Setelah agak lama keduanya keluar di waktu bersamaan dan tertawa melihat satu sama lain.


“Hahaha kita keliatan kayak pasangan sekarang.” kata Mona mentertawai pantulan keduanya di kaca.


“Yah, ini lumayan.”


Keduanya berjalan keluar toko sambil membawa tas kecil berisi baju ganti keduanya. Matahari sudah mulai terbenam dan langit berubah jingga. Mona benar-benar puas hari ini. Dia mendapat kesenangan jenis lain yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.


Dia merasa nyaman disamping Devin dan kalau bisa dia ingin merasa begini lebih lamalagi.

__ADS_1


Namun dari arah belakang mendadak ada yang memanggil dengan suara keras, “DEVIN!”


Keduanya buru-buru berbalik dan menemukan seorang gadis muda yang berdiri memanggil barusan. Gadis muda itu tersenyum mengejek nampak siap untuk gilirannya.


__ADS_2