Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR III: Perintah Papa


__ADS_3

Dalam setahun terakhir ini, Mona melakukan puluhan kencan buta singkat atas permintaan ibunya dan itu dilakukan nyaris setiap hari. Semua itu dilakukan oleh ibunya untuk segera mendapatkan suami untuk Mona dan menepis isu-isu buruk tentang dirinya.


Isu tentang kehidupan malam Mona yang liar serta kisah cinta yang mengikutinya sudah jadi rahasia umum di kalangan para pebisnis kota ini. Seorang gadis muda, dari keluarga broken home, hobi pesta dan yang pasti kaya raya.


Mona menyeret tubuhnya yang lelah balik ke apartemennya. Apartemennya terletak di pusat kota. Mona sebenarnya baru membelinya tahun lalu. Unit apartemen itu tidak besar hanya 90 meter persegi dengan dua kamar, sebuah dapur, ruang tamu, serta balkon untuk berjemur.


Jika dibandingkan dengan rumah tempat dia tumbuh besar apartemen ini tampak sempit, tetapi dia hidup sendiri, jadi itu sudah cukup.


Dengan nuansa desain modern dan berbagai sentuhan minimalis yang dipadukan dengan sedikit lukisan mahal yang dibelinya di pameran, apartemen ini adalah hunian favorit anak muda.


Mona menuang segelas air untuk dirinya sendiri dan kemudian perlahan-lahan duduk di sofa sebelum kepalanya yang panas meledak akibat kesal.


Mona meneguk habis airnya, menyalakan televisi, dan mencoba untuk fokus pada berita yang tengah ditontonnya. Namun tiba-tiba teleponnya berdengung dari meja.


Mona menyambar ponselnya berharap orang yang menelfonnya adalah Gama. Namun ketika dia melihat bukan Gama yang tertera di layar ponselnya, kemurungan di matanya yang jernih menjadi lebih intens. Itu adalah Papa.

__ADS_1


“Halo? Papa, ini aku. Ada apa menelfon malam-malam begini?”


“Mona, apakah kamu sudah makan malam?"


"Mmm, sudah. Aku baru saja kembali dari pertemuan yang diatur, Mama. Papa tumben belum tidur jam segini.”


“Haha sejak bercerai dengan ibumu Papa bisa begadang bebas sesuka hati. Sebenarnya da sesuatu yang perlu Papa katakan  padamu. Kamu harus melakukannya untuk perusahaan dan juga Papa." Papa yang biasanya selalu bercanda tiba-tiba kedengaran serius dan itu membuat Mona khawatir. Apalagi sampai menyangkutpautkan perusahaan.


Mona tetap diam dan Papanya melanjutkan.


Ketika Papa mengatakan ini, suara tuanya tiba-tiba berhenti, kemudian dia melanjutkan, “Papa memang tidak pernah ikut campur tentang masalah percintaanmu. Tapi malam ini Papa ingin merekomendasikan seseorang. Dia orang yang cukup baik dan bertanggung jawab. Dia baru saja kembali dari Tokyo dan menjadi ahli waris tunggal.”


Mona masih diam dan ini membuat Papanya melanjutkan, “Sebenarnya dia adalah mitra kerja perusahaan kita. Karena ada kemungkinan kau mungkin bertemu dengannya di meeting kedepannya, Papa akhirnya membicarakanmu didepannya dan dia nampaknya tertarik. Dan maaf, Papa tahu ini kurang aja tapi Papa sudah mengatur tempat untuk kalian pada hari Sabtu ini jam 06.30 sore di Majapahit House & Resto. Dia seorang yang pekerja keras dan belum tertarik dengan pernikahan. Papa pikir kalian berdua mungkin sangat cocok satu sama lain.”


Ada keheningan panjang dainatara keduanya. Papa tiba-tiba berkata, “Maaf.”

__ADS_1


Mona bergumam kecil dan membalas, “Tidak apa-apa. Aku sebenarnya kesal. Tapi tidak apa-apa. Kalian berdua rupanya sama saja.”


“Maafkan Papa, tapi Papa terpaksa ikut campur karena tidak tega melihat keadaanmu.”


“Keadaan apa?”


“Kondisi sosialmu. Rumor buruk tentangmu beredar dari berbagai arah. Ada yang bilang kamu dihamili, kamu jadi simpanan seorang pejabat tua, bahkan ada yang bilang kamu kini tinggal berdua dengan seseorang. Papa tidak percaya itu semua. Makanya Papa disini mau menolongmu.”


“Dengan menjodohkanku? Wow, terimakasih banyak Papa.” kata Mona dengan nada sarkas.


“Pokoknya besok datang saja dulu. Ini pertama kalinya Papa meminta bantuanmu. Juga akan jadi yang terakhir. Selamat malam, tidur yang nyenyak sayang.”


Setelah selesai bilang begitu Papa langsung menutup telepon. Mona bahkan tidak sempat bertanya soal hal lain saat telpon tersebut ditutup. Mona menatap kosong ke layar ponsel yang sudah gelap dan tiba-tiba mulai tertawa pahit tak berdaya.


Sekarang bahkan giliran Papanya mulai khawatir tentang pergaulannya.

__ADS_1


__ADS_2