Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR XXV: Bersiap Untuk Perang


__ADS_3

Mona menyeka noda sup di sudut mulutnya dan diam-diam melirik kearah Gama. Mona masih tidak habis pikir bagaimana bisa dua orang ini saling mengenal dan kini bekerjasama.


Keduanya nampak begitu akrab. Itu membuat Mona makin was-was.


“Ayo makan, Gama.” kata mama dengan penuh semangat.


Sementara itu papa terus mengawasi Gama. Setelah cukup lama papa pun berkata dengan mulut penuh, “Sepertinya aku pernah melihatmu. Yah, sudah lama sih. Kalau tidak salah dulu bareng Sherly juga. Kamu ingat dia kan Mon?”


Mona langsung pura-pura menyeruput supnya bingung harus membalas apa. Semua orang kini beralih pada Gama menunggu jawaban.


Gama meraih gelas anggurnya dan meminumnya sedikit. Setelah tenggorokannya terasa cukup segar baru lah dia menjawab, “Saya teman kuliah Mona dan Sherly. Kita pernah bertemu di kantor pak Benny waktu kami masih semester 4 dulu.”


“Nah itu dia! Pantasan mukamu familiar! Kau bekerja dimana sekarang? Di kantornya Devin?”


Kali ini Devin yang buru-buru menjawab, “Gama dan saya merupakan partner bisnis. Dia punya perusahannya sendiri.”


“Oh ya? Perusahaan apa itu?”


“Penyedia jasa.”


Jawaban ambigu Gama membuat semua mata kembali menatapnya. Pikiran gelap dan prasangka buruk dengan cepat membaluti mereka. Persepsi awal yang diberikan terasa mengerikan.


Tapi papa yang terbiasa dengan jawaban singkat dan tertutup itu langsung mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh. Papa merupakan tipe orang yang tidak ambil pusing dengan cara orang mencari nafkah.


Mereka pun makan dalam diam. Hidangan yang dimasak Luna malam itu terasa begitu nikmat dan menggugah selera. Luna memang hobi memasak dan berbekal resep yang didapat dari internet Luna selalu berinovasi mencoba resep-resep baru.


Makanan penutup mereka adalah blackforest kasual dengan buah ceri diatasnya. Saat yang lain sibuk makan makanan penutup, mata Mona sibuk mengawasi Gama.


Gama sendiri menyadari sorot mata Mona yang penuh pertanyaan tapi dia berpura-pura tidak peduli. Setelah akhirnya makanan penutup berakhir, papa tiba-tiba bangkit dan berkata, “Bagaimana kalau kita lanjut ngobrolnya di halaman belakang? Kalian masih menyimpan fire pit-ku yang dulu kan?”


“Masih kok.” jawab mama.


“Bawa keluar, udaranya cukup dingin malam ini.”


Devin tersenyum dan berkata, “Saya dan Gama akan menyusul. Kami ada sedikit bisnis yang harus dibicarakan.”


“Baiklah, jangan lama-lama, rasanya tidak enak minum bir apabila dikelilingi wanita-wanita ini.”


“Haha akan saya pastikan kan cuman sebentar.”

__ADS_1


Dengan begitu Devin dan Gama berjalan ke ruang tamu lalu terus ke halaman di beranda depan. Gama langsung mengeluarkan sepuntung rokok dan menyulutnya.


“Rupanya kalian teman kuliah ya?” tanya Devin.


Gama hanya mengangguk kecil lalu menghembuskan asap keluar dari mulutnya.


“Begitu ya. Jadi ada berita apa? Apa penting banget sampai gak bisa dibicariin di telfon?”


“Gue punya kenalan di bandara. Kata dia, kakak lo dua jam yang lalu kelihatan disana.”


“Ah jadi dia punya kepercayaan diri buat balik. Makasih atas infonya.”


“Ada lagi. Dia dijemput keluarga Kaligis. Mereka sekarang pasti lagi di tempat persembuyiannya.”


Devin mendadak mengerutkan dahi. Tidak biasanya dia menunjukkan eskpresi yang nampak seolah begitu terganggu begitu.


Devin menggaruk belakang kepalanya kemudian berkata, “Jadi maksud lo sekarang Felix dibawah perlindungan keluarga Kaligis?”


“Kurang lebih. Kita gak bisa sembarangan macam-macam sekarang.”


“Ini buruk….”


Devin menatap kesekitar dan nampak gelisah. Sementara itu Gama masih menyulut rokoknya dengan santai sambil terus memperhatikan Devin yang kini mirip cacing kepanasan.


Saat keluarga kriminal bawah tanah seperti milik Kolandam dan Kaligis mendukung dua pewaris yang berbeda itu artinya akan ada perang besar yang melanda kota.


Perang tidak hanya melibatkan pihak Kolandam dan Kaligis, namun juga polisi-polisi korup bayaran mereka dan nantinya berimbas pada bisnis semua orang di kota ini.


Belum lagi ditambah para politikus dan jaksa yang mencari momen tepat untuk meringkus mereka semua sekaligus di saat yang bersamaan. Perang antar keluarga begini sangat merugikan tapi tidak bisa dihindari.


“Apa gak ada cara lain selain membunuh Felix?” tanya Devin.


“Ada.”


“Apa?”


“Lo yang mereka bunuh.”


Devin mendengus kemudian berkata, “Baiklah, kalian boleh membunuhnya. Hanya saja pastikan perang ini tidak menghancurkan seisi kota.”

__ADS_1


“Gue gak bisa janji soal yang kedua. Kaligis punya banyak tentara, lagi pula gak ada jaminan keluarga yang lain gak akan memilih pihak.”


“Bukannya di kota ini cuman keluarga Kolandam dan Kaligis yang berkuasa?”


Gama menghembuskan asapnya lagi, “Iya. Tapi bukan berarti keluarga yang lain gak punya pasukan sendiri kan? Dalam perang begini, sekecil apapun pasukannya bakalan mempengaruhi jalannya perang.”


“Baiklah, lakukan sesuka lo. Pastiin aja jangan sampai menjalar kemana-mana.”


Gama menghela napas. Permintaan Devin sejak tadi rasanya terlalu berlebihan. Ini seperti minta orang pergi membunuh tanpa ada kemungkinan ditangkap atau dibalas. Permintaan Devin terlalu mustahil.


Tapi Gama memutuskan untuk tidak membalas Devin. Pola pikirnya sebagai pebisnis jauh berbeda dengan para mafia seperti Gama. Pada akhirnya keduanya tetap hidup di jalan yang berbeda.


Gama membuang rokoknya dan menguburnya di tanah dengan kaki. Dia meregangkan tubuh dan berdiri menghadap gerbang keluar rumah Mona sambil membelakangi Devin.


Badai yang akan menerjang kota sebentar lagi datang. Perang antara Kolandam dan Kaligis akan menentukan siapa yang akan berkuasa 10 tahun kedepannya.


Memang terkadang hal ini diperlukan, mengeluarkan darah kotor dan mengkokohkan keluarga mafia yang paling kuat. Namun dampak setelah perang terkadang lebih buruk daripada yang mereka bisa bayangkan.


Tidak hanya nyawa orang-orang berjatuhan, tapi kerusakan material juga akan berdampak pada semua orang seisi kota.


Lagipula, dari awal perang ini memang tidak bisa dihindarkan. Konflik antara Kaligis dan Kolandam sudah terlalu dalam dan perseteruan pewaris Dubois menjadi alasan terakhir kenapa keduanya harus berperang.


Gama tertawa kecil kemudian berkata sambil membelakangi Devin, “Kita lakukan saja. Ayo berperang. Biar Tuhan yang tentukan mana yang pantas hidup dan menang. Lagi pula kalau kita kalah tidak ada salahnya. Hal terburuk mungkin hanya kematian.”


Devin tersenyum mendengar logika Gama, “Bukannya kematian adalah akhir dari segalanya?”


“Mungkin. Jangan bilang lo takut mati?”


“Jujur sebenarnya gue takut mati. Tapi lebih baik mati daripada gue harus hidup di pengasingan."


“Jangan khawatir, kalau lo ditangkap Kaligis dan Felix, mereka gak bakal ngusir lo dari kota ini. Lo bakal diesksekusi ditempat. Tentu, dengan cara paling buruk yang bisa lo bayangin.”


“Haha kedengaran parah banget. Well, ini jalan yang kita pilih. Kita gak bisa kembali dan menyesali semuanya sekarang.”


Gama mengangguk kecil. Gama berbalik pada Devin dan berkata, “Kalau begitu gue pergi dulu.”


“Kalau ada perkembangan soal Felix, tolong beritahu.”


“Ok.”

__ADS_1


Gama berjalan pergi keluar gerbang lalu menyelakan mobil yang diparkir tepat di depan rumah Mona. Sementara itu Devin masih menatap langit malam diatasnya.


Malam terasa begitu sunyi. Namun malam sunyi begini tidak akan berlangsung lama karena perang besar akan datang ke kota ini.


__ADS_2